NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Ceklek.

​Suara pintu utama yang terbuka perlahan terdengar kontras di tengah keheningan ruang tamu mewah itu. Ziva melangkah masuk dengan bahu merosot, sisa-sisa tenaga setelah kejadian di UKS dan kamar mandi sekolah seolah benar-benar habis. Namun, ia tidak disambut oleh kehangatan rumah, melainkan oleh aura dingin yang mencekam.

​"Dari mana saja kamu, hah?!" suara berat itu menggelegar, membuat Ziva tersentak dan mendongak. Di sana, di tengah ruangan, ayahnya—Pandu Saputra—berdiri dengan wajah merah padam.

​"Berantem sama siapa kamu di sekolah, hah?!" sambung ayahnya lagi, matanya menatap tajam ke arah wajah Ziva yang memang masih penuh dengan lebam dan luka.

​"Dasar anak tak tahu diuntung! Awas saja kalau kamu berani merusak reputasi keluarga ini, saya akan kasih kamu pelajaran!"

​Ziva menghela napas panjang, mencoba menekan rasa sesak di dadanya. Ia menatap ayahnya dengan tatapan lelah. "Ziva nggak berantem, Yah," jawabnya pelan, nyaris berbisik.

​"Kamu bilang nggak berantem? Lihat wajah kamu saja bonyok begini dan kamu masih berani bohong?!"

​"Ziva beneran nggak berantem, Yah. Ziva..."

​"Bohong, Yah!" sebuah suara melengking memotong ucapan Ziva. Sanya muncul dari balik koridor ruang makan bersama Ratna, ibu tirinya.

Sanya berjalan mendekat dengan senyum miring yang menghiasi wajahnya. "Tadi Sanya lihat sendiri Ziva berantem sama siswa lain di sekolah. Bahkan, Ziva mem-bully siswa itu sampai nangis, Yah."

​Ziva membelalakkan matanya. "Apa? Sanya, jangan keterlaluan! Lo yang—"

​"Apa benar itu, Ziva?!" bentak Pandu, suaranya naik satu oktav.

​"Semua itu nggak benar, Yah. Sanya bohongin Ayah. Dia yang nyeret aku ke—"

​"Nggak usah mengelak kamu, Ziva! Harusnya kamu contoh kakak kamu, Sanya! Dia pulang tepat waktu dan nilainya selalu unggul di kelas! Sementara kamu? Kamu selalu kelayapan, bar-bar, dan nilai kamu selalu rendah! Mau jadi apa kamu ke depannya, hah?! MEMBUAT SAYA MALU SAJA!"

​Ziva terdiam. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada pukulan Jesi dan Rini di sekolah tadi.

"Sanya bohong, Yah. Ziva nggak pernah bully orang..."

​"DIAM KAMU, ZIVA! MASUK KAMAR! AYAH TIDAK AKAN MENGIZINKAN KAMU KELUAR KAMAR SELAMA SATU MINGGU!" teriak Pandu. Di belakangnya, Sanya dan Ratna saling lirik dengan tatapan penuh kemenangan.

​"Tapi, Yah—"

​Plak!

​Tamparan keras mendarat di pipi kanan Ziva. Kekuatan tangan seorang laki-laki dewasa membuat wajah Ziva tertoleh ke samping dengan kasar. Rasa panas dan kebas seketika menjalar di wajahnya. Sudut bibirnya yang tadi sudah terluka kini kembali mengeluarkan darah segar.

​Ziva mematung. Ia memegang pipinya yang berdenyut, menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak percaya, laki-laki yang dulu selalu memanjakannya kini sanggup bermain tangan hanya karena fitnah dari orang yang baru masuk ke kehidupan mereka selama setahun ini. Tanpa sepatah kata pun, Ziva berbalik dan lari menaiki tangga menuju kamarnya.

​Pandu sempat tertegun melihat telapak tangannya sendiri yang gemetar. Ada secercah penyesalan yang melintas di matanya, namun Ratna dengan cepat mendekat dan mengusap dadanya. "Sudahlah, Mas. Kamu memang harus tegas. Anak itu sudah terlalu liar karena pengaruh temannya yang namanya Karlota itu. Dia harus dididik lebih keras."

​"Benar, Yah," imbuh Sanya.

"Ziva harus diawasi ketat."

​"Sudah, Ayah mau kembali ke kantor. Kalian awasi dia, jangan sampai dia kabur dari rumah," perintah Pandu sebelum melangkah pergi dengan perasaan yang masih berkecamuk.

​Di dalam kamar, Ziva duduk di depan cermin riasnya. Ia memandangi pantulan wajahnya yang berantakan. Pipi kanannya merah padam bekas tamparan ayahnya, sementara pipi kiri dan dahinya masih membiru akibat ulah Sanya di sekolah.

​"Ayah jahat, Bu... Ayah nggak sayang Ziva lagi," isaknya lirih. Air mata meluncur deras membasahi pipinya yang perih. Ia mengambil bingkai foto ibunya yang tersimpan rapi di laci.

​"Bu... Ziva pengen ikut Ibu. Ziva nggak mau di sini sendirian. Ziva benci mereka semua," adunya pada foto bisu itu. Kenangan tentang kelembutan ibunya berputar seperti film lama di kepalanya, membuat rasa rindunya semakin menyayat hati.

​Ziva berjalan menuju ranjang dengan langkah lunglai. Ia meraih ponselnya, mengetikkan pesan izin kepada pihak sekolah dan juga Karlota. Ia berbohong, mengatakan bahwa ia harus pergi ke luar kota untuk acara keluarga selama seminggu. Ia terlalu malu dan terlalu hancur untuk menceritakan bahwa ia baru saja dikurung oleh ayahnya sendiri.

Setelah itu, ia mematikan ponselnya dan membenamkan wajah di bantal, membiarkan kegelapan tidur menjemputnya.

​Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit di pusat kota, suasana di ruangan kantor paling atas terasa sangat dingin. Mahendra duduk di kursi kebesarannya. Meski ia masih mengenakan seragam sekolah yang dibalut blazer hitam, aura kepemimpinannya sudah terlihat jelas.

Di mejanya, terdapat tumpukan berkas yang harus ia tinjau sebagai calon pewaris tunggal perusahaan keluarganya.

​Tok tok tok..

​"Masuk," ucap Mahendra singkat.

​"Maaf, Tuan Muda. Ada perlu apa memanggil saya?" tanya Reo, orang kepercayaan keluarga Mahendra.

​"Cari tahu tentang Ziva Alqueena," ucap Mahendra tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitornya.

​"Ziva Alqueena? Gadis remaja, Tuan Muda?"

​"Hm."

​"Apa dia melakukan kesalahan pada Anda?"

​Mahendra menghentikan gerakannya. Ia menatap Reo dengan mata elang yang mematikan.

"Lakukan saja."

​"Baik, Tuan Muda. Beri saya waktu."

​Lima menit kemudian, Reo kembali dengan sebuah map cokelat di tangannya. Mahendra segera memberi isyarat agar Reo membacakan isinya.

​"Ziva Alqueena. Anak tunggal dari Pandu Saputra dan mendiang Rahma Sari. Ibu kandungnya meninggal dunia karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Setahun kemudian, ayahnya menikahi Ratna, yang membawa dua anak: Govan dan Sanya Aulia. Dari data yang saya kumpulkan, Nona Ziva sering mendapatkan perlakuan tidak adil di rumahnya."

​Reo berdehem sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Informasi terbaru dari orang dalam di rumah tersebut... Nona Ziva baru saja mendapatkan tamparan keras dari Tuan Pandu karena fitnah yang dibuat oleh Nona Sanya mengenai perkelahian di sekolah tadi pagi."

​Krak.

​Pena di tangan Mahendra patah menjadi dua. Rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menegang. Amarah yang dingin dan pekat terpancar dari matanya. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang ia tolong tadi pagi, yang tampak begitu rapuh dalam dekapannya, harus menghadapi neraka lain di rumahnya sendiri.

​"Kirim penjagaan untuk gadis-KU!" perintah Mahendra dengan penekanan pada kata terakhir.

"Awasi rumah itu 24 jam. Jika mereka menyentuhnya lagi, hancurkan apa pun yang mereka miliki."

​"Baik, Tuan Muda. Saya akan segera mengirimkan unit rahasia untuk memantau dari jauh."

​"Pergi."

​Setelah Reo keluar, Mahendra mengambil selembar foto Ziva yang terlampir di berkas. Itu adalah foto lama Ziva yang sedang tertawa lebar dengan latar belakang taman. Tatapan Mahendra yang tajam perlahan melembut saat jemarinya mengusap permukaan foto tersebut.

​"Kita akan segera bersama, baby. Kamu hanya akan menjadi milikku," gumam Mahendra dengan suara rendah yang posesif.

"Aku akan melindungi mu dari para tikus tanah itu. Dan siapa pun yang berani membuatmu menangis... mereka akan memohon untuk mati di tanganku."

​Senyum tipis yang mengerikan tersungging di bibir Mahendra. Permainan baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan bidaknya yang paling berharga menderita lebih lama lagi. Bagi Mahendra, Ziva bukan sekadar gadis yang menarik perhatiannya; Ziva adalah obsesi yang harus ia miliki sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!