NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Hal yang tak bisa dibayar.

Pagi itu bengkel sudah ramai sejak matahari belum sepenuhnya tinggi. Suara mesin, dentingan alat, dan obrolan para montir bercampur memenuhi udara. Beberapa pelanggan datang silih berganti, sementara Sagara masih sibuk di bawah sebuah mobil dengan tangan penuh noda oli.

"Aga, kunci duabelas di mana?" teriak Andi dari sudut bengkel.

Di kotak merah!"

Belum sempat Andi menjawab, suara mobil berhenti terdengar dari depan bengkel. Semua kepala refleks menoleh.

Sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan area bengkel. Kontras langsung mencuri perhatian.

Pintu mobil terbuka. Nara turun lebih dulu dengan heels tinggi dan setelah rapi berwarna krem yang terlihat mahal. Rambut panjangnya tertata rapi, wajah cantiknya tampak dingin tanpa banyak ekspresi.

Beberapa detik selanjutnya, Tiwi sang asisten pribadi, segera turun menyusul dari sisi lain sambil membawa tablet dan tas milik atasannya.

Suasana bengkel yang tadinya ribut perlahan melambat. Bahkan suara radio di pojok terasa kalah oleh tatapan para montir yang kini tertuju pada satu arah.

"Buset ...," gumam salah satu mekanik senior. "Artis, ya?"

"Mana ada artis datang ke bengkel beginian," timpal montir lain.

"Cantik banget, sumpah." Montir lain yang lebih muda ikut menimpali.

Andi yang sejak tadi berdiri dekat pintu bengkel langsung menegakkan badan. Tangannya buru-buru mengusap noda oli di baju kerja meski percuma.

Nara melangkah masuk tanpa memperdulikan tatapan di sekitarnya. Aroma oli dan udara panas bengkel langsung terasa berbeda dari ruangan kantornya yang dingin dan rapi. Namun, ekspresinya tetap tenang.

Tatapan Nara menyapu area bengkel perlahan, hingga berhenti pada sosok pria yang baru saja keluar dari bawah mobil.

Alis Nara sedikit terangkat. Ia jelas masih mengingat wajah pemuda yang kemarin sempat mengantarnya ke kantor.

Manik Nara menyusuri wajah hingga tubuh Sagara. Kaos kerjanya tampak sedikit kotor, rambutnya berantakan, dan ada noda hitam terlihat di kedua tangannya. Nara baru menyadari, bahwa pemuda yang kemarin mengantarnya, ternyata bekerja di bengkel tempat mobilnya di perbaiki.

Sagara sendiri tampak sedikit terdiam sesaat melihat Nara benar-benar datang.

Andi langsung menyenggol pelan lengannya. "Woii...," bisiknya pelan. "Yang punya mobil datang."

Sagara menghela napas kecil sebelum berjalan mendekat.

"Nona Naraya." Nada suaranya tetap santai seperti biasa, meski tatapannya terlihat lebih hati-hati.

Nara menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia sempat terkejut saat pemuda itu memanggilnya 'Nona'. Bukan 'Mbak' seperti pagi kemarin. "Saya datang untuk mengambil mobil."

"Mobilnya sudah selesai diperiksa dan perbaiki," jawab Sagara. "Tapi ada sesuatu yang perlu saya jelaskan dulu."

"Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Nara langsung pada inti pembicaraan.

Sagara mengangguk pelan. "Iya, Nona."

Tiwi yang berdiri di samping Nara tampak memperhatikan sekitar dengan canggung. Jelas sekali ia tidak terbiasa di tempat seperti itu. Sementara para montir lainnya masih diam-diam melirik ke arah Nara. Wanita itu terlalu mencolok untuk tempat sederhana seperti bengkel mereka. Cantik, elegan, dan terlihat mahal dari ujung kepala sampai kaki.

"Nona bisa ikuti saya untuk mengeceknya langsung," lanjut Sagara. Ia memberi isyarat kecil agar Nara mengikutinya. Wanita itu melangkah masuk lebih jauh ke area bengkel bersama Tiwi. Tumit sepatunya sesekali berbunyi pelan di lantai semen yang sedikit kasar. Beberapa montir spontan menyingkir memberi jalan.

Mobil milik Nara terparkir di sudut bengkel dengan kap yang masih terbuka setengah. Sagara segera berdiri di sampingnya lalu membuka kap mobil sepenuhnya.

"Bagian ini yang bermasalah," ujarnya sambil menunjuk salah satu selang mesin.

Nara mendekat sedikit. Aroma oli samar langsung tercium, berbeda jauh dari parfum ruangan yang biasa ia hirup di kantor.

"Selangnya rusak?" tanyanya.

"Bukan rusak, tapi longgar." Sagara mengambil senter kecil lalu mengarahkannya ke bagian sambungan. "Kalau karena pemakaian normal, biasnya ada bekas aus. Tapi yang ini seperti sengaja dilepas sedikit."

Tiwi langsung saling pandang dengan Nara.

"Kamu yakin?" tanya Tiwi pelan.

Sagara mengangguk. "Lumayan yakin."

Nara menatap bagian mesin itu cukup lama. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih tajam. " Kalau dibiarkan?"

"Mobil bakal overheat." Sagara menutup kembali senter kecilnya. "Untung Nona berhenti cepat. Kalau dipaksa jalan terus, mesin bisa rusak lebih parah."

Hening sejenak.

Suara alat dari area lain bengkel terdengar samar di belakang mereka.

Nara kembali mengingat pagi kemarin. Mobil itu bermasalah tepat sebelum rapat besar dimulai. Tatapannya kemudian perlahan beralih pada Sagara. "Apa kamu merasa ...."

"Maaf, Nona. Saya merasa ada yang sengaja mengakali mobil itu." potong Sagara cepat.

Deg.

"Kamu mencurigai sesuatu?"

Sagara mengangkat bahu santai. "Awalnya saya merasa aneh. Mobil baru jarang rusak seperti ini."

Tiwi mulai gelisah. "Nona ... apa perlu saya hubungi Tuan Han?"

"Nanti," jawab Nara singkat. Ia kembali menatap mobilnya beberapa detik sebelum akhirnya menoleh pada Sagara lagi.

"Mobil ini sudah selesai diperbaiki?"

"Sudah," jawab Sagara. "Saya sudah mengecek ulang dan memastikan semua kembali aman."

"Bagus."

Nara hendaklah melangkah pergi. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Alisnya sedikit berkerut seolah baru mengingat sesuatu. "Kemarin ...." Ia menoleh lagi ke arah Sagara. "Aku belum membayar upah tumpanganmu."

Andi yang sejak tadi berpura-pura sibuk di dekat sana langsung memasang wajah penasaran. Sementara Sagara sendiri tampak sedikit bingung. "Upah?"

"Upah mengantarku ke kantor."

"Oh." Sagara terkekeh kecil. "Tidak usah, Nona."

"Aku tidak suka berhutang," ucap Nara.

"Saya tidak menganggap itu hutang. Kemarin saya hanya berniat membantu."

Nara menatapnya beberapa detik. Pemuda itu mengatakannya dengan santai, tanpa nada cari muka ataupun berharap imbalan. Suatu hal yang cukup jarang ditemui.

Nara membuka tasnya, lalu mengeluarkan dompet. Jemarinya mengambil beberapa lembar uang. Namun, sebelum sempat disodorkan, Sagara lebih dulu mundur setengah langkah.

"Saya tidak bisa menerimanya."

"Kau bekerja. Wajar kalau saya memberi upah."

"Saya ikhlas membantu," balas Sagara cepat.

"Aku tidak ingin punya hutang budi." Nara jelas tak mau kalah. "Kau juga menjaga mobilku sampai Pak Budi datang."

Sagara terdiam sebentar. Andi yang melihat situasi itu langsung berdehem kecil sambil menahan senyuman. Sementara Nara masih berdiri dengan uang di tangannya, menatap lurus tanpa berniat menarik kembali pemberiannya.

Sagara mengusap tengkuknya pelan. "Saya tetep nggak bisa menerimanya, Nona."

"Aku tidak terbiasa menerima bantuan gratis."

"Saya juga tidak ingin, anda menilai setiap niat baik dengan uang yang Anda miliki."

Tiwi yang masih berdiri di samping Nara menahan napas kecil. Andi yang berdiri tak jauh bahkan menoleh cepat, khawatir rekan satu profesinya itu menyinggung wanita kaya itu.

Nara sendiri justru terdiam beberapa detik. Tatapannya tertahan pada wajah Sagara yang terlihat tenang, tanpa maksud lain.

Perlahan, tangan Nara yang memegang uang itu turun kembali. "Kalau begitu ...," ujarnya pelan, "Aku akan membayar biaya perbaikan mobil ini lebih."

Sagara langsung menggeleng. "Tidak perlu, Nona. Anda cukup membayar sesuai harga."

Nara memandangnya cukup lama sampai Sagara mulai merasa tidak nyaman. "Kamu selalu bicara dan bersikap seperti itu ke semua pelanggan?"

"Maksudnya?"

"Jujur dan keras kepala."

Sagara tersenyum tipis. "Aturan wajib bekerja di bengkel ini adalah kejujuran," jawab Sagara. "Sedangkan keras kepala, itu lain cerita."

Jawaban Sagara membuat Andi membalik badan sambil menahan tawa. Sementara Tiwi terlihat heran sendiri melihat atasannya masih meladeni obrolan ringan seperti itu. Biasanya Nara tidak akan membuang waktu terlalu lama untuk percakapan yang tidak penting. Namun, sekarang atasannya itu justru masih betah berdiri di sana. Di tengah bengkel panas penuh bau oli, anehnya lagi ... ia tidak terlihat terganggu.

"Baiklah," ucap Nara akhirnya. "Aku mengambil mobil itu sekarang."

Sagara mengangguk pelan. "Saya akan siapkan mobilnya."

Nara mengangguk kecil. Ia hendak berbalik, Namun, langkahnya kembali tertahan saat melihat noda hitam di tangan Sagara yang belum benar-benar bersih.

Tanpa sadar pandangannya turun sesaat ke jemari pemuda itu, kasar, penuh bekas pekerjaan, sangat berbeda dari tangan orang-orang yang biasa berada di sekelilingnya.

Sagara mengikuti arah pandang Nara lalu buru-buru mengusap tangannya dengan kain lap. "Maaf. Kotor."

Nara mengangkat pandangan lagi. "Tidak masalah," jawabnya pelan. Lalu untuk pertama kalinya sejak datang ke bengkel itu, sudut bibirnya bergerak tipis. Senyum kecil, sangat samar. Namun, cukup membuat beberapa montir di sana saling lirik kaget. Karena wajah dingin Naraya Pramaswari Dhanubrata akhirnya menunjukkan sesuatu selain ekspresi datar.

**** bersambung.

Sagara Artha Jayendra.

1
Hairil Anwar
mantap
Resa05
akhirnya rajin update thor
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!