Setelah mengetahui fakta tentang penghianatan orang yang paling di cintai, Florin Eldes memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun di akhir hayatnya, seseorang yang begitu ia benci dan selalu ia siksa dengan sadis malah menangisi kepergiannya dan berharap ia tidak mati. " Kenapa kamu ingin menolongku? padahal aku sudah menyiksamu selama ini. bukankah kematianku adalah hal yang paling kamu inginkan..." Florin menutup matanya untuk terakhir kali setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi di saat ia mengira ia sudah mati, ia Malah kembali ke malam dimana ia bertunangan dengan pria yang ia cintai sekaligus pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan
Selama ini Wilson tak pernah merasa takut atau gugup, semua hal bisa ia lakukan tanpa ada rasa ketakutan. Tapi kali ini sangat berbeda, seolah ia sudah melakukan sesuatu yang fatal dan takut ketahuan.
" Wilson, kenapa orang orang di perusahaan ini menatap ke arah kita dengan takut?. Apa aku se menyeramkan itu?." Tanya Florin setengah berbisik saat mereka sudah tiba di depan meja resepsionis.
" Em, ah mungkin saja mereka takut karena sedari tadi nona mengepalkan tangan seolah akan memukul seseorang." Kini keringat dingin bercucuran dari dahi Wilson bersamaan dengan cara bicaranya yang gugup. Ia tahu jika para karyawan takut padanya. Dan sejauh ini ia tidak mendapati para karyawan menyapanya sambil membungkuk. Berarti mereka sudah mendapatkan informasi dari Anthony.
" Benarkah?. Sebenarnya aku tidak berniat menakuti mereka, tapi ini efek karena aku sangat marah sekarang. Lihat wajah wajah tidak bersalah ini, mereka hidup dalam ketakutan Wilson. Lihat mata mereka, seolah ada yang menekan mereka." Kini ekspresi florin berubah menjadi sedih.
Wilson menatap ke arah Florin, ia mengetahui hal lain dari Florin. Wanita itu sudah berubah dan memilki empati pada orang orang. Wilson masih tidak mengerti dengan perubahan yang tiba tiba seperti ini pada Florin, satu hal yang Wilson tahu jika ia suka dengan sikap empati dari Florin.
" Nona, sebentar saya akan menanyakan sesuatu pada resepsionis. Sebaiknya nona duduk dulu ya." Wilson mengarahkan Florin duduk di kursi tunggu yang berada tak jauh dari meja resepsionis.
Florin mengangguk karena ia tahu jika Wilson adalah karyawan di perusahaan itu, jadi dia lebih bisa di percaya karena sudah di kenal oleh karyawan yang ada di perusahaan itu.
" tanyakan pada resepsionis apa CEO perusahaan yang kejam itu ada di sini. Aku ingin bertemu dengannya." Ujar Florin sambil melipat kedua tangannya. Sementara manik nya menelisik sekeliling, saat ini banyak pasang mata yang menatap ke arahnya.
" Baiklah nona, tunggu sebentar." Wilson berlalu dan pergi ke arah resepsionis.
Sesampainya di meja resepsionis, Wilson melirik sekali ke arah Florin yang dari kejauhan yang menatap ke arahnya. Wilson menelan ludahnya dengan susah payah. Lalu ia beralih pada resepsionis yang saat ini sedang menunduk di hadapannya.
" Jangan menunduk seperti itu, aku datang ke sini bukan sebagai bos, tapi sebagai karyawan biasa. Em... katakan padaku dengan suara keras bahwa direktur tidak ada di perusahaan dia sedang dalam perjalanan bisnis keluar negeri." Ucap Wilson pada resepsionis tersebut dengan berbisik.
" Baik tuan akan saya laksanakan." Jawab resepsionis wanita tersebut.
" Wilson!, CEO tidak berada di perusahaan, berapa kali harus aku katakan padamu!, CEO sedang dalam perjalanan bisnis keluar negeri dan dia akan kembali dalam waktu lama. Jangan menggangguku aku sedang bekerja pergi sana!." Ujar resepsionis tersebut.
" Dia berakting sangat bagus hingga aku tidak bisa membedakan sedang pura pura atau tidak." Gumam Wilson dalam hati karena saat ini ia cukup terkejut dengan ucapan resepsionis kepadanya. Wilson menggeleng dengan pelan, lalu berjalan ke arah Florin.
" Nona, CEO perusahaan tidak berada di sini dia sedang dalam perjalanan bisnis dan akan kembali dalam waktu lama." Jelas Wilson pada Florin.
" Ya, tadi aku mendengar semuanya. Tunggu sebentar." Florin bangkit dari duduknya dan melangkah maju ke resepsionis.
" Apa begini caramu memperlakukan karyawan yang sedang bertanya?."
Wilson tercengang saat melihat Florin marah pada resepsionis yang saat ini sedang menunduk itu.
" Maaf nona, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya..." Suara resepsionis itu terputus saat melihat Wilson membawa pergi Florin.
" Lepas Wilson, perusahaan ini benar benar tidak sehat. Bahkan resepsionis bisa membentak karyawan tanpa beban. Mereka harus di hukum dan di beri sanksi. Apa begini cara mereka memperlakukan mu." Terlihat raut wajah marah dari Florin.
Kini mereka berada di loby perusahaan. " " Nona, tenanglah. Sebenarnya aku sering menjahili resepsionis itu makannya dia berkata begitu, aku sudah terbiasa." Jawab Wilson berbohong karena hanya ini satu satunya cara agar Florin bisa tenang.
Florin terdiam dengan perasaan yang berkecamuk. " Oh jadi kamu menyukainya?." Meskipun berbicara dengan nada santai, tapi bisa terlihat raut wajah cemberut dari Florin.
Wilson tersenyum tipis, ia melipat kedua tangannya di dada. Saat ini Florin membelakanginya. Wilson cukup puas melihat wajah marah menggemaskan Florin.
" Nona, apa kita bisa pergi sekarang? Saya takut teman saya akan cemburu melihat kita berdua seperti ini." Ujar Wilson dengan tatapan jahil ke arah Florin yang saat ini masih membelakanginya.
" Apa? Baiklah aku akan pulang. Kalau kamu mau bertemu dengannya silahkan saja. Aku tidak akan menunggumu, mungkin kamu mau menjelaskan kenapa kita bisa datang ke perusahaan ini bersamaan." Florin langsung pergi setelah mengatakan pendapatnya tanpa menunggu Wilson.
Sementara itu Wilson hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah Florin yang kelihatan sangat kesal. " Nona, tunggu."
.
.
Di sebuah rumah sederhana, Valir terlihat mabuk sambil menatap selembar foto yang tergantung di dinding tepat di hadapannya.
" Sedikit lagi, satu langkah lagi aku bisa mendapatkan semuanya. Tapi kenapa kamu malah berubah Florin. Kamu berubah dalam waktu semalam. Apa yang terjadi padamu?, siapa yang sudah mencuci otakmu. Selama ini aku adalah manusia yang sangat kamu cintai, tapi dimalam itu kamu memandangku dengan rendah di hadapan semua orang, mempermalukan ku tanpa belas kasih. Dan sekarang kamu sudah mengambil semuanya dariku. Tak ada satupun yang tersisa. Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup Florin. Aku bersumpah!."
PRAAANG
Valir melempar botol minumannya ke arah bingkai foto yang berisi foto Florin yang sedang tersenyum. Bingkai foto itu pecah dan hancur berkeping-keping. Namun gambar di dalamnya masih utuh.
" Arrrrgggghhh." Teriak Valir sambil menendang apa saja benda yang ada di sekitarnya. Keadaannya sangat kacau, ia benar benar mabuk berat.
Sesaat setelah memijat pelipisnya, Ponsel Valir berdering menampilkan nama seorang wanita yang begitu ia kenal. Wanita yang selama ini ada di hidupnya. Ia adalah selingkuhannya yang bernama Angel.
" Angel? Ada apa?." ucap Valir setelah panggilan telepon berhasil tersambung.
" Valir, sudah lama kamu tidak menemui ku, aku tahu kamu batal bertunangan dengan Florin, bukan berarti kamu melupakan ku begitu saja kan?." suara setengah mendesah dari seberang sana mampu membuat Valir tersenyum tipis.
" Angel, aku sangat kacau sekarang. Aku tak punya apa apa lagi untuk menyenangkan mu." ujar Valir dengan ekspresi malas.
Angel adalah wanita yang selama ini menjadi simpanannya, wanita yang sudah memenuhi hasratnya dan wanita yang menguras harta kekayaannya yang diberikan oleh Florin. Dan wanita ini juga yang telah memberikannya ide untuk mengambil semua harta kekayaan Florin.
" Valir, kamu seolah melupakanku. Apa kamu masih ingat jika aku adalah teman Florin. aku adalah sahabatnya Valir. Apa kamu yakin tidak membutuhkan bantuanku?. Aku tahu kamu akan membalas dendam atas apa yang telah kamu terima. Jadi aku hanya berniat membantumu." ujar wanita bernama Angel itu.
" Aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalah ini Angel. Aku..."
" Valir, aku tahu cintamu sangat besar kepadaku. Jadi aku berniat membantumu. Bagaimana?."
" baiklah jika kamu memaksa, bagaimana kamu bisa membantuku?." tanya Valir.
" Aku sudah mengetahui keberadaan Florin, dia sekarang berada di London dan pergi menemui Wilson."
Deg
Valir terdiam sesaat, lalu ia mulai berpikir tentang Florin dan Wilson. " Apa yang dilakukan Florin hingga menemui Wilson? Ada apa ini?." tanya Valir tak percaya. yang ia tahu Florin hanya akan menemui Wilson untuk melampiaskan amarah wanita itu.
" Buka matamu Valir, bisa jadi Wilson ada di balik keputusan Florin membatalkan pertunangan kalian. Kamu harus menyelidikinya." ujar Angel.
" Kamu benar Angel, aku hampir melupakan pria itu. Selama ini dia yang selalu bersama Florin, dan hanya dia yang bisa mencuci otak Florin. Kurang ajar."
Arghhhh
Valir mengacak acak isi kamarnya dengan amarah besar. Ia tak menyadari jika Wilson juga orang terdekat Florin setelah dirinya.