NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9 belenggu baja hitam dan panggung para algojo

Udara di sekitar Bengkel Kawah Api sekte luar terasa sangat menyengat, seolah mampu membakar alis siapa saja yang berani berdiri terlalu dekat. Suara dentingan palu baja beradu dengan logam panas bergema tanpa henti, menciptakan melodi bising yang memekakkan telinga. Asap kelabu membumbung tinggi dari puluhan cerobong batu bata, membawa aroma belerang dan besi cair yang menyesakkan paru-paru.

Lin Chen melangkah masuk menembus tirai hawa panas tersebut. Keringat seketika bermunculan di dahinya. Bengkel ini adalah tempat para murid luar menukarkan poin jasa mereka dengan senjata atau artefak pertahanan tingkat rendah. Sebagian besar area dipenuhi oleh pandai besi magang yang bertelanjang dada, menempa pedang baja biasa.

Mengabaikan antrean murid di konter depan, Lin Chen berjalan lurus menuju bagian paling belakang bengkel, tempat sebuah tungku raksasa menyala dengan api berwarna kebiruan. Di depan tungku itu, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh masif layaknya beruang. Otot-otot punggungnya menonjol keras mengkilap oleh keringat. Pria ini tidak memiliki mata kiri, hanya menyisakan bekas luka cakaran memanjang yang mengerikan. Ia adalah Paman Tie, kepala pandai besi pelataran luar, satu-satunya orang di sini yang mampu mengolah logam spiritual.

"Paman Tie," sapa Lin Chen dengan suara tenang, mengalahkan bisingnya dentuman palu.

Pria bermata satu itu menghentikan ayunan palunya. Ia berbalik, menatap Lin Chen dengan tatapan menilai yang tajam. Melihat pakaian kumal dan lencana murid tingkat rendah yang tersemat di dada Lin Chen, Paman Tie mendengus pelan.

"Meja pemesanan pedang baja ada di depan, Anak Muda. Tempat ini bukan untuk murid yang hanya membawa koin tembaga," suara Paman Tie terdengar serak dan berat layaknya gesekan dua lempeng besi.

Lin Chen tidak tersinggung. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan satu keping Batu Roh Tingkat Rendah dan lima keping perak, lalu meletakkannya di atas meja landasan tempa yang panas. Cahaya redup dari batu roh itu seketika meredam kesombongan sang pandai besi.

"Aku tidak mencari pedang," ujar Lin Chen datar. "Aku membutuhkan dua pasang pelindung kaki. Bukan untuk menangkis serangan, melainkan untuk pemberat. Gunakan Baja Hitam Rawa. Berat masing-masing pelindung harus tepat lima puluh kilogram. Harus pas menempel di tulang kering dan betis, tidak boleh longgar saat aku bergerak dengan kecepatan penuh."

Mata tunggal Paman Tie membelalak sedikit. Ia menatap batu roh di atas meja, lalu kembali menatap kaki Lin Chen.

"Baja Hitam Rawa sangat padat. Membuat pelindung kaki seberat seratus kilogram total... apakah kakimu terbuat dari pilar kuil? Praktisi Tahap Kondensasi Qi di bawah tingkat enam akan meremukkan sendi lutut mereka sendiri jika memaksakan diri berjalan menggunakan beban seberat itu, apalagi bertarung. Kau membayar untuk menghancurkan masa depanmu sendiri."

"Masa depanku ditentukan oleh seberapa banyak beban yang bisa kutanggung hari ini," balas Lin Chen tanpa ragu sedikit pun. "Bisakah kau membuatnya?"

Paman Tie menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang kekuningan. Ia menyukai kegilaan yang memancar dari mata pemuda ini. "Satu Batu Roh Tingkat Rendah dan lima perak cukup untuk material dan ongkos kerjaku. Tunggu tiga jam. Aku akan menyesuaikan ukurannya dengan kakimu. Jika tulang keringmu patah saat memakainya keluar dari bengkelku, jangan minta uangmu kembali."

Lin Chen mengangguk. Tiga jam berikutnya ia habiskan dengan duduk bersila di sudut bengkel yang panas, memutar *Napas Karang Esensi* untuk menyerap sisa-sisa energi elemen api di udara demi menajamkan Qi di dalam Dantiannya.

Tepat saat matahari mulai tergelincir ke arah barat, Paman Tie melemparkan dua bongkahan logam hitam pekat ke tanah di depan Lin Chen. Suara benturannya membuat lantai batu bengkel retak. Pelindung kaki itu terlihat sangat kasar, tidak memiliki ukiran indah, murni dua buah blok Baja Hitam Rawa yang dibentuk melengkung dengan pengait sabuk kulit monster tebal.

"Pakailah," tantang Paman Tie sambil melipat lengan beruangnya di depan dada.

Lin Chen berjongkok. Ia memasang pelindung pertama di kaki kanannya, mengencangkan sabuk kulit itu hingga mengunci rapat otot betisnya. Sensasi dingin dan berat yang ekstrem langsung menekan tulang keringnya. Ia melanjutkan dengan kaki kirinya.

Begitu kedua pelindung itu terpasang, layar cahaya biru transparan berpendar pelan di retinanya.

**[Syarat Pelatihan Terpenuhi.]**

**[Beban 100 kg terdeteksi. Hitung mundur penyiksaan 'Langkah Bayangan Berat' dimulai. Dilarang melepaskan beban ini selama empat belas hari ke depan, bahkan saat tidur.]**

Lin Chen mengambil napas panjang. Ia mengalirkan Qi tingkat tiganya menuju kedua kakinya, lalu mencoba berdiri tegak.

Urat-urat di lehernya seketika menonjol. Wajahnya memerah menahan tekanan. Berat seratus kilogram yang terpusat di pergelangan kaki terasa seperti ada dua ekor sapi dewasa yang menggantung dan berusaha menariknya ke dalam inti bumi. Lututnya bergetar hebat. Lantai batu di bawah telapak kakinya berderit menahan beban gabungan tubuh dan baja tersebut.

"Hah," Paman Tie terkekeh meremehkan. "Lihat lututmu yang gemetar itu. Berjalan sepuluh langkah saja kau sudah akan memuntahkan darah."

Mengabaikan ejekan itu, Lin Chen memaksakan kaki kanannya melangkah ke depan.

*Bruk!*

Langkahnya kaku dan sangat berat. Telapak kakinya menghantam tanah dengan suara keras. Rasa ngilu langsung menjalar dari tumit hingga ke pangkal pahanya. Ia menarik kaki kirinya, melakukan hal yang sama. Setiap langkah menguras energi fisik dan Qi miliknya dengan kecepatan yang mengerikan.

Pemuda itu menoleh ke arah Paman Tie sekilas. "Kualitas tempaanmu sangat bagus. Terima kasih."

Dengan langkah gontai menyerupai raksasa yang terluka, Lin Chen berjalan keluar dari Bengkel Kawah Api, meninggalkan sang pandai besi veteran yang kini menatap punggung pemuda itu dengan ekspresi tercengang. Di dunia sekte luar yang dipenuhi intrik dan kelicikan, melihat seseorang memilih jalan murni penyiksaan fisik adalah pemandangan yang langka.

Perjalanan kembali ke gubuknya menjadi neraka jahanam pertama. Jarak yang biasanya ditempuh dalam dua puluh menit kini memakan waktu nyaris dua jam. Matahari telah tenggelam sepenuhnya saat Lin Chen akhirnya mendorong pintu kayunya dan ambruk telentang di atas lantai.

Napasnya memburu kasar. Jubah abu-abunya basah kuyup seolah ia baru saja disiram seember air. Otot paha dan betisnya berkedut liar di luar kendali, mengalami kram ekstrem akibat robekan serat otot secara masif.

Tidak ada waktu untuk menangis atau meratapi rasa sakit. Ia menyeret tubuhnya ke sudut ruangan, membuka gulungan perkamen salinan *Langkah Bayangan Berat*, dan mulai mempelajari diagram sirkulasi Qi-nya di bawah cahaya remang bulan.

Teori dasar dari teknik ini benar-benar gila.

Aliran Qi normal bergerak dari Dantian, mengalir turun mengikuti jalur meridian kaki, lalu meresap ke tanah untuk menjaga keseimbangan, atau diputar kembali ke atas secara halus. Metode *Langkah Bayangan Berat* menuntut kultivator untuk menekan seluruh Qi ke telapak kaki dengan sangat brutal, memblokir jalur keluarnya, membiarkan tekanan itu menumpuk di bawah beban fisik, dan secara paksa meledakkannya berbalik ke atas (rebound) untuk melontarkan tubuh ke depan.

Sirkulasi terbalik ini sama dengan menyuruh sungai mengalir mendaki gunung. Risikonya adalah pecahnya pembuluh darah dan hancurnya meridian utama di bagian kaki.

"Rasa sakit adalah kelemahan yang meninggalkan tubuh," bisik Lin Chen mensugesti dirinya sendiri.

Ia memejamkan mata, memutar *Napas Karang Esensi* sebagai pondasi pelindung, lalu mengumpulkan sepersepuluh Qi dari Dantiannya. Ia mendorong energi tersebut turun ke kedua kakinya yang masih terbelenggu Baja Hitam. Energi itu meluncur deras menuju telapak kaki.

Sesuai instruksi gulungan, Lin Chen secara paksa menutup titik akupunktur Yongquan di telapak kakinya.

*Bam!*

Aliran Qi menabrak jalan buntu. Energi itu memberontak liar di sekitar tumit dan betisnya. Perpaduan antara tekanan Qi internal dan beban baja eksternal menciptakan ledakan kecil di dalam kakinya.

"ARGH!" Lin Chen menggigit punggung tangannya sendiri untuk meredam jeritan.

Kulit di sekitar betisnya seketika merembeskan titik-titik darah segar. Beberapa pembuluh darah kapiler pecah. Rasa sakitnya seolah ada ribuan jarum berkarat yang ditusukkan ke dalam sumsum tulangnya secara bersamaan. Ia gagal menahan tekanan itu. Energi tersebut bubar berantakan, meninggalkan rasa kebas yang melumpuhkan kedua kakinya dari lutut ke bawah.

Eksperimen pertama berujung pada kerusakan parah.

Menyerah tidak pernah ada dalam kamusnya. Lin Chen segera menggunakan sisa *Napas Karang Esensi* untuk memulihkan jaringan yang robek. Proses penyembuhan ini memakan waktu tiga jam. Begitu rasa kebasnya hilang dan ototnya kembali tersambung, ia kembali melakukan percobaan kedua.

Gagal. Berdarah. Sembuh.

Percobaan ketiga. Gagal. Berdarah. Sembuh.

Malam itu, gubuk reyot Lin Chen menjadi saksi bisu dari penyiksaan mandiri yang melampaui batas kewarasan manusia. Siklus perusakan dan pemulihan ini bukan sekadar melatih teknik, melainkan menempa ulang struktur anatomi kakinya agar mampu menahan ledakan daya dorong yang dahsyat.

Sementara darah membasahi lantai gubuk Lin Chen, di sisi lain area pelataran luar, suasana sebuah paviliun mewah terasa sangat membekukan.

Paviliun ini terletak di zona energi spiritual tingkat tinggi, dikelilingi oleh taman teratai dan penjaga bersenjata lengkap. Di aula utama yang diterangi oleh puluhan lilin beraroma kasturi, seorang pemuda tampan berjubah merah marun duduk bersandar di atas kursi kayu cendana. Wajahnya aristokrat, memancarkan kesombongan alami yang lahir dari status dan kekuatan absolut.

Ia adalah Zhao Tian. Praktisi Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tujuh. Penguasa bayangan Fraksi Pedang Darah. Kemampuannya telah diakui oleh para tetua, menjadikannya salah satu kandidat terkuat untuk masuk ke pelataran dalam pada ujian akhir tahun nanti.

Di lantai aula, Zhao Feng berlutut sambil terus memegangi lengan kanannya yang kini dibalut penyangga kayu tebal. Ia tidak berani mengangkat wajahnya. Tidak jauh dari Zhao Feng, tubuh Sun Hai yang babak belur dan masih tidak sadarkan diri tergeletak di atas tandu bambu. Wajah Sun Hai hancur total, hidungnya rata dengan pipi.

Zhao Tian mengetukkan jari telunjuknya ke sandaran kursi secara berirama. Setiap ketukan terdengar seperti lonceng kematian di telinga Zhao Feng.

"Aku mengirim Sun Hai ke Paviliun Kitab untuk memberinya peringatan," suara Zhao Tian terdengar sangat halus, merdu, nyaris seperti bisikan seorang kekasih. Kontras dengan niat membunuhnya yang pekat. "Sebaliknya, tikus bernama Lin Chen itu menghancurkan wajah salah satu petarung garis depanku di depan puluhan pasang mata. Reputasi Fraksi Pedang Darah telah dijadikan keset kaki oleh seorang murid tingkat tiga."

Zhao Tian menghentikan ketukan jarinya. Ia berdiri perlahan, melangkah mendekati Zhao Feng. Udara di ruangan itu seketika menjadi berat. Lapisan Qi tingkat tujuh yang setebal perisai transparan menyelimuti tubuhnya.

*Plak!*

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zhao Feng, menerbangkan tubuh pria itu hingga menabrak pilar aula. Gigi Zhao Feng rontok, darah segar menyembur dari mulutnya.

"Kau," tunjuk Zhao Tian dingin. "Kau membawa aib ini ke depan pintuku. Jika kau tidak begitu bodoh dan serakah menginginkan Rumput Roh Darah sialan itu, tikus ini tidak akan pernah berevolusi menjadi anjing gila."

"M-maafkan aku, Sepupu... ampun!" rintih Zhao Feng sambil bersujud, mengabaikan rasa sakit di lengannya yang patah. "Tolong, bunuh dia. Kirimkan Pasukan Darah Malam untuk memenggal kepalanya saat dia tidur!"

Zhao Tian mendengus sinis. Ia kembali berjalan menuju kursinya. "Gunakan otakmu yang dungu itu. Lin Chen telah menarik perhatian Tetua Hua di Paviliun Kitab. Su Mei juga mengawasi tugas-tugasnya. Mengirim pembunuh bayaran ke asramanya saat ini sama saja dengan memberikan alasan bagi faksi lawan untuk melaporkanku ke Balai Penegak Hukum. Aku tidak akan mengorbankan masa depanku di pelataran dalam hanya demi sampah."

Dari balik bayangan pilar di sudut ruangan, sosok jangkung dan sangat kurus melangkah keluar. Pria ini mengenakan jubah hitam ketat. Ia memegang dua buah pedang pendek melengkung di pinggangnya. Aura yang memancar darinya berada di tingkat enam puncak. Namanya Mo Jue, tangan kanan sekaligus otak strategis Zhao Tian.

"Tuan Muda Zhao benar," ucap Mo Jue dengan suara mendesis seperti ular. "Membunuhnya dalam gelap akan menimbulkan kecurigaan. Kita harus membunuhnya di bawah sinar matahari, di depan ribuan mata, menggunakan aturan sekte itu sendiri."

Zhao Tian menatap penasihat kepercayaannya itu. "Lanjutkan, Mo Jue."

Mo Jue tersenyum licik. "Lima hari lagi adalah jadwal 'Ujian Peringkat Arena Pelataran Luar'. Ujian ini wajib bagi seluruh murid yang telah mencapai tingkat tiga. Tujuannya adalah mengevaluasi kelayakan mereka sebelum memperebutkan posisi pelataran dalam. Di atas ring arena, 'kecelakaan' sering terjadi. Kematian akibat ketidakmampuan menahan serangan lawan dianggap sebagai kelemahan murid itu sendiri, bukan kejahatan pembunuhan."

Mata Zhao Tian sedikit bersinar. Menggunakan arena resmi sekte untuk melumpuhkan musuh adalah metode klasik yang elegan dan tidak bisa diganggu gugat oleh tetua mana pun.

"Masalahnya," lanjut Mo Jue, "Lin Chen baru saja menerobos tingkat tiga. Dia bisa saja menggunakan alasan fondasi belum stabil untuk menolak naik ke arena bulan ini dan menundanya hingga bulan depan."

"Kalau begitu, pastikan dia tidak bisa menolak," potong Zhao Tian dingin. Matanya menyipit penuh perhitungan mematikan. "Bawa Surat Tantangan Darah. Sesuai tradisi sekte kuno, tantangan terbuka yang disertakan dengan taruhan Batu Roh Tingkat Menengah tidak boleh ditolak oleh pria mana pun yang memiliki harga diri. Jika dia menolak, sebarkan rumor bahwa dia telah menistakan Fraksi Pedang Darah dan melarikan diri. Hancurkan mentalitas kultivasinya."

Mo Jue menundukkan kepala. "Rencana yang sempurna, Tuan Muda. Siapa yang akan Anda tugaskan untuk mematahkan lehernya di atas arena?"

Zhao Tian tersenyum tipis. "Bukan kau. Kau terlalu berharga. Aku akan mengirim Li Kuang. Anak itu berada di tingkat lima puncak. Bakat fisiknya luar biasa, tubuhnya sekeras banteng. Biarkan si tukang pukul bodoh itu yang menghancurkan tulang Lin Chen hingga menjadi debu. Pergilah pagi ini, serahkan surat itu langsung ke gubuknya."

Lima hari berlalu sejak Lin Chen mengikatkan Baja Hitam Rawa di kedua kakinya.

Hutan kecil di belakang asrama pinggiran menjadi saksi bisu kegilaannya. Pemandangan pagi itu sangat surealis. Sebuah batu cadas setinggi tiga meter hancur berkeping-keping, meninggalkan kawah kecil di atas tanah. Di tengah debu yang berterbangan, Lin Chen berdiri bertelanjang dada. Tubuhnya dipenuhi bekas memar berwarna ungu kehitaman, keringatnya menetes deras menyatu dengan embun pagi.

Napasnya menderu panjang, menyerupai desisan uap panas.

Selama lima hari tanpa henti, ia memaksakan sirkulasi terbalik itu ribuan kali. Ia tidak melepaskan pelindung kakinya bahkan saat pergi ke kantin, menanggung tatapan aneh dan bisikan ejekan dari murid lain yang melihatnya berjalan terseret-seret menyerupai kura-kura cacat.

Pengorbanannya mulai membuahkan hasil. Pagi ini, ia akhirnya berhasil melakukan ledakan pertama.

Lin Chen memfokuskan kembali pikirannya. Ia menatap sebuah pohon pinus raksasa yang berjarak lima belas meter di depannya.

Ia memutar *Napas Karang Esensi*. Aliran Qi tingkat tiga ditarik dengan ganas, didorong turun melewati paha, menembus betis, dan ditabrakkan secara brutal ke titik Yongquan di telapak kakinya. Rasa sakit sobekan meridian masih ada, kepadatan jaringan ototnya yang baru mencegah pembuluh darahnya pecah.

Energi itu tertekan oleh beban seratus kilogram Baja Hitam Rawa. Lin Chen menekuk lututnya sedikit.

*BOOM!*

Suara ledakan teredam terdengar dari bawah telapak kakinya. Tanah di sekitarnya melesak sedalam lima sentimeter.

Sirkulasi Qi berbalik arah secara instan, berubah menjadi gaya pegas yang luar biasa mengerikan. Tubuh Lin Chen melesat ke depan. Kecepatannya memecahkan persepsi visual manusia biasa. Ia menempuh jarak lima belas meter tersebut dalam waktu kurang dari satu kedipan mata. Ini bukan kelincahan yang mengambang seperti angin; ini adalah pelontaran meriam baja murni.

Angin berdesing tajam menyayat telinganya. Tepat sebelum wajahnya menghantam batang pohon pinus raksasa, Lin Chen menyalurkan sisa momentumnya ke tangan kanannya. 'Batu Tumbuk' berpadu sempurna dengan daya dorong *Langkah Bayangan Berat*.

Tinju kemerahan itu menghantam pohon.

*KRAAAKKK!*

Batang pohon berdiameter satu meter itu meledak seketika di titik benturan. Serpihan kayu berhamburan bagai pecahan peluru. Batang pohon bagian atas tumbang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga, menciptakan awan debu di tengah hutan.

Lin Chen mendarat dengan agak canggung, kakinya masih belum terbiasa menahan rem dari kecepatan seekor iblis. Ia terhuyung dua langkah ke belakang, memegangi dada kanannya yang terasa nyeri. Benturan barusan meretakkan salah satu tulang rusuknya akibat sisa momentum gaya tolak.

Meskipun demikian, tawa parau keluar dari bibirnya. Tawa yang dipenuhi kepuasan absolut.

Kombinasi antara kecepatan ledakan jarak pendek dan daya hancur jarak dekat telah lahir. Ia kini memiliki senjata pembunuh mematikan. Teknik ini sangat menguras Qi; dalam kondisi tingkat tiga, ia hanya bisa menggunakan *Langkah Bayangan Berat* maksimal tiga kali sebelum Dantiannya terkuras habis.

Tiga kali sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri nyawa musuh yang meremehkannya.

Lin Chen membersihkan debu dari tubuhnya, mengenakan kembali jubah abu-abunya, dan mulai melangkah perlahan kembali menuju gubuknya. Setiap langkahnya masih dikunci oleh beban seratus kilogram. Sistem memperingatkannya untuk tidak melepasnya selama empat belas hari demi penyempurnaan kepadatan tulang secara permanen. Ia akan mematuhi aturan tersebut dengan disiplin seorang prajurit.

Saat Lin Chen mendekati gubuk kayunya yang reyot, ia menyadari pintu gubuknya telah ditendang hingga hancur berkeping-keping.

Mata Lin Chen langsung menyipit tajam. Hawa dingin memancar dari tubuhnya.

Di depan puing-puing pintunya, berdiri sosok pria kurus berjubah hitam. Pria itu menyilangkan tangan di dada, memutar-mutar sebuah belati melengkung dengan bosan. Itu adalah Mo Jue, algojo kepercayaan Zhao Tian.

Menyadari kedatangan Lin Chen, Mo Jue menoleh. Ia menatap penampilan Lin Chen yang berdebu dan penuh keringat dengan ekspresi jijik.

"Kau membuang waktuku, Sampah. Aku sudah menunggumu selama setengah jam," desis Mo Jue. Matanya memindai kaki Lin Chen yang terbalut logam hitam tebal, salah mengiranya sebagai bentuk perlindungan diri murahan karena takut diserang secara tiba-tiba.

Lin Chen melangkah maju. Ekspresinya datar seperti permukaan danau es. "Kau menghancurkan pintuku. Pintu itu harganya tiga keping tembaga. Aku asumsikan nyawamu bernilai lebih dari itu untuk membayar ganti ruginya."

Mo Jue tertawa sinis, suara tawanya menyerupai gagak. "Nyawaku tidak akan bisa kau sentuh meski kau berlatih selama seratus kehidupan. Aku datang bukan untuk membunuhmu hari ini. Kakak Zhao Tian sangat berbaik hati. Dia mengirimkan hadiah untukmu."

Mo Jue merogoh jubahnya, mengeluarkan selembar perkamen kulit berwarna merah darah. Ia melemparkannya ke tanah, tepat di ujung kaki Lin Chen. Bersamaan dengan itu, ia melemparkan sebuah kantong kecil yang mengeluarkan bunyi dentingan batu berharga.

"Surat Tantangan Darah," ucap Mo Jue dengan nada mengejek. "Ujian Peringkat Arena akan diadakan besok siang. Kakak Zhao menantangmu untuk naik ke panggung dan membuktikan bahwa kau bukan sekadar pengecut yang hanya berani memukul mundur kroco tingkat empat di dalam perpustakaan. Jika kau menang, kantong itu berisi dua Batu Roh Tingkat Menengah. Hartamu seumur hidup. Jika kau kalah..."

Mo Jue menyeringai, menampilkan gigi-giginya yang tajam. "Li Kuang akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan atau mengunyah makanan sendiri lagi."

Lin Chen menatap perkamen merah di bawah kakinya, lalu menatap kantong batu roh tersebut. Pikirannya berputar sangat cepat. Fraksi Pedang Darah mencoba membunuhnya secara legal. Li Kuang, ia pernah mendengar nama itu. Seorang barbar setinggi dua meter di Tahap Kondensasi Qi Tingkat Lima, pengguna teknik penguatan tubuh yang sejalan dengan gaya bertarung frontal.

Perbedaan dua tingkat kultivasi yang sangat solid. Sebuah tantangan terbuka dengan taruhan batu roh berkualitas tinggi, persis hal yang ia butuhkan untuk terus memacu kapasitas energi dan membiayai kebutuhan belajarnya.

**[Situasi Konflik Ekstrem Terdeteksi.]**

**[Tantangan Arena Terbuka melawan Li Kuang (Tingkat Lima Puncak).]**

**[Silakan tentukan jalan pertahanan diri Anda:]**

**[Pilihan 1: Tolak tantangan, klaim bahwa pondasi tingkat tiga Anda belum stabil.

Hadiah: Anda selamat dari arena. Reputasi hancur. Fraksi Pedang Darah akan mengucilkan Anda dari segala akses sumber daya pelataran luar.]**

**[Pilihan 2: Terima tantangan, berencana untuk berpura-pura pingsan di detik pertama pertarungan dimulai.

Hadiah: Anda selamat dengan memalukan. Li Kuang akan tetap mematahkan kedua tulang kaki Anda saat Anda berbaring.]**

**[Pilihan 3: Terima tantangan. Hadapi Li Kuang secara frontal dengan menggunakan beban Baja Hitam masih terpasang di kaki Anda.

Hadiah: Jika menang, mendapat gelar 'Demon of Outer Court', 2 Batu Roh Tingkat Menengah, dan Terobosan Kecepatan Permanen.]**

Lin Chen membaca layar biru dengan senyum mengerikan yang merayap di sudut bibirnya. Sistem ini, sama seperti dirinya, merupakan entitas yang haus akan pertumpahan darah dan penembusan batas yang mustahil. Pilihan ketiga memintanya bertarung melawan musuh yang lebih kuat dua tingkat sambil memakai rantai seratus kilogram di kakinya. Kegilaan murni yang menyulut api di dalam nadinya.

Layar biru memudar.

Lin Chen membungkuk perlahan. Otot kakinya berderak pelan menahan beban baja saat ia mengambil perkamen merah dan kantong batu roh tersebut dari atas tanah. Ia menyimpannya di balik jubahnya.

Ia menegakkan tubuhnya kembali, menatap lurus ke dalam mata Mo Jue yang licik. Sorot mata Lin Chen saat itu tidak memancarkan ketakutan sedikit pun, melainkan ketenangan mutlak dari seorang predator yang baru saja disajikan daging segar di atas piring perak.

"Sampaikan pesanku pada majikanmu, anjing kurus," suara Lin Chen terdengar berat dan dipenuhi resonansi mematikan. "Aku menerima tantangan ini. Beri tahu si barbar bernama Li Kuang itu untuk menyiapkan peti matinya sendiri. Besok siang, arena sekte akan dibasahi oleh darah Fraksi Pedang Darah."

Mo Jue merasakan bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas. Pemuda di depannya ini tidak masuk akal. Tekanan aura Lin Chen tiba-tiba terasa lebih berat daripada level aslinya.

Mengabaikan rasa dingin yang menjalar di punggungnya, Mo Jue mendengus keras untuk menjaga gengsinya. "Kata-kata besar dari seekor cacing. Nikmati napas terakhirmu malam ini, Lin Chen."

Mo Jue memutar tubuhnya dan melesat pergi menggunakan teknik pergerakannya, menghilang di balik pepohonan dalam hitungan detik.

Lin Chen berdiri sendirian di depan pintu gubuknya yang hancur. Ia menunduk menatap sepasang balok Baja Hitam Rawa yang membelenggu kakinya. Rasa sakit ototnya terus berdenyut, memberitahukan betapa lemahnya kefanaan tubuh ini.

"Besok," gumamnya pada keheningan. "Besok, langit pelataran luar akan mengetahui beratnya sebuah bayangan."

Ia melangkah masuk ke dalam sisa gubuknya, duduk bersila di tengah puing-puing, dan menutup mata. Menyingkirkan seluruh emosi, ia kembali menenggelamkan diri ke dalam samudra *Napas Karang Esensi*, bersiap mengubah sisa malam menjadi persiapan bagi ajang pembantaian termegah dalam hidupnya yang singkat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!