NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHKOTA YANG TEGAK KEMBALI

Danang berdiri di sudut ruangan, bersandar pada kusen pintu sambil memperhatikan Mira yang kini duduk di antara kakak-kakak ipar dan keponakannya. Meski suasana di ruang tengah itu riuh oleh suara tawa anak-anak dan obrolan ringan, mata Danang tetap terjaga, terus memantau setiap gerak-gerik adik bungsunya.

Ia melihat Mira mencoba tersenyum saat salah satu keponakannya memberikan sebuah gambar coret-coret di atas kertas. Senyum itu tipis, masih terlihat rapuh, namun setidaknya binar kehidupan mulai kembali ke matanya.

Danang mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Amarahnya pada Nayaka masih mendidih, namun ia tahu bahwa menunjukkan kemarahan sekarang hanya akan membuat Mira semakin merasa bersalah. Baginya, tugas utamanya hari ini bukanlah menghancurkan pria pengecut itu—karena pria itu sudah hancur oleh pilihannya sendiri—melainkan menjaga agar Mira tidak jatuh lebih dalam.

"Kamu aman selama ada kita," batin Danang dengan sumpah yang sangat kuat.

Ia melirik ke arah Darma, Danu, dan Damar yang sedang asyik berpura-pura sibuk membakar sate di halaman samping, padahal ia tahu telinga mereka semua terpasang tajam ke arah dalam rumah. Mereka berempat tidak butuh kata-kata untuk sepakat. Tanpa perlu rapat keluarga, mereka sudah tahu: mulai hari ini, jalanan menuju rumah ini tertutup rapat bagi siapa pun yang berani menyakiti adik mereka.

Danang tahu luka sepuluh tahun tidak akan sembuh dalam semalam. Akan ada malam-malam di mana Mira menangis diam-diam di kamarnya, atau saat-saat di mana Mira merindukan kebiasaan lamanya. Namun, selama kaki keempat kakaknya masih menapak di bumi, Danang memastikan tidak akan ada satu pun bayangan masa lalu yang bisa menyentuh Mira lagi.

Ibu mendekati Danang, mengusap pundak putra keduanya itu seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di pikirannya. Danang hanya mengangguk pelan pada Ibu, lalu kembali menatap Mira.

Di rumah ini, di antara riuhnya keluarga yang tulus menyayanginya, Mira bukan lagi seorang "rahasia" yang harus disembunyikan. Di sini, dia adalah ratu yang mahkotanya baru saja ditegakkan kembali oleh tangan-tangan kakaknya.

Suasana di ruang tengah berubah seketika saat Mira masuk ke kamar bersama para ipar dan keponakannya. Begitu pintu kamar tertutup, keceriaan yang tadi dipaksakan langsung menguap, berganti dengan aura maskulin yang berat dan penuh tuntutan.

Darma, Danu, dan Damar segera mendekat ke arah Danang yang masih berdiri kaku di sudut ruangan. Sebagai saudara, mereka punya ikatan batin yang kuat; mereka tahu ada badai yang baru saja dilewati adik bungsu mereka.

"Nang, ada apa sebenarnya? Tadi di depan rumah Nayaka, apa yang terjadi?" tanya Darma, kakak tertua, dengan suara rendah namun penuh wibawa.

Danang menghela napas kasar, ia menjambak rambutnya sendiri sebentar sebelum menatap kakak dan adik-adik laki-lakinya.

"Aku nggak tanya detailnya ke Mira, aku nggak mau dia makin hancur," ucap Danang dengan suara serak. "Tapi aku tahu... pria pengecut itu cuma diam. Dia membiarkan Mira keluar dari rumah itu sendirian. Dia membiarkan harga diri adik kita diinjak-injak keluarganya tanpa satu pun pembelaan."

Darma mengepalkan tangan, wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras. Sementara Danu, kakak ketiga yang biasanya paling humoris, kali ini kehilangan tawanya. Ia mondar-mandir di ruangan itu dengan napas yang memburu.

"Sepuluh tahun, Nang! Sepuluh tahun kita kasih dia panggung buat jadi pahlawan buat Mira, tapi akhirnya begini?" geram Danu.

Hanya Damar, kakak keempat Mira, yang tetap diam. Damar memang yang paling pendiam dan introvert di antara mereka berempat. Ia hanya berdiri bersandar di tembok, memperhatikan saudara-saudaranya bicara. Namun, diamnya Damar bukan berarti ia tidak peduli. Matanya yang dingin menatap lurus ke arah luar jendela, ke arah jalanan, seolah sedang menandai batas wilayah yang tidak boleh dilintasi lagi oleh orang asing.

"Mas Darma," panggil Damar dengan suara yang sangat pelan namun sanggup menghentikan perdebatan saudara-saudaranya yang lain.

Semua menoleh ke arah si bungsu dari empat bersaudara laki-laki itu.

"Hapus nomornya dari semua ponsel kita. Jangan ada yang angkat telepon dari dia, jangan ada yang kasih tahu keadaan Mira," ucap Damar dingin. "Bagi kita, Nayaka sudah mati hari ini."

Danang mengangguk setuju dengan ucapan adiknya itu. Ia merasa didukung oleh kekuatan yang besar.

"Tadi aku sudah bilang ke dia," tambah Danang. "Gerbang rumah ini bakal jadi tembok terakhir yang nggak akan pernah bisa dia lewati lagi. Dan aku nggak main-main."

Keempat laki-laki itu berdiri dalam lingkaran keheningan yang solid. Mereka tidak butuh banyak kata lagi. Hari ini, mereka bukan hanya sekadar kakak; mereka adalah barisan pelindung yang akan memastikan bahwa siapa pun yang ingin menyentuh Mira lagi, harus berhadapan dengan empat amarah yang berbeda, namun dengan satu tujuan yang sama: menjaga kehormatan adik perempuan mereka.

Di dalam kamar yang bernuansa tenang itu, suasana terasa jauh lebih lembut. Mira duduk bersandar di kepala tempat tidur, dikelilingi oleh ketiga kakak iparnya. Anak-anak kecil sudah dialihkan untuk bermain di sudut karpet, meninggalkan ruang bagi para wanita untuk bicara dari hati ke hati.

Mbak Sari, istri Mas Darma, menggenggam tangan Mira yang masih terasa dingin. Ia menatap Mira dengan tatapan seorang kakak perempuan yang tulus.

"Mir, apa pun itu, cerita sama kita ya?" ucap Mbak Sari lembut. "Kalau kamu belum sanggup atau nggak berani cerita sama Mas-masmu karena takut mereka makin emosi, kita di sini bakal dengerin kamu. Kita semua perempuan, Mir. Kita tahu rasanya."

Istri Mas Danu ikut mengangguk, ia mengusap punggung Mira dengan gerakan menenangkan. "Jangan dipendam sendiri. Mas Danang itu memang galak suaranya, tapi hatinya hancur lihat kamu begini. Tapi kalau kamu merasa lebih nyaman cerita ke kami dulu, nggak apa-apa. Kita nggak bakal bocorin ke mereka kalau kamu nggak mau."

Mira hanya menunduk, air matanya jatuh satu per satu mengenai jemarinya yang saling bertaut. Di kamar ini, ia tidak perlu terlihat kuat. Di depan kakak-kakak iparnya, ia tidak perlu merasa terbebani oleh ultimatum Mas Danang atau kemarahan Mas-masnya yang lain.

"Dia... dia diam saja, Mbak," bisik Mira akhirnya, suaranya nyaris hilang. "Di depan ibunya, di depan perempuan itu... Nayaka nggak bilang apa-apa saat aku dianggap nggak ada. Sepuluh tahun aku nunggu dia buat bicara, tapi tadi dia malah lepas tanganku."

Mendengar itu, ketiga kakak iparnya saling berpandangan. Ada rasa sesak dan geram yang mereka tahan demi menjaga perasaan Mira. Mereka tahu betapa besarnya pengorbanan Mira menjaga kesetiaan selama satu dekade, hanya untuk diperlakukan seperti tamu tak diundang.

"Sudah, Mir. Menangis saja sekarang," bisik istri Mas Danu sambil memeluknya erat. "Habiskan tangismu di kamar ini. Begitu kamu keluar dari pintu itu nanti, ingat kalau kamu punya kita. Kamu punya keluarga yang nggak akan pernah lepas tanganmu, apa pun yang terjadi."

Mira terisak dalam pelukan itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mencoba bertahan dalam ketidakpastian, ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Ia sadar, meski cintanya gagal, ia tidak pernah gagal dalam memilih tempat untuk pulang. Di rumah ini, di antara wanita-wanita hebat ini, ia menemukan kembali harga dirinya yang sempat hilang di rumah mewah itu.

Mendengar penuturan Mira, suasana di dalam kamar langsung memanas. Wulan, istri Damar, yang sejak tadi mencoba menahan diri, akhirnya tidak bisa tinggal diam. Berbeda dengan Damar yang irit bicara dan tenang, Wulan adalah sosok yang blak-blak-an dan sangat protektif jika menyangkut ketidakadilan.

"Jadi dia ada perempuan lain? Benar-benar nggak ada otak!" ucap Wulan dengan nada tinggi yang tertahan, matanya berkilat marah. "Sepuluh tahun, Mira! Sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar. Bisa-bisanya ibunya bawa perempuan lain di depan kamu?"

Mira langsung memegang tangan Wulan, wajahnya menunjukkan ketakutan yang nyata. ia tahu bagaimana reaksi kakak-kakak laki-lakinya jika hal ini sampai ke telinga mereka—terutama Mas Danang.

"Mbak, tapi soal perempuan ini... tolong dirahasiakan ya dari Mas-mas," bisik Mira memohon. "Karena kayaknya Nayaka juga nggak kenal sama dia. Nayaka tadi kaget banget waktu lihat perempuan itu di sana. Dia juga nggak tahu kalau ada rencana perjodohan itu."

Wulan mengembuskan napas panjang, mencoba meredam emosinya demi melihat wajah adiknya yang memelas.

"Mir, kaget atau nggak, faktanya dia tetap diam kan?" sahut Wulan, suaranya sedikit merendah namun tetap tegas. "Tapi oke, kalau itu mau kamu, kita simpan dulu soal si Azzura itu. Tapi Mbak nggak janji ya kalau Mas Danang sampai tahu dari sumber lain."

Mbak Sari, istri Mas Darma, mengangguk setuju. "Iya, Wul. Kita simpan dulu. Kasihan Mira kalau Mas-masnya langsung nyerbu ke sana sekarang. Bisa-bisa rumah orang itu rata sama tanah kalau Mas Danang tahu ada penghinaan sedalam ini."

Mira sedikit lega, meskipun ia tahu rahasia ini seperti bom waktu. Ia hanya ingin mengakhiri semuanya dengan tenang tanpa ada keributan fisik.

"Terima kasih ya, Mbak-mbak..." ucap Mira lirih.

"Sama-sama, Sayang. Sekarang kamu cuci muka, ganti baju yang nyaman. Habis ini kita keluar, kita makan bareng anak-anak. Jangan tunjukin wajah sedih lagi di depan keponakanmu, ya? Kita tunjukin kalau kamu tetap berharga tanpa laki-laki pengecut itu," ucap Mbak Sari sambil mengecup kening Mira.

Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara tawa Mas Danu yang sedang menggoda anak-anak. Mira menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya. Di dalam sini, ia aman. Rahasianya terjaga, setidaknya untuk saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!