Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
POV Ghea
"Karena orang yang aku cintai ada di sini... dan aku ingin bersamanya sebelum aku pergi, yang entah kapan akan kembali."
Kalimat itu meluncur dari bibir Ghani sembari matanya mengunci tatapanku. Namun, entah mengapa, kata-katanya terasa hambar. Tidak ada debar spesial, tidak ada kejutan manis, bahkan tidak ada rasa bahagia. Hambar. Bayangan seorang gadis yang memeluknya dengan mesra pagi itu masih terpatri jelas di benakku. Logikaku berbisik tajam: jangan percaya. Saat aku berjuang antara hidup dan mati, dia justru menghilang saat aku sadar. Bagaimana aku bisa percaya pada kata cinta yang dasarnya terasa retak?
Keheningan yang menyesakkan itu tiba-tiba pecah. Pintu kamar rawat terbuka, memunculkan sosok perempuan dengan kaos oblong putih dan flared jeans. Tas punggung kulit kecil tersampir di bahunya. Jantungku berdegup kencang. Dia. Perempuan yang kulihat bersama Ghani pagi itu.
"Halo!" sapanya dengan wajah yang berbinar riang.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Ghani. Aku menangkap rona terkejut di wajahnya.
Gadis itu meletakkan keranjang buah di samping bunga dari Ghani. "Aku ingin melihat kondisi kakak iparku," jawabnya santai sambil melempar senyum padaku.
Kakak ipar? Aku terpaku. Hatiku bertanya-tanya, apakah gadis ini tidak cemburu melihat "kekasihnya" menungguku seharian di rumah sakit? Aku memaksakan sebuah senyum hiasan yang tak pernah sampai ke hati.
"Bagaimana kondisimu?" tanyanya lembut.
"Sudah lebih baik," jawabku pendek. Aku melirik Ghani yang hanya mematung diam dengan tangan terlipat di dada.
"Syukurlah. Ghani sangat mengkhawatirkanmu. Dia takut kamu kenapa-kenapa sampai menunggumu di sini seharian tanpa beranjak," lanjut gadis itu seraya melirik pria itu.
Aku hanya bisa mengangguk kaku, masih terjebak dalam kebingungan. Sebelum suasana makin canggung, Ghani mulai mendorong gadis itu keluar.
"Ghea masih perlu istirahat, kamu pulang saja!"
"Hei! Aku benar-benar ingin tahu keadaannya, jangan seenaknya mengusirku!" Gadis itu membalas mendorong Ghani, mereka berebut ruang seperti anak kecil.
Akhirnya, Ghani menyerah. Ia menyeret gadis itu mendekat ke brankarku. "Ghea, perkenalkan, ini adik kandungku, Ghina. Ghina, ini Ghea."
Seketika, rasa berat yang menghimpit dadaku luruh, berganti dengan rasa lega yang luar biasa sekaligus rasa bersalah yang dalam. Bodohnya aku. Rasa cemburu ini ternyata tidak pada tempatnya. Kami bertiga akhirnya larut dalam candaan. Aku melihat betapa akrabnya mereka. Tanpa orang tua yang mendampingi selama bertahun-tahun, mereka adalah dunia bagi satu sama lain.
Empat hari kemudian, aku akhirnya bisa menghirup udara rumah yang segar. Selama masa pemulihan, Ghani benar-benar menjagaku. Ia memasak, memastikan suhu ruangan pas, bahkan mencuci pakaianku. Perhatiannya membuatku merasa sangat berarti.
Malam itu, setelah makan malam, aku menatapnya dalam. "Ghan, terima kasih sudah menjagaku. Perhatianmu membuatku merasa dicintai dan dilindungi."
Ghani menggenggam tanganku erat. Wajahnya nampak sangat serius. "Ghe, kumohon, jangan ada lain kali. Berjanjilah padaku ini yang terakhir. Aku tidak selamanya bisa menjagamu. Berjanjilah kamu akan mengutamakan kebahagiaanmu sendiri, bahkan jika orang itu adalah aku."
Aku mengangguk pelan. "Aku akan berusaha."
"Sejujurnya, seminggu ini adalah waktu terbaik yang pernah kumiliki. Aku akan membawa hatimu ke mana pun aku pergi, selamanya. Aku mencintaimu, Ghe."
Aku menatap matanya dalam-dalam, mencari celah kebohongan, namun yang kutemukan hanyalah sebuah ketulusan.
"Aku juga senang bersamamu, Ghan. Tapi... aku butuh waktu. Aku perlu tahu seberapa dalam perasaanmu. Aku tidak ingin hancur karena jatuh terlalu dalam."
Ghani tersenyum tipis, seolah memahami ketakutanku. Ia menyiapkan tempat tidurku dan menyuruhku berbaring. "Tidurlah. Biarkan aku menjagamu di sini."
Ia duduk bersandar pada headboard, tatapannya menerawang jauh, seolah sedang menatap masa depan yang tidak pasti.
"Kamu tampak lelah, tidurlah juga," kataku.
Ia menggeleng. "Aku akan menemanimu sampai kamu tertidur."
Malam itu terasa begitu damai. Genggaman tangannya seolah menjadi jangkar yang menahanku agar tidak pergi. Perlahan, kesadaranku meredup, membawaku menuju perjalanan mimpi yang entah mengapa terasa seperti sebuah pamitan tanpa kata.