Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru yang Tidak Memiliki Tulang
Malam di dasar laut tidak ditandai dengan munculnya bulan atau bintang, melainkan dengan perubahan warna air di luar dinding Bale Sokawati. Air yang semula biru cerah perlahan berubah menjadi indigo pekat. Lampu-lampu minyak di dalam ruangan berkedip-kedip seirama dengan detak jantung samudra.
Sekar duduk bersila di tengah ruangan yang kini kosong melompong. Perabotan seperti tempat tidur dan meja rias sudah digeser minggir oleh tangan-tangan tak terlihat. Ia mengenakan kemben hijau pupus dan kain jarik motif parang rusak yang disediakan Nyai Ruminah.
"Siapkan mentalmu," kata Nyai Ruminah tadi.
Sekar menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia sendirian. Tidak ada musik gamelan, hanya suara glub-glub pelan dari air di luar sana.
Tiba-tiba, lantai kayu di depannya basah.
Air merembes masuk dari sela-sela papan kayu, tapi tidak menyebar. Air itu berkumpul, naik ke atas, melawan gravitasi. Perlahan, gumpalan air itu membentuk siluet tubuh manusia.
Tidak punya wajah. Tidak punya tulang. Hanya air jernih yang terus bergerak, mengalir di dalam dirinya sendiri.
Sosok air itu melayang mendekati Sekar, lalu membungkuk—gestur penghormatan seorang penari kepada panggungnya.
"Kamu... guru saya?" tanya Sekar ragu.
Sosok itu tidak menjawab dengan suara. Alih-alih bicara, ia menggerakkan "tangan" airnya. Sebuah gerakan yang luwes, lembut, namun bertenaga. Ujung jarinya—yang hanya berupa tetesan air—menjentik udara.
TAK.
Suara itu terdengar di dalam kepala Sekar. Bukan suara jentikan jari, tapi suara tetesan air yang jatuh di gua sunyi.
Sosok itu mulai menari.
Sekar ternganga. Ia belum pernah melihat tarian seperti ini. Itu bukan Tari Serimpi, bukan Tari Bedhaya, bukan pula Jaipong. Itu adalah tarian air murni. Gerakannya tidak patah-patah, tidak ada sudut tajam. Semuanya melengkung, mengalir, menyatu.
Satu detik ia terlihat seperti ombak yang menggulung pelan. Detik berikutnya, ia berputar cepat seperti pusaran air yang mematikan.
"Ikuti," bisik suara di kepala Sekar. Suaranya bukan suara manusia, tapi gabungan dari ribuan suara gelembung air yang pecah.
Sekar canggung. Ia mencoba berdiri dan meniru gerakan tangan sosok itu. Tapi tubuhnya kaku. Sendi-sendinya terasa seperti kayu kering.
"Salah," koreksi suara itu. "Kamu bergerak dengan otot. Air tidak punya otot. Air bergerak dengan niat."
Sosok air itu mendekat, lalu tiba-tiba menabrak tubuh Sekar.
BYUR!
Sekar tidak basah. Sosok itu masuk ke dalam tubuhnya. Meresap ke dalam pori-porinya.
Seketika, Sekar merasa tubuhnya bukan lagi miliknya. Ia bisa merasakan aliran darah di dalam venanya sejelas ia melihat sungai. Ia bisa merasakan cairan di dalam sendi lututnya, cairan di dalam bola matanya.
"Jadilah wadah," bisik guru itu dari dalam diri Sekar. "Jangan lawan arusnya. Ikuti."
Tangan Sekar terangkat sendiri. Kali ini, gerakannya tidak kaku. Tangannya meliuk seperti tanaman air yang tertiup arus. Kakinya melangkah, mendak (merendah), lalu berputar.
Sekar merasa aneh. Ia sadar, tapi juga tidak. Ia seperti penonton di dalam tubuhnya sendiri.
"Musuhmu adalah batu karang," jelas sang guru sambil menggerakkan tubuh Sekar untuk melakukan gerakan seblak sampur (mengibaskan selendang) imajiner. "Batu itu keras. Kaku. Sombong. Jika kamu menghantamnya dengan keras, kamu akan pecah."
Tubuh Sekar melakukan gerakan melompat, ringan sekali, lalu mendarat tanpa suara.
"Tapi jika kamu menjadi air... kamu bisa masuk ke celah terkecil batu itu. Kamu bisa mengikisnya pelan-pelan. Kamu bisa membuatnya lapuk dari dalam."
Sekar mulai mengerti. Ini bukan pelajaran tari untuk pertunjukan. Ini adalah pelajaran bela diri filosofis.
Poseidon adalah manifestasi dari kekuatan kasar, maskulinitas yang meledak-ledak, dan kekakuan ego. Untuk mengalahkannya, Sekar tidak boleh menjadi "batu" yang lebih keras. Ia harus menjadi antitesisnya: kelembutan yang menghanyutkan.
"Rasakan sedihmu," perintah guru itu.
Sekar teringat anak sapi yang mati. Teringat Eyang Sumi yang sakit. Rasa sedih itu menyeruak.
"Bagus. Sekarang ubah sedih itu menjadi ombak."
Gerakan Sekar berubah. Dari yang tadinya lembut mengalun, tiba-tiba menjadi cepat dan intens. Tangannya menyabet udara, kakinya menghentak lantai. Tapi wajahnya tetap tenang, tanpa ekspresi.
Tenang di permukaan, mematikan di kedalaman.
Itulah kunci tarian Ratu Kidul.
Berjam-jam berlalu. Keringat Sekar bercucuran, tapi ia tidak merasa lelah. Ia justru merasa semakin segar. Setiap gerakan tarian itu seperti memompa energi baru ke dalam sel-sel tubuhnya.
Menjelang pagi, sosok air itu perlahan keluar dari tubuh Sekar. Ia kembali membentuk wujud manusia air di hadapan Sekar.
Sekar jatuh terduduk, napasnya memburu, tapi ada senyum puas di bibirnya. Ia baru saja merasakan kebebasan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Tubuhnya terasa ringan, fleksibel, tak terbatas.
"Kamu belajar cepat, Anak Darat," puji sosok itu lewat suara gemericik.
"Terima kasih, Guru," ucap Sekar, menundukkan kepala. "Siapa nama Guru?"
Sosok itu mulai memudar, meresap kembali ke sela-sela lantai kayu.
"Aku tidak punya nama. Dulu... manusia menyebutku Tirta. Tapi sekarang, aku hanyalah keringat Ibu Ratu yang menetes saat beliau menari pertama kali untuk menenangkan samudra."
Sosok itu menghilang sepenuhnya.
Pintu ruangan terbuka. Nyai Ruminah masuk membawa nampan berisi sarapan—nasi tumpeng kecil dengan lauk ingkung ayam.
"Sudah selesai?" tanya Nyai, melihat Sekar yang masih duduk di lantai dengan mata berbinar.
"Sudah, Nyai," jawab Sekar. Ia mengangkat tangannya, menggerakkan jari-jarinya. Gerakannya meninggalkan jejak uap tipis di udara.
Nyai Ruminah tersenyum lebar. "Bagus. Matamu sudah berubah. Tidak lagi mata rusa yang ketakutan. Sekarang matamu seperti mata pusaran air."
Nyai meletakkan nampan di depan Sekar.
"Makanlah. Kamu butuh tenaga. Nanti malam, kita akan kedatangan tamu lagi. Bukan untuk latihan menari, tapi untuk mendandanimu."
"Mendandani?" Sekar menyuap nasi kuning itu. Rasanya enak sekali, gurih dan hangat.
"Tentu saja," Nyai Ruminah mengedipkan sebelah matanya. "Kamu pikir kamu akan menari di depan Dewa Yunani pakai kemben latihan itu? Tidak, Nduk. Kita akan memakaikanmu Dodot Bangun Tulak. Pakaian kebesaran penari bedhaya ketawang."
Sekar tersedak. Bedhaya Ketawang? Tarian sakral yang hanya boleh ditarikan setahun sekali saat penobatan raja?
"Tapi Nyai... saya bukan penari keraton! Itu lancang!"
"Dalam situasi perang, aturan protokol dikesampingkan, Sekar," kata Nyai Ruminah serius. "Lagipula, yang akan kamu pakai bukan kain asli dari keraton darat. Kain yang akan kamu pakai ditenun dari benang sutra laba-laba laut dan dicelup dalam tinta cumi-cumi purba."
Nyai Ruminah menunjuk ke arah peti kayu besar di sudut ruangan yang baru saja muncul entah dari mana.
"Baju zirahmu sudah siap."
Sekar menatap peti itu. Ia merasakan aura yang kuat memancar dari sana. Aura yang dingin, anggun, dan berbahaya.
Perang rasa ini akan segera dimulai. Dan Sekar harus menjadi senjata tercantik sekaligus paling mematikan yang pernah diciptakan Laut Selatan.