Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~
" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~
Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Rasa Rindu
Awalnya dia adalah orang paling menyebalkan..setiap kata memicu emosi, setiap kehadiran menguji kesabaran. Benci tumbuh begitu mudah, seolah tak mungkin berubah. Namun waktu diam-diam mempermainkan segalanya...yang menyebalkan menjadi terbiasa, yang dibenci perlahan terasa dirindukan. Sampai akhirnya mereka tersadar, orang yang dulu paling ingin dihindari justru menjadi sosok yang paling dicari keberadaannya.
Hati mulai merasa dekat, terlalu dekat bahkan, tapi mulut tak pernah berani berucap. Ada takut yang menetap...takut salah menafsirkan perhatian, takut berharap pada sesuatu yang mungkin tak pernah benar-benar ada. Hingga akhirnya mereka tersadar, orang yang dulu paling ingin dihindari justru menjadi sosok yang paling dicari keberadaannya, meski hanya lewat diam dan rasa yang tak pernah sempat diakui.
Ada keanehan yang pelan-pelan dirasakan Naura.
Beberapa hari ini, ia tak lagi melihat Hamka di rumahnya. Tak ada ketukan iseng di jendela kamar yang biasanya datang di waktu-waktu tak terduga. Tak ada celotehan aneh, ejekan receh, atau suara laki-laki itu yang kerap membuatnya kesal sekaligus… tenang.
Rumah di sebelah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bahkan di sekolah pun, Hamka tak terlihat. Lorong-lorong yang biasanya dilewati bersama, kini terasa asing. Naura berkali-kali menoleh tanpa sadar, berharap melihat sosok yang ia pura-pura tak cari.
Kemana Hamka?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Ia ingin sekali bertanya pada Babe Ramli atau Bu Tika—sekadar memastikan Hamka baik-baik saja. Namun setiap kali kesempatan itu datang, lidahnya terasa kaku. Ada gengsi, ada ragu, ada takut jika perhatiannya terbaca terlalu jelas.
Di sekolah, Naura mencoba mencari jawaban lewat Edo.
Namun laki-laki itu justru bersikap aneh. Setiap kali mata mereka bertemu, Edo seperti sengaja menghindar. Langkahnya dipercepat, kepalanya menunduk, seolah ada sesuatu yang tak boleh ia katakan.
Sikap itu justru membuat dada Naura makin tak tenang.
Sunyi yang ditinggalkan Hamka ternyata bukan sunyi biasa. Ia penuh tanda tanya, penuh kekhawatiran, dan perlahan berubah menjadi rasa kehilangan yang tak ingin Naura akui,bahkan pada dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian
Naura bersama kedua temannya, Sisi dan Lala, sedang asyik menikmati hari libur di sebuah pusat perbelanjaan. Tujuan utama mereka hari itu sebenarnya sederhana—Naura ingin membeli kado untuk Bu Tika yang sebentar lagi berulang tahun.
Kenapa ia mau repot-repot? Naura sendiri tak pernah benar-benar tahu jawabannya. Mungkin karena Bu Tika, ibu Hamka, menjadi sosok yang tanpa sadar mengisi ruang rindu dalam hatinya pada almarhumah ibunya. Perempuan itu selalu bersikap hangat, penuh perhatian, dan tulus menyayangi Naura, seolah ia bukan sekadar teman anaknya.
Dan memang, setiap tahun—baik saat Bu Tika maupun Babe Ramli berulang tahun—Naura tak pernah absen memberikan sesuatu, sekecil apa pun itu, sebagai tanda sayang.
Siang itu, langkahnya terhenti di depan etalase kecil. Matanya tertarik pada sebuah dompet mungil, sederhana namun elegan. Bukan barang bermerek, tapi entah kenapa terasa pas. Naura membelinya tanpa ragu, dengan senyum kecil yang tak ia sadari muncul di wajahnya.
Setelah urusan kado selesai, Naura dan kedua temannya langsung meluncur ke lantai tiga. Film yang sudah mereka incar sejak beberapa hari lalu akhirnya tayang hari ini—dan mereka tak sabar menikmati sisa libur dengan tawa, popcorn, dan cerita-cerita ringan yang mengalir begitu saja.
Naura, Sisi, dan Lala akhirnya memilih duduk di area food court setelah keluar dari studio bioskop. Perut lapar, kepala masih dipenuhi potongan adegan film yang barusan mereka tonton. Naura sibuk mengaduk es cokelatnya, sementara Sisi dan Lala sudah lebih dulu menyerang makanan masing-masing.
Baru beberapa suapan, tiba-tiba Sisi menghentikan gerakannya. Matanya menyipit, menatap ke arah deretan kursi di seberang.
“Itu bukannya Hamka?” ucapnya sambil menunjuk, masih berusaha meyakinkan penglihatannya sendiri.
Naura refleks menoleh.
Dan benar saja.
Di sana, beberapa meja dari tempat mereka duduk, Hamka terlihat berdiri di samping seorang perempuan. Perempuan itu tampak rapi, rambutnya tergerai, sesekali tertawa kecil saat Hamka mengatakan sesuatu. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat pemandangan itu terasa… mengusik.
Naura membeku beberapa detik.
Tetangganya itu...yang beberapa hari terakhir jarang ia lihat. Padahal sebelumnya, hubungan mereka cukup hangat. Terlalu hangat untuk sekadar disebut biasa. Obrolan singkat di pagar rumah, pesan-pesan receh yang entah sejak kapan terasa berarti, dan perhatian kecil yang tanpa sadar sudah ia tunggu.
Dadanya terasa aneh.
“Oh,” hanya itu yang keluar dari bibir Naura, datar, seolah tak ada apa-apa.
Lala meliriknya cepat. “Lo kenal ceweknya?”
Naura menggeleng pelan. “Nggak.”
Sisi menatap Naura lebih lama dari yang seharusnya, seakan membaca sesuatu di balik wajah tenang itu. “Hamka jarang keliatan akhir-akhir ini, kan?”
Naura kembali mengaduk esnya, sendok beradu pelan dengan gelas. “Iya. Mungkin sibuk,” jawabnya ringan, meski ada rasa tak nyaman yang perlahan merayap.
Di kejauhan, Hamka tertawa kecil, entah kenapa, suara itu terasa lebih nyaring dari hiruk-pikuk food court.
Hamka yang sejak tadi berbicara dengan Helena mendadak terdiam. Pandangannya terangkat dan di antara lalu-lalang orang, ia menangkap satu wajah yang terlalu ia kenal.
Naura.
Tatapan mereka bertemu hanya sepersekian detik, namun cukup untuk membuat dada Hamka mengencang. Ada keterkejutan di sana, juga sesuatu yang tak sempat ia tafsirkan. Tapi Naura lebih dulu memutuskan pandangan itu. Wajahnya kembali lurus, lalu ia berdiri cepat.
“Si… kita cabut, yuk,” ujar Naura singkat, sudah lebih dulu meraih tasnya.
Sisi dan Lala saling pandang, paham tanpa perlu banyak tanya. Mereka ikut berdiri, membiarkan makanan yang belum habis, lalu berjalan mengikuti langkah Naura yang terasa lebih cepat dari biasanya.
Hamka spontan bergerak. Kursinya terdorong ke belakang.
“Naura—” panggilnya refleks, suaranya tenggelam oleh riuh food court.
Ia melangkah hendak mengejar, matanya tak lepas dari punggung Naura yang makin menjauh. Namun baru satu langkah, lengannya ditahan.
“Kam Hamka…” suara Helena terdengar lembut.
Helena mencekal lengan Hamka, jemarinya menggenggam erat seolah takut dilepas.
“Kita kan belum selesai makan,” ujarnya
Hamka menoleh, jelas terlihat gelisah. Tangannya reflek menegang di bawah cekalan itu. “Lepasin dulu, Len.”
Helena justru mendekat setengah langkah,
" Cewek tadi siapa ,Kak? Pacar Kakak?"
Pertanyaan itu tak ia jawab .Hamka menoleh kembali ke arah Naura,namun gadis itu sudah tak terlihat. Hilang di balik kerumunan, pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Hamka menghela napas pelan, ada rasa kesal bercampur sesak yang tak bisa ia jelaskan. Tangannya perlahan melepaskan cekalan Helena, tapi semuanya sudah terlambat.
Naura keburu pergi.
Dan entah kenapa, kepergian itu terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya.
Hamka berdiri mematung beberapa saat setelah Naura menghilang dari pandangannya. Ada gejolak aneh yang berputar di dadanya..tak nyaman, menyesakkan, dan tak bisa ia jelaskan dengan logika sederhana.
Kenapa ia begitu takut jika Naura salah paham?
Bukankah hubungan mereka selama ini hanya sebatas tetangga, yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama? Tak ada janji, tak ada status, tak ada hak untuk merasa cemburu atau gelisah berlebihan.
Namun tatapan Naura tadi terus terbayang. Datar, cepat, seolah tak peduli,padahal Hamka bisa menangkap sesuatu di sana. Ada kesal yang ditahan, ada kecewa yang disamarkan. Dan justru itu yang membuat hatinya makin tak tenang.
Hamka menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia sadar.. diam Naura jauh lebih berisik daripada kata-kata. Dan entah sejak kapan, perasaan gadis itu atau kemungkinan ia kehilangannya menjadi sesuatu yang benar-benar ia takuti.