Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18_BATAS YANG SEMAKIN ANEH
Nayla tidak langsung kembali ke kelas.
Tangga ujung gedung itu sunyi. Hanya ada suara langkah kaki siswa di lantai lain yang samar-samar terdengar. Nayla bersandar di dinding, menutup mata beberapa detik, mencoba menenangkan napasnya yang berantakan.
“Gue suami lo.”
Kalimat itu terus terngiang.
Bukan karena romantis. Tapi karena caranya diucapkan—dingin, posesif, dan seolah menjadi rantai yang tiba-tiba mengikat pergelangan kakinya.
"Kalau begitu, kenapa kamu masih nyakitin aku Kenapa kamu masih pura-pura nggak peduli?"
Nayla menghela napas panjang, lalu melangkah menuju kelas. Ia tidak mau terlambat lagi dan memancing masalah baru.
***
Di dalam kelas, suasana tidak kalah aneh.
Begitu Nayla masuk, beberapa pasang mata langsung menoleh. Bisikan kecil terdengar. Ada yang sengaja berdeham, ada yang pura-pura sibuk membuka buku.
Nayla duduk di bangkunya tanpa berkata apa-apa.
Beberapa menit kemudian, Azka masuk.
Langkahnya tenang. Wajahnya kembali datar. Seolah tidak pernah ada masalah yang terjadi barusan. Seolah ia tidak baru saja mengekang seseorang dengan satu kalimat dingin. Tapi Nayla tahu. Ia bisa merasakannya.
Azka duduk di bangku sebelahnya, kursinya ditarik dengan suara pelan tapi tegas. Sepanjang pelajaran, Nayla bisa merasakan tatapan itu lagi. Tidak menusuk seperti pagi tadi, tapi berat. Seperti mengawasi. Seperti memastikan.
Saat guru menjelaskan, Nayla mencoba fokus. Tapi tangannya dingin. Pikirannya berantakan.
Kenapa Azka berubah sejauh ini? Kenapa ia peduli… tapi tetap kejam?
***
Bel pulang sekolah berbunyi.
Nayla langsung berkemas. Ia ingin cepat pulang. Ingin menjauh sebentar dari tatapan Azka yang membuat dadanya tidak nyaman.
Namun rencananya gagal. Begitu ia berdiri dan hendak melangkah, Azka menahan tangannya.
“Bareng,” katanya singkat.
“Aku mau ke perpustakaan,” jawab Nayla spontan.
“Besok,” balas Azka tanpa ragu.
Nayla menatapnya. “Aku belum selesai urusan.”
“Gue bilang bareng.”
Nada itu membuat beberapa siswa di sekitar mereka terdiam. Dani dan Sena yang duduk tidak jauh langsung saling pandang.
“Nay,” panggil Sena pelan, mencoba mencairkan suasana. “Lo nggak apa-apa?”
Nayla tersenyum tipis. “Nggak apa-apa.”
Azka menoleh tajam ke arah Sena. Hanya satu detik, tapi cukup membuat Sena menelan ludah.
“Kenapa sih Azka hari ini?” bisik Dani pelan, tapi masih terdengar.
Azka tidak peduli.
Ia meraih pergelangan tangan Nayla—tidak kasar, tapi cukup kuat untuk memastikan Nayla tidak menolak.
Nayla refleks menarik tangannya. “Jangan di sini.”
Azka menegang. Ia melepas pegangan itu, lalu berjalan lebih dulu keluar kelas.
Nayla terdiam sejenak, lalu mengikutinya.
***
Di parkiran sekolah, udara sore terasa panas. Nayla berdiri di samping mobil Azka, melipat tangan di depan dada.
“Kamu sadar nggak, sikap kamu hari ini berlebihan?” tanya Nayla begitu mereka agak menjauh dari keramaian.
Azka berdiri bersandar di mobilnya sambil menatap lurus kedepan, bukan ke Nayla. “Kamu mau ribut di sini?”
“Kalau perlu,” jawab Nayla. “Aku bukan barang.”
Azka menoleh, sorot matanya mengeras. “Aku nggak bilang kamu barang.”
“Tapi kamu bertingkah seolah aku milikmu sepenuhnya,” balas Nayla. “Tanpa mikirin perasaanku.”
Azka terdiam beberapa detik.
“Kamu nyaman dekat sama dia?” tanyanya tiba-tiba.
Nayla mengernyit. “Siapa?”
“Cowok tadi.”
Nayla mendesah. “Dia cuma teman, nggak lebih. Dia juga baik. Sesuatu yang jarang aku dapat dari kamu.”
Kalimat itu menusuk.
Azka mengepalkan tangan. “Aku nggak mau orang lain ngeliat kamu kayak gitu.”
“Kayak apa?”
“Kayak kamu… bisa ketawa,” jawab Azka pelan, nyaris tidak terdengar.
Nayla membeku.
“Kenapa?” tanyanya pelan. “Karena kamu takut aku bahagia tanpa kamu?”
Azka mendongak. Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya retak. Bukan marah. Bukan dingin. Tapi gelisah.
“Aku nggak ngerti kenapa kamu selalu bikin aku kesel,” katanya lirih. “Kamu keras kepala. Bar-bar. Nggak pernah nurut.”
Nayla tersenyum kecil. “Dan kamu dingin. Kasar. Suka nyakitin orang.”
Mereka saling menatap.
“Kalau kamu mau dekat sama orang lain,” lanjut Azka, suaranya berat, “jangan di depan aku.”
“Itu bukan solusi,” jawab Nayla. “Masalahnya bukan orang lain. Tapi kamu.”
Azka terdiam lama.
Angin sore berembus, membawa suara tawa siswa lain yang pulang berkelompok. Dunia terasa berjalan normal—kecuali di antara mereka berdua.
“Aku nggak akan berhenti punya kehidupan cuma karena kita dijodohkan,” kata Nayla akhirnya. “Kalau kamu mau aku bertahan… berhenti nyakitin aku.”
Azka menelan ludah. Ia ingin membantah. Ingin marah. Ingin kembali jadi Azka yang dingin dan tidak peduli.
Tapi ia tahu, hari ini, ia kehilangan kendali. Dan itu menakutkan.
“Masuk” katanya akhirnya, sambil membuka pintu mobil untuk Nayla.
Nada itu tidak keras. Tidak juga lembut.
Azka menyusul Nayla masuk ke mobil, ia duduk di kursi kemudi, lalu memakai sabuk pengaman.
Sunyi.
Mesin mobil dinyalakan. AC langsung menyala, membuat udara di dalam kabin terasa dingin. Terlalu dingin untuk suasana yang sudah tegang.
Azka menyetir tanpa berkata apa-apa.
Nayla menatap keluar jendela, melihat gerbang sekolah yang semakin menjauh. Tangannya mengepal di atas pahanya.
Beberapa menit berlalu tanpa suara.
“Kamu nggak seharusnya bohong di sekolah,” kata Nayla akhirnya, memecah keheningan.
Azka tetap menatap jalan. “Aku nggak bohong.”
“Kepala sekolah nggak nyari aku,” bantah Nayla. “Itu alasan supaya aku menjauh dari orang lain.”
Azka menghela napas pelan. “Dan berhasil.”
“Itu manipulatif,” ucap Nayla tajam.
Azka menekan rem di lampu merah. Mobil berhenti mendadak, membuat Nayla refleks menoleh.
“Aku nggak suka cara kamu ngomong sama cowok lain,” kata Azka datar. “Aku nggak suka cara mereka ngeliat kamu.”
“Itu masalah kamu,” balas Nayla. “Bukan salahku.”
Azka menoleh sekilas. “Lo istri gue.”
Kalimat itu lagi.
Nayla tertawa pendek, tanpa humor. “Lucu ya. Kamu cuma inget itu kalau kamu cemburu.”
Lampu berubah hijau. Azka kembali melajukan mobil.
“Kamu nggak pernah bertanya aku nyaman atau nggak,” lanjut Nayla. “Kamu cuma mau aku nurut.”
Azka menggenggam setir lebih kuat. “Kamu pikir aku nyaman liat kamu ketawa sama orang lain?”
“Terus aku harus gimana?” suara Nayla mulai bergetar. “Hidup diem-diem, sekolah diem-diem, nikah diem-diem, bahkan sakit pun aku tanggung sendiri?”
Azka terdiam. Mobil melaju lebih pelan.
“Aku capek, Azka,” ucap Nayla lirih. “Aku bertahan bukan karena aku kuat. Tapi karena aku nggak punya pilihan.”
Kata-kata itu menekan dadanya.
Azka tidak langsung menjawab. Ia memarkir mobil di bahu jalan yang sepi, lalu mematikan mesin. Kabin kembali sunyi, hanya suara napas mereka berdua.
“Aku nggak tahu cara bersikap,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Aku nggak pernah diajarin peduli tanpa keliatan lemah.”
Nayla menoleh perlahan.
“Setiap kali kamu dekat sama orang lain,” lanjut Azka, menatap lurus ke depan, “kepala aku panas. Rasanya kayak… aku kehilangan kendali.”
“Itu namanya cemburu,” jawab Nayla pelan.
Azka terdiam. Tidak menjawab, ataupun mengelak. Ia juga tidak tahu perasaan itu. Mungkinkah memang dia cemburu?.
Ia lebih memilih melajukan mobilnya dalam keheningan.