NovelToon NovelToon
Pedang Pembasmi Iblis

Pedang Pembasmi Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Harem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: FAUZAL LAZI

Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 perayaan keluarga Han

Han Chuan masih duduk di atas atap bersama gurunya. Setelah beberapa saat berbincang, Huang Ji menatap muridnya dengan santai lalu bertanya,“Jadi, apakah kau sudah menentukan nama untuk teknik rahasiamu?”

Han Chuan mengangguk pelan sambil memegang pedangnya erat.“Sudah. Namanya adalah Lukisan Dalam Pedang,” ucapnya dengan nada tenang sambil menatap bilah pedang yang berkilau terkena sinar matahari pagi.

Huang Ji mengangkat alisnya, sedikit penasaran.

“Kenapa kau memberi nama teknik rahasiamu begitu?” tanyanya sambil menyesap araknya perlahan.

Han Chuan tersenyum kecil dan menoleh ke arah gurunya.

“Karena aku merasa setiap tebasan yang kuayunkan akan melahirkan bentuk dan teknik baru nantinya. Selain itu, hobiku juga melukis… jadi aku menamainya Lukisan Dalam Pedang,” jawabnya mantap.

Cahaya matahari pagi mulai menembus awan, memantul di bilah pedang milik Han Chuan hingga tampak seperti lukisan hidup yang berpendar lembut. Ia lalu melompat turun dari atap dengan gerakan ringan dan berjalan menyusuri jalanan kota.

Huang Ji hanya bisa tersenyum kecil melihat kepergian muridnya itu.“Kota ini akan jadi semakin ramai dengan kehadiran generasi muda yang berbakat sepertinya,” gumamnya sambil meneguk sisa arak dalam guci.

Ia kemudian turun dari atap dan merebahkan dirinya di atas papan kayu di bawah dahan pohon rindang, menatap langit biru dengan wajah santai.“Akhirnya aku tidak mengajar di akademi hari ini. Bisa juga bersantai sejenak,” ucapnya sebelum memejamkan mata dan tertidur di bawah bayangan daun yang bergoyang tertiup angin.

Sementara itu, Han Chuan berjalan menyusuri jalan kota yang mulai ramai. Para pedagang dan pejalan kaki menyapanya dengan senyuman dan ucapan selamat. Ia membalas dengan anggukan kecil, merasa sedikit canggung namun juga bangga.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah cepat dari belakangnya.

“Han Chuan! Tunggu aku!”

Han Chuan menoleh ke belakang dan melihat Xue Lin berlari menghampirinya sambil melambaikan tangan. Nafas gadis itu sedikit terengah saat berhasil menyusulnya.

“Selamat ya, Han Chuan! Karena kau sudah berhasil membangkitkan teknik rahasiamu,” ucap Xue Lin dengan wajah cerah dan mata berbinar. “Suatu saat nanti, aku pasti juga akan membangkitkan teknik rahasiaku sendiri.”

Han Chuan menatap Xue Lin sambil tersenyum kecil.

“Terima kasih. Nanti kau juga pasti akan membangkitkan teknik rahasiamu sendiri,” ucapnya tulus, berterima kasih atas pujian sekaligus memberi semangat pada gadis itu.

Xue Lin mengangguk ringan, lalu tiba-tiba berlari kecil ke depan dan berhenti tepat di hadapan Han Chuan.

“Kalau begitu, untuk merayakan keberhasilanmu, ayo kita lihat keluarga Han yang sedang mengadakan perayaan di restoran keluargamu! Lumayan juga, aku bisa makan gratis tanpa bayar,” katanya dengan nada ceria, sebelum tertawa kecil dan berlari menuju arah restoran keluarga Han.

Han Chuan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lemah, lalu ikut berlari menyusulnya. Suara tawa dan langkah kaki mereka berpadu dengan riuhnya suasana kota yang penuh semangat.

Saat mereka tiba di restoran keluarga Han, tempat itu sudah dipenuhi oleh kerumunan orang yang ingin ikut menikmati pesta. Meja-meja dipenuhi makanan lezat, dan aroma masakan memenuhi udara. Di depan pintu, ayahnya, Han Ling, berdiri dengan senyum lebar sambil mempersilakan para tamu masuk satu per satu.

Han Chuan segera menghampiri ayahnya dan melihat kedua pamannya yang juga sibuk menyambut tamu di dekat pintu masuk.

“Han Chuan, keponakanku yang hebat! Kami semua sangat bangga padamu. Kau benar-benar memberi kejutan besar untuk keluarga ini, bukan begitu, adik Long?” ucap Paman Jiun dengan suara lantang sambil menepuk bahu Han Chuan.

“Iya, kau benar, Kakak Jiun,” sahut Paman Long sambil tertawa kecil. “Keponakan kita ini memang luar biasa. Anak yang sangat berbakat.”

Han Ling yang mendengar pujian itu hanya bisa tersenyum sambil menyapa para tamu yang masuk.

“Terima kasih, terima kasih, Kakak Jiun, Kakak Long. Kalian terlalu memuji. Yang mendapatkan teknik rahasia itu anakku, bukan aku,” ujarnya sambil tertawa lepas.

Tawa mereka bertiga pun pecah bersama, bergema di tengah riuhnya pesta perayaan. Para tamu ikut tertawa dan bersorak, sementara musik tradisional mulai dimainkan di sudut ruangan. Aroma arak dan masakan hangat bercampur dengan suasana bahagia malam itu, menandai hari besar bagi keluarga Han.

Sementara itu, Xue Lin sudah duduk di dalam restoran keluarga Han dan menyantap makanannya dengan lahap. Suara piring dan gelas berdenting riuh, menambah semarak suasana pesta. Han Chuan pun duduk di hadapannya, menikmati makanan sambil sesekali tersenyum melihat tingkah Xue Lin yang makan tanpa ragu.

Di tempat lain, di kediaman keluarga Bai, suasana justru jauh berbeda. Seorang pria paruh baya tengah duduk santai sambil meneguk arak dari cangkir gioknya. Di sampingnya, Bai Ling duduk dengan wajah yang terlihat sangat kesal.

“Dasar Han Chuan... bagaimana bisa dia membangkitkan teknik rahasianya secepat itu?” gumamnya pelan, nada suaranya dipenuhi amarah dan rasa tidak percaya.

Pria di sampingnya hanya menatap sekilas sebelum meneguk araknya lagi. “Itu karena dia jenius, dan berlatih tanpa henti,” ucapnya dengan tenang. Pria itu adalah Bai Mo, pemimpin keluarga Bai sekaligus paman Bai Ling.

Mendengar perkataan pamannya, Bai Ling semakin marah. “Padahal aku hampir tak pernah melihat dia berlatih! Tapi bagaimana bisa dia berkembang secepat itu?” katanya dengan nada tinggi, sambil mengepalkan tinjunya begitu kuat hingga buku jarinya memutih.

Bai Mo meletakkan cangkir araknya di meja, lalu menuangkan kembali isinya perlahan dan menatap Bai Ling dengan mata tajam.“Kau bilang kau jarang melihatnya berlatih, berarti kau memang iri dengan kemajuannya,” ujarnya tenang. “Itu bukan berarti dia malas. Kau saja yang tidak tahu. Mungkin dia berlatih secara tertutup, dengan tekad lebih keras dari siapa pun.”

Wajah Bai Ling menegang, rahangnya mengeras menahan emosi. Ia berdiri dengan cepat, kursinya bergeser dan menimbulkan suara gesekan keras di lantai.

“Aku akan kembali ke akademi. Aku ingin melihat sendiri apakah dia benar-benar membangkitkan teknik rahasianya,” ucapnya dengan nada dingin.

Tangannya meraih tombak panjang di samping kursi, lalu tanpa menunggu tanggapan pamannya, ia melangkah keluar dengan langkah cepat. Bayangan tubuhnya menghilang di balik pintu, menyisakan Bai Mo yang hanya menggeleng perlahan.

“Anak muda itu masih dikuasai oleh egonya sendiri,” gumam Bai Mo sambil meneguk kembali araknya. “Tapi... mungkin ini akan jadi awal dari persaingan besar di antara mereka.”

Sementara itu, Han Chuan dan Xue Lin melihat matahari sudah meninggi. Mereka pun memutuskan untuk meninggalkan restoran keluarganya dan kembali ke Akademi Heiyun. Setelah berjalan beberapa saat melewati jalanan kota yang mulai ramai, akhirnya mereka tiba di halaman akademi.

Namun, begitu sampai, pandangan mereka langsung tertuju pada seseorang yang sudah berdiri di tengah arena pelatihan. Bai Ling berdiri dengan tegap, rambutnya tertiup angin, dan di tangannya tergenggam erat sebuah tombak perak yang memantulkan cahaya matahari. Matanya tajam menatap ke arah Han Chuan.

“Han Chuan!” seru Bai Ling dengan suara lantang, menusuk seluruh arena. Ia mengangkat tombaknya dan menunjukkannya langsung ke arah Han Chuan. “Aku dengar kau sudah membangkitkan teknik rahasiamu. Tapi aku tidak akan percaya sebelum melihatnya sendiri!”

Xue Lin yang berdiri di samping Han Chuan hendak membuka mulut untuk membalas, namun segera dihentikan oleh Han Chuan yang mengangkat tangannya perlahan.

“Jadi, sekarang kau ingin mengujinya dan melihat dengan mata kepalamu sendiri?” ucap Han Chuan dengan nada tenang namun tajam. Matanya menatap lurus ke arah Bai Ling, penuh keyakinan.

Suasana di sekitar arena seketika menjadi riuh. Para murid Akademi Heiyun yang mendengar pertarungan akan terjadi langsung berdatangan dari segala arah. Dalam waktu singkat, arena pelatihan dipenuhi oleh kerumunan murid yang berbisik-bisik dengan antusias.

“apakah Han chuan benar benar membangkitkan teknik rahasia nya !” bisik salah satu murid dengan nada tak percaya.

“entah lah aku tidak tau ,kita lihat saja nanti apakah rumor nya benar!” sahut yang lain dengan mata berbinar.

“Tapi kalau Bai Ling melawannya dan Han chuan benar benar membangkitkan teknik rahasia nya,maka sudah di pastikan kemenangannya ,lagi pula Bai Ling sudah dua kali kalah dengan Han chuan walaupun ranah nya lebih tinggi dari Han chuan satu tingkat!”

Han Chuan menoleh pada Xue Lin yang masih tampak khawatir.

“Menepilah dulu,” ucapnya singkat. Xue Lin pun mengangguk dan mundur, berdiri di pinggir arena bersama murid-murid lainnya.

Angin berembus perlahan, membawa debu dan daun kering di sekitar arena. Bai Ling menurunkan tombaknya ke posisi siaga, ujung senjata itu menimbulkan suara cletik kecil saat menyentuh tanah berbatu.

Han Chuan berdiri tegak di seberang, memegang pedangnya dengan satu tangan. dan menatap Bai Ling Denga tenang"lumayan juga untuk uji coba teknik rahasia dan tingkat kultivasi ku meningkatkan tadi malam naik keranah penyempurnaan tubuh tingkat atas dan perlu terbiasa juga dengan teknik rahasia "batin nya dan maju kedepan berhadapan dengan Bai Ling

Kerumunan murid menahan napas. Mereka tahu sebentar lagi, ada pertarungan yng hebat akan terjadi dan pembuktian humor yng beredar.

1
Nanik S
Dimakan Iblis Harimau...
Nanik S
God Joon
Nanik S
Long Shen..untung sdh datang
Nanik S
Ilusi Iblis
Nanik S
Gaaaas Poooool
Nanik S
Han Chuan.... memang lumayan konyol... 🤣🤣🤣
Nanik S
Jatah membunuh Binatang Iblis
Nanik S
Sekte Langit Iblis lagi... Bantai saja semua Han Chuan
Nanik S
Siapa sebenarnya Long Shen
Nanik S
Bsi Ling ditelan Harimau Iblis
Nanik S
Mantap Poooool 💪💪💪
Nanik S
Joooooooooss 👍👍👍
Nanik S
Para Orang Tua juga ikut tegang
Nanik S
God Job
Nanik S
Lha kenapa Han Chuan tidak ada reaksi di balik tentang Inti Iblis
Nanik S
Sekte Langit Iblis
Nanik S
Mengapa mesti ada Kontrak hidup mati
Nanik S
Bsi Ling... Dendam karena kalah dan malu
Nanik S
Apa mereka tdk menyadari adanya kelompok sekte Iblis
Nanik S
Han Chuan... 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!