NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam Hari,

Di sebuah kamar luas bernuansa gelap, dengan ranjang besar di tengah ruangan, seorang pria tertidur nyenyak. Napasnya teratur, wajahnya tenang—hingga tidur itu perlahan terusik oleh sentuhan lembut di rahangnya.

Jemari seorang gadis cantik mengusap garis rahang tegas itu perlahan, turun ke jakun yang ikut bergerak naik-turun. Gadis itu mengenakan pakaian tidur tipis berwarna merah dengan tali spageti. Belahan rendah di bagian dadanya tampak jelas, terlebih karena ia tidak mengenakan dalaman apa pun.

Sentuhan itu membuat pria di ranjang mengerang pelan sebelum matanya terbuka.

Begitu kesadarannya pulih, pria itu langsung tersentak.

“A-Ar… Aru?” suaranya terdengar gugup. “A-apa yang kamu lakukan di kamar saya?”

Ia refleks mendorong tubuh gadis itu menjauh.

Namun Aru hanya tersenyum, senyum lambat yang menggoda, seolah tidak terusik sama sekali.

“Kenapa gugup sekali?” ucap Aru lembut, sambil kembali mendekat. “Bukankah ini cuma mimpi indah?”

Kenan menelan ludah.

Aru naik ke atas ranjang, lalu duduk di pangkuannya tanpa ragu. Jarak mereka menghilang. Kenan membeku, matanya terbuka lebar, dadanya naik turun.

“Aru… hentikan,” ucapnya serak, meski tangannya justru mencengkeram seprai.

“Kenapa?” Aru berbisik, jemarinya kembali mengusap rahang dan jakun Kenan. “Kamu kelihatan menikmatinya.”

Kenan mengumpat pelan. “Kamu sadar nggak, pakaian kamu—”

“—bikin kamu susah tidur?” potong Aru dengan senyum nakal.

Kenan menghela napas berat. “Kamu membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tidur.”

Aru terkekeh pelan, lalu menjilat jakun Kenan dengan berani, disusul gerakan pinggulnya yang perlahan namun provokatif.

“Oh, sial…” Kenan mengerang. “Aru… jangan.”

Tangannya refleks mencengkeram pinggang Aru, berusaha menghentikan gerakannya.

Namun Aru justru semakin berani.

“Apa yang keras di bawah sana, hm?” godanya lirih.

Kenan kehilangan kendali. Ia melumat bibir Aru dengan kasar, ciuman panas yang dibalas sama intensnya.

“Eeumh…”

Mereka larut—hingga tiba-tiba suara ponsel memecah segalanya.

Drtt… drtt… drtt…

Kenan tersentak, napasnya memburu. Ia mengangkat ponsel dengan mata setengah terpejam.

“Iya,” ucapnya singkat.

“…”

“Oke. Satu jam lagi.”

“…”

“Ck. Iya.”

Panggilan terputus.

Kenan mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh ke samping.

Kosong.

Tak ada Aru. Tak ada sentuhan. Tak ada aroma manis.

Ia terdiam beberapa detik sebelum mendecak kesal.

“Ck, sialan. Ternyata cuma mimpi,” gumam Leo kesal.

Kenan menyandarkan punggung ke kepala ranjang, menghela napas berat.

Namun ingatannya masih tertahan pada setiap sentuhan dan ciuman yang Aru berikan dalam tidurnya.

“Bibirnya… manis sekali,” desahnya pelan.

“Sial… bahkan cuma membayangkannya saja sudah cukup membuat tubuhku bereaksi.”

Leo menghela napas panjang, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang misterius.

“Tunggu saja, Aru,” gumamnya lirih. “Suatu hari nanti, mimpi ini akan jadi nyata.”

Dengan wajah yang masih menyimpan sisa mimpi itu, Leo bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

...****************...

Pagi ini di Wijaya Company, Aru sudah disibukkan dengan berbagai jadwal rapat yang harus ia hadiri untuk menggantikan Pak Bara. Semalam, Pak Bara secara pribadi menghubungi Aru dan memberinya amanat untuk mengurus seluruh pekerjaan kantor karena beliau sedang tidak enak badan.

Sejak pagi, Aru tenggelam dalam tumpukan berkas dengan isi yang beragam. Tatapannya tampak serius, jemarinya sesekali membolak-balik kertas di atas meja kerja yang sudah nyaris tak menyisakan ruang kosong.

“Zid, nanti kamu hadir gantiin mbak rapat sama dewan direksi, ya,” ucap Aru tanpa mengangkat kepala. “Mbak harus meeting sama perusahaan GMT Grup, lanjut ke Baskara Group. Mereka minta mbak yang datang langsung. Kayaknya mbak balik ke kantornya agak sore.”

“Oke, Mbak. Serahin aja semuanya sama Zidan yang super pintar ini,” jawab Zidan sambil menyeringai lebar. “Tapi sebagai atasan yang baik hati dan nggak pelit, lo nggak mau beliin gue kopi gitu, Mbak?”

Zidan memang sekretaris Aru. Meski terdengar aneh, mengingat Aru sendiri adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi Pak Bara, namun ada perjanjian khusus antara Aru dan Pak Bara yang mengharuskan Aru memiliki sekretaris pribadi.

“Iya, nanti mbak beliin kopi,” jawab Aru singkat.

“Mau nitip apa lagi? Gue meeting-nya di rumah makan Padang, atas permintaan klien.”

“Lo nawarin gue, Mbak?” tanya Zidan dengan wajah penuh harap.

“Nggak,” sahut Aru datar. “Mbak tadi nawarin monyet yang berdiri di depan ni.”

“Ck! Bisa-bisanya lo nyamain gue yang tampan ini sama monyet,” protes Zidan kesal.

“Itu salah kamu sendiri. Udah jelas mbak nawarin, malah tanya balik,” balas Aru santai. “Jadi? kamu mau nasi Padang nggak?”

Melihat wajah Zidan yang masih manyun, Aru akhirnya mengalah.

“Iya, gue mau,” jawab Zidan cepat. “Tapi nasinya dipisah, lauk sama sayurnya juga. Gue mau rendang, tunjang, dendeng, telur balado, sama kerupuk kulit disiram kuah gulai ya, Mbak.”

Mata Aru langsung berputar malas.

“Dasar manusia. Dikasih hati malah minta jantung. Kamu itu porotin mbak mulu, padahal gaji kamu lebih gede dari mbak,” omel Aru.

Zidan hanya terkekeh sambil memamerkan senyum tak tahu malu.

“Hehehe. Lo nggak boleh pelit sama anak yatim piatu kayak gue, Mbak. Sering-sering sedekah. Nanti gue doain lo dapet jodoh duda kaya, tampan, plus anak satu cowok. Bagus kan doa gue?”

Aru berhenti merapikan berkas dan menatap Zidan datar.

“Kalau doa lo kejadian, jangan lupa ya, Mbak. Gue minta motor Ducati sport” sambung Zidan tanpa rasa bersalah.

“Terserah kamu,” sahut Aru lelah. “mbak berangkat dulu. Kalau mbak telat, itu gara-gara dengerin ocehan orang kaya yang sok miskin.”

“Lo juga sama, Mbak. Orang kaya yang berlagak miskin,” balas Zidan.

Aru mengabaikannya dan langsung melangkah keluar ruangan.

“MBAK! JANGAN LUPA NASI PADANG KOMPLIT SAMA KOPI GUE!” teriak Zidan keras.

“Gue doain lo dapet duda tampan, kaya, plus anak dua!” lanjutnya dengan kesal.

Setelah Aru pergi, Zidan pun beranjak menuju ruang rapat untuk menjalankan tugasnya.

...****************...

Sementara itu, di Baskara Group, tepatnya di ruang CEO, seorang pria tengah duduk santai di kursi kebesarannya dengan senyum yang tak luntur sejak tadi. Pemandangan itu membuat sang sekretaris sekaligus asisten pribadinya menatap heran.

Di ruangan itu hanya ada dua orang: Kenan dan Joe.

Sejak tadi Joe menjelaskan jadwal Kenan dengan serius, namun pria itu justru sibuk tersenyum sendiri sambil memutar kursi putarnya.

Brakkk!

Dengan kesal, Joe membanting sebuah map tebal ke atas meja.

“Lo kenapa sih, Joe? Ngapain banting berkas di meja gue, goblok?” hardik Kenan yang tersentak dari lamunannya.

“Lo masih berani nanya?” balas Joe geram. “Dari tadi gue bacain jadwal lo sampai mulut gue capek, lo malah senyum-senyum kayak orang gila!”

“Ck. Nggak usah banyak ngomel,” jawab Kenan santai. “Bacain lagi jadwal gue.”

“Baca sendiri!” Joe melempar tablet ke arah Kenan lalu duduk di sofa. “Mulut gue capek.”

Kenan menangkap tablet itu dengan satu tangan, lalu membaca isinya. Seketika, senyumnya kembali merekah.

Joe memperhatikan perubahan ekspresi itu dengan curiga.

“Sejak pagi sampai sekarang, senyum lo nggak hilang-hilang, Kenan. Kayak orang kasmaran. Atau jangan-jangan lo menang lotre?” sindir Jo.

Kenan mengabaikannya.

“Oh ya, hari ini kita meeting sama Om Bara, kan?”

“Iya. Jam sebelas sambil makan siang. Tapi cuma sama Aru. Om Bara lagi di luar kota,” jawab Joe. “Meeting-nya di rumah makan Padang.”

“Oke,” jawab Kenan singkat. “Sebelum ke sana, kita jemput Kai dulu. Gue mau ajak dia makan siang.”

Joe langsung menyipitkan mata. Tak biasanya Kenan membawa anaknya saat jam kerja.

Belum sempat bertanya, Kenan lebih dulu berbicara.

“Nggak usah kepo. Lo bukan ibu-ibu kompleks. Siapin aja semua keperluan meeting.”

“Dasar duda gila,” gumam Jo kesal sambil keluar ruangan.

Kenan kembali bersandar, senyum misterius menghiasi wajahnya.

"Arumi Naraya Wiratama,” gumamnya pelan.

“Kali ini, gue nggak akan ngelepasin lo lagi. Lo bakal jadi milik Kenan Aryasatya Baskara Mahendra , dan nggak ada siapa pun yang bisa ngerebut lo dari gue.”

Senyumnya semakin dalam.

Apa yang sebenarnya direncanakan Kenan untuk mendapatkan perhatian Aru…?

Bersambung.................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!