NovelToon NovelToon
Don`t Sleep With Dhamphyr!

Don`t Sleep With Dhamphyr!

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Kutukan / Horor / Tumbal / Hantu / Iblis
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.

Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.

Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Haus Darah

Wajahku makin merah. Aku harus mengatur napas.

“Yakin, kamu belum pernah meminum darah manusia?” katanya pelan.

Dan aku cuma bisa duduk terpaku, panas, bingung.

“Aku ... sumpah,” bisikku, berharap dia benar-benar percaya sama aku.

Aku sudah lama sekali untuk menahan diri agar enggak penasaran sama rasanya darah, dan hari itu di mobil … aku hampir saja kehilangan kendali. Untungnya aku cewek, kalau cowok, mungkin saja itu cowok sudah tewas di tanganku.

Itu kejadian aneh sekaligus memalukan. Aku berusaha menahannya, sampai keinginan itu berhasil menguasai otakku, dan tahu-tahu aku sudah menekan pisau ke lehernya, menahan napas, ingin sekali mencicipi darah merah delima itu.

“Enggak apa-apa, Rowena,” katanya.

Aku langsung memperhatikan matanya. Rasanya, dia benar-benar enggak nge-judge aku sama sekali.

“Bisa janji sama aku?” tanya Dr. Darcel sambil condong makin dekat. Aku langsung ikut mendekat.

“Janji … apa?”

“Jangan pernah minum darah manusia lagi.” Kata-katanya berputar di kepalaku tanpa henti.

“Udahlah, aku enggak mungkin kayak gitu. Mustahil.” Aku tarik tanganku buru-buru, malu setengah mati untuk melanjutkan topik ini. Tatapanku kabur ke koleksi kaca warna-warni di ruangan itu.

Dia sudah tahu.

Kenapa aku malah membuka diri seperti orang bego?

Cuma karena dia ganteng, sampai aku lupa diri?

Ya … itu salah satunya.

Tapi bukan cuma itu. Di luar semua itu, si berengsek ini memang sedang menggodaku. Dia memainkan ketertarikanku untuk mendapatkan apa yang dia mau. Harusnya aku sadar. Harusnya aku kesal. Tapi … aku enggak peduli.

“Bagus, Rowena,” gumamnya pelan sambil bersandar santai di kursinya.

Dia melirik ke dinding di atas kepalaku, dan senyumnya langsung lenyap.

“Waktunya habis,” katanya sambil mengumpulkan semua kertas dan melemparnya ke laci besar. Dia menutup lacinya dengan sekali banting, mengunci, lalu memperhatikanku. Bingung kenapa aku masih duduk anteng dan enggak langsung keluar.

Anehnya?

Aku enggak mau pergi. Aku ingin dia menggali lebih banyak lagi dari diriku. Jujur saja, seaneh dan sesakit itu, aku justru merasa sedikit lebih lega.

Bagaimana bisa ada orang sebaik itu?

Pengertian, enggak nge-judge, dan menarik.

“Padahal rasanya baru bentar—”

“Kalau gitu, jangan telat lagi,” jawabnya pelan sambil tersenyum.

“Aku bahkan belum cerita soal ....” Kata-kataku mati di tenggorokan waktu Dr. Darcel berdiri dan jalan ke pintu. Dia buka pintunya, terus memanggil resepsionis.

“Audy bakal anterin kamu keluar,” katanya. Beberapa detik kemudian, si resepsionis itu menarikku dan usir aku keluar seperti hewan liar.

“Waktu yang sama, minggu depan!” seru Dr. Darcel penuh semangat, enggak peduli sama sekali waktu si resepsionis menyeretku keluar seperti karung beras.

Ya Tuhan … tuh orang. Brengsek bermuka dua yang pintar banget memancing orang biar mereka mau membuka diri.

Aku benci dia.

Benci banget.

Dasar bajingan sialan.

Resepsionis itu meninggalkanku di koridor dan,

BAAAMMM

Pintu dibanting tepat di depan mukaku. Aku dengar jelas suara kunci diputar.

Sialan.

Suatu hari aku akan menemukan alamat rumahnya.

Aku melangkah kembali ke mobil sambil menghentak-hentakkan kaki, terus menghantam pintu mobil sampai menutup keras waktu aku masuk.

HPku berbunyi. Aku cek, berharap itu pesan dari kantor. Tapi malah nomor enggak dikenal.

...📩...

^^^XXX: Chat aku, kalau kamu pingin minum darah lagi!^^^

Aku mencocokan nomor itu dengan kartu nama yang Dr. Darcel berikan tadi. Itu nomor yang sama. Aku gigit bibir, menahan senyum bodoh.

Bego banget rasanya kalau aku ketahuan ingin minum darah. Setelah itu, aku langsung simpan nomor teleponnya, berharap aku bisa stalking dan dapat info tentang siapa dia.

Pandanganku berhenti di satu-satunya lampu yang menyala di lantai dua. Aku senyum-senyum sendiri. Aku enggak sabar untuk kenal kamu lebih jauh, Dr. Darcel.

...જ⁀➴୨ৎ જ⁀➴...

Aku sedang berpikir. Aku ketik balasan dan kirim ke Dr. Darcel.

Aku enggak menemukan info apa pun soal dia. Dia enggak punya media sosial, enggak punya situs, enggak meninggalkan jejak digital apa pun. Kayaknya dia enggak eksis di dunia maya, dan itu membuatku semakin gelisah.

Selain itu, dia selalu memaksa kita bertemu malam-malam, di gedung yang sudah kosong, kecuali dia dan Audy, si resepsionis yang ingin banget aku tendang ke kubangan lumpur.

Setidaknya Audy punya jejak digital. Aku sampai mencatatnya, isinya semua info tentang dia. Siapa tahu berguna. Username medsos, status hubungan, nomor HP, alamat ... Dan info itu sangat berguna kali ini.

Aku memperhatikan gedung apartemen warna krem itu.

HPku berbunyi.

Ada pesan lagi.

Minum darah?

Apa lagi?

Yah … jelas dia.

Darah dan Dr. Darcel.

Dr. Darcel dan darah.

Dua hal paling penting di hidup aku sekarang.

Sisanya cuma seperti rambut rontok, tinggal dicabut dari baju, terus dijatuhkan ke lantai. Keluarga, pekerjaan, moral … cabut, jatuhkan, selesai.

Ya, darah.

Aku tarik napas panjang, terus menyeberang parkiran. Angin membelai gaun mini sifon hitamku.

Rasa gugup itu mulai naik lagi, mengingatkanku waktu terakhir kali membawa sajam ke acara reoni, aku malah membuat percobaan pembunuhan. Yang hasilnya cuma bikin aku sakit kepala, ancaman penjara, masa percobaan, dan terapi wajib dari pengadilan.

Kalau aku tertangkap lagi kali ini?

Habislah sudah. Langsung nyungsep ke penjara. Bye, Rowena Scarlett. Selamat menikmati masa muda kamu di balik jeruji.

Tapi meski begitu … kakiku enggak berhenti. Aku tetap jalan melewati parkiran.

Dan mungkin ... mungkin, aku enggak bakal bunuh dia. Mungkin aku juga enggak bakal mencicipi darahnya.

Iya.

Mungkin.

Aku cuma mau menakut-nakuti dia. Itu saja. Walaupun setengah dari diriku ingin merobek salah satu pembuluh darahnya.

..."Jangan pernah minum darah manusia lagi."...

Kata-kata Dr. Darcel berputar di kepalaku. Bikin pusing, bikin muak. Aku mengeratkan gigi.

Masa iya hidup aku segitu menyedihkannya sampai aku harus nurut sama Dokter Terapis aku?

Audy itu lebih kecil dari orang pertama yang pernah aku todong. Tapi tetap saja badannya lebih gempal dari aku.

Aku cuma tidur dua jam, makan satu sendok selai kacang, dan meneguk dua kaleng soda yang bikin perutku panas.

Kesimpulannya?

Aku capek, lapar, dan ini sudah di ujung batas.

Aku menelan ludah susah payah sambil membayangkan bagaimana rasanya darah Audy di mulutku.

Kental, hangat… ya Tuhan, pasti enak banget. Pasti membuatku puas. Bahkan kenyang.Kapan ya terakhir kali aku merasakan seperti itu?

Aku enggak ingat.

Unitnya 108, lantai dasar.

Aku naik ke tangga kecil. Angka-angka putih terpaku di pintu. Lampu di atasku berdengung kayak mau mati. Jangkrik di luar pun teriak-teriak.

HPku berbunyi lagi.

...📩...

^^^Dr. Darcel: Aku seneng banget kamu balas chat aku.^^^

Aku langsung gigit bibirku. Aku ingin dia ada di sini, sekarang juga. Dia bakal datang enggak, ya?

Mungkin iya.

Mungkin enggak.

Mungkin dia malah menelepon polisi. Tapi ya Tuhan, aku benar-benar berharap dia enggak melakukan itu.

Aku: Kamu di rumah?

Aku harus menguji dia. Obsesiku sama dia ini sudah kayak parasit yang menempel di tengkorakku. Menjengkelkan sekali. Dan jujur saja, aku ingin berhenti memikirkan dia. Ingin membersihkan otakku dari dia sebelum semuanya makin kacau.

Aku angkat HP, aku foto pintu apartemen Audy, terus aku kirim.

Aku: Aku lagi jenguk teman kita.

Aku ingin tahu. Dia bakal menelepon polisi dan menyelamatkanku dari obsesi ini, atau dia bakal datang sendiri. Datang dan melihat betapa rusaknya aku.

Atau, skenario terburuk … dia datang cuma buat menjelaskan ke aku kalau dia teman tidur si resepsionis.

Aku benar-benar perlu jawaban. Aku enggak tahan lagi sama tarik ulur aneh ini.

Dia itu … menarik, calm, dewasa, membuatku merinding setiap kali dia bicara. Tapi dia juga Dokter Terapi aku, dan jelas lebih tua, kayaknya hampir kepala empat.

Apakah cowok umur empat puluh mau tidur sama cewek delapan belas?

Beberapa pasti mau, lah.

Tapi dia?

Aku enggak tahu.

Aku tempelkan telinga ke pintu. Aku tahan napas.

Dari dalam, ada suara ketukan pelan. Aroma saus pasta keluar dari celah pintu. Jam makan malam … mungkin dia lagi masak buat aku juga.

Sial.

Stop.

Jangan berpikir begitu.

Tapi pikiran itu sudah menyala terus di kepalaku.

Darcel tahu kalau aku ada di sini. Waktuku terbatas. Dan justru itu yang membuat adrenalinku naik.

Aku yakin darah dia bakal enak banget. Aku yakin dia bakal terlihat luar biasa cantiknya kalau ada luka kecil di sisi lehernya.

Pintu pun terbuka.

Audy muncul.

Mataku langsung mengunci ke lehernya.

Aku benar-benar melihat denyut nadinya bergetar, makin kencang ... makin kuat.

Darah.

Darah.

Darah.

1
Adellia❤
ya darcel rowena... siapa lagi😂😂
Adellia❤
hah... kok Apollo enggak mati😂😂
DityaR: dia itu serigala kak,
total 3 replies
Adellia❤
hhh ya mana bisa ketawa lah km beracun yah di mana" cogann itu beracun😂😂
Adellia❤: rumus dunia lah semua cewek di dunia ini tau kalo semua cogan itu beracun 😂😂
total 2 replies
Adellia❤
yaah di hapus lagi ingatan rowena padahal itu penting buat rowena..
Adellia❤
ampuun deh darcel👻👻
Adellia❤
sikopat itu serius rupanya..
Adellia❤
hiii merinding sebadan" tuh orang bener" sikopat eh bukan orang dink👻
Adellia❤
km di cap pasien gila rowena tapi dokter terapi km dy orang gila yg sebenernya👻👻
Adellia❤
serruu karna gak cuman gairah pingin di tindih tapi juga gairah pingin minun darah👻👻👻
Adellia❤
hhhh rowenaaa🤦‍♀️🤦‍♀️
Adellia❤
hah... menguntit??? berati ilmu dr darcel buat menghapus ingatan itu enggak mempan??? 😱😱
DityaR: kan yg di hapus ingatan hari itu aja kak 🙏
total 1 replies
Adellia❤
sereem tapi seruu sekaligus menegangkan semangaatt thorr tulisanmu bagusss💪💪
Adellia❤
sama" senyum tapi beda arti.. hati" rowena dy vampir berbulu dombaa🤗🤗
Adellia❤
dr darcel bolehkah q bertemu km q ingin menghapus ingatanku sama seseorang😭😭
Adellia❤: boleh gak kasih no wa dr darcel thorr pliiisss🙏🙏
total 2 replies
Adellia❤
Torvald... heyyy emang km punya mental🤣🤣 kalo punya mah km enggak bakal tinggal di paragon ✌
Adellia❤
palingan km bakal di gigit sama darcel ..
Adellia❤: itu apa anu😱
total 4 replies
Adellia❤
astaga.. ngegantung🤔
Adellia❤: ciyuuss???
total 14 replies
Adellia❤
ya ampun pak dokter chat mulu... sugardady 😍
Rainn Dirgantara
Beuhh!
Rainn Dirgantara
Pelit kali 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!