NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Bagi Tia, sekolah ini adalah lembaran baru yang menyenangkan, dan Raisa adalah sosok yang paling menarik perhatiannya untuk dijadikan sahabat.

Tia duduk di hadapan Raisa dengan mata berbinar, sementara Raisa masih mempertahankan pembawaannya yang tenang dan terukur.

"Bu Raisa, sotonya enak ya? Saya baru tahu kantin sekolah bisa punya rasa sekelas restoran," ujar Tia sambil tersenyum lebar, menunjukkan keramahan yang alami.

Raisa mengangguk kecil. "Iya, Bu Tia. Ibu kantin di sini memang sudah lama berjualan, jadi kualitasnya terjaga."

Tia meletakkan sendoknya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arah Raisa. Ia mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bagi orang lain terasa biasa, namun bagi Raisa terasa seperti sedang berjalan di atas duri.

"Bu Raisa sudah berapa lama mengajar di sini? Saya perhatikan, siswa-siswa di sini sangat hormat pada Ibu. Terutama anak-anak kelas 12 itu, siapa namanya? Gavin dan Dafa ya? Mereka sepertinya sangat menjaga Ibu," tanya Tia dengan nada ingin tahu yang tulus.

Raisa tertegun sejenak. Mendengar nama Dafa disebut oleh Tia memberikan sensasi aneh di dadanya. "Sudah cukup lama, Bu. Dafa dan Gavin memang siswa yang menonjol, masing-masing dengan karakternya sendiri."

"Oh, begitu ya," Tia manggut-manggut. "Terus kalau Pak Surya? Dia orangnya memang se-formal itu ya setiap hari? Tadi pagi saya papasan, wajahnya tegang sekali seperti sedang melihat hantu. Padahal saya cuma mau menyapa."

Raisa hampir saja tersedak minumannya. Ia menatap Tia, mencari celah apakah wanita ini sedang berpura-pura atau benar-benar tidak tahu. Namun, di mata Tia, Raisa hanya melihat kejujuran yang polos.

Tia tidak berhenti di situ. Ia terus memperhatikan bagaimana Raisa menyapa siswa yang lewat dengan anggukan kecil yang berwibawa.

"Ibu hebat sekali ya bisa sedekat itu dengan mereka tapi tetap disegani. Saya ingin belajar banyak dari Ibu. Boleh ya kalau saya sering-sering tanya soal 'seluk-beluk' orang-orang di sini?" Tia terkekeh pelan.

"Rasanya seperti ada magnet yang membuat saya ingin akrab dengan semua orang, terutama yang punya hubungan dekat dengan Pak Surya. Mungkin karena beliau atasan saya, jadi saya harus paham lingkungannya."

Raisa hanya bisa memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Tentu, Bu Tia. Kita bisa saling membantu."

Tia, tiba-tiba memegang tangan Raisa dengan hangat. "Bu Raisa, entah kenapa saya merasa kita akan jadi tim yang hebat. Rasanya seperti sudah kenal lama, padahal baru beberapa hari. Aneh ya?"

Raisa terdiam, merasakan kehangatan tangan Tia.

......................

Sore itu, koridor sekolah mulai sepi. Sinar matahari senja masuk melalui celah-celah jendela, menciptakan garis-garis emas di lantai kayu. Raisa sedang merapikan beberapa dokumen di depan ruang guru ketika ia mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali.

Pak Surya datang mendekat. Seperti biasa, ia tampil rapi dengan setelan jasnya, namun ada gurat kelelahan yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Bu Raisa," sapa Surya dengan suara baritonnya yang tenang. "Saya ingin mendiskusikan laporan evaluasi yayasan untuk bulan ini. Apakah Anda punya waktu sebentar?"

Raisa menoleh dan mengangguk sopan. "Tentu, Pak Surya. Saya baru saja selesai."

Biasanya, dalam pertemuan seperti ini, fokus Surya sepenuhnya tertuju pada Raisa. Tatapannya selalu terkunci pada sang "Ice Queen", mencari celah untuk bisa masuk ke dalam percakapan yang lebih pribadi. Namun, sore ini ada yang berbeda.

Tepat saat Surya hendak membuka map dokumennya, pintu ruang BK yang berada tak jauh dari sana terbuka. Tia keluar dari ruangan itu sambil meregangkan tangannya, tampak lelah namun tetap menunjukkan senyum cerianya yang khas. Ia membawa tumpukan folder berwarna-warni.

"Aduh, jam segini baru kelar. Ternyata curhatan anak-anak kelas 12 itu panjang banget ya!" gumam Tia bicara pada dirinya sendiri, tidak menyadari keberadaan Surya dan Raisa.

Secara insting, perhatian Surya teralihkan. Kalimat yang hendak ia ucapkan kepada Raisa menggantung di udara. Matanya mengikuti gerak-gerik Tia yang sedang merapikan hijabnya yang sedikit miring. Ada sorot mata yang sulit diartikan di wajah Surya, campuran antara kerinduan yang mendalam, rasa sakit, dan kebingungan yang luar biasa.

Ia menatap Tia begitu lama, seolah sedang menonton sebuah film lama yang diputar kembali di kepalanya, namun dalam kondisi tanpa suara.

Raisa menyadari perubahan atmosfer itu. Ia memperhatikan bagaimana pupil mata Surya melebar saat melihat Tia. Keheningan di antara mereka menjadi canggung.

"Pak Surya?" panggil Raisa pelan, mencoba menarik kembali perhatian atasannya itu.

Surya tersentak, seolah baru saja dibangunkan dari mimpi buruk. Ia kembali menatap Raisa, namun fokusnya sudah pecah. "Ah, maaf. Tadi saya... saya hanya berpikir tentang staf baru itu."

Tia yang akhirnya menyadari keberadaan mereka segera mendekat dengan wajah tanpa beban. "Eh, ada Pak Surya dan Bu Raisa! Belum pulang, Pak? Bu? Wah, rajin sekali ya petinggi sekolah ini."

Tia tertawa kecil, tawa yang dulu selalu menjadi penyemangat Surya saat mereka harus bergadang menjaga Dafa yang demam. Namun kini, tawa itu terasa seperti duri bagi Surya karena ia tahu Tia tidak mengingat alasan di balik tawa mereka dulu.

"Kami baru saja akan mulai berdiskusi, Bu Tia," jawab Raisa tetap tenang, meski ia mulai merasakan ada benang merah misterius yang menarik perhatian Surya ke arah guru BK baru itu.

Surya mencoba kembali fokus pada dokumen di tangannya, namun matanya sesekali masih melirik ke arah Tia yang sedang sibuk mengunci pintu ruangannya. Raisa bisa merasakan bahwa untuk pertama kalinya, perhatian penuh Surya tidak lagi tertuju padanya. Ada hantu dari masa lalu yang kini nyata berdiri di depan mereka, dan pria itu tampak kewalahan menghadapinya.

"Saya rasa..." Surya bergumam, suaranya sedikit goyah, "...kita lanjutkan diskusinya besok saja, Bu Raisa. Tiba-tiba saya merasa sedikit kurang sehat."

Raisa menatap punggung Surya yang pergi dengan langkah yang tidak setegas biasanya. Ia kemudian melirik Tia yang masih asyik bersenandung kecil.

......................

Malam semakin larut ketika mobil SUV hitam milik Surya berhenti di pelataran parkir rumah sakit. Ia sendiri bingung mengapa kakinya melangkah ke sini. Logikanya mengatakan ia harus pulang dan beristirahat, namun batinnya memberontak. Ia butuh bicara dengan seseorang yang tidak memiliki kaitan emosional dengan masa lalunya, seseorang yang cukup dingin untuk mendengarkan tanpa menghakimi.

Fatih baru saja menyelesaikan laporan pasca-operasi ketika asistennya memberi tahu bahwa ada tamu yang menunggu di kafetaria rumah sakit. Alisnya bertaut heran saat melihat sosok pria yang biasanya ia anggap sebagai rival, kini duduk sendirian di sudut kafe dengan bahu yang tampak turun.

Surya mendongak, melihat Fatih yang masih mengenakan scrub dokter. "Dokter Fatih. Maaf mengganggu jam istirahat Anda."

Fatih menarik kursi di hadapan Surya, memesan dua cangkir kopi hitam tanpa gula dari mesin otomatis. "Pak Surya. Kedatangan Anda ke rumah sakit di jam seperti ini... apakah ini soal kesehatan, atau ada hal lain yang tidak bisa dijelaskan secara medis?"

Surya menyesap kopinya, membiarkan rasa pahit itu membakar lidahnya sejenak. "Saya hanya ingin minum kopi dengan seseorang yang tidak mengenal saya sebagai 'Pemilik Yayasan' atau 'Ayah Dafa'. Seseorang yang hanya melihat saya sebagai seorang pria yang sedang... buntu."

Fatih menyandarkan punggungnya, menatap Surya dengan tatapan tajam namun netral. Sebagai dokter bedah saraf, ia terbiasa menghadapi orang-orang yang berada di titik terendah mereka. "Kadang, diagnosis terbaik tidak datang dari meja operasi, tapi dari kejujuran. Ada apa, Pak Surya?"

Surya terdiam lama sebelum akhirnya berbisik, "Bagaimana rasanya jika orang yang paling mengenal perjuanganmu, tiba-tiba menatapmu seolah kau adalah orang asing di pinggir jalan?"

Fatih segera menangkap maksud pembicaraan itu. Ia teringat Bu Tia, guru baru yang ia curigai mengalami gangguan memori. "Dalam medis, itu disebut amnesia. Tapi dalam kehidupan nyata, itu adalah bentuk kehilangan yang paling sunyi. Anda sedang membicarakan guru baru itu, bukan?"

Surya terkejut, namun kemudian tersenyum getir. "Ketajaman Anda memang luar biasa, Dokter. Dia kembali, tapi dia tidak membawa kenangannya. Dia membawa tawa yang sama, tapi tawa itu bukan lagi milikku. Rasanya sesak, lebih sesak daripada saat saya harus membesarkan Dafa sendirian belasan tahun lalu."

Fatih tidak lantas membalas dengan kata-kata puitis. Ia tetap pada sifat logisnya. "Kenangan itu hanyalah data di otak, Pak Surya. Tapi perasaan adalah reaksi kimia yang lebih dalam. Jika dia pernah mengenal Anda sedalam itu, sel-sel di otaknya mungkin lupa, tapi denyut nadinya tidak akan bisa berbohong saat berada di dekat Anda."

Surya menatap Fatih, merasa sedikit tenang mendengar penjelasan dingin namun masuk akal itu. "Terima kasih, Dokter. Saya tidak tahu kenapa saya datang ke sini, tapi sepertinya kopi pahit Anda cukup membantu."

Fatih mengangguk kecil. "Jangan biarkan emosi mengaburkan logika Anda. Sebagai dokter, saya sarankan Anda untuk tidak memaksanya ingat. Biarkan dia mengenal Anda kembali sebagai orang baru. Terkadang, memulai dari nol lebih baik daripada memperbaiki yang sudah pecah."

Saat itu, di kafetaria yang sepi, dua pria yang sebelumnya bersaing memperebutkan perhatian Raisa kini duduk dalam kesunyian yang penuh rasa hormat.

1
Zainatul Fibriyana
bagus bgt cerita
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Zainatul Fibriyana
bagus bgt ceritanya
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!