Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Masa lalu menyakitkan.
Pagi hari, hujan sudah reda. Bang Arben menggandeng Dira masuk perlahan dalam rumah. Semalaman memang mereka tidak pulang.
"Ayo masuk, ganti bajumu. Hari ini tahapan yang terakhir, jadwalnya hanya ke rumah sakit saja." Kata Bang Arben sambil mendorong punggung Dira lembut.
Namun saat melewati kamar depan, Bang Arben sungguh syok melihat Bang Rama tidur satu ranjang bersama Dinda, di bawah selimut yang sama. Rasa kagetnya semakin menjadi saat melihat pakaian mereka tercecer di lantai.
Siapapun yang melihatnya pasti sudah bisa menebak kejadian semalam tanpa perlu penjelasan apapun.
"Nyambik b*****t, pantas julukannya black mamba." Gumam Bang Arben lirih.
"Ada apa, Bang??" Dira penasaran dan melongok melihat ke dalam kamar tapi Bang Arben langsung mendorong kepalanya sambil menutup pintu kamar dengan hati-hati.
"Nggak ada apa-apa. Sekarang ambil pakaianmu saja, mandinya di mess Abang..!!" Perintah Bang Arben.
...
"Astaghfirullah.. Abang bangun kesiangan, dek." Bang Rama terlonjak kaget melihat jam tangannya sudah menunjukan jam enam pagi. "Kamu mandi, yang benar ya mandinya..!!"
Dinda yang ikut syok hanya bisa mengangguk di bawah selimut.
Bang Rama langsung beranjak dan memakai pakaiannya. "Abang kerja dulu, ya. Hati-hati di rumah."
...
Siangnya kepala Bang Rama berdenyut nyeri. Ayahnya sudah menekan Bang Rama agar bisa segera menyelesaikan persyaratan pengajuan nikah tersebut.
"Aku belum dapat nomer resmi dokumen itu, Yah. Semua salah, aku juga nggak diam saja disini." Kata Bang Rama.
"Tapi kamu ingat betul, Ram. Jangan coba bongkar muat sebelum proses pengajuan nikahmu resmi." Kata Ayah Bang Rama di seberang sana.
"Memangnya Ayah nggak mau punya cucu??" Goda Bang Rama dengan nada rendah.
"Kamu jangan sembrono, Rama. Suratmu belum turun, KUA pun tidak akan mengeluarkan surat nikah tanpa keterangan dokumen yang jelas, bahkan dari tingkat RT pun jadi abu-abu."
Bang Rama mematikan sambungan teleponnya. Bukannya malas mendengar 'petuah' dari orang tuanya tapi ia ingin mengambil jalannya sendiri meskipun beresiko untuk di lalui.
"Di pikir nanti saja, lah." Bang Rama beranjak dari duduknya lalu menuju ke lapangan dan bergabung mengikuti kegiatan olahraga bersama dengan lainnya.
...
Nafas Bang Rama ngos-ngosan usai lari pagi. Keringat membasahi wajah hingga meleleh turun melewati leher Bang Rama. Dia duduk di bangku pinggir lapangan, menyeduh kopi instan dari botol minumnya. Hidupnya memang tak lepas dari rokok dan kopi.
Pikiran masih terbelah dua, antara 'kesalahannya' sama Dinda semalam, dan tekanan dari ayah yang terus mengingatkan persyaratan nikah.
Tiba-tiba hpnya berdering. Nomor yang tidak disimpan. Bang Rama mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Selamat pa.........."
"Rama.. Aku kangen............" Kata seorang gadis di seberang sana.
Bang Rama syok mendengarnya, tapi dirinya mengenali suara tersebut. "Meranti?"
"Waahh.. Ternyata aku tetap jadi kesayanganmu, ya."
Nafas Bang Rama bercampur aduk. Seluruh ingatannya terasa terbanting mengingatkan memory dari yang termanis hingga yang teramat pahit.
"Rama.. Aku minta maaf. Aku, dan anak ku ini.... Butuh kamu." Kata Ranti.
Senyum Bang Rama tersungging tipis. Hatinya kembali sakit melihat kejadian malam itu.
POV Flashback Bang Rama on..
Hari ini aku pulang dari penutupan penugasan Lebanon. Tak ada kabar untuk Meranti kekasihku, niatku ingin melamarnya hancur saat aku melihatnya masuk bersama seorang pilot ke dalam rumah yang aku sewa untuknya sebagai tempat singgah lelah selama dirinya bekerja sebagai pramugari di sebuah maskapai ternama.
Langkahku pelan tapi pasti. Dengan kunci rumah yang aku punya, aku masuk dan melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ranti dengan sadar asyik memadu cinta dengan pria lain. Amarahku sungguh tak terbendung. Aku menghajarnya namun di sisi lain, aku menyesal, menyesal pernah bertemu dengan wanita seperti Ranti.
\=\=\=
Sakit hatiku tak terobati. Hari-hariku terasa sunyi dan mati. Aku hanya menjalani kehidupanku yang sudah terlanjur ada. Bekerja, makan, tidur, tanpa ada rasa apapun. Sampai akhirnya atas anjuran Sanca, Aku memutuskan untuk cuti dan kembali ke daerah Jawa Tengah, kampung halaman Mamaku yang sudah lama tidak aku kunjungi.
Di sana, udara terasa segar dan sejuk, jauh dari hiruk-pikuk kota. Aku tinggal di rumah nenek dan kakek ku yang sudah tua, menghabiskan waktu dengan membantu mengurus kebun dan bertukar cerita dengan tetangga. Sakit hatiku sedikit mereda, tapi luka lama masih tersisa.
Satu hari pagi, Aku pergi ke pasar 'mengawal' nenek ku untuk beli sayuran. Sambil berdiri di depan toko buah, tiba-tiba ada suara gadis dengan nada ceria. "Pak, ini melonnya sudah matang belum ya?"
Rama menoleh. Di sana berdiri seorang gadis dengan rambut lurus kira-kira melebihi bahu, berwarna coklat semu yang terikat ekor kuda , baju kaos polos dan celana pendek, dengan senyum yang cerah seperti matahari pagi. Dia sedang menunjuk ke keranjang melon, wajahnya penuh keingin tahuan.
Saat itu sosoknya sama sekali belum ada dalam pikirannya, terlintas pun tidak. Dialah Dinda, yang tak pernah kusadari.
Penjualnya menjawab, "Sudah matang, Mbak. Mau beli melon berapa?"
"Oohh.. Nggak Pak. Saya mau beli mangga." Jawab gadis itu.
Pedagang sempat ternganga tapi hanya bisa menggaruk-garuk kepala karena merasa ada yang janggal.
Aku pun tersenyum, masih ada gadis 'aneh' macam itu di era saat ini.
"Berapa kilo mbak?"
"Satu kilo aja." Jawabnya.
Tak lama nenek ku bergabung. "Wangi ya, Ndhuk??" Tanya Nenek saat gadis itu sedang menghirup aroma mangga.
"Wangi sekali, Nek. Nenek suka??"
"Nggak begitu. Yang suka mangga, cucunya Nenek." Kata Nenek tiba-tiba menunjuk ke arahku dengan senyumnya. Namun mendadak senyumnya hilang, dengan cepat nenek mengambil sebuah terong dari keranjang sayurnya lalu melayang dan menghantamku tanpa aku bisa menghindar.
plllkkkk..
"Jangan merokok terus. Mulutmu itu sudah seperti kukusan." Omel nenek.
Terang saja aku kaget, wibawaku runtuh namun aku cinta dengan nenek bawel satu ini.
"Jangan marah lah, Nek. Hilang nanti cantiknya. Hanya sebatang, lho." Ujarku kemudian mencium kening nenek ku.
Memang tak sulit merayu nenek ku. Satu kecupan itu sudah membuatnya luluh.
"Cepat kawin to, Lee.. Biar ada 'mainan' mu di rumah, nggak gelut aja kerjanya. Kalau ada istri, ada yang ngomelin, ." Kata Nenek dengan suaranya yang sudah melunak.
Senyumku pun hilang. Aku membuang puntung rokok ku di tanah lalu menginjaknya hingga padam.
"Ya sabar, cari istri bukan hanya soal kawin dan punya anak. Cari istri tuh yang akhlaknya baik, karena Rama titip 'hati yang lain' dalam tubuhnya, itu pertanggung jawaban pada Tuhan dalam ibadah yang tidak terlihat. Do'akan Rama dapat istri sholehah ya Nek." Aku menyandarkan keningku pada puncak kepala nenek. "Biar geludnya di kasur aja."
"Ramaaaaaa......."
POV Flashback Bang Rama off..
"Maaf, saya sudah punya istri."
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara