Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Suara Arya Jaya bergema di antara gudang kayu itu, memecah udara yang tegang. Langkahnya tenang dan teratur, seolah membawa serta keheningan yang menekan di antara dua kelompok yang tengah bergejolak. Wajahnya yang biasanya bijak kini dipenuhi kekecewaan, menyayangkan bagaimana warganya bisa bertindak sejauh ini.
Di belakangnya, Prana, sang pelindung desa, berdiri diam bak bayangan. Kehadirannya yang sunyi namun penuh intimidasi sudah cukup untuk membuat nyali ketiga pria itu menciut.
Rasa gentar mencengkeram dada mereka. Tenggorokan terasa tercekat, ludah yang seharusnya mudah ditelan kini seperti membeku. Namun ketakutan itu hanya bertahan sesaat. Perlahan, kilatan pembenaran kembali muncul di benak mereka, sebuah keyakinan buta bahwa semua malapetaka yang menimpa hanyalah bukti nyata.
Dengan suara yang berusaha terdengar tegas meski terselip keraguan, Karta akhirnya angkat bicara.
“Kepala Desa,”
“Anak ini, Jihan… tidak diragukan lagi, pastilah orang yang membawa kesialan bagi desa! fenomena aneh yang terjadi mulai dari kekeringan yang melanda, air sungai yang menyusut, hingga dampak lansung seperti ladangku yang rusak semalam, pastilah karena anak ini, ia harus disingkrikan!”
“Itu benar kepala desa!”
Lanjut Budi, mengeluhkan hal yang sama.
“Awalnya aku tak percaya, tapi kemarin kebun buahku yang seharusnya dipanen… tiba-tiba membusuk! setelah aku perhatikan lebih dekat bekas buah itu meninggalkan liur kental yang aneh! Ini pertama kali aku melihatnya setidaknya setelah pendekar abadi menjatuhkan vonis untuk anak itu!”
“Bahkan…” potong Darmin, suaranya parau penuh kesedihan.
“Ikan-ikanku di penangkaran mati mendadak… Padahal sudah dipesan jauh-jauh hari oleh Tuan Erlang, pedagang besar dari Kota Mandala. Sekarang aku harus menanggung kerugian besar!”
“Kami semua hanya menuntut keadilan atas apa yang menimpa kami!”
“Darmin benar, Kepala Desa!” sahut Karta dengan nada lantang.
“Anda harus mengambil keputusan secepatnya. Anak ini harus diasingkan, kalau tidak, Desa Batu Sungai akan jatuh ke ambang kehancuran! Kami hanya ingin melindungi desa!”
Suara Karta bergetar penuh keyakinan, sarat dengan tuduhan yang menusuk, seolah vonis atas Jihan tak lagi bisa diganggu gugat.
Di hadapan amarah yang lahir dari ketakutan, Jihan dan Yasmin hanya bisa berdiri kaku. Sejenak, hening menyesakkan menyelimuti tempat itu, menggantung bersama tuduhan yang baru saja terlontar.
Kepala Desa masih terdiam, ekspresinya sulit dibaca, seakan menimbang sesuatu di balik sorot matanya. Di sisinya, Prana berdiri tegak, mengamati dengan keheningan yang menusuk, membuat suasana kian berat. Hingga akhirnya, tak lama kemudian, suara berat Arya Jaya terdengar, memecah udara yang menegang saat ia perlahan angkat bicara.
“Melindungi desa?”
“Kalian sebut ini melindungi desa? Dengan menindas seorang pemuda yang ibunya sedang sakit keras?”
Ia berhenti sejenak, tatapannya yang tajam menusuk mereka satu per satu.
“Menimpakan semua kemalangan pada satu anak yang bekerja lebih keras dari kalian bertiga jika digabungkan? Di mana akal sehat kalian?”
Rentetan pertanyaan itu menghantam ketiga pria itu seperti cambuk. Wajah mereka yang tadinya penuh amarah kini pias menahan malu. Satu per satu, mereka menundukkan kepala, tak sanggup menahan tatapan menghakimi dari pemimpin desa mereka.
Arya Jaya tidak memberi mereka ruang untuk bernapas. Ia melanjutkan dengan suara yang lebih dingin dan tajam, menelanjangi setiap alasan mereka.
“Kau, Karta. Ladangmu dirusak babi hutan karena pagarmu sudah lapuk dan kau terlalu malas memperbaikinya.”
“Kau, Budi… Kebunmu membusuk karena hama. Itu kelalaianmu sendiri, bukan kutukan.”
“Dan kau, Darmin. Ikan-ikanmu mati karena air sungai terlalu panas akibat kemarau. Itu aturan alam, bukan ulah seorang anak!”
Ia menyapu mereka bertiga dengan tatapan muak.
“Semua kemalangan kalian ada penjelasannya. Jangan jadikan takhayul murahan sebagai tameng untuk menutupi kemalasan dan kebodohan kalian sendiri!”
Kepala Desa berhenti sejenak, sebelum melanjutkan dengan nada final penuh penegasan:
“Sekarang, pergi. Dan dengar baik-baik. Jika aku sampai melihat bayangan kalian saja di dekat Jihan lagi… maka urusannya bukan lagi dengan adat desa, tapi denganku secara pribadi.”
Ancaman itu, yang diucapkan dengan tenang namun sarat akan peringatan, menggantung berat di udara. Kini tidak ada lagi keraguan di benak ketiganya, Kepala Desa telah memilih pihaknya. Ia berdiri melindungi Jihan, anak yang oleh seluruh desa kini dicap sebagai pembawa kutukan.
Tanpa berani membantah, ketiga pria itu akhirnya berbalik dengan wajah pias menahan amarah. Mereka sempat melirik tajam ke arah Jihan, sebuah tatapan yang menjanjikan pembalasan, sebelum akhirnya menyeret langkah mereka pergi, meninggalkan jejak dendam yang pekat di udara.
Sebuah helaan napas panjang dan berat lolos dari bibir Arya Jaya. Perhatiannya kini beralih sepenuhnya pada Jihan. Pemuda itu tidak bergerak, masih berdiri kaku dengan tangan terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya dingin dan tanpa ekspresi, tetapi Arya Jaya bisa melihatnya, badai yang masih bergolak di balik ketenangan yang dipaksakan itu.
“Tenangkan dirimu, Jihan. Mereka sudah pergi.”
Mendengar suara lembut itu, Jihan perlahan-lahan mengendurkan kepalan tangannya. Ketegangan yang sejak tadi menopang tubuhnya seolah mencair, dan adrenalin dari konfrontasi itu pun surut.
Namun, yang tersisa bukanlah kelegaan. Melainkan sebuah kehampaan yang dingin dan jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Kini ia mengerti. Statusnya telah berubah. Ia bukan lagi sekadar anak yang dikucilkan; di mata orang-orang yang dikenalnya seumur hidup, ia telah menjadi monster yang harus disingkirkan.
Arya Jaya menghela napas, mengakhiri keheningan yang berat itu. Ia kemudian menoleh sekilas ke arah Yasmin dan Prana. Tidak ada kata yang terucap, tetapi sebuah isyarat mata yang singkat dan tegas sudah lebih dari cukup untuk menyampaikan perintahnya bahwa ia ingin bicara berdua dengan Jihan.
Yasmin, yang mengerti tugasnya telah selesai untuk saat ini, langsung membungkuk hormat.
“Saya akan kembali ke balai desa, Kepala”
Prana, di sisi lain, merespons dengan cara yang berbeda. Ia hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang nyaris tak terlihat pada Arya Jaya, sebuah kode senyap di antara dua orang yang telah lama saling memahami. Sesaat kemudian, ia seolah melebur ke dalam bayang-bayang pepohonan dan menghilang tanpa suara.
Dan seperti itulah, dalam sekejap, gudang kayu yang tadinya riuh oleh amarah itu kini terasa sunyi. Hanya menyisakan Arya Jaya dan Jihan, berdiri berdua di tengah keheningan yang canggung.
Arya Jaya menoleh pada Jihan, tatapannya yang tadi keras kini melunak, dipenuhi simpati.
“Aku minta maaf kau harus mengalami semua ini, Jihan.
“Ketakutan sering kali membuat orang menjadi bodoh.”
“Anda tidak perlu meminta maaf, Pak Arya, Justru, akulah yang seharusnya berterima kasih.”
“Jika bukan karena Anda, mungkin aku sudah terpaksa melawan orang-orang dari desa Jihan sendiri.”
Arya Jaya menggeleng pelan, tatapannya sarat akan simpati. Ia meletakkan tangannya yang kokoh di bahu Jihan, sebuah gestur yang menenangkan sekaligus menguatkan.
“Dengarkan aku, Nak. Apa yang kau alami memang sungguh menyakitkan.”
“Apa yang dikatakan Penatua Wira adalah fakta dunia beladiri. Jalan kultivasi, seperti yang mereka kenal, mungkin memang telah tertutup untukmu. Dan karena itu, orang-orang yang ketakutan akan selalu melihatmu sebagai sesuatu yang berbeda, sesuatu yang asing.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kebenaran yang pahit itu meresap.
“Tapi, apakah menjadi berbeda itu berarti kutukan?”
“Penatua itu melihat tubuhmu dan menyatakan kau rusak. Orang-orang desa melihatmu dan menyebutmu kutukan,”
“Tapi aku… aku melihat kekuatan. Kekuatan yang nyata, yang kau bangun dengan keringat dan darahmu sendiri, bukan dari bakat pemberian langit.”
Ia menunjuk ke arah Sungai Batu di kejauhan.
“Sungai itu mengukir jalannya sendiri menembus batu. Bukan karena ia mengikuti jalan yang sudah ada, tapi karena ia terus mengalir tanpa henti. Ketekunanlah yang memberinya kekuatan untuk membentuk ulang dunia di sekitarnya. Sama sepertimu.”
Pernyataan itu membuat Jihan membeku, ia membalasnya dengan ragu.
“Tapi… mereka mengucilkanku,”
“Benar,”
“Maka berdirilah lebih tegak di hadapan mereka. Mereka menyebutmu kutukan karena jalanmu berbeda. Kalau begitu, buktikan pada mereka bahwa jalan yang berbeda bukanlah kelemahan, melainkan sebuah kekuatan yang belum pernah mereka saksikan.”
Mendengar kata-kata itu, secercah harapan kembali berkilat di mata Jihan. Wajahnya menegang, dipenuhi rasa penasaran, sebelum akhirnya ia bertanya pelan.
“Bagaimana?”
“Dengan ini.”
Arya Jaya tidak menunjuk apa-apa, melainkan mengetuk pelan dada Jihan dengan jarinya.
“Dengan tanganmu. Dengan tubuhmu. Dengan tekadmu.”
“Para pendekar Abadi menyerap energi langit dan bumi melalui meridian mereka. Mungkin kau tidak bisa melakukan itu. Tapi bagaimana jika kau bisa menempa energimu sendiri? Dari setiap tarikan napasmu? Dari setiap ayunan pikulanmu? Dari setiap detak jantungmu yang menolak untuk menyerah?”
Arya Jaya menatap lurus ke mata Jihan, suaranya kini penuh keyakinan.
“Jalan yang sudah ada memang tertutup untukmu, Jihan.”
“Itu adalah kesempatanmu untuk membuat yang baru.”
Kepala desa menepuk bahu Jihan sekali lagi, sebuah tepukan yang terasa berat namun sarat keyakinan. Lalu ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Jihan sendirian dengan pikirannya yang berkecamuk.
Jihan berdiri terpaku menatap tangannya. Lengan ini bukan lagi hanya sumber penghidupannya, atau pelampiasan amarahnya. Kini, ia adalah simbol perlawanan. Vonis Penatua Wira, cemoohan Gading, tuduhan para warga… semua itu masih terasa menusuk. Namun, di tengah puing-puing itu, kata-kata Arya Jaya, bayangan Yasmin, dan dukungan ibunya telah menanam sebuah benih perlawanan.
Ia tidak akan lari. Ia tidak akan hancur. Jika dunia tidak memberinya jalan, maka ia akan menebangnya sendiri. Dengan napasnya. Dengan ototnya. Dengan tekadnya yang menolak untuk disebut kutukan.
‘Menciptakan jalanku sendiri…’
Pikirannya berkelebat, menyambungkan potongan-potongan ingatan yang selama ini tak pernah ia pahami. Kekuatan fisiknya yang luar biasa sejak lahir. Momen ketika ia menyelamatkan Raras, mendorong tubuhnya melampaui batas.
Dan yang paling penting… napasnya. Setiap kali ia kelelahan, setiap kali napasnya memburu seperti badai, ia tidak menjadi lebih lemah. Justru sebaliknya, gelombang energi baru akan mengalir ke dalam otot-ototnya.
Ia hampir tertawa pada kebodohannya sendiri.
‘Bodoh sekali, selama ini, jawabannya sudah ada di dalam diriku.’
Penatua Wira dan penduduk desa menyebutnya kutukan. Mereka melihat fondasi yang rusak. Tapi kini, Jihan melihatnya secara berbeda. Jika ‘kutukan’ ini adalah beban yang diberikan Langit padanya…
…maka ia akan menempa beban itu.
Menjadikannya pedang.