harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. Dia yang berhak.
Hazard menoleh ke arah Anggi yang menunduk. "Tegakan kepala kamu, kamu membuat saya malu dengan menunduk seperti itu,"suara Hazard begitu dingin.
Anggi yang mendengarnya langsung mengangkat kepalanya melihat berbagai tatapan menatap dirinya, dari yang tak suka, bingung,dingin, dan netral.
Hazard melepaskan tangan Shara dari tangannya, Lalu menarik Anggi di sampingnya sambil memegang pinggangnya.
"Dia adalah... "
Entah kenapa perasaan Shara jadi tidak nyaman, ada sesuatu dengan wanita di dekat Hazard, dan pikirannya mengarah pada hal yang tak di inginkan.
"Hazard," tegur Tuan Azam, mempertegas ancamannya pada sang putra di ruang kerjanya tadi.
Helena mendekat pada suaminya."Pa, Hazard nggak mungkin kasih tahu Shara, kan,Pa,"bisik Helena.
"Kita lihat saja."
Hazard mengeratkan pegangannya pada Anggi."Ya,dia asisten saya."
Anggi menoleh pada Hazard,Ia berharap Ia tak salah dengar.
Tuan Hazard tersenyum puas, begitupun Helena.
"Lalu kemana Gadi?kenapa tak bilang kalau kamu memiliki asisten baru," kata Shara mengerucutkan bibirnya, tangannya terukur melepaskan pegangan Hazard pada tangan Anggi.
Anggi tidak tahu apa yang Ia rasakan saat rak di akui, ada rasa sesak, sakit, tapi... jujur saja, Anggi tidak pernah merasa jatuh cinta pada pria yang berstatus suaminya ini.
Hana yang melihat itu ikut merasa sedih, Nyonya barunya tak di akui oleh Tuannya.
Helena memegang bahu Shara."Ra, kamu pasti capek, ayo kita makan bareng,"ajak Helena yang langsung di angguki oleh Shara.
Shara menatap Hazard dengan senyuman, tak lupa Ia memeluk lengan Hazard begitu manja.
Hazard melirik Anggi yang diam saja, seperti tidak terjadi apa-apa.
Saat semuanya duduk, Anggi masih berdiri.
"Hei, kenapa diam saja, ayo duduk disini, makanlah bersama kami," ajak Shara tersenyum manis.
Anggi membalas tersenyum, ia harus bersikap seperti asisten bukan."Tidak Nyonya,saya akan makan nanti, silahkan di lanjutkan,"ujar Anggi menirukan hal yang selalu Hana lakukan padanya.
Hazard menoleh ke Anggi, menatap mata yang tak ia ketahui apa yang ada di baliknya.
Anggi hanya tersenyum, dan berlalu pergi.
Shara merasakan ada sesuatu."Apa asistenmu sedang patah hati Sayang, kentara sekali kalau dia sedang sedih."
Hazard menegang, apa itu artinya Anggi sedih Ia tak di akui? Tapi yang Hazard lihat, Anggi biasa saja, tak terlihat sedih sama sekali.
"Mungkin, tapi sekarang kita fokus dulu makan ya, soalnya sudah lama sekali kita tidak makan bersama seperti ini," ucap Helena.
"Iya tante,Shara juga kangen banget."
Disisi lain, Anggi pergi ke taman yang kosong, tak ada pelayan sama sekali disana, dan tempat ini tak seperti taman lainnya, terawat, disini seperti terbengkalai, tak pernah di rawat sama sekali.
Pohon tua yang besar, menjadi tempat Anggi berteduh dari sinar matahari, Ia duduk menikmati Angin sepoi-sepoi yang menerpa kulitnya.
Hana datang melihat Nyonya yang Ia layani terlihat biasa saja, tapi Hana seakan tahu rasa sakit yang di rasakan Anggi.
"Nyonya."
Anggi menoleh dengan senyuman."Hana sini!"
Hana tertegun mendengar seruan Nyonya Anggi, bagaimana bisa Nyonya Anggi bisa biasa saja.
Hana mendekat berdiri di samping Anggi, Anggi menarik tangan Hana yang bertaut di depan, meminta wanita yang menemaninya dengan tulus setiap saat di rumah ini.
"Hana, disini terasa nyaman, kenapa tidak pernah dirawat ya?" tanya Anggi.
Hana mengerjapkan mata melihat Anggi yang biasa saja.
"Nyonya tidak sakit hati?"
Alih-alih menjawab Hana malah bertanya.
Anggi mengerutkan keningnya."Sakit hati karena apa?"
"Karena Tuan Hazard tidak mengakui anda Nyonya."
"umm itu ya, ada rasa sesak dan sakit disini Hana, apa itu namanya sakit hati?"
Hana menunduk, air matanya mengenang mendengar ucapan Anggi.
"Tapi, kenapa Aku merasakan rasa itu ya? padahal aku baru satu minggu bersamanya."
Anggi menoleh ke Hana yang pundaknya bergetar kecil, napasnya terdengar berat dan patah-patah.
"Hana, kamu nangis? nangis kenapa?aku salah ngomong ya? maaf yah?"
Anggi memeluk tubuh Hana yang bergetar kecil."Saya menangis, merasa nasib Nyonya hampir mirip dengan Nyonya yang saya layani, tapi dia sudah pergi."
"Siapa dia?"
"Adik Tuan Hazard, yang di jodohkan dengan Tuan pratama."
Hana yang mulai tenang melepaskan pelukannya.
"Sebenarnya sangat tak pantas saya menceritakan ini pada Nyonya yang baru saya layani, tapi Nyonya mengingatkan saya pada Nyonya lama, yang begitu lembut dan ceria."
"Siapa namanya?"
"Nyonya Zara,Dia di jodohkan dengan pria yang terpaut 10 tahun, Sama seperti Tuan Hazard, Ia di jodohkan karena bisnis.dan kalian memiliki kesamaan, yaitu tidak di akui di publik."
Anggi hanya mengangguk pelan.
"Sepertinya kamu jauh lebih menyedihkan di banding kami berdua, bagaimana kalau kita rapikan taman ini, kita jadikan tempat ini menjadi tempat kita membagi rasa suka dan duka Hana."
Hana mengangguk cepat dan tersenyum kecil.
Hazard keliling Kastil, tapi tak menemukan Anggi di mana-mana, bahkan Ia sudah bertanya pada pelayan, tapi Hazard tak kunjung menemukan Anggi.
Yang dihindari malah dia yang ketemu, Shara berlari memeluk Hazad."Aku mencari kamu tahu, kita udah lama nggak ketemu, kamu kayak menghindar dari aku,"kata Shara mendongak menatap wajah datar yang ia Rindukan.
Hazard melepaskan pelukan Shara secara paksa."Shara, saya ada kerjaan, nanti saya luangkan waktu untuk kamu oke."
Mendengar itu saja Shara sudah tersenyum lebar sambil mengangguk cepat.
Hazard langsung pergi kembali mencari Anggi.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan menjelang malam.
Anggi dam Hana duduk di rumput yang sudah di potong. mereka tertawa bersama menatap langit yang orange tiba-tiba mulai gelap.
"Ternyata melelahkan juga ya Nyonya, meskipun melelahkan, membangun tempat untuk suka dan Duka kita."
"Memang melelahkan, dan semua itu butuh kesabaran, dan lihat, mereka akan tumbuh menjadi bunga yang cantik,"sahut Anggi.
"Nyonya, ini sudah malam,mari saya bantu Nyonya mandi," tawar Hana.
"Tidak perlu Hana, aku malu, kalau kamu mandikan, aku bukan anak kecil lagi, sebaiknya kamu istirahat saja malam ini, aku akan Mandi sendiri," Sahut Anggi.
Hana dan Anggi berpisah dan kembali ke kamar masing-masing
Dua penjaga saling padang saat Anggi akan masuk, entah kenapa pikiran Anggi langsung menembus kalau Shara ada di dalam.
Ia tersenyum pada kedua penjaga itu."Apa Nyonya Shara di dalam?"tanya Anggi.
Mereka berdua mengangguk, Anggi akhirnya memilih mandi di kamar tamu.
Ia memasukkan wewangian di bak mandi, dan masuk ke dalamnya, air hangat itu tumpah-tumpah dari bak saat Anggi mulai masuk dan bersandar di sana sambil memejamkan mata.
Anggi yang menikmati rendaman air hangat, tak mendengar seseorang masuk ke dalam kamar mandi.
Sebuah tangan memijit pelan bahu Anggi, Anggi memejamkan, tersenyum menikmati pijitan itu.
"hmm,kamu hebat dalam memijit juga ya Hana, kamu sangat hebat," puji Anggi.
"saya juga bisa membuat kamu merasakan yang lebih enak dari ini," bisik suara serak dan berat itu di samping Anggiba.
Anggiba membelalak dan menoleh ke samping, bibirnya menyentuh pipi yang di tumbuh bulu-buku halus.
Menurut kalian Bab ini terlalu menonton nggak sih, atau konfliknya nggak ada sama sekali?
Jawab di kolom komentar ya, aku juga mau tahu, cerita aku di mata kalian seperti apa?
Aku Terima dengan lapang dada kritik kalian soal cerita ini🤗
Tapi meskipun begitu, aku minta dukungannya yah, dengan kalian like, supaya karyaku bisa lebih baik lagi😙