Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Marni melangkah masuk ke dalam rumah. Di kedua tangannya, bergelayut belasan kantong plastik bermerek dari pusat perbelanjaan ternama.
Aroma wangi barang-barang baru langsung memenuhi ruangan, kontras dengan bau asap dapur yang biasanya mendominasi rumah itu.
Hendra yang baru saja pulang kerja dan sedang duduk di ruang tamu, terbelalak melihat pemandangan tersebut. Ia segera berdiri, menatap tumpukan barang belanjaan yang diletakkan ibunya di atas sofa dengan kasar.
“Ibu? Banyak banget belanjaannya? Ibu dapat uang dari mana beli barang sebanyak ini?” tanya Hendra dengan penuh keheranan sekaligus curiga.
Ia tahu betul kondisi keuangan mereka tidak akan sanggup membeli barang-barang semahal itu dalam sekali jalan.
Marni mengibaskan tangannya ke udara, lalu duduk di sofa sambil menyeka keringat di dahinya. Senyumnya mengembang lebar, seolah baru saja memenangkan lotre.
“Aduh, Hendra! Ibu itu capek, tapi senangnya bukan main! Kamu ini gimana sih, punya teman kerja hebat begitu kok nggak pernah cerita sama Ibu?” seru Marni dengan nada antusias yang meluap-luap.
Dahi Hendra berkerut. “Teman kerja? Siapa maksud Ibu?”
“Itu lho, si cantik yang tadi jemput Ibu! Dia datang ke sini, sopan banget, terus ngajak Ibu jalan-jalan ke mall. Dia bilang dia rekan kerja kamu di kantor. Ya ampun, Hendra, Ibu sampai bingung mau pilih baju yang mana, semuanya dibayarin sama dia!” Marni mulai membongkar isi tas belanjaannya, memamerkan tas kulit dan sepatu baru yang harganya mungkin setara dengan gaji Hendra sebulan.
Hendra terdiam kaku. Jantungnya berdegup kencang. Dalam benaknya, hanya ada satu nama yang mungkin melakukan hal seberani dan semewah ini.
Rima.
Gadis anak direktur itu benar-benar tidak main-main dengan ucapannya di kantor kemarin.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau punya teman kerja yang kaya, cantik, seksi, dan baik begitu, hah?” tanya Marni lagi, kali ini dengan nada menyindir. “Dia itu benar-benar tipe wanita idaman. Sudah sukses, penampilannya luar biasa, wangi lagi! Nggak kayak yang di rumah ini, tiap hari cuma bau bawang dan keringat!”
Tepat saat itu, Aisya keluar dari arah dapur. Ia membawa nampan berisi secangkir kopi panas untuk suaminya. Langkahnya terhenti di ambang pintu ruang tamu. Ia mendengar jelas setiap kata yang diucapkan ibu mertuanya.
Aisya menatap tumpukan kantong belanjaan mewah itu, lalu beralih menatap Hendra yang tampak pucat. Ia merasa seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya.
Hanya dengan uang lima puluh ribu rupiah saja ia harus berjuang mati-matian untuk makan, sementara wanita lain dengan mudahnya memanjakan mertuanya dengan kemewahan.
Aisya berjalan perlahan, meletakkan kopi di meja depan Hendra tanpa suara dan mencoba tetap tenang, meskipun hatinya sedang perih luar biasa.
“Oh, ini dia datang!” Marni menoleh ke arah Aisya dengan tatapan meremehkan. “Lihat ini, Aisya! Ini namanya barang berkualitas. Tadi teman Hendra yang belikan. Dia itu seleranya tinggi sekali. Harusnya kamu malu, masa kalah jauh sama teman kerja suamimu sendiri.”
Aisya hanya diam, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak berani menatap mata Marni, apalagi mata Hendra.
“Bu, sudah, Bu. Jangan bicara begitu,” tegur Hendra lirih. Ia merasa sangat bersalah melihat Aisya yang hanya membisu. Namun, di sisi lain, ia juga merasa terpojok oleh kebaikan Rima yang terasa seperti jerat.
“Lho, Ibu bicara kenyataan kok! Dia itu tadi cerita banyak soal kamu di kantor. Katanya kamu itu karyawan teladan. Dia perhatian sekali sama kamu, Hendra. Bahkan dia tanya-tanya soal kesukaan Ibu,” lanjut Marni tanpa memedulikan perasaan menantunya. “Coba kamu pikir, kalau istrimu itu dia, pasti hidup kita nggak bakal susah begini. Kita nggak perlu makan telur tiap hari!”
Hendra merasa emosinya mulai tersulut mendengar ucapan Marni yang tak henti-hentinya menyindir Aisya.
“Ibu! Aisya itu istriku. Tolong hargai dia!”
Marni justru berdiri dan berkacak pinggang. “Menghargai apa?! Menghargai kemandulannya?! Hendra, buka matamu! Temanmu itu, siapa namanya tadi? Rima? Ya, Rima! Dia itu jauh lebih pantas mendampingi kamu. Dia bisa kasih kamu masa depan, bisa kasih Ibu cucu yang terhormat, bukan kayak perempuan ini yang cuma bisa habiskan uang buat beli hal nggak berguna di pasar!”
Air mata Aisya mulai menggenang. Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana. Dengan gerakan cepat, ia berbalik dan kembali menuju dapur.
Isaknya hampir pecah, tapi ia sekuat tenaga menahannya agar tidak terdengar. Hendra menatap punggung Aisya yang menjauh dengan rasa frustrasi yang memuncak.
Ia tahu Rima sedang memainkan permainan yang berbahaya. Rima mencoba mengambil hati ibunya untuk menghancurkan rumah tangganya dari dalam.
“Ibu keterlaluan,” bisik Hendra dengan suara bergetar.
“Ibu tidak keterlaluan! Ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu!” balas Marni dengan nada egois. “Ibu mau kamu bahagia, punya istri yang bisa dibanggakan, bukan yang cuma bisa bikin malu karena urusan preman di pasar!”
Hendra tidak menjawab. Ia terduduk lesu di sofa, menatap kopi buatan Aisya yang mulai mendingin. Hendra merasa terjepit di antara dua wanita, istri yang sangat ia cintai namun terus menderita, dan rekan kerja yang menawarkan kemewahan sekaligus kehancuran bagi prinsip hidupnya.
kasih kopi ☕ sek wes buat say Author salam
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣