Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Angkat
Tatapan anak itu, seolah menghipnotis Laura dengan mata beningnya. Senyumnya yang juga memperlihatkan gigi kecilnya, membuat Laura ingin sekali menggendongnya.
"Anak ini, siapa namanya?" Tanya Laura sambil menggendong anak itu.
"Larissa, dia anak terkecil di tempat ini."
Laura menatap anak itu sambil mengajaknya bermain. Seketika naluri keibuannya membuncah, seolah dia sudah bersiap untuk merawat dan mengasuh seorang anak yang kini ada di gendongannya.
Dave menatap pemandangan tersebut dan tersenyum. Seolah tahu apa yang ada di pikiran Laura.
"Bagaimana kalau anak ini kita rawat saja?" Tanya Dave yang tak berasa basi. Laura seketika menoleh pada suaminya, setelah mendengar perkataan yang mengejutkan.
"Tapi, dia... "
"Benar Laura, lihat saja dia langsung menempel padamu. Jika denganmu, anak ini bisa mendapat kehidupan layak daripada tempat ini," timpal Mona yang juga mendukung saran dari Dave.
Laura kembali menatap anak itu, perasaannya berdebar seolah memiliki ikatan batin dengannya.
"Baiklah, kalau begitu kita urus dokumen adopsinya."
Semua orang di sana terlihat bahagia, satu anak yang memiliki nasib tak beruntung itu akhirnya akan mendapat kehidupan layak di tempat dan orang tua barunya.
"Beberapa dokumen akan selesai dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi, Laris dan bisa kalian bawa pulang hari ini," ucap Bu Dian yang hanya memberikan akta kelahiran milik Larissa.
"Hari ini kau akan pergi ke tempat yang lebih layak dari pada tempat ini. Semoga kau selalu mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari orang tua barumu," ucap Mona yang terharu dengan nasib Larissa.
Laura dan Dave pun berpamitan pada Dian dan Mona. Kini di tangan mereka, ada seorang anak yang akan menjadi tanggung jawab keduanya.
Sepanjang perjalanan, perasaan Laura bercampur aduk. Antara senang, terharu namun juga merasa malu karena dia harus mengangkat anak untuk memancing kehamilannya.
Dia menatap gadis mungil yang ada di pangkuannya. Larissa nampak nyaman, tertidur dengan lelap di pangkuan Laura.
"Banyak sekali yang terjadi pada rumah tangga kita akhir-akhir ini. Dan sekarang, ada seorang anak yang akan ikut kita ke kediaman keluarga Winarta Kusuma," ucap Laura sambil mengelus kepala anak itu dengan lembut.
"Aku harap, kehadiran Larissa membuat cinta kita semakin kuat. Dan dia yang akan membawa adiknya lahir ke dunia," harap Dave yang juga terlihat sumringah sepanjang perjalanan pulang.
Laura mengangguk, berharap keputusannya kali ini tepat. Dia berharap anggota keluarganya yang lain akan menerima kehadiran anak itu, dan menjadikannya bagian dari anggota keluarga Winarta.
"Aku harap papa juga tidak menentang keputusan kita. Jujur saja, aku sebenarnya takut jika papa menolak kehadiran anak ini," cemas Laura yang juga memiliki alasan kuat. Dia belum tentu bisa membuat sang ayah menerima kehadiran Larissa. Dia hanya ingin setiap keputusannya bisa di hargai.
"Aku tahu papa tidak memiliki pemikiran yang sempit. Kita sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri. Diterima atau tidaknya oleh mereka, tidak akan terlalu berpengaruh kan?" Ucap Dave menenangkan istrinya.
Laura mengangguk, tentu saja perkataan Dave masuk akal. Namun setelah anak ini ada di rumah mereka, Laura bisa saja lebih banyak berada di rumah daripada di kantornya.
"Sepertinya besok aku tak akan masuk ke kantor, aku akan mencari nanny untuk Larissa. Urusan kantor akan ku serahkan pada Andreas," ucap Laura yang mau tak mau di setujui Dave.
***
Andreas terlihat sibuk menyambut kolega dari perusahaan lain. Dia yang sudah di percaya oleh Laura untuk mengurus perusahaannya hari ini, membuktikan jika dia mampu bekerja.
"Untuk hari ini sudah selesai. Aku akan mengabari Laura setelah jam pulang," ucapnya sambil berjalan keluar menuju ruangannya.
Sebagai orang kepercayaan di perusahaan tentu saja Andreas memiliki tugas berat. Perannya sebagai suksesi perusahaan milik keluarga Winarta cukup banyak setelah Laura menjabat sebagai Presiden Direktur.
Dia melihat beberapa postingan terbaru Laura di aplikasi chat, dan melihat foto seorang anak perempuan.
"Siapa anak ini?" Gumamnya yang tak berani bertanya hal itu pada Laura. Walau mereka dekat, privasi keduanya tetap saling terjaga.
Andreas menatap beberapa foto Laura yang dia ambil diam-diam saat kuliah. Kekagumannya yang berawal dari kebaikan hati Laura, berubah menjadi perasaan suka bahkan cinta saat dia tahu sifat asli wanita yang dulu menjadi kakak tingkatnya di kampus.
"Andai saja kau tak memberiku sandwich saat itu, aku tak akan mungkin mengenal wanita yang luar biasa sepertimu," gumamnya sambil terus memandangi foto Laura.
Bayangan masa lalu kini membalut pikiran Andreas, apalagi pertemuan pertama mereka yang mengesankan baginya.
Kruyukk!
Andreas, mahasiswa baru di Fakultas ternama itu tengah memegang perutnya yang kelaparan. Di tambah hujan deras yang membuatnya semakin menggigil karena hanya berteduh di bawah shelter samping gedung kampus.
"Kau lapar?"
Suara seorang wanita memecah rasa dingin kala itu, walau suaranya terkesan jutek namun ada perhatian di balik pertanyaannya.
Andreas menoleh dan melihat seorang wanita sambil menyodorkan sandwich juga onigiri minimarket.
"Tidak, aku hanya kedinginan..."
"Makanlah, aku tak punya teman makan siang. Kelasku selesai dan aku ingin segera pulang ke rumah. Tapi supir ku terlambat menjemputku," ucapnya yang berbicara panjang lebar. Andreas dengan senang hati menerima sandwich yang wanita itu sodorkan.
"Kau pasti mahasiswa baru kan? Aku baru melihatmu pertama kali," ucap wanita itu yang terlihat ingin sekali mengobrol dengannya.
"Ya, aku dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Kalau kamu?" Tanya Andreas
"Berarti kamu adik tingkat ku. Kita di Fakultas yang sama."
"Oh jadi kau adalah kakak senior ku. Nama kakak siapa?"
"Laura," jawabnya tanpa bertanya balik.
Laura berdiri setelah sebuah mobil berhenti di depan shelter. Dia pun berjalan masuk ke dalam mobil tersebut. Namun seketika kaca mobilnya terbuka.
"Namamu?" Tanya Laura sambil menatap wajah Andreas.
"Andreas," jawabnya gugup sambil memegang sandwich pemberian Laura. Wajahnya menunduk, tak mampu untuk menatap kembali Laura yang sedang menatapnya.
Mobil itupun melaju meninggalkan Andreas yang sedang berdiri menunggu ojek online yang di pesannya datang.
Andreas masih terpana dengan keanggunan Laura yang tak bisa dia bantah. Cara duduk dan bicaranya, serta gaya pakaian dan juga suarnya. Andreas bisa menebak jika Laura bukanlah dari kalangan biasa.
"Ya setidaknya aku tidak bertemu dengan pembully ataupun pemalak. Ya Tuhan, dia sangat cantik."
Laura yang sedang menatap rintik air hujan di kaca mobilnya, seketika tersenyum mengingat gelagat Andreas. Dia tahu jika adik tingkatnya itu salah tingkah saat menatapnya.
"Tampan juga, untuk seukuran adik tingkat dia begitu tinggi dan gagah. Lucu sekali dia salah tingkah oleh wanita yang usianya jauh lebih tua darinya," ucap Laura sambil menahan tawa.
saat lbh memilih mndua krna nafsu dan serakah....
tpi trnyata perempuan yg di piara... dan bhkn rela mnyakiti laura.. tak lbh dri seorang jalang....
makin hncurlah kau dave... klo trnyata ank yg km sayangi dri gundikmu... trnyata bukan ank kndungmu.... tpi ank org lain🤣🤣🤣
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣