Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 21
"Ini untuk Arlo, bukan karena aku Rey!"
"Kamu terlalu naif Reya, dia jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya pada kamu!" Ujar Reyhan dan Reya memilih untuk mengabaikannya
Sementara itu Darren baru saja memasuki mobilnya, setelah sang supir membukakan pintu untuknya
"Kita kembali kekantor, Bagas!" Ujarnya dingin, ia kesal, cemburu dan marah pada Reyhan. Pria tidak setia itu benar-benar tidak pantas untuk bersama Reya
"Halo Raka!" Ucap Darren saat sambungan telepon itu terjawab
"Saya mau kamu cari tau tentang salah satu karyawan saya yang bernama Reyhan Syahputra. Semua aktivitasnya dan bersama siapa. Teman-teman, semuanya! Saya mau secepatnya!"
Darren menyimpan kembali benda pipih itu kedalam kantung jas miliknya
***
Setelah tiga hari dirawat, Kini Arlo telah diperbolehkan pulang. Reya merawat putranya itu dengan baik, bahkan Reya mengabaikan pekerjaannya akhir-akhir ini
Reyhan pun sama, setelah Arlo keluar dari rumah sakit ia tak pernah meninggalkan rumah selain bekerja. Bahkan pria itu mengabaikan kekasih gelapnya selama hampir satu Minggu terakhir
Hubungan antara dirinya dan Reya pun ikut membaik, Reyhan yang berjanji akan berusaha memperbaiki diri membuat wanita itu luluh
Satu minggu tak bertemu membuat Rani merindukan kekasihnya, Reyhan benar-benar mengabaikannya, bahkan menelepon pun dia tidak pernah lagi, seolah pria itu lupa jika memiliki seorang kekasih
"Kenapa aku jadi kangen banget sama Reyhan?" Rani memilih mengabaikan nya, ia tahu resikonya jika menjalin hubungan dengan suami orang
Rani tiba-tiba saja merasa jika kepalanya pusing, tatapannya berputar hingga semuanya menjadi gelap
"Rani!" Pekik seorang pelayan wanita yang merupakan rekan kerja wanita itu "Rani bangun!"
Revan yang baru saja tiba terkejut saat melihat beberapa orang berkerumun, hal itu membuatnya penasaran hingga ikut melihatnya
"Rani!" Pria tampan itu bersimpuh di samping sang kekasih yang telah memejamkan matanya "Dia kenapa?"
"Gak tau mas, tadi tiba-tiba saja Rani pingsan!"
Mendengar itu, Revan segera membopong tubuh sang kekasih dan membawanya ke rumah sakit
Mobil sport mewah itu melaju dengan kecepatan tinggi, Revan benar-benar kehilangan kendali saat melihat calon istrinya seperti ini
"Bertahan yaa sayang!"
Setelah beberapa menit, keduanya telah tiba dirumah sakit, Revan kembali menggendong tubuh sang kekasih sembari berteriak memanggil tenaga medis
Kini Rani tengah ditangani didalam ruang IGD, Revan menunggu dengan perasaan cemas. Sejak tadi dirinya gelisah namun dokter yang menangani sang kekasih belum juga keluar
Setelah beberapa saat, seorang wanita dengan jas putih keluar dari dalam ruang IGD
Revan yang tidak sabaran segera menghampiri dokter wanita itu "Gimana keadaannya dok?"
Dokter wanita itu mengulas senyumanya membuat Revan heran "Hal ini biasa dialami wanita yang tengah mengandung tuan, jadi tuan tenang saja!"
Mendengar itu Revan membeku, ucapan sang dokter membuatnya kehilangan kemampuan untuk berpikir
"Ha-hamil?"
Dokter wanita itu mengangguk "Selamat yaa tuan!"
Setelah mengatakan itu sang dokter melenggang pergi, meninggalkan Revan dengan raut terkejutnya
"Rani hamil? Dia hamil anak siapa?" Revan benar-benar kehabisan kata-kata, calon istrinya hamil sedangkan dirinya bahkan tak menyentuh wanita itu
Revan masuk, disana Rani terbaring lemah diatas brankar, selang infus berada ditangan kirinya sementara wajahnya begitu pucat
"Revan!" Suaranya terdengar lemah
Wajah pria itu begitu dingin, entah kemana perginya Revan yang hangat dan penuh cinta, Rani memakluminya
"Kata dokter setelah infusnya habis kamu boleh pulang!"
"Ada apa?" Rani yang tidak biasa melihat kekasihnya seperti ini segera bertanya
"Aku baik-baik aja!
Revan kembali diam, Rani tak bertanya lagi karena ia seperti melihat orang lain dalam diri Revan hari ini
Setelah selesai dengan urusan rumah sakit, Revan membawa sang kekasih kembali kerumah
Selama didalam mobil Revan terus diam, seolah dirinya adalah orang lain, Rani sebenarnya bingung namun wanita cantik itu memilih diam
"Loh kok kamu ikut turun?" Rani bingung karena tiba-tiba saja Revan ikut turun
"Aku mau ketemu ibu sama ayah sebentar! Boleh kan?"
Wanita cantik itu mengangguk "Ayo masuk!"
Kini keduanya telah duduk diruang tamu kediaman sederhana itu, didepan mereka duduk kedua orang tua Rani
Rani bingung, sebenarnya ada hal penting apa yang Revan ingin sampaikan, terlebih sejak tadi pria itu diam saja
"Ada apa nak Revan? Tumben loh nak Revan mampir!" Ujar sang ayah memecah keheningan
"Maafin Revan Yah, akhir-akhir ini memang Revan sibuk banget!" Pria tampan itu memaksakan diri untuk tersenyum
"Gak pa-pa, Ayah ngerti kok!" Ayah Rani tersenyum hangat kepada calon menantunya itu
"Biar ibu buatkan air yaa! Nak Revan mau minum apa!" Tanya ibu Rani
Kedua orang tuanya memang begitu menyukai Revan, mereka awalnya ragu, Revan sangat kaya dan berasal dari keluarga terpandang, sementara mereka? Hanya orang sederhana
Ayah Rani saja hanya bekerja di sawah orang sebelum Revan membelikan sawah yang lebih luas kepada kedua orang tua kekasihnya itu
"Tidak perlu Bu! Revan cuma sebentar kok!"
Ibu Rani mengangguk dan kembali duduk ditempatnya
"Ada apa memangnya nak?"
Revan menarik napasnya, ada raut kesedihan yang terpancar disana, bersanding dengan rasa kecewa karena merasa telah dikhianati
"Revan ingin membatalkan pernikahan Revan dengan Rani!"
Ucapan itu mengejutkan semua orang, Rani diam, entah apa yang membuat kekasihnya itu mengambil keputusan seperti ini
"Ada apa nak? Apa Rani membuat kesalahan?" Tanya Ayah Rani, pria baruh baya itu seolah tak ingin melepaskan calon menantu sempurnanya ini
"Kesalahan apa yang Rani perbuat hingga kamu mengambil keputusan ini Revan?" Tanya ibu Rani
"Rani hamil dan Revan gak tau siapa ayah dari bayi itu!"
Ucapan Revan bak petir disiang bolong, dibandingkan dengan kedua orang tuanya, Rani jauh lebih terkejut lagi
Beberapa Minggu ini memang dirinya kerap mengalami gejala kehamilan tapi Rani mengabaikannya
"Kamu tau dari mana Revan? Bisa saja kan ada yang memfitnah Rani!" Ujar ibu Rani
Ia mengenal baik putri semata wayangnya itu, Rani tak akan mungkin bisa melakukan hal-hal tercela seperti itu
Revan diam, dari saku jas mahalnya ia ambil sebuah amplop putih dengan logi rumah sakit itu lalu ia letakkan diatas meja
Ayah Rani dengan cepat mengambil amplop tersebut dan membaca isinya
Pria paruh baya itu tak dapat menahan rasa terkejutnya, ia tatap putri kesayangannya itu dengan mata yang berkaca-kaca
Rani yang penasaran akan hasil pemeriksaannya, mengambil kertas yang tengah dipegang oleh sang ayah
"Apa?" Rani menutup mulutnya dengan telapak tangan, sungguh hal ini begitu mengejutkan baginya, ia benar-benar mengandung dan ini adalah anak Reyhan, pria yang telah memiliki keluarga