Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Yang Rumit
Essa terperangah yang langsung menjauhkan wajahnya dari Alex. Dia langsung berdiri dari duduknya, rasanya sangat gugup dan salah tingkah ketika membayangkan Alex, sedang menciumnya. Wajahnya sudah pasti memerah, dan Essa sudah sangat malu menampakkan diri di hadapan Alex.
“Apa yang sedang kau lamunkan tadi? Kau tersenyum membayangkan siapa?” Tatap Alex, menelisik setiap pergerakkan Essa, matanya memicing menatap fokus ke arah Essa, yang terus memalingkan wajah darinya.
“Kenapa Om ada di sini? Bukannya Om, tadi sudah pergi.” Bukannya menjawab Essa, malah balik bertanya.
“Aku meninggalkan jas ku,” jawabnya dengan gugup.
Alex, hendak berdiri dan mencari jasnya tapi gerakannya itu membuat Essa kabur ke dalam kamar. Sekelebet ia berlari membuat Alex bingung, sampai lupa tujuannya pulang.
Alex, melangkah menuju sofa panjang di depan televisi, jas navynya tergeletak di sana. Alex, langsung mengambilnya tetapi tubuhnya seketika tertegun, pria itu melamun mengingat kembali pelukannya pada Essa. Ketika Essa, menatapnya, begitupun sebaliknya, sedetik bibirnya tertarik mengingat wajah imut itu memejamkan mata, dan bibir tipis mungilnya terlihat lucu ketika mengerucut.
Alex, tersenyum. Entah, apa yang membuatnya begitu bahagia.
“Ehm.”
Alex, berdehem untuk menetralkan detak jantungnya, setelah mengambil jasnya ia pun kembali melangkah keluar. Bersamaan dengan itu Essa, juga keluar dari kamar.
“Om, mau pergi lagi?” tanyanya dengan gugup.
“Ya,” jawab Alex sesingkat mungkin. “Ada apa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?”
“Mmm … begini Om, aku akan pergi bersama teman-temanku, apa boleh?” tanya Essa menatap Alex dengan ragu.
Bertemu Alex, setiap waktu itu bisa gila, healing adalah keputusan yang bagus. Namun, Alex tidak langsung mengizinkan pria itu memberinya sejuta pertanyaan.
“Ke mana? Bersama temanmu yang kemarin mengajakmu ke club? Aku tidak bisa mengizinkannya.”
“Ayolah Om, apa temanku seburuk itu. Kita hanya pergi ke bioskop, mereka mengajakku nonton. Apa aku tidak boleh bersenang-senang, sedangkan Om bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana.”
“Essa!” Alex menatap tajam. “Kami hanya rekan kerja, dan hanya makan siang tidak lebih,” terang Alex padahal ia tidak perlu melakukannya tapi entah kenapa, itu harus—Alex harus menjelaskan itu dan membuat Essa mengerti.
“Oh, karena dia rekan kerjamu sampai tidak menjawab teleponku.”
Ya, Essa masih marah karena teleponnya diabaikan Alex saat itu. Alex, membuang nafas kasar, dia bingung harus menjelaskan seperti apa. Dia hanya khawatir dan cemas itu saja, tapi Essa akan sangat membencinya jika tidak diizinkan pergi.
“Baiklah aku izinkan, tapi kamu harus pulang sebelum jam 7 malam.”
“What!” Mata Essa melotot. “Jadwal nontonnya jam 7 malam bagaimana bisa aku langsung pulang,” sewotnya tidak terima.
Alex semakin bingung dan menjadi serba salah.
“Baiklah, tapi kamu harus menghubungiku ketika pulang nanti. Jika tidak mau aku tidak akan mengizinkannya.”
“Iya, baiklah. Aku akan lapor setiap jamnya.”
“Kau marah? Aku melakukan itu karena aku ….”
“Apa?”
Haruskah Alex bilang karena dia mencemaskannya, tapi kenapa? Apa karena Essa istrinya dan tanggungjawabnya. Tapi lidah seakan gugup tidak bergerak, padahal Alex, hanya ingin mengatakan itu tapi begitu sulit, seperti hatinya tidak sejalan. Seperti dia harus mengatakan jika dia mencintainya, tapi itu tidak mungkin. Diantara mereka tidak ada cinta, haruskah Alex mengatakan itu.
Alex memejamkan mata sambil membuang nafas beratnya. “Essa, kamu itu istriku jadi sudah seharusnya aku menjagamu. Ibumu bisa marah jika hal buruk terjadi padamu.”
“Hanya itu … hanya karena aku istrimu?”
“Ya, tentu saja lalu karena apalagi?”
Entah, kenapa Essa merasa kecewa jika Alex hanya khawatir padanya karena itu. Tidak lebih, kenapa Essa ingin mendengar alasan lain yang lebih dari itu.
“Aku akan menghubungi Om, jika mau pulang. Dan ingat! Jangan terlambat apalagi sampai lupa, karena aku tidak akan memaafkannya.”
Essa, langsung masuk ke dalam kamar, membanting pintu dengan sangat keras. Entah, kenapa hatinya begitu sakit Essa sangat kecewa pada Alex yang hanya menganggapnya sebagai istri.
Begitupun dengan Alex, pria itu hanya diam. Bokongnya mendarat di atas sofa, seolah tidak ada niat lagi untuk pergi ke kantor. Sementara, di perusahaan Alex ditunggu oleh semua orang. Darren, terus menghubungi asistennya itu tapi tidak ada jawaban. Heyra juga mencarinya berpikir jika Alex pergi karena menghindarinya.
“Haruskah aku pergi ke rumahnya?” Entah kenapa ide itu terbesit di benaknya. Heyra, seolah masih kekasih Alex dan harus mendatangi pria itu ketika hubungannya sedang tidak baik-baik saja.
Alex pasti syok dengan ucapannya ketika di cafe. Tapi apa salah jika Heyra, mengutarakan perasaan yang sebenarnya jika dia masih mencintai Alex dan masih menginginkannya.
Heyra hanya mengatakan jika ia ingin kembali seperti dulu, ia pergi waktu itu karena ingin membuktikan kepada orang tuanya, jika Heyra harus menjadi orang yang berhasil seperti sekarang.
“Alex, sebelumnya aku ingin minta maaf jika dulu aku pergi tanpa kabar. Aku terpaksa melakukan itu Alex, aku tidak ada niat untuk meninggalkanmu.”
“Tapi nyatanya kamu meninggalkanku Heyra.” Alex, seolah menekankan.
“Aku tahu aku salah, dan kamu berhak membenciku. Tapi, apa aku pernah mengatakan putus? Diantara kita tidak ada yang mengakhiri hubungan Alex.”
“Kau sendiri yang mengakhirnya.”
“Alex … kamu harus mendengar penjelasanku dulu. Dulu, orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kita dan kau tahu itu. Kita menjalin hubungan selama tiga tahun tapi tanpa restu mereka, dan aku tidak bisa meyakinkan mereka.”
“Dengan begitu, aku pergi ke Paris Alex. Orang tuaku bilang dia akan memberikan restu untuk hubungan kita jika aku berhasil membuatnya bangga. Maka aku pergi ke Paris, melanjutkan studyku hingga menjadi seperti sekarang. Dan aku pikir aku akan menjelaskannya ketika kembali ke Indonesia.”
“Alex,” panggil Heyra dengan lembut. Matanya berkaca, dan senyumnya begitu teduh, Heyra seperti bahagia dengan keadaan sekarang. Tangannya meraihnya tangan Alex untuk digenggam. “Alex, mereka merestui hubungan kita, dan mereka ingin aku membawamu ke Paris.”
Sedetik mata Alex membola, tubuhnya kaku dan lidahnya seakan kelu. Haruskah Alex bahagia? Sepertinya tidak, perasaan itu salah dan hubungannya dengan Heyra sudah berakhir.
“Hubungan kita sudah berakhir lima tahun yang lalu Heyra. Aku bisa menerima alasanmu tapi itu terlambat.”
“Terlambat apa Alex, apa yang terlambat?”
“Keadaan sekarang berbeda Heyra, aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita.”
“Tapi kenapa?”
“Karena aku ….” Alex, pun bingung dia harus menjelaskan apa kepada Heyra. Apa dia harus mengatakan jika dia sudah menikah, memiliki istri tapi apa yang akan terjadi setelah itu.
Pernikahannya dengan Essa, hanya rahasia. Alex tidak bisa mengungkapkan pernikahan mereka tanpa seizin dari Essa. Essa, selalu bilang dia tidak ingin diketahui teman-temannya jika dia sudah menikah.
Dan Alex, tidak bisa memberikan penjelasan apapun.
“Heyra,” panggil sang manajer membangunkan Heyra dari lamunannya. Heyra, menoleh pada sang manajer yang baru saja masuk ke ruangannya.
“Heyra, Tuan Darren ingin bicara denganmu.”
“Tuan Darren?” Heyra, diam melongo.
Sang manajer meninggalkannya tidak berselang lama Darren masuk, Heyra langsung bangkit dari duduknya berdiri menghadap Darren. Sikap keduanya terasa aneh, gugup, kaku dan salah tingkah. Ini bukan pertemuan pertama mereka, Darren dan Heyra sudah mengenal sangat jauh.
“Apa kabar Heyra?”
Heyra tersenyum kikuk, ditanya kabar oleh CEO Lucian Company.
“Seperti yang kamu lihat Darren, aku lebih baik.”
Darren hanya manggut-manggut, bibirnya mencebik lantas duduk di kursi kosong tepat di hadapan Heyra.
“Kamu terlihat baik apa karena Alex?” Tatapnya pada Heyra. “Kenapa kamu kembali Heyra, apa niatmu datang ke perusahaanku.”
Heyra terperangah. Ia terkejut sekaligus tidak suka dengan apa yang baru saja didengar. “Apa kau membenciku juga Darren? Ya, kamu pantas marah karena aku pergi meninggalkan Alex waktu itu.”
“Ya, aku memang marah padamu. Karena itu … aku ingin kamu untuk pergi dan batalkan kontrak kerjasama dengan Lucian Company.” Tegas Darren seraya berdiri.
“Why? Apa kamu baru saja memintaku membatalkan kontrak, kau ingin aku membatalkan kontrak dan seolah aku yang salah. Darren, seharusnya kamu bisa profesional, jangan mengungkit masa lalu dalam pekerjaan.”
“Justru karena itu, kehadiranmu membuka kembali masa lalu itu. Membuka lagi luka lama dan kenangan yang sudah Alex lupakan.”
“Apa maksudmu Darren?”
“Apa perlu aku jelaskan? Kepergiaanmu memberikan luka padanya, dan kini kamu kembali itu semakin mengingatkan dia akan luka itu. Aku harap kamu profesional juga Heyra, dekat dengan Alex hanya sebatas pekerjaan tidak lebih. Aku tidak ingin kau membuat asistenku tidak nyaman.”
Setelah mengatakan itu Darren pergi. Heyra semakin tidak mengerti, niat kembali ke tanah air untuk memperbaiki hubungannya dengan Alex, tetapi malah membuat keadaan semakin rumit. Semua orang memintanya untuk menjauh.
“Aku tidak bisa diam saja, aku harus menemui Alex.”
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.