Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.
Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.
Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.
Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — Mulai Seirama
Lapangan basket sekolah seharusnya sudah gelap total sejak pukul sembilan malam.
Lampu sorot dimatikan. Gerbang belakang dikunci. Satpam hanya sesekali berkeliling dengan senter kecil.
Seharusnya.
Tapi malam itu, satu sudut lapangan masih menyala.
Keenan berdiri sendirian di garis tiga poin. Kaus hitamnya menempel di punggung, lembap oleh keringat yang belum sepenuhnya kering sejak sore. Bola di tangannya memantul pelan—tidak ritmis, tidak fokus.
Pantul.
Tangkap.
Lempar.
Duk.
Bola menghantam ring dan mental keluar.
Keenan mendecak pelan. Bukan kesal yang meledak, lebih seperti kecewa yang disimpan sendiri. Ia mengambil bola itu lagi, memutar bahu sebentar sebelum kembali berdiri.
Tidak ada teriakan Rakha.
Tidak ada hitungan latihan.
Tidak ada suara sepatu lain di lapangan.
Hanya dirinya. Dan pikirannya yang terlalu penuh untuk tempat seluas ini.
Wajah ibunya muncul tanpa diminta—pucat, tapi selalu tersenyum setiap kali Keenan datang. Lalu suara ayahnya. Tidak pernah diucapkan ulang, tapi selalu ada.
Fokus sekolah.
Latihan.
Perusahaan.
Bola kembali dilempar.
Terlalu pendek.
Keenan menunduk, kedua tangannya bertumpu di lutut. Napasnya berat, dada naik turun lebih cepat dari seharusnya.
"Anjir…" gumamnya pelan.
Ia berdiri lagi, memantulkan bola tanpa arah. Irama pantulannya kacau.
Sama seperti kepalanya.
Lalu—suara langkah sepatu menyentuh lantai lapangan dengan pelan. Tidak tergesa.
Keenan refleks menoleh.
Rakha mengenakan hoodie abu-abu dengan tas selempang menggantung di bahunya. Rambutnya sedikit basah entah sisa hujan atau sekadar cuci muka. Ekspresinya tetap datar seperti biasa. Tapi kehadirannya terasa… nyata.
Keenan terdiam sepersekian detik.
"Lu… ngapain di sini?" tanyanya akhirnya.
Rakha meletakkan tasnya di bangku pinggir lapangan. Gerakannya santai, seolah datang ke sini bukan hal yang asing.
"Sama kayak lu," jawabnya singkat.
Keenan mendengus kecil. "Latihan malam-malam?"
Rakha tidak menjawab. Ia mengambil bola dari rak, memantulkannya sekali ke lantai.
"Passing lu jelek," katanya datar.
Keenan refleks nyengir. "Baru datang udah nyinyir aja."
"Tadi lemparan ketiga lu keburu-buru," lanjut Rakha, seolah tak mendengar. "Badan lu condong ke depan."
Keenan terdiam.
Ia tahu itu.
Tapi mendengar koreksi itu dari Rakha, anehnya tidak membuatnya kesal. Justru terasa… menenangkan.
Rakha melangkah ke tengah lapangan, berdiri berhadapan dengannya. Jaraknya tetap dijaga.
"Ulang," katanya.
Keenan mengangkat alis. "Lu jadi pelatih sekarang?"
Rakha menatapnya sebentar. Lalu menghela napas kecil.
"Lu mau latihan," katanya pelan, "atau mau terus main kayak gitu?"
Keenan menahan napas sejenak. Lalu tersenyum miring.
"Latihan."
Rakha melempar bola pelan ke arahnya.
Dan latihan pun dimulai.
Rakha tidak banyak bergerak. Ia hanya berdiri, mengamati. Sesekali memberi koreksi singkat. Seperlunya.
"Langkah kaki."
"Jangan maksa."
"Napas dulu."
Keenan mengikuti. Keringat kembali mengalir. Napasnya lebih berat, tapi pikirannya justru lebih fokus.
Di sela latihan, mereka hampir tidak bicara.
Namun entah sejak kapan, keheningan itu tidak lagi terasa canggung.
Setelah beberapa set, Keenan menjatuhkan diri duduk di lantai. Punggungnya bersandar ke tiang ring, dada naik turun.
"Lu kenapa mau ngajarin gue?" tanyanya di sela napas. "Biasanya juga cuek."
Rakha tidak langsung menjawab.
Keenan melirik sekilas. Senyum tengilnya muncul lagi, topeng lama yang otomatis terpakai.
"Atau ini balas budi," lanjutnya ringan, "gara-gara insiden kapten sok jagoan kemarin?"
Rakha masih diam.
Tapi dari caranya berdiri di sana—tidak pergi, tidak menyela—Keenan tahu satu hal: jawabannya bukan itu.
Rakha membuka tasnya tanpa terburu-buru. Ia mengambil botol minum, lalu melemparkannya ke arah Keenan.
"Minum," katanya singkat. "Jangan bahas yang udah lewat."
Keenan menangkap botol itu, terkekeh kecil. "Ngelak mulu."
Ia memutar tutup botol. "Padahal kemarin lu keliatan keren."
Rakha bersandar di pagar pembatas.
"Ini permainan terjelek yang gue lihat," katanya tiba-tiba.
Keenan berhenti minum. "Hah?"
Rakha mengangkat bahu tipis, seolah itu cuma catatan teknis. "Langkah kaki lu berantakan. Terlalu maksa."
Jeda singkat.
Suaranya turun sedikit.
"Lu beda banget."
Keenan mengalihkan pandangannya ke ring. Seolah kalimat itu tidak penting. Padahal dadanya terasa sedikit lebih sesak dari biasanya.
"Biasanya lu lebih fokus."
Rakha mengatakannya tanpa nada menuduh.
Keenan tidak membantah.
Rakha meliriknya sekilas—cepat, seperti refleks. Hening jatuh di antara mereka. Angin malam membawa suara kendaraan dari jauh, lampu lapangan berdengung pelan.
"Lagi banyak pikiran," jawab Keenan akhirnya.
Rakha menyilangkan tangan, menarik napas sebentar. "Kalau gitu," katanya pelan, "jangan bawa ke lapangan."
Keenan menoleh. "Lu pikir gampang?"
"Gampang atau nggak bukan urusan gue," jawab Rakha datar. "Tapi kalau lu jatuh di lapangan, satu tim ikut kena."
Keenan mendengus kecil. "Kapten banget yah."
Rakha hampir tersenyum.
Latihan dilanjutkan.
Kali ini lebih pelan. Lebih rapi.
"Sekali lagi."
Keenan mengangguk. Napas ditarik lebih dalam. Bahu lebih rileks.
Bola melayang, memotong udara.
Swish.
Keenan mendongak.
Rakha hanya mengangguk kecil. Dan anehnya, itu sudah cukup.
"Lu perlu istirahat dulu," kata Rakha datar.
"Ciee, peduli nih," balas Keenan dengan senyum miring.
"Gue gibek juga lu pake bola."
Keenan tertawa kecil.
Rakha melangkah mendekat, mengambil bola dari lantai, lalu melemparnya ke ring. Sekali percobaan langsung masuk.
"Kalau pikiran lu penuh," lanjutnya, "passing lu selalu telat setengah detik."
Keenan menangkap bola itu, diam sejenak.
"Lu ngamatin gue banget ya?"
"Gue kapten. Harus tau anggota gue."
"Alasan klise banget."
Rakha terdiam. Tatapannya tertahan di wajah Keenan—lebih lama dari yang seharusnya.
Keenan mengangkat alis, bingung.
"Keenan… dengarin gue," kata Rakha akhirnya. Suaranya pelan, hati-hati. "Gue nggak butuh lu selalu sempurna. Tapi gue butuh lu selalu hadir. Apapun itu."
Kata-kata itu jatuh tanpa tekanan.
Keenan menelan ludah. Menatap Rakha sesaat.
"Lu tau nggak," katanya rendah, "kadang gue pengen bolos aja daripada latihan gini."
Rakha menatapnya lurus. "Dan lu tetep datang."
Keenan mengangkat bahu. "Kebiasaan."
"Bukan," jawab Rakha. "Itu pilihan lu."
Sunyi. Lampu lapangan berdengung halus di atas mereka.
Rakha menghela napas pendek, lalu berbalik.
"Sudahi ngobrolnya," katanya datar. "Sekali lagi. Kalau masuk, kita selesai."
Keenan menatap ring. "Kalau nggak masuk?"
Rakha melirik sekilas. "Berarti lu belum boleh pulang."
"Kejam."
Keenan mengambil posisi. Kali ini tenang. Tidak terburu-buru.
Bola meluncur.
Swish.
Rakha mengangguk sekali. "Pulang."
Keenan tersenyum lebar.
Saat mereka berkemas, Keenan berkata tanpa menoleh, "Makasih."
Rakha mengangkat tas ke bahunya, menghentikan gerakan mengikat tali tasnya. "Buat apa?"
"Udah datang," jawab Keenan singkat. "Gue nggak berharap lu beneran nunggu dan ngajarin gue buat tetap tenang."
Rakha berhenti sepersekian detik. Ia menghindari tatapan Keenan. "Gue datang karena mau latihan sendiri. Bukan karena lu."
"Iya deh," Keenan setengah tersenyum. "Percaya."
Rakha mendengus pelan. "Jangan kegeeran. Gue cuma nggak mau repot ngurusin Coach kalau lu nggak ada."
Keenan tertawa pelan.
Rakha melangkah duluan. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berkata pelan, "Besok jangan telat datang."
Keenan menatap punggungnya. "Siap, Kapten."
Lampu lapangan masih menyala ketika Keenan akhirnya berbalik arah.
Bola basket ia selipkan ke bawah lengan, langkahnya ringan, napasnya lebih teratur.
Untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya tidak berisik.
kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭