NovelToon NovelToon
Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paradoks

“Ya, memang! Demi kau!”

Sungguh membuat Anjani bingung bagaimana menyikapi lelaki itu, pribadi yang ngeyel dan aneh, suka-suka, tapi kadang terlihat menawan meski wajah tertutup masker.

Selama berada di dalam kedai, Jeong terus mengambil alih pekerjaannya hingga dia yang pekerja sebenarnya nampak seperti tamu yang diratukan. Dan itu sungguh membuat Anjani 'tak nyaman, terutama di mata Nyonya Ju.

Bukan karena tidak menghargai bantuan, tapi olok-olokan para pelanggan kedai membuat kuping Anjani panas membara. Mereka salah mengira jika Jeong adalah kekasih yang sangat romantis dan penuh perhatian. Bodohnya, Jeong malah menyikapi itu senang-senang saja.

Nyonya Ju malah ikut-ikutan dengan mereka. Dia sudah tahu tentang perceraian Anjani dengan Ahn Woojun. Bermula dari pertanyaannya tentu saja, Anjani bukan tipe orang yang akan bercerita duluan meski mendesak. Saat mendengarnya, wanita tua itu terkejut dan ikut menangis, bahkan memberi pelukan hangat sebagai penenangan yang anggap saja dari seorang ibu.

Dan sekarang kentara sekali, jika Nyonya Ju sedang berusaha memberi penghiburan dengan melibatkan Jeong si aneh yang selalu muncul tiba-tiba di mana pun Anjani berada itu.

“Apa begini bisa dibilang menghibur? Aku justru merasa terjepit.”

 Tapi siapa yang akan mengerti. Satu lawan banyak, dan Jeong pemenangnya.

“Hei! Benar namamu Jeong?” Dari nadanya, sabar Anjani sudah setipis tissu.

“Hmm?... Benar, aku Jeong.”

“Apa nama margamu?”

Mata Jeong bergulir acak di wajah Anjani sebelum kemudian menjawab, “Kim! Kim Jeong.” Entah kebohongan demi apa. Marganya yang benar adalah 'Ryu'.

Anjani memicing mata, menelisik karena skeptis. “Benarkah?”

“Ya! Kenapa?”

Entah kenapa Anjani tak yakin benar, tapi tidak alasan untuk mendebat.

 “Kalau begitu, dengarkan aku, Kim Jeong!”

Demi menekankan kalimat, Anjani memajukan wajahnya ke wajah Jeong, tapi mendongak karena perbedaan tinggi yang cukup jauh.

Sialnya perbuatan itu membuat jantung Jeong berdegup kencang, sampai tatapannya menjadi resah.

“Kau aneh!”

Seperti tolol, Jeong terpaku bahkan hingga Anjani lenyap dari pandangannya setelah menukas dua kata olokan itu.

Hingga ....

“Pengacara Bos! Sudah waktunya Anda ke persidangan!”

Kim Raon, muncul di belakangnya dengan tampilan seperti biasa rapi. Tapi Jeong masih belum teralih dari jalanan yang baru saja dilewati Anjani yang sekarang sudah kosong melompong.

“Raon ... kau lihat tadi ... dia hampir saja menciumku."

Kim Raon terkejut, tapi kemudian membuang wajah sambil mendengus, “Sepertinya tidak begitu, Tuan." Jelas menyangkal, dia melihat fakta yang sebenarnya.

Jeong meliriknya dengan mata mendelik. “Kau ini, tidak bisakah mengiyakan saja?!” Jinjingan makanan dari Nyonya Ju dipindahtangankan pada Raon dengan sedikit kasar, kemudian melangkah lebar menuju mobilnya yang terparkir beberapa jarak dari halaman kedai.

Raon geleng-geleng setelah menatap jinjingan itu, lalu menatap bos-nya yang sudah jauh. “Kau akan sangat serius dan menyeramkan saat bekerja, tapi sekarang, kau seperti anak remaja mengejar pacar.”

Begitulah, sisi lain Ryu Jeong yang tidak semua orang tahuーkecuali Raon yang sudah jadi pengikutnya dari banyak tahun berlalu.

...----------------...

“Terima kasih, Pengacara Ryu. Berkat Anda, perusahaan kami tidak jadi rugi,” kata seorang klien yang kasusnya ditangani Jeong dalam persidangan sesaat lalu. “Pastikan besok hadiah dari kami akan sampai ke tangan Anda. Sekali lagi terima kasih banyak.”

Jeong dengan wibawa kelas tingginya membalas kata, “Senang bisa membantu, dan sebelumnya terima kasih untuk hadiahnya. Saya tidak akan menolak.”

“Hahaha. Anda sangat mengagumkan, Pengacara Ryu. Kalau begitu kami permisi. Sampai ketemu nanti.”

“Silakan, CEO Ming.”

Senyum di bibir Jeong langsung meredup selepas klien dan asistennya berlalu. Dua telapak tangan terselip kiri dan kanan saku celana, matanya melirik ke arah lainーkerumunan lawan di persidangan yang baru saja dikalahkannya. Ada rival-nya di sana, pengacara dari firma sebelah.

“Raon, kemas bukti-bukti tentang perusakan di salon Nona Chae dengan rapi, kita akan bertemu lagi dengan Pengacara Dong di persidangan berbeda, lusa. Dia bukan lawan yang terlalu mudah.”

Cibiran yang halus, Jeong hanya ingin menciptakan 'skakmat' dalam tempo cepat atas kasus yang akan ditanganinya lusa.

“Baik, Pengacara Boss."

Keduanya kemudian hengkang dari halaman gedung dengan langkah-langkah lebar.

Ini sidang kedua sekaligus penutup, perasaan lega lumayan menutup kerepotan seminggu ini tentang kasus yang sama. Dan esok akan berbeda lagi.

Di perjalanan dengan mobil putih kesayangan yang dikemudikan Raon, Jeong meminta asisten-nya itu mengantarnya ke suatu tempat, lebih dulu sebelum pulang ke apartemen.

Setelah sampai ....

“Ibu, aku datang. Apa kabar Ibu?” Jeong tersenyum. “Aku sudah bertemu dengannya berkali-kali. Aku yakin Ibu juga ingin bertemu. Tapi ucapan terima kasih yang seharusnya terucapkan sepenuh hati ... aku malah merusaknya sendiri dengan kelakuanku. Maaf karena aku sedikit melewati batas.”

...----------------...

 Meski akhirnya mengalah karena Anjani terus kukuh dengan perceraian itu, juga Cha Yuriーselingkuhan yang kini menjadi [anggap saja] kekasih resmi, terus menarik dan menguatkan dirinya untuk menerima, Ahn Woojun tetap merasakan sesuatu yang lebih berat menimpa seluruh hatinya dibanding sebelum perceraian itu mendapat ketukan palu.

Wajah teduh Anjani terus membayangi pelupuk mata.

“Dulu saat pertama melihatmu, aku menggebu, langsung jatuh cinta dan kau membalasnya, tapi kemudian aku skeptis karena ujian rumah tangga yang sulit ditangani dan menjadikanku mengkhianatimu, lalu sekarang ... aku merasa kosong.”

“Aku tolol. Anjani ... melepaskanmu, ternyata sesulit ini.”

Cha Yuri yang sudah terlelap di sebelah dalam posisi miring menghadap dirinya yang terduduk bersandar kepala ranjang, sesaat Woojun menatap wanita itu.

“Dia hanya muda dan segar, sedikit manja dan juga lembut. Tidak kusangka gadis ini malah begitu serius.”

 Desah napas panjang memecah di tengah hening.

"Akhirnya aku terpaksa mengikuti alur yang sebenarnya tidak pernah kurencanakan, dan menghancurkanku, menghancurkan cintaku atas Anjani.”

Jam di atas nakas terus berdetak. Sudah pukul 02.10 dini hari, tapi mata Woojin masih terang benderangーtidak mengantuk, padahal besok pagi harus tetap bekerja.

Resah yang terus mengganggu. Wajah Anjani tak mau mengalah untuk setidaknya membuatnya beristirahat.

Bagaimana pun tiga tahun itu tidak sebentar.

Kini perceraian itu menjadi penengah absolut di antaranya dengan Anjani.

Akan tetapi, sebanyak penyesalannya, setara itu juga dia masih meyakini bahwa;

“Kau tidak akan pulang ke Indonesia, kau juga tidak bisa sendiri di negara yang selalu kau anggap asing. Hanya aku tempat yang bisa kau jadikan rumah. Anja ... aku yakin kau tidak akan bertahan lama dengan keputusanmu ini, kau akan kembali berlari ke pelukanku. Kau tidak bisa tanpa aku. Jadi ... aku akan terus menunggu. Menunggu sampai dimana ego konyolmu itu bertahan. Kita akan kembali seperti dulu.”

Ungkapan itu mendorongnya kembali melirik Cha Yuri, payudaranya nampak tersembul dari dalam selimut setelah dia nikmati beberapa jam lalu.

Sintingnya, Woojun malah tersenyum kecut menyikapi pemandangan itu.

“Bodohnya aku, milik Anjani bahkan lebih besar, kencang dan berisi.” Kemudian mendesah panjang. “Aku jadi sangat merindukannya.”

1
Batsa Pamungkas Surya
woojoon.. kau yg buat luka seolah olah kau yg jadi korban... hadeeech😄
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hadeuh banget emang, Kak
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
👍 mantap
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan⏩ laah🙏
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap, Kak.
makasih masi membaca. Up-nya agak slow. aku sedang menggarap satu buku pria--action--lagi. do'akan lancar ya.
total 1 replies
Machan
kesian amat ya. padahal banyak yg nganggur di pasar
Machan
aku lebih romantis dari mereka lho, nyonya ju. klo mo tau, sini mampir😜
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
sebut saja, Malaikat tanpa saraf 😝
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Sepertinya kenalan lama 🤔
Batsa Pamungkas Surya
jangan tunggu lama lama
Batsa Pamungkas Surya
semngat up nya💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe, insyaAllah, Kak.
total 1 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Hmmh... blekok 😌
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Iklannya sekarang makin meresahkan, asal scroll bab berikutnya, pasti disambut dua iklan yang syulit diskip 🥴
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Babu!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Bajjjjjiiiingaaaaaan....!!!
DZIIIING... 🤜🥴💨
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Idungnya pesek gak, Pak? 😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Hahaha 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Tipsnya buat Tuan Berkaki Panjang!
Selamat jingkat buat Author!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Jingke... jingke...
total 2 replies
Drezzlle
nah gitu pintar dikit 😒
Drezzlle
udah beban masih juga bisa ngasih janji palsu ke wanita lain😒
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Ketidakbergunaan rata2 jarang disadari sama pelakunya🤣
total 1 replies
Drezzlle
dan kau masih percaya mereka akan bercerai. bulol/Curse/
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan lah
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap.
Btw, terima kasih selalu hadir, Kakak😍
total 1 replies
Drezzlle
trik apa ini? apakah menyembunyikan bangkai lagi/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!