Lilis adalah seorang gadis desa yang tingal bersama kedua orangtuanya dengan kehidupan yang sederhana.
Tekatnya sangat kuat untuk berhasil menghargai cita-cita menjadi seorang dokter gigi.
Banyak perjuangan yang dilakukan dan perlu kesabaran ekstra ketika di sekolah selalu dibully sama temannya.
Akhirnya dengan
Kedua orangtuanyalah yang selalu menghiburnya.
Lilis mencoba melupakan kejadian-kejadian yang membuat lilis trauma, seperti teman-teman sekelasnya sering membully lilis pada saat di sekolah dan lainnya. Dengan terus semangat belajar.
Akhirnya dengan kegigihannya Lilis berhasil masuk di sekolah sma Negeri ternama.
Tapi cobaan lagi-lagi menghampirinya.
Lilis sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Lilis hampir putus asa. Tapi hidup terus berjalan. Lilis harus tetap melangkah. Dia berangkat ke kota menuju tempat sekolahnya.
Berbekal tabungan yang dia kumpulkan ketika berjualan dan kerja paruh waktu selama sekolah SMP.
Lilis didesa tidak punya kendaraan di rumah dan rumahnya jauh dari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilis Suryaningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG SEKOLAH TERLAMBAT SAMPAI DI RUMAH
"Bannya bocor, Pak" Kata Lilis.
"Iya, Tunggu sebentar ya, Nak. Bapak tambal dulu" Bapak itu mempersilahkan Willy duduk di bangku kayu yang disediakan.
Aldi pun turun dari motornya dan duduk di samping Lilis. Dada Lilis berdegup kencang. Begitu juga dengan Aldi. Saat tidak sengaja mata mereka bertatapan, perasaan itu mungkin tidak karuan. Aldi tersenyum, membuat Lilis menundukkan wajahnya. Aldi makin suka karena tidak seperti perempuan lain yang apabila melihat senyumnya langsung senang.
" Alhamdulillah,Nak. Ada rezeki untuk bapak hari ini. Lumayan buat beli makan" kata si bapak tambal ban.
Mereka berdua salah tingkah
Meski si bapak sudah tua tangannya masih cekatan bekerja. Lilis terharu. Di usianya yang sudah tua dia tetap harus bekerja. Dia jadi teringat ibunya yang juga sudah tua. Beruntung ibunya mau berhenti bekerja sehingga dia bisa beristirahat menikmati hari tuanya.
" memangnya sebelum ini belum ada yang datang ke tempat bapak?" Kata Aldi.
Si bapak menggeleng tapi senyum tipis, tetap menghiasi wajahnya pertanda dia tetap bersyukur dengan apa yang diperolehnya hari ini.
Bapak itu bercerita bahwa dulunya dia menjadi kuli panggul di pasar ketika anaknya masih kecil. Iya ingin anaknya tetap bersekolah agar bisa menjadi orang sukses. Sekarang dia sudah tua tidak kuat lagi menjadi kuli. Untuk tetap menyambung hidup, dia membuka tempat tambal ban di pinggir jalan.
" maaf ya, Pak. Sudah tua ini Bapak tetap bekerja. Memangnya anak-anak bapak tidak membantu kehidupan bapak. "Kata Aldi"
Lalu Lilis menepuk tangan Aldi takut si Bapak tersinggung, Aldi menoleh.
Mata Bapak dari Jauh di menggeleng.
" setelah lulus kuliah di kota ini. Anak bapak memang sudah sukses. Mereka diterima bekerja di perusahaan besar. Malah salah satu anak bapak bekerja di Jakarta. Awalnya mereka rutin mengirimi Bapak uang dan meminta bapak Berhenti bekerja karena mereka berjanji akan menanggung biaya hidup Bapak dan istri bapak.
Tapi ya itu dengan alasan sibuk sudah dua tahun ini, mereka tidak ada yang pulang dan tidak lagi mengiringi Bapak uang. Jadinya Bapak harus bekerja, ada kesedihan
di wajahnya. Meski tidak harus memberi uang, kehadiran anak-anak itu sangat dinantikan apalagi bagi orang tua seperti bapak dia seperti Kehilangan anak-anak yang telah dibesarkannya dengan susah payah. Rilis dan Aldi melihatnya terharu terus menyemangati Sang Bapak.
Akhirnya ban-ban selesai di tambal. Baru saja Lilis mengambil uang di tasnya, Aldi sudah memberikan selembar uang Rp50.000 kepada sang bapak.
Bapak itu melihat tidak percaya. Tapi Aldi mengangguk dengan meyakinkan.
" terima kasih banyak, Nak. Semoga kamu kelak menjadi orang yang sukses dan tidak melupakan orang tuamu "kata si bapak"
"Iya Pak Aamiiiinn "kata Lilis Dan Aldi"
Lalu Lilis dan Aldi meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih ya kak. Nanti uang Bapak aku ganti" Kata Lilis.
Lilis menggeleng. "Tidak usah Lis. Dan mereka berdua pun berpisah karena memang jalan pulang Mereka tidak searah.
Kadang ibu yati merasa bosan di rumah. Dia yang terbiasa bekerja malah jadi tidak enak badan kalau hanya berdiam diri. Dia Mengisi waktu dengan menanam sayuran di lahan kosong di belakang rumah hanya sekedar menggerakkan tubuh.
Ibu yati duduk di kursi tamu. Melihat sekeliling sambil tersenyum. Walaupun rumah mereka hanya terbuat dari papan, tapi rumah itu terlihat bersih dan rapi. Lilis pandai menata rumah sehingga senam dipandang dan tetap tidak terlihat kotor. Sebuah televisi kecil itu dibunuh dia beli ketika habis panen jagung yang saat itu lagi melimpah. Akhir-akhir ini pendapatan dari hasil panen padi dan jagung jadi berkurang. masyarakatnya pun, mengeluh. Banyak hama wereng, tikus dan burung yang mengganggu tanaman-tanaman padi dan jagung mereka. Tapi mereka tidak berputus asa, tidak mengusahakan berbagai cara untuk membasmi HAMa-hama tersebut dengan harapan hasil panen lebih baik.
Pak sugeng yang mengelola sawah itu yatipun sering bercerita. Walaupun begitu berapapun hasil panen yang diserahkan Pak Agus dia tetap menerimanya dengan senang hati.
Ketika melihat jam dinding ibu yati pun kaget. Sudah jam 4 lebih, Lilis belum juga pulang. Dia cemas. Tidak biasanya Lilis seperti ini. Dia berjalan ke teras rumah. Melihat ke Ujung Jalan. Namun tidak terlihat tanda-tanda kedatangan Lilis. Hatinya tidak tenang. Dia turun lagi ke jalanan. Hingga jelas terlihat ada seseorang berpakaian putih dan memakai jilbab sedang mengendarai sepeda. Orang itu makin mendekat. Ibu yati mulai bernafas lega karena itu Lilis.
Setelah Lilis turun dari sepeda motornya.
Lalu Lilis memberikan salam kepada ibunya
Asalamualaikum buk. "Kata Lilis"
Waalaikumsalam Lis. "Kata ibu yati"
"Kok ibu berdiri di sini. Ayo kita masuk" Lilis mendorong sepedah nya dan meletakan sepeda motornya ke dalam rumah.
Ibu yati mengikutinya dan mengajaknya masuk ke dalam Rumah, lalu ibu yati bertanya ke Lilis.
"Lilis Kenapa pulang telat, ibu khawatir kamu kenapa-kenapa" Ibu yati berbicara sambil melihat wajah Lilis.
"Ban Sepedah motor Lilis tadi kempes buk.
Tepat di Jalan perdesaan yang ada di dekat Balai Kecamatan. Untung ada teman yang membantu mendorong sampai di tempat tambal ban" Lilis menjelaskan sambil tersenyum untuk menghilangkan kecemasan ibunya.
Ibunya pun mengajak Lilis kemeja makan. Tanpa berganti baju, Lilis makan dengan lahap. Dia memang sudah sangat lapar. "Sayur Sop dan sambal tomat lauk tempe buatan ibu yati memang enak" Katanya sambil mengacungkan jempol nya, ibu nya pun tertawa dan juga Lilis pun Tersenyum sambil terus mengunyah makanannya.
" Oh iya,Buk. Teman aku tadi ada yang nawari mengajar les sepupunya. Tapi Rumahnya ada di kota Sekitar tiga puluh menit naik sepeda kalau dari sekolah "
"Apa Lilis Tidak kecapean? Habis sekolah lanjut mengajar Les Lagi. Tentunya pulang ke rumah sore kan? " kata Ibu Yati"
"Ya tidak, buk. Lumayan buat tabungan Lilis karena ada upahnya juga. " Kata Lilis "
Kalau Lilis kuat dan bisa, ibu mengizinkan. Tapi ingat jangan ketinggalan belajar ya.
" Nanti biar Ibu saja yang menyiapkan kue untuk di bawa Lilis ke kantin sekolah. Berhenti Kerja malah membuat tubuh ibu sakit. "Kata Ibu Yati"
"Trima kasih buk, " Kata Lilis. "
Lalu Lilis memeluk ibunya.
"Iya, Sama-sama Lis. Ayo dihabiskan dulu makanannya lalu istirahat. Nanti biar ibu saja yang membereskan meja makan"
Setiap hari Lilis menyempatkan waktu untuk Sholat zuhur di mushola sekolah sehingga ketika sampai rumah dia langsung makan.
Baru saja selesai mandi, azan salat magrib berkumandang. Lilis dan ibunya melaksanakan Shalat maghrib berjama'ah. Setelah itu Lilis Istirahat sebentar sambil melihat Televisi. Sementara ibu yati duduk di sampingnya sambil menjahit