Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Deru ban mobil Abi yang berdecit nyaring membelah keramaian parkiran diskotik The Velvet.
Tanpa memedulikan tatapan heran para valet parking, Abi langsung membuka pintu dan melesat masuk ke dalam.
Suara dentuman musik dan keramaian yang memekakkan telinga langsung menyambutnya.
Mata Abi menyapu seluruh ruangan yang remang-remang, mencari keberadaan Liana. Dan kemudian, pandangannya tertuju pada satu titik yang seketika membuat seluruh tubuhnya menegang dan darahnya mendidih.
Di tengah kerumunan yang liar, di atas meja bar tempat bartender meracik minuman, Liana berdiri tegak.
Rambutnya tergerai acak-acakan, tubuhnya bergoyang mengikuti irama musik, dan di tangannya, ia memegang sebotol whisky yang tinggal separuh.
Tawa-tawa sinis dan tatapan penuh nafsu dari para pria di sekelilingnya seperti pisau yang mengoyak hati Abi.
"Liana!" rahang Abi mengeras.
Ia menerobos kerumunan itu dengan kasar, tidak peduli siapa pun yang menghalangi jalannya.
Wajahnya merah padam, menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
Andre yang melihat kedatangan Abi, langsung pucat.
Bersamaan dengan itu, Angela juga tiba di sana dan ia menerobos masuk dari pintu utama dan melihat pemandangan yang sama.
"Li! Turun, Li! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Angela, segera berlari menghampiri sahabatnya.
Liana yang sudah terlanjur mabuk, hanya menatap Abi dan Angela dengan pandangan kabur.
"Selamat datang di duniaku, Paman," ucap Liana dengan suara serak namun cukup keras untuk didengar Abi.
"Dunia di mana aku bisa bebas, di mana aku bukan lagi tawanan kalian."
Abi tidak lagi bisa menahan diri. Ia mencapai meja bar, melompat dengan satu gerakan, dan menarik lengan Liana dengan kasar.
"Turun sekarang, Liana!" perintah Abi, suaranya menggelegar di atas dentuman musik.
"Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan aku!" Liana berontak, mencoba melepaskan cengkeraman Abi.
Botol whisky di tangannya terjatuh dan pecah di lantai, menimbulkan suara dentingan yang sejenak mengalahkan musik.
Beberapa pengunjung mulai menatap ke arah mereka, tertarik dengan keributan yang terjadi.
"Li, dengarkan aku! Ayo turun, ini bukan tempatmu!" ucap Angela.
Namun, Liana sudah hilang kendali. Ia menatap Abi dengan mata berkaca-kaca, penuh amarah dan kebencian.
"Kamu tidak punya hak, Paman! Kamu sudah mengambil segalanya dariku! Jangan coba-coba mengambil kebebasanku juga!"
Malam yang kelam itu berubah menjadi neraka bagi Liana.
Abi menggendong paksa tubuh istrinya yang masih meronta dan berteriak tidak jelas akibat pengaruh alkohol.
Segera Abi memasukkan istrinya kedalam mobil dan ia meminta Genata untuk segera melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Genata hanya bisa terpaku di kursi kemudi, tangannya gemetar memegang setir.
Di cermin tengah, ia melihat suaminya sedang menahan tubuh Liana yang memberontak hebat.
Amarah Abi sudah mencapai puncaknya, ia merasa harga dirinya sebagai suami dan janji sucinya kepada mendiang Habibie telah diinjak-injak oleh kelakuan Liana malam ini.
Sesampainya di rumah, Abi tidak membawa Liana ke kamar utama, melainkan menyeretnya menuju sebuah ruangan di bagian belakang rumah.
Sebuah gudang yang dingin, pengap, dan hanya diterangi lampu temaram.
Abi yang sudah gelap mata langsung mengikat tangan Liana.
"Genata, ambil sapu! Cepat!" perintah Abi dengan suara menggelegar yang membuat seisi rumah seakan bergetar.
"Tapi, Mas. Dia sedang mabuk, dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya," pinta Genata dengan air mata yang mulai mengalir.
Ia mencoba membela gadis yang kini terduduk lemas di lantai gudang.
Abi menoleh, menatap Genata dengan pandangan yang begitu tajam dan penuh otoritas.
Sorot mata itu seolah berkata bahwa tidak ada ruang untuk negosiasi malam ini.
Genata yang ketakutan akhirnya menundukkan kepala, ia tidak sanggup melawan suaminya dalam kondisi seperti itu.
Dengan tangan bergetar, ia mengambil sapu di sudut ruangan dan menyerahkannya kepada Abi.
Liana mencoba berteriak, memaki, dan tertawa getir dalam mabuknya, namun Abi dengan cepat mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyumpal mulut istrinya itu agar suaranya tidak keluar.
CETAR!
Suara sapu yang menghantam kulit terdengar memekakkan telinga di ruangan sempit itu.
Abi mencambuk kaki Liana dengan emosi yang meluap.
Ia ingin memberi "pelajaran" keras atas pembangkangan dan tindakan Liana yang dianggapnya sudah sangat kelewatan.
Liana hanya bisa mengerang tertahan di balik sumpalan kain, air matanya meleleh membasahi pipi, bercampur dengan riasan wajah yang sudah berantakan.
Rasa sakit fisik itu seketika mulai menyadarkannya dari mabuk, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih hancur.
Genata tidak sanggup lagi melihat pemandangan itu.
Ia berlari keluar dan menutup pintu gudang dengan rapat.
Ia bersandar di balik pintu, menutup telinganya dengan kedua tangan sambil terisak.
Ia tidak pernah menyangka bahwa keputusannya meminta Abi menikah lagi akan berujung pada kekerasan dan kebencian yang sedalam ini.
Abi langsung menghentikan pukulannya sampai gudang yang tadinya penuh dengan suara rintihan tertahan kini mendadak sunyi senyap.
Ia mematung saat melihat tubuh Liana terkulai lemas ke lantai, matanya terpejam, dan napasnya pendek-pendek.
Liana telah pingsan, tak sanggup lagi menahan rasa sakit fisik dan batin yang menghantamnya sekaligus.
Abi melepaskan sapu dari tangannya, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai tanah.
Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia melangkah keluar dari gudang dengan tatapan kosong dan mendapati Genata yang masih terisak di balik pintu.
"Bawa dia ke kamar dan meninggalkan obati kakinya. Pastikan lukanya tidak infeksi." ucap Abi terdengar serak, hampir menyerupai bisikan.
Genata hanya bisa mengangguk pelan tanpa berani menatap wajah suaminya.
Ia segera masuk ke dalam gudang, hatinya hancur melihat bekas-bekas merah yang membiru di kaki putih Liana.
Abi melangkah masuk ke kamar mandinya sendiri.
Ia segera mengunci pintu dan menyalakan keran air dengan volume penuh, membiarkan suara gemericik air menyamarkan kehancurannya.
Ia berdiri di depan cermin, namun ia tidak sanggup menatap pantulan dirinya sendiri.
Tangannya yang baru saja digunakan untuk menyakiti Liana kini gemetar hebat.
Ingatannya tiba-tiba ditarik paksa ke masa lalu, ke belasan tahun yang lalu saat semuanya masih terasa murni dan penuh tawa.
Ia membayangkan Liana kecil yang berlari ke arahnya dengan tangan terbuka.
Liana yang selalu merengek minta digendong di pundaknya agar bisa melihat dunia dari tempat yang lebih tinggi.
"Paman Abi! Lihat, aku tinggi sekali!" suara tawa kecil itu terngiang jelas di telinganya.
Lalu, memori tentang Liana yang memeluk lehernya erat sambil memakan es krim cokelat kesukaannya muncul.
Gadis kecil itu pernah berkata dengan mata berbinar.
"Paman Abi, jangan nikah sama orang lain ya. Aku kalau sudah besar mau menikah sama Paman Abi saja!"
Kenangan itu kini menjadi duri yang paling tajam. Perkataan yang dulu ia anggap sebagai candaan manis seorang anak kecil, kini menjadi kenyataan yang pahit dan berdarah.
Ia telah menikahi gadis itu, namun bukan dengan cinta dan perlindungan, melainkan dengan paksaan dan cambukan.
"Apa yang sudah aku lakukan..." bisik Abi pilu.
Ia merosot ke lantai kamar mandi yang dingin dan di bawah guyuran air dan keheningan malam, Abi menangis sesenggukan.
Ia meratapi janjinya pada mendiang Habibie yang baru saja ia khianati dengan tangannya sendiri.
Ia meratapi sosok "Paman Abi" yang dulu begitu dipuja Liana, kini telah berubah menjadi sosok "suami" yang paling dibenci gadis itu.