NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 – Warung yang Hampir Tutup

Pulang sekolah.

Biasanya Arga akan langsung masuk ke kamar, mengerjakan tugas, lalu menghabiskan waktu bermain game atau berkumpul dengan teman-temannya.

Namun hari ini berbeda.

Begitu memasuki halaman rumah, pandangannya langsung tertuju pada warung kecil di samping rumah.

Warung itu tidak besar.

Hanya bangunan sederhana berukuran sekitar tiga kali empat meter.

Rak-rak kayu tua berjajar di dalamnya.

Sebagian cat mulai mengelupas.

Papan nama yang tergantung di depan bahkan sudah tampak kusam.

Warung Sari.

Tulisan itu hampir tidak terlihat dari kejauhan.

Arga berdiri memandangi warung tersebut selama beberapa saat.

Di kehidupan sebelumnya, tempat ini adalah awal dari segala kesulitan keluarganya.

Ketika warung tutup, pendapatan keluarga hilang.

Ayahnya mulai berutang.

Ibunya bekerja serabutan.

Dan dirinya terpaksa bekerja sambilan sejak kuliah.

Satu masalah memicu masalah lainnya.

Semuanya berawal dari sini.

"Kalau mau mengubah masa depan, aku harus mulai dari titik ini."

Arga menarik napas panjang sebelum masuk ke dalam warung.

Ibunya sedang duduk di belakang meja kasir.

Sejak siang tadi hanya ada beberapa pelanggan yang datang.

"Itu sudah pulang sekolah?" tanya ibunya.

Arga mengangguk.

"Bu, boleh aku bantu jaga warung?"

Ibunya tampak terkejut.

"Kamu?"

"Iya."

"Biasanya kamu malas."

Arga tersenyum canggung.

Sulit menjelaskan bahwa mentalnya sebenarnya adalah pria berusia tiga puluh lima tahun.

"Aku cuma ingin membantu."

Ibunya mengangguk.

"Kalau begitu bantu susun mie instan itu."

Arga segera bekerja.

Sambil menyusun barang, matanya mengamati seluruh isi warung.

Dalam waktu kurang dari satu jam, ia menemukan banyak masalah.

Barang-barang tidak tertata.

Beberapa produk bahkan tertutup oleh produk lain.

Minuman dingin hampir tidak ada.

Rak jajanan terlihat berantakan.

Harga banyak barang tidak dipasang.

Pelanggan harus bertanya terlebih dahulu.

Selain itu, bagian depan warung tampak suram.

Tidak menarik perhatian orang yang lewat.

Yang paling fatal adalah lokasi warung yang sebenarnya cukup strategis.

Hanya sekitar dua ratus meter dari SMA tempat Arga belajar.

Namun para siswa lebih memilih membeli makanan di minimarket yang baru buka beberapa bulan lalu.

Arga masih ingat minimarket itu.

Di kehidupan sebelumnya, kemunculannya menjadi pukulan besar bagi warung-warung kecil di sekitar daerah tersebut.

Banyak pelanggan beralih ke sana.

Termasuk pelanggan warung keluarganya.

"Jadi masalahnya bukan karena tidak ada pembeli."

"Masalahnya pembeli memilih tempat lain."

Arga mulai memahami situasinya.

Menjelang sore, seorang siswa masuk.

Ia mengambil sebotol air mineral lalu membayar.

Setelah itu pergi begitu saja.

Lima menit kemudian tidak ada pelanggan lagi.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Dua puluh menit.

Warung kembali sepi.

Ibunya hanya duduk sambil memandang jalan.

Tatapan itu membuat dada Arga terasa sesak.

Ia tahu persis bagaimana perasaan ibunya saat ini.

Karena di kehidupan sebelumnya, ibunya pernah mengaku sering menangis diam-diam saat warung sepi.

Arga mengepalkan tangan.

Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

Malam harinya setelah makan malam, Arga mulai membuat daftar di buku tulis.

Penyebab warung sepi.

Satu.

Tampilan tidak menarik.

Dua.

Barang tidak tertata.

Tiga.

Tidak ada produk unggulan.

Empat.

Tidak ada alasan bagi siswa untuk datang.

Lima.

Kalah bersaing dengan minimarket.

Setelah menuliskan semuanya, Arga mulai memikirkan solusi.

Sebagian besar membutuhkan modal.

Namun keluarganya tidak punya uang.

Berarti ia harus memulai dari sesuatu yang tidak membutuhkan biaya.

Keesokan harinya Arga bangun lebih pagi.

Sebelum berangkat sekolah, ia membersihkan bagian depan warung.

Ia menyapu halaman.

Mencuci etalase kaca.

Mengelap rak-rak yang berdebu.

Lalu mengganti susunan barang agar terlihat lebih rapi.

Ibunya memperhatikan dari samping.

"Kamu kenapa rajin sekali?"

Arga tersenyum.

"Warung harus kelihatan bagus kalau mau ramai."

Ibunya tertawa kecil.

"Kamu seperti pengusaha saja."

Arga hanya tersenyum.

Kalau ibunya tahu bahwa dirinya pernah menghabiskan belasan tahun bekerja di dunia bisnis, mungkin reaksinya akan berbeda.

Sepulang sekolah, Arga melanjutkan pekerjaannya.

Kali ini ia membuat tulisan harga menggunakan karton bekas.

Tulisan sederhana.

Namun mudah dibaca.

Setiap produk kini memiliki harga yang jelas.

Pelanggan tidak perlu bertanya lagi.

Sore harinya beberapa siswa mulai mampir.

"Eh, sekarang lebih rapi ya."

"Benar juga."

"Harga jajanannya kelihatan."

Mereka membeli beberapa makanan ringan lalu pergi.

Jumlahnya memang sedikit.

Namun Arga memperhatikan sesuatu.

Biasanya siswa hanya membeli satu barang.

Kini sebagian membeli dua hingga tiga barang sekaligus.

Karena mereka bisa melihat pilihan yang tersedia dengan lebih jelas.

Malam itu Arga menghitung pemasukan bersama ibunya.

Selisihnya memang tidak besar.

Namun tetap meningkat dibanding hari sebelumnya.

Ibunya tampak terkejut.

"Naik sedikit."

Arga mengangguk.

"Dikit memang."

"Tapi naik."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum muncul di wajah ibunya.

Melihat senyum itu, Arga merasa semua usahanya tidak sia-sia.

Namun ia tahu ini baru permulaan.

Peningkatan hari ini hanyalah langkah kecil.

Masih ada banyak hal yang harus dilakukan.

Saat hendak tidur, sebuah ingatan tiba-tiba muncul di benaknya.

Ingatan tentang suatu produk makanan ringan yang akan menjadi tren besar di kalangan pelajar beberapa bulan lagi.

Di kehidupan sebelumnya, banyak pedagang memperoleh keuntungan besar dari produk tersebut.

Arga langsung duduk di tempat tidur.

Matanya berbinar.

"Kali ini aku tidak akan terlambat."

"Kalau aku bisa mendapatkannya lebih dulu..."

Senyum perlahan muncul di wajahnya.

Rencana berikutnya akhirnya mulai terbentuk.

Dan mungkin, itulah kesempatan pertama yang akan mengubah nasib warung kecil keluarganya.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!