Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUJUH BELAS KALI
Kopi hitam Sera sudah dingin, tapi dia tidak menyentuhnya. Jari-jarinya melingkari cangkir itu, seperti mencari kehangatan yang sudah tidak ada lagi.
"Kamu mau dengar semuanya?" tanya Sera, menatap Arka. "Bukan versi singkat. Versi yang lengkap."
Arka mengangguk. "Iya."
Sera menarik napas panjang, lalu mulai bicara—suaranya datar di awal, seperti orang yang sudah menceritakan ini berkali-kali ke dirinya sendiri, di tengah malam, sampai kata-katanya kehilangan beratnya.
"Aku pertama kali 'pindah' waktu umur 19 tahun," kata Sera. "Adikku, Dito, meninggal karena kecelakaan motor. Aku yang nyuruh dia beliin aku makanan malam itu, padahal dia udah capek banget, baru pulang kerja. Dia nggak pernah sampai."
"Malam itu aku nangis sampai ketiduran di kamarnya—masih pake bajunya, masih ada baunya. Dan aku bangun lagi, dua tahun sebelumnya. Aku masih SMA. Dito masih SMP."
"Aku pikir, 'ini kesempatan.' Aku bisa cegah dia kerja di tempat itu. Aku bisa bikin dia ambil jalur lain. Dan aku berhasil—Dito nggak pernah kerja di tempat itu, nggak pernah lewat jalan itu, nggak pernah kecelakaan."
Sera berhenti, menatap ke luar jendela.
"Tapi waktu aku balik... aku nggak punya orang tua lagi. Bukan meninggal. Mereka nggak pernah menikah. Karena—ternyata—orang tuaku ketemu pertama kali karena ayahku ngantar Dito ke rumah sakit waktu Dito kecil, kecelakaan kecil yang... yang nggak pernah terjadi lagi di dunia baru, karena aku sudah ubah jalan hidup Dito dari titik yang lebih awal dari yang aku kira."
"Aku pikir aku cuma mengubah satu hal. Tapi satu hal itu—itu kayak lempar batu kecil ke danau yang tenang. Riaknya nggak berhenti di tempat batu itu jatuh."
"Aku coba lagi," lanjut Sera. "Kali ini lebih hati-hati. Aku coba 'perbaiki' supaya orang tuaku ketemu lagi, tapi dengan cara lain. Berhasil. Mereka ketemu. Mereka nikah."
"Tapi pernikahan itu... beda. Lebih cepat. Ayahku jadi pindah kerja ke luar kota, dua tahun sebelum aku lahir di dunia yang lama. Dan di dunia baru itu... aku lahir lebih dulu dari Dito. Aku jadi anak pertama, bukan kedua."
"Dito masih ada. Tapi—" suara Sera mulai bergetar untuk pertama kalinya, "—di dunia itu, aku dan Dito nggak pernah dekat. Kami tumbuh di kota yang beda separuh waktu kecil kami, karena ayah sering pindah kerja. Pas aku 'balik' ke masa sekarang, Dito masih hidup. Tapi dia nggak kenal aku. Bukan nggak ingat—dia emang nggak pernah dekat sama aku di dunia itu. Cuma kakak yang jarang ketemu."
"Aku selamatin nyawanya. Tapi aku kehilangan... semua momen kami. Semua kenangan yang bikin dia jadi adikku, bukan cuma orang yang kebetulan satu keluarga."
Arka diam, tidak tahu harus berkata apa. Sera melanjutkan, suaranya semakin pelan dengan setiap kalimat, seperti orang yang menceritakan sesuatu yang sudah terlalu sering dia ceritakan ke cermin, sendirian.
"Aku terus coba. Setiap kali, aku pikir 'kali ini aku bakal lebih hati-hati. Kali ini aku ngerti aturannya.' Tapi nggak ada aturan yang bisa dipelajari, Arka. Karena dunia itu bukan mesin dengan kabel yang bisa dilacak. Dunia itu... jutaan kebetulan kecil yang saling sambung. Dan kamu nggak akan pernah tahu kebetulan mana yang penting, sampai kamu sudah merubahnya."
"Tujuh belas kali," katanya lagi, lebih pelan. "Setiap kali, aku coba perbaiki sesuatu yang rusak dari perubahan sebelumnya. Tapi setiap perbaikan, merusak hal lain. Sampai akhirnya..."
Dia berhenti lama. Arka menunggu.
"Sampai akhirnya aku nggak punya siapa-siapa lagi yang bisa dirusak hubungannya sama aku—karena nggak ada lagi hubungan yang tersisa. Orang tuaku nggak punya anak bernama Sera. Dito hidup, bahagia, punya keluarga sendiri sekarang—tapi buat dia, aku cuma nama asing kalau aku coba samperin. Sahabat-sahabatku, semua punya kehidupan yang penuh, yang lengkap, tanpa aku pernah ada di dalamnya."
Sera menatap Arka, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang sangat rapuh muncul di matanya—bukan air mata, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu, sesuatu yang sudah melewati fase menangis.
"Aku masih hidup," katanya. "Aku masih di sini. Tapi aku kayak... hantu yang masih punya badan. Aku ada di dunia ini, tapi nggak ada di kehidupan siapa pun."
"Kenapa kamu cerita semua ini ke aku?" tanya Arka akhirnya, suaranya hampir berbisik.
Sera tersenyum kecil—senyum yang lelah, tapi tulus.
"Karena aku pengen kamu punya pilihan yang aku nggak punya," katanya. "Waktu aku mulai, nggak ada siapa-siapa yang ngasih tau aku apa yang akan terjadi. Aku jalan terus karena aku pikir 'satu kali lagi, pasti bisa lebih baik.' Dan setiap 'satu kali lagi' itu yang akhirnya ngambil semuanya dariku."
Dia meraih tangan Arka—gerakan yang tiba-tiba, tapi tidak terasa aneh, lebih seperti gerakan dari seseorang yang sudah lama tidak menyentuh orang lain dan baru menyadari betapa dia merindukannya.
"Kamu udah selamatin ibu kamu, Arka. Itu udah terjadi. Pertanyaannya sekarang bukan 'gimana aku benerin semuanya'—karena nggak ada 'semuanya' yang bisa dibenerin tanpa mengorbankan yang lain. Pertanyaannya adalah: apa kamu bisa terima apa yang udah kamu punya sekarang, dan berhenti di sini?"
Hujan di luar semakin deras, menabrak kaca jendela kafe dengan suara yang hampir menenggelamkan suara Sera yang semakin pelan.
"Karena kalau kamu lanjut," katanya, "kamu nggak akan tau kapan harus berhenti. Nggak ada yang tau. Itu yang paling jahat dari semua ini—kamu nggak akan pernah ngerasa 'cukup,' sampai kamu kehilangan terlalu banyak buat balik."
Arka menatap tangan Sera yang menggenggam tangannya—tangan dengan bekas luka kecil yang sekarang dia tahu artinya: bekas dari tujuh belas dunia yang berbeda, tujuh belas kali kehilangan, tujuh belas kali memulai dari awal di dunia yang tidak pernah mengenalnya.
Dan untuk pertama kalinya, Arka bertanya pada dirinya sendiri—bukan "bagaimana aku bisa memperbaiki lebih banyak," tapi sebuah pertanyaan yang jauh lebih sulit:
Apakah aku sudah cukup?