NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI Kotak yang Menjadi Sumber Segalanya

Suasana menjadi semakin mencekam. Angin dingin berhembus keluar dari dalam kamar, menerbangkan rambut dan membuat nyala api di wadah pembakar hampir padam. Nyonya Handoko berdiri tak bergerak di ambang pintu, sosoknya perlahan membesar seolah ingin memenuhi seluruh ruang koridor, sementara suaranya berubah menjadi raungan rendah yang bergetar hingga ke tulang sumsum.

“Membebaskan? Kami sudah terikat di sini selama puluhan tahun! Tidak ada yang bisa membebaskan kami selain seseorang yang bersedia menggantikan tempat kami—dan kaulah orang yang kami pilih!”

Tiba-tiba, rambut panjangnya terangkat melayang tanpa ada angin yang berhembus ke arah itu, memperlihatkan wajah yang tak lagi menyerupai manusia. Kulitnya mengering dan mengelupas seperti kulit kayu mati, matanya berlubang kosong tanpa bola mata, hanya berisi kabut hitam pekat, dan mulutnya terbuka lebar menampakkan gigi-gigi runcing yang tajam.

Ia melesat maju ke arah Raka dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia. Raka bereaksi secepat kilat, mengayunkan gagang pisau kayu jati ke depan sambil mengangkat wadah pembakar setinggi dada. Begitu sosok itu bersentuhan dengan asap kemenyan dan daun sirih, terdengar suara mendesis keras seperti besi panas dicelup ke air, disertai asap hitam yang mengepul keluar dari tubuhnya.

Nyonya Handoko mundur terhuyung, menjerit kesakitan. “Benda-benda itu… tidak akan bertahan lama! Kekuatanku masih jauh lebih besar!”

Raka tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia melompat melewati celah yang terbuka, masuk ke dalam kamar utama dan menutup pintu sekuat tenaga, lalu menyandarkan punggungnya ke belakang pintu sambil menahan napas. Di luar, terdengar benturan keras dan raungan marah yang mengguncang dinding, namun pintu itu tetap kokoh seolah ada kekuatan lain yang sementara menahannya.

Sekarang ia berada di dalam kamar tempat tujuan utamanya.

Ruangan itu luas namun gelap, hanya diterangi oleh cahaya redup dari wadah pembakar yang ia bawa. Bau debu tua dan minyak wangi yang sudah menguap bertahun-tahun memenuhi udara. Di tengah ruangan berdiri tempat tidur besar dengan tirai kain yang sudah usang dan berlubang-lubang. Di dinding sebelah kanan, ada lemari pakaian kayu tinggi yang pintunya sedikit terbuka, dan di sudut paling dalam, terlihat meja rias kecil yang cerminnya sudah retak memanjang dari atas ke bawah.

Raka berjalan perlahan menuju meja rias itu, matanya mengamati setiap sudut dengan cermat sesuai petunjuk yang didapatnya. Tangannya bergerak menyapu debu tebal yang menutupi permukaan meja, lalu membuka laci-lacinya satu per satu. Sebagian besar sudah kosong, hanya berisi debu dan sisa barang yang hancur dimakan waktu.

Saat ia menarik laci paling bawah yang terasa lebih berat dari yang lain, jantungnya berdegup lebih kencang. Laci itu tersangkut sebentar, lalu terbuka dengan suara gesekan kasar. Di dalamnya, tergeletak sebuah kotak kayu berukuran sebesar buku tulis, berwarna coklat tua dengan ukiran bunga melati yang halus di bagian tutupnya. Permukaannya terasa dingin saat disentuh, dan begitu jarinya menyentuhnya, ia merasakan aliran dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Ini dia… ini pasti kotaknya,” gumamnya pelan.

Namun tepat saat ia hendak mengangkat kotak itu, cermin retak di depan meja rias mendadak memancarkan cahaya putih terang. Dari balik kaca yang pecah itu, muncul pantulan yang bukan bayangan dirinya—melainkan seluruh anggota keluarga Handoko yang berdiri berbaris, menatapnya dengan pandangan kosong namun penuh kebencian.

“Jangan sentuh itu! Jika kotak itu rusak atau dibawa keluar, kami akan lenyap selamanya! Kami tidak ingin hilang begitu saja setelah menunggu sekian lama!” teriak Tuan Handoko dari dalam pantulan cermin, suaranya bergema dari segala arah.

Satu per satu mereka keluar dari balik cermin, berjalan melintasi ruangan dengan gerakan kaku dan lambat, mengelilingi Raka dari segala sisi. Nyala api pembakar mulai menyusut makin kecil, asapnya menipis seolah diserap oleh kegelapan di sekitar. Kekuatan perlindungannya mulai berkurang drastis.

“Lepaskan kotak itu… serahkan dirimu pada kami, dan kami akan memberimu kedamaian abadi,” bisik kedua anak mereka, suaranya seperti angin yang berdesis di telinga.

Raka merasa kakinya mulai terasa berat, udara di ruangan makin sesak hingga sulit bernapas. Pandangannya mulai berkunang-kunang, dan rasanya ia ingin sekali melepaskan kotak itu dan mengikuti ajakan mereka untuk mengakhiri rasa takut ini selamanya. Namun di saat yang sama, ia teringat pada jejak tangan kelabu di bahunya, teringat pada ancaman yang akan terus mengikutinya ke mana pun jika ia gagal sekarang.

Ia menggigit bibirnya sendiri hingga terasa sakit dan sedikit darah keluar, memaksakan kesadarannya tetap terjaga. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia memegang erat kotak kayu itu, lalu mengangkatnya setinggi dada sambil mengacungkan pisau kayu jati ke depan sebagai benteng terakhir.

“Kalian bukan sedang menunggu kedamaian—kalian terjebak oleh amarah dan penyesalan kalian sendiri! Kotak ini menyimpan perasaan itu, bukan keinginan untuk hidup kembali. Aku tidak akan membiarkan kalian terus mengganggu orang yang tidak bersalah!” seru Raka sekuat tenaga.

Ia segera memutar tubuh dan berlari menuju pintu kamar, yang ternyata masih tertahan dari luar meski benturan di baliknya kini makin keras dan teratur. Saat ia membuka gagang pintu, pintu itu terbuka mendadak, dan seluruh anggota keluarga itu melesat mengejarnya dari belakang.

Raka berlari sekencang mungkin menuruni tangga, melewati ruang tamu yang kini dipenuhi bayangan-bayangan yang berusaha menghalangi jalannya. Ia terus berteriak dalam hatinya agar tidak tersandung, matanya hanya fokus pada satu tujuan: keluar dari rumah ini dan menghancurkan kotak itu sebelum mereka mengambilnya kembali.

Di belakangnya, suara teriakan dan ancaman mereka terus mengikuti, makin keras dan makin dekat. Ia bisa merasakan hembusan napas dingin tepat di tengkuknya, seolah jari-jari kurus itu hampir menyentuh bahunya lagi.

Satu langkah terakhir… ia sudah melihat cahaya remang dari pintu utama yang terbuka lebar menuju halaman. Jika ia berhasil melangkah keluar, mungkin masih ada kesempatan untuk menyelesaikan semuanya.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!