NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Kedatangan Sang Tunangan

Hari-hari terasa makin teratur buat Kaito. Rutinitasnya sebagai satpam di Gedung Surya Pratama sudah mulai ia kuasai betul. Bangun pagi, beres-beres tempat tinggal, sarapan di warung Bu Siti, lalu berdiri di pos jaga sepuluh menit sebelum jam kerja dimulai. Budi selalu menggodanya dengan candaan yang tak ada habisnya, Pak Suryo kerap memberi nasihat yang menenangkan dan bijak, dan sesekali matanya tanpa sengaja menangkap sosok Mbak Anin yang lewat. Senyum wanita itu selalu berhasil membuat hatinya terasa lebih hangat, meski cuma sekilas.

Kaito merasa sangat bersyukur bisa hidup seperti ini. Di tempat ini, tak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya, tak ada yang tahu beban berat apa yang ia bawa dari negerinya dulu. Bagi mereka, ia hanyalah Kaito—orang asing yang agak pendiam, rajin bekerja, dan sedikit kaku saat berbicara. Baginya, kehidupan sesederhana ini saja sudah lebih dari cukup.

Namun, ketenangan itu takkan bertahan selamanya. Seperti kata pepatah lama: “Badai sering datang tanpa memberi tanda terlebih dahulu.”

Hari itu cuacanya sangat cerah, langit biru bersih tak berawan sama sekali. Menjelang sore, lalu lintas di depan gedung makin ramai karena banyak karyawan yang bersiap pulang. Kaito berdiri tegak di depan pintu utama, mengawasi setiap kendaraan yang masuk dan keluar dengan pandangan waspada, meski dari luar ia terlihat santai saja.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara deru mesin mobil yang sangat kencang, melaju jauh lebih cepat dari kendaraan lain. Suaranya begitu nyaring sampai membuat orang-orang yang berjalan di sekitar menoleh, kening mereka berkerut heran. Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam berukuran besar dan terlihat sangat mewah melesat masuk ke halaman gedung, bahkan memotong antrean kendaraan yang sedang menunggu giliran.

Brak!

Mobil itu berhenti mendadak tepat di depan pintu masuk. Debu beterbangan, kerikil di jalan pun sedikit bergeser karena hentakan remnya. Suasana seketika hening, semua mata tertuju pada kendaraan itu.

Pintu samping pengemudi dibuka lebih dulu. Keluar dua orang berbadan kekar, wajah datar tanpa ekspresi, mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan celana seragam yang rapi. Mereka melangkah sigap, lalu berdiri mengapit pintu belakang seolah menjadi benteng hidup.

Tak lama berselang, pintu belakang terbuka. Seseorang melangkah keluar dengan gaya yang sangat angkuh.

Lelaki itu berusia sekitar tiga puluh tahun, mengenakan jas hitam yang terlihat sangat mahal dan terjahit sempurna, dipadukan kemeja putih bersih serta dasi bermotif yang mencolok. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan di jari manisnya terpasang cincin yang berkilau terkena sinar matahari. Wajahnya memang tampan, tapi tatapan matanya terasa dingin, sombong, dan seolah memandang segala sesuatu di sekitarnya lebih rendah dari dirinya.

Ia meluruskan kerah bajunya perlahan, lalu menatap sekeliling dengan pandangan meremehkan, seolah tempat ini sama sekali tak sebanding dengan kedudukannya.

Kaito segera melangkah maju. Ia tetap bersikap sopan, tapi tegas sesuai dengan tugasnya.

“Selamat sore, Pak. Boleh saya tahu nama dan keperluan Bapak? Sesuai aturan di sini, setiap tamu wajib melapor dulu sebelum masuk ke dalam gedung,” ucapnya tenang, menggunakan bahasa Indonesia yang makin lancar dan luwes.

Lelaki itu menoleh, lalu menatap Kaito dari ujung kepala sampai kaki, seolah sedang menilai barang bekas. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis.

“Kamu ini siapa? Berani sekali menghalangi jalanku?” suaranya berat, dingin, dan penuh nada merendahkan.

“Saya petugas keamanan di sini. Tugas saya menjaga ketertiban dan keamanan. Kalau Bapak berkenan menyebutkan nama dan tujuan, saya bisa catat dan mengurus izin masuknya,” jawab Kaito tetap santai, tak sedikit pun terpancing emosi meski sikap lelaki itu jelas tak menyenangkan.

Mendengar jawaban itu, lelaki itu tertawa kecil—tawa yang terdengar seperti sedang mengejek. Ia melangkah makin mendekat, mendongakkan kepala lebih tinggi lagi.

“Kamu rupanya tak tahu siapa aku, ya? Pantas saja bicara setegas itu. Dengarkan baik-baik: namaku Rafael Wijaya. Aku adalah tunangan resmi Anindya Prameswari, pemilik gedung ini. Jadi sebentar lagi tempat ini juga akan menjadi milikku. Masuk ke sini mana perlu izin dari orang rendahan sepertimu!”

Jantung Kaito berdegup agak lebih kencang mendengar kata-kata itu. Tunangan Mbak Anin?

Rasanya ada sesuatu yang mengganjal dan terasa sesak di dadanya, tapi ia segera menepis perasaan itu. Bagaimanapun, itu urusan pribadi Mbak Anin. Tugasnya hanyalah menjalankan peraturan dengan benar.

“Maaf, Pak Rafael. Meski begitu, peraturan tetap harus dijaga, ya. Saya cuma menjalankan tugas, bukan bermaksud menghalangi. Kalau benar Bapak adalah tunangan Mbak Anin, mungkin bisa hubungi beliau sebentar saja supaya kami bisa memastikannya dengan jelas,” kata Kaito lagi dengan nada tenang, tak mundur selangkah pun.

Begitu mendengar jawaban itu, wajah Rafael berubah seketika. Senyumnya hilang, digantikan ekspresi marah bercampur jijik. Tangannya mengepal kuat, lalu ia menunjuk tepat ke dada Kaito.

“Berani sekali kamu membantah kata-kataku? Dasar satpam kampungan, berlagak punya kuasa! Sudah kubilang aku tunangannya, itu saja sudah cukup! Jangan banyak alasan, minggir sebelum aku buat kamu menyesal pernah lahir ke dunia ini!”

Namun Kaito tetap berdiri tegak, tak bergeming sedikit pun mendengar makian itu. “Saya tak bisa minggir sebelum ada kepastian yang jelas. Ini demi keamanan semua orang di dalam gedung.”

Kalimat itu bagaikan menuangkan minyak ke atas api yang sudah menyala. Rafael melotot tajam, lalu menoleh ke dua pengawal di sampingnya dan memberi isyarat dengan anggukan kepala singkat.

“Lihat itu? Ada orang yang tak tahu diri. Ajari dia sopan santun, supaya dia paham siapa yang pantas dihormati di sini!” perintah Rafael dengan suara dingin dan penuh amarah.

“Siap, Tuan!” jawab kedua pengawal itu serempak.

Mereka segera melangkah maju dengan langkah lebar, rahang mengeras dan tangan sudah mengepal siap menyerang. Salah satu yang bertubuh paling besar mendorong bahu Kaito dengan sangat kuat, seolah ingin menjatuhkannya ke tanah.

“Minggir sana, atau kami patahkan tulangmu satu per satu!” bentaknya.

Dorongan itu cukup kuat untuk membuat orang biasa terhuyung bahkan terjatuh. Tapi bagi Kaito, rasanya hanya seperti disentuh angin sepoi-sepoi saja. Ia tetap berdiri diam, tubuhnya tak bergeser sedikit pun, seolah tertanam kuat di bumi.

Pengawal itu terkejut melihat reaksinya, tapi tak berhenti. Dengan gerakan cepat, ia mengayunkan tinju besarnya tepat ke arah wajah Kaito, berniat membuatnya langsung pingsan.

Orang-orang yang menyaksikan berteriak kaget dan mundur menjauh. Budi yang baru keluar dari ruang jaga langsung berteriak panik.

“Kaito! Hati-hati!”

Tinju itu melesat cepat, tapi di mata Kaito gerakannya terasa sangat lambat, seolah berjalan di dalam air. Ia bisa menghindar dengan sangat mudah. Cukup dengan sedikit memiringkan kepala, tinju itu melayang melesat mengenai ruang kosong.

Belum sempat pengawal itu sadar, rekannya sudah menyerang dari samping, melontarkan tendangan keras ke arah pinggang. Kaito hanya sedikit mengangkat satu kaki, lalu menahan ujung kaki lawan itu dengan telapak tangannya—menahan tenaga tendangan seolah sedang memegang sepotong kayu ringan.

Dug!

Suara benturan terdengar jelas, tapi Kaito tak merasakan sakit sedikit pun. Sebaliknya, pengawal itu merasa kakinya terbentur benda yang sangat keras dan tak tergoyahkan. Ia mengerang kesakitan, mencoba menarik kakinya kembali tapi tak bisa bergerak sama sekali.

Wajah Rafael seketika berubah pucat lalu memerah karena marah sekaligus terkejut. Ia tak menyangka seorang satpam biasa sanggup bertahan melawan dua orang pengawal profesional yang sudah dilatih bertahun-tahun.

“Dasar bodoh kalian! Hanya satpam rendahan saja tak bisa diatasi? Hajar dia lebih keras lagi!” teriak Rafael geram.

Kedua pengawal itu menyerang kembali dengan lebih ganas, mengeluarkan berbagai jurus bela diri yang mereka kuasai. Pukulan, tendangan, serangan dari segala arah datang bertubi-tubi. Namun bagi Kaito, semua gerakan itu terlihat lambat dan mudah ditebak.

Ia hanya bergerak sedikit saja—menghindar, menepis, atau menahan serangan itu dengan tenaga sekecil mungkin. Ia tak ingin melukai mereka sampai parah; ia sadar, jika mengeluarkan kekuatan aslinya, keduanya bisa terlempar jauh atau terluka parah. Ia hanya ingin melumpuhkan mereka sementara supaya segera berhenti menyerang.

Hanya dalam hitungan detik, suasana berbalik arah. Kedua pengawal itu terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuh, tangan dan kaki mereka terasa kesemutan karena terus membentur tenaga yang tak mereka mengerti. Sementara Kaito masih berdiri tegak, napasnya tetap teratur, tak ada setetes pun keringat yang menempel di dahinya.

“Ini… mustahil… orang biasa tak mungkin sekuat ini…” gumam salah satu pengawal itu dengan wajah pucat pasi.

Rafael melangkah mundur sedikit, matanya melotot tak percaya. Ia merasa ada yang sangat salah pada orang asing ini. Tatapannya berubah dari angkuh menjadi curiga, bahkan sedikit dipenuhi rasa takut.

“Kamu… siapa sebenarnya? Bukan cuma satpam biasa, kan?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar meski berusaha tetap terlihat berwibawa.

Kaito menatapnya tenang, tanpa emosi berlebih. “Saya memang hanya satpam biasa yang punya tugas untuk dijaga. Kalau benar Bapak tunangan Mbak Anin, tunggu saja sebentar. Beliau pasti akan turun dan menyambut sendiri. Tak perlu menyakiti orang yang cuma menjalankan aturan.”

Belum sempat Rafael menjawab, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah lobi. Semua orang menoleh, dan terlihat Mbak Anin berjalan keluar dengan wajah tampak bingung sekaligus cemas. Ia pasti sudah mendengar keributan dari lantai atas.

“Ada apa ini? Kenapa jadi ramai begini?” tanya Mbak Anin sambil memandang sekeliling, lalu matanya tertuju pada Rafael, kemudian pada Kaito dan kedua pengawal yang sudah terlihat lemas.

Begitu melihat Mbak Anin, sikap Rafael berubah drastis dalam sekejap. Wajah yang tadinya marah seketika diganti senyum manis dan sopan, seolah tak terjadi apa-apa. Ia segera melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Mbak Anin, tapi wanita itu sedikit mundur menjauh tanpa sadar.

“Anin, sayang! Akhirnya aku sampai. Maaf ya tadi ada sedikit keributan, cuma salah paham saja. Satpammu ini terlalu keras kepala, tak mau membiarkanku masuk begitu saja,” kata Rafael dengan nada lembut, berusaha memutarbalikkan kenyataan.

Mbak Anin menatap Rafael sekilas, lalu segera menoleh ke arah Kaito. Mata mereka bertemu, dan Kaito bisa melihat ada kebingungan serta rasa ingin tahu yang tersirat di sana. Ia melihat Kaito masih berdiri siap siaga, sedangkan dua pengawal itu tampak kelelahan bukan main.

“Kaito, ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi,” pinta Mbak Anin dengan nada tenang namun tegas.

Kaito mengangguk, lalu menjelaskan semuanya dengan jujur—tak menambah, tak mengurangi satu kata pun. “Saya cuma menjalankan tugas, Mbak. Pak Rafael datang, saya minta melapor dulu sesuai aturan, tapi beliau menolak. Beliau bilang tunangan Mbak, lalu memerintahkan pengawalnya untuk menyerang saya karena menghalangi jalannya.”

Begitu mendengar penjelasan itu, raut wajah Mbak Anin berubah menjadi serius. Ia menatap tajam ke arah Rafael.

“Rafael, apa yang kamu lakukan? Ini tempat kerja, bukan tempat main hakim sendiri. Peraturan itu berlaku untuk semua orang, tak terkecuali kamu. Kalau mau datang, cukup hubungi aku atau bicara baik-baik pada petugas. Tak perlu memukuli orang yang sedang menjalankan tugasnya.”

Suara Mbak Anin tak meninggi, tapi terdengar sangat tegas dan berwibawa. Rafael terdiam, wajahnya memerah menahan malu karena ditegur di depan banyak orang. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu memaksakan senyum tipis.

“Maaf, Anin. Aku tadi terburu-buru jadi agak emosi saja. Takkan terulang lagi, janji,” katanya mencoba membela diri.

Mbak Anin menghela napas panjang, lalu menoleh kembali ke arah Kaito dan memberi senyum tanda permintaan maaf.

“Kaito, maafkan kelakuannya ya. Terima kasih sudah bertindak dengan benar dan tetap sabar. Kamu boleh kembali bertugas seperti biasa. Kalau ada apa-apa, langsung saja lapor padaku.”

“Baik, Mbak. Terima kasih,” jawab Kaito sopan, lalu kembali berdiri di posnya. Meski begitu, ia masih merasakan tatapan tajam Rafael yang mengawasinya dari kejauhan—penuh kebencian dan kecurigaan.

Rafael pun akhirnya masuk ke dalam gedung bersama Mbak Anin, tapi sebelum menghilang di balik pintu, ia sempat melirik sekali lagi ke arah Kaito. Pandangannya seolah berkata: Kita belum selesai, orang asing.

Kaito menghela napas panjang, memandang langit yang masih tetap cerah. Ternyata, kedamaian yang ia harapkan tak semudah itu didapatkan. Dengan kedatangan Rafael ini, ia tahu tantangan baru sudah dimulai. Dan yang paling membuatnya waspada: lelaki itu adalah tunangan wanita yang diam-diam mulai membuat hatinya terasa berbeda dari biasanya.

Ia hanya bisa berdoa semoga semuanya tak berubah menjadi masalah yang lebih besar. Namun nalurinya yang sudah terasah sejak lama berbisik perlahan: Badai yang sesungguhnya baru saja mulai datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!