Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2: JEJAK KEGELAPAN DI TIMUR Bab 5: Sinyal dari Jalur Kanan
Suara ledakan itu belum sepenuhnya hilang bergema di antara dinding batu saat Rey dan yang lainnya langsung berbalik menoleh ke arah celah bangunan tempat Daren dan Lyra menghilang tadi. Kabut di sana bergerak liar, berputar-putar seolah ada pusaran angin yang tiba-tiba terbentuk, disertai kilatan cahaya samar yang beradu dengan warna ungu gelap. Tidak ada lagi suara percakapan, hanya benturan keras dan gesekan logam yang terdengar makin jarang—tanda bahwa pertarungan di sana sudah berlangsung cukup lama dan pihak mereka mulai terdesak.
“Kita tidak bisa membiarkan mereka terjebak sendirian,” ujar Rina dengan nada tegang, tangannya mencengkeram gagang pedang lebih erat. “Tapi kalau kita membagi tim lagi sekarang, Voren dan Kaelix akan langsung memanfaatkan celah itu.”
Voren tertawa pelan, suara itu terdengar makin menusuk di tengah keheningan yang sempat terbentuk. “Bingung, bukan? Itulah kelebihan dari susunan yang kami bangun. Di mana pun kalian melangkah, akan selalu ada rintangan yang pas untuk menghabiskan waktu dan tenaga kalian. Menara ini tidak hanya memiliki dua wajah, tapi juga banyak tangan yang bisa meraih kalian dari segala arah.”
Kaelix tidak menyia-nyiakan momen keraguan itu. Ia melangkah maju sekali lagi, namun kali ini gerakannya berbeda—lebih terukur, lebih berbahaya. Pedang hitamnya bergetar hebat, seolah haus akan sesuatu. “Kalian sudah melihat sekilas apa yang bisa kami lakukan saat bekerja sama. Sekarang, rasakan apa artinya menjadi bagian dari energi yang kami kendalikan.”
Sebelum ada yang bisa bereaksi, Kaelix mengayunkan pedangnya dalam gerakan lebar. Gelombang energi berbentuk bulan sabit meluncur cepat, bukan hanya satu tapi tiga serangan sekaligus yang menyebar menutupi hampir seluruh lebar halaman. Serangan itu tidak bisa dihindari hanya dengan melompat ke samping; mereka harus menahan atau membelahnya.
“Bersiap menahan!” seru Valerius. Ia dan Kaelan segera mengangkat perisai bersilang di depan, sementara Rina dengan cepat menambahkan lapisan pelindung sihir yang berkilau keperakan di atasnya.
Benturan itu mengguncang tanah hingga debu beterbangan. Kaki mereka terbenam sedikit ke dalam celah ubin batu karena tekanan yang diterima. Meski berhasil menahan, dampaknya tetap terasa—getaran hebat menjalar hingga ke bahu, membuat napas mereka tersendat sejenak.
Di sisi lain, Voren tidak diam saja. Ia memindahkan ujung tongkatnya perlahan ke arah tanah, dan seketika pola ukiran di ubin halaman itu bersinar merah menyala. Garis-garis itu seolah hidup, memanjang dan saling menyambung membentuk jaring yang mengurung posisi tim.
“Lantai ini adalah bagian dari tubuh menara,” gumam Rey sambil memerhatikan perubahan itu dengan cepat. “Ia bisa berubah menjadi perangkap atau senjata kapan saja. Kita tidak bisa lagi bertahan di tempat yang sama.”
“Kalau begitu kita bergerak—sekarang!” seru Sylfia. Ia sudah melepaskan tiga panah sekaligus ke arah Voren, bukan untuk melukai, tapi cukup untuk memaksanya mengangkat tongkat dan memutus fokus sejenak. Celah kecil itu cukup bagi Rey untuk bertindak.
Rey menancapkan kedua telapak tangannya ke permukaan tanah. “Elemen tanah… dengarkan aku!” Energi hijau kecokelatan mengalir keluar, menyusup ke dalam batu dan membalikkan sedikit pengaruh sihir Voren. Bagian tanah tepat di bawah kaki tim terangkat sedikit, memisahkan diri dari jaringan ukiran yang bersinar merah itu, lalu bergerak seperti rakit alami menjauh dari zona bahaya.
Voren mengerutkan kening, terlihat sedikit terkejut. “Kau berani memerintah struktur yang sudah terikat pada kekuatan Tuan kami? Kau benar-benar makhluk yang aneh.”
“Bukan memerintah, tapi hanya mengingatkan asal-usulnya,” jawab Rey tenang. “Batu tetaplah batu, sebelum ia menjadi milik siapa pun.”
Saat mereka menjauh dari jebakan lantai, suara gesekan keras terdengar lagi dari arah jalur kanan—kali ini lebih dekat. Sebuah bayangan melesat keluar dari balik tembok bangunan, terhuyung-huyung namun masih berusaha berdiri tegak. Itu Daren. Baju bagian kirinya robek panjang, darah segar mengalir turun dari lengan, napasnya terengah-engah berat.
“Daren!” seru Lyra yang baru saja muncul menyusul, meski kakinya sedikit pincang. Ia langsung menyandarkan bahu Daren di bahunya agar tidak jatuh. “Kita terjebak dalam lingkaran sihir di sana. Makhluk-makhluk itu tidak berhenti datang, dan mereka menguasai medan sepenuhnya.”
Voren tersenyum puas melihat kondisi dua lawan tambahan itu. “Sudah kubilang… tidak ada jalan yang aman. Kalian membagi kekuatan, kami mengumpulkannya. Sekarang jumlah kalian berkurang, dan tenaga kalian semakin menipis.”
Situasi kini benar-benar berbalik. Tim mereka yang tadinya berjumlah tujuh orang kini terbagi dua, dengan dua anggota yang terluka dan kelelahan parah. Sementara di hadapan mereka, Voren dan Kaelix masih berdiri tegak tanpa goresan sedikit pun, seolah pertarungan tadi hanyalah pemanasan bagi mereka.
Valerius segera memerintahkan penataan posisi baru. “Daren, Lyra, mundur ke barisan belakang. Istirahat sejenak dan pulihkan tenaga yang ada. Jangan memaksakan diri.” Ia lalu menatap Rey dan Sylfia sekilas, matanya berbicara tanpa kata: kita butuh rencana baru, dan cepat.
Rey mengangguk pelan. Ia memindahkan posisinya sedikit ke depan, sejajar dengan Valerius. Di dalam dirinya, ia merasakan denyutan lempengan batu pemberian Penasihat Elara semakin terasa—seolah benda itu juga merasakan tekanan bahaya yang makin dekat. Ia juga menyadari satu hal penting: meskipun Voren dan Kaelix saling menguatkan, sumber utama kekuatan mereka tetaplah kedua menara itu. Selama aliran energi dari menara tidak terganggu, mereka bisa terus bertahan dan pulih lebih cepat daripada manusia biasa.
“Kita tidak bisa menang jika hanya berfokus melawan mereka berdua,” bisik Rey cukup keras agar hanya Sylfia dan Valerius yang mendengar. “Kita harus memutus aliran terlebih dahulu. Tapi untuk itu, salah satu dari kita harus bisa mendekati pangkal salah satu menara.”
“Tapi mereka tidak akan membiarkan siapa pun lolos begitu saja,” sahut Sylfia sambil tetap mengawasi gerakan Voren yang mulai menggerakkan tongkatnya lagi. “Kita butuh pengalihan perhatian yang sangat besar.”
“Dan aku punya ide soal itu,” jawab Rey, matanya menatap tajam ke arah Voren. “Voren adalah yang mengatur aliran energi. Selama dia masih bisa berdiri tenang, aliran itu akan terus lancar. Kalau kita bisa membuatnya sibuk sepenuhnya… celah akan terbuka.”
Kaelix yang merasa percakapan itu bukan pertanda baik, kembali melangkah maju. “Berhenti berbisik-bisik. Kalian tidak punya waktu untuk menyusun taktik baru.”
Ia mengayunkan pedangnya lagi, kali ini lebih lambat namun aura yang keluar jauh lebih padat. Di saat yang sama, Voren mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. “Tidurlah dalam keabadian.”
Dari ujung tongkat itu turun kabut tebal berwarna ungu pekat, namun kabut ini berbeda—berkilau seperti debu beracun yang melayang perlahan ke bawah. Siapa pun yang terkena akan langsung merasakan kelelahan luar biasa menyerang seketika.
“Tahan napas! Jangan biarkan debu itu masuk!” seru Valerius.
Rey langsung melangkah ke depan, membiarkan energi angin berputar kencang mengelilingi tim, menciptakan dinding udara yang memecah dan mengarahkan debu itu menjauh. Namun usaha itu menyita banyak tenaga, membuat keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Sylfia segera menyadari kesempatan itu. “Sekarang!” Ia langsung memberi isyarat cepat kepada Kaelan dan Rina. “Kita berikan serangan terkuat ke arah Voren! Paksa dia membagi tenaga!”
Tanpa ragu, ketiganya bergerak serentak. Panah cahaya, hantaman perisai yang diselimuti energi, dan gumpalan api yang meledak mendekat—semuanya mengarah ke penyihir itu. Voren terkejut sejenak karena serangan itu datang lebih cepat dan lebih terkoordinasi dari yang ia duga. Ia terpaksa mengalihkan sebagian fokus dari debu beracun itu untuk membentuk perisai baru.
Momen itu adalah yang dicari Rey. Sambil tetap menjaga pusaran angin, ia berteriak singkat ke arah Sylfia. “Jaga jalanku!”
Dengan kecepatan maksimal, Rey melesat keluar dari perlindungan tim, membelah sisa kabut dan debu yang berusaha menahannya. Tujuannya jelas: pangkal menara sebelah kanan, tempat di mana pola ukiran terlihat paling tebal dan paling aktif.
“Dia berusaha mendekati sumber!” seru Kaelix, suara itu terdengar sedikit panik. Ia segera berbalik mengejar Rey, namun dihadang oleh Valerius yang sudah menunggu dengan pedang siap.
“Tidak secepat itu,” ujar Kapten itu tenang, lalu memulai pertarungan jarak dekat yang sengit untuk memblokir jalan.
Voren juga berusaha menghentikan Rey, namun serangan bertubi-tubi dari Sylfia, Kaelan, dan Rina membuatnya tidak bisa melepaskan sihir jarak jauh yang cukup kuat. Ia terjebak dalam pertahanan.
Rey merasakan tekanan makin berat semakin dekat ia ke menara. Dinding batu itu berdenyut, seolah menolak kehadirannya. Namun ia tidak berhenti. Di dalam hatinya, ia mengingat kembali pelajaran dari Penasihat Elara: keseimbangan adalah penempatan yang tepat di saat yang tepat.
Ia sampai di kaki menara kanan. Ukiran di sini bersinar menyala-nyala, memancarkan panas yang tidak wajar. Rey mengangkat kedua tangannya, membiarkan kelima elemen di dalam dirinya keluar sekaligus namun terkontrol dengan sangat halus—bukan sebagai serangan, tapi sebagai nada penyeimbang yang berusaha menyatu dengan nada yang ada di sana.
“Mari kita lihat… siapa yang akan mengubah nada ini,” bisik Rey.
Di belakangnya, pertarungan makin memanas. Voren mulai kehilangan kesabaran, sementara Kaelix makin ganas berusaha membebaskan diri dari hadangan Valerius. Dan di kejauhan, di balik bayangan menara yang lain, ada sepasang mata lain yang diam-diam mengawasi segala sesuatu yang terjadi—mata yang menunggu momen terbaik untuk turun tangan.