NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Hari Senin tiba.

Aurora Quinn baru saja menyelesaikan kelas pertamanya untuk hari itu ketika ponsel di dalam saku mantelnya bergetar lembut. Ia melirik sekilas ke arah layar gawai, dan sedetik kemudian seulas senyuman manis langsung terukir di wajahnya tanpa ia sadari sendiri.

Nama Alexander Kingsley tertera di sana.

Padahal hanya sekadar melihat untaian nama pria itu di layar kunci, namun entah bagaimana suasana hati Aurora yang awalnya lelah mendadak berubah menjadi jauh lebih baik.

Alexander:

"Sudah sarapan belum pagi ini?"

Aurora tertawa kecil membaca perhatian itu, lalu jemarinya bergerak mengetik balasan singkat.

Aurora:

"Sudah, kok."

Alexander:

"Bohong."

Aurora langsung mengernyitkan dahinya heran menatap balasan instan itu.

Aurora:

"Kok kamu bisa tahu kalau aku bohong?"

Balasan dari seberang sana datang dengan sangat cepat.

Alexander:

"Karena kamu selalu saja berbohong setiap kali aku bertanya soal hal itu."

Aurora seketika terdiam di tempatnya berdiri. Dadanya mendadak terasa hangat. Pria kaya raya sesibuk Alexander ternyata memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya dengan begitu detail—bahkan sebuah kebiasaan buruk yang tidak pernah disadari atau diperhatikan oleh orang lain selama ini.

---

Siang harinya.

Aurora sedang menjalani sif kerjanya di kafe seperti biasa ketika Lily Parker tiba-tiba datang menghampiri konter dengan wajah yang dipenuhi rasa penasaran yang menggebu-gebu.

"Aku mau tanya sesuatu hal penting padamu," ujar Lily membuka percakapan sambil menyipitkan matanya curiga.

Aurora tetap fokus mengelap mesin pembuat kopi tanpa mengalihkan pandangannya. "Tanya saja, Lily," sahut Aurora santai.

Lily menopang dagunya di atas meja konter, menatap tajam sahabatnya. "Kalian berdua sebenarnya sudah jadian belum, sih?" tanya Lily blak-blakan.

Pertanyaan itu sukses membuat Aurora tersentak hingga hampir saja menjatuhkan gelas kaca yang sedang dipegangnya. "Hah?! Apa maksudmu?" tanya Aurora panik.

"Kenapa kamu harus sekaget itu, Aurora?" goda Lily sambil tertawa kecil.

"Karena kenyataannya kami memang nggak ada hubungan apa-apa!" seru Aurora membela diri dengan wajah yang mulai memerah.

Lily mendengus pelan, menatap tidak percaya pada sang sahabat. "Sulit dipercaya," komentar Lily meragukan.

Aurora menghela napas panjang untuk menenangkan diri. "Kami berdua itu cuma sebatas teman biasa, Lily," jelas Aurora menegaskan status mereka.

Lily langsung tertawa keras mendengar alasan klise itu. "Kalau hubungan intens seperti kalian itu cuma disebut teman, berarti aku ini adalah presiden Amerika Serikat selanjutnya!" cibir Lily jenaka.

Aurora hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar respons berlebihan dari sahabatnya itu.

---

Tak lama setelah obrolan itu selesai, bel yang terpasang di pintu masuk kafe berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan baru yang datang.

Aurora bahkan tidak perlu memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang datang. Dari aroma parfum maskulin yang familier dan kasak-kusuk dari beberapa mahasiswi di sudut ruangan, ia sudah tahu pasti siapa orangnya.

Alexander Kingsley datang lagi, persis seperti hari-hari biasanya.

Pria itu melangkah tegap, dan seperti biasa, ia langsung menuju ke arah meja favoritnya yang terletak di sudut dekat jendela besar. Namun, ada satu hal yang berbeda siang ini. Di tangan kanannya, Alexander tampak menjinjing dua buah kantong kertas berlogo restoran terkenal.

Aurora segera berjalan menghampiri meja tersebut untuk menyambutnya. "Apa lagi yang kamu bawa sekarang, Alex?" tanya Aurora langsung begitu berdiri di samping meja.

Alexander mendongak dan tersenyum hangat. "Makan siang," jawab Alexander singkat.

Aurora mengernyitkan alisnya bingung. "Lalu?" tanya Aurora menuntut penjelasan.

"Satu kantong ini buat porsi makan siangku," ujar Alexander sambil mengeluarkan satu kotak makanan.

Aurora mulai menaruh rasa curiga pada tingkah pria itu. "Lalu kantong yang satunya lagi?" tanya Aurora menyelidiki.

Alexander mendorong kantong kertas yang masih utuh ke arah tempat Aurora berdiri. "Untukmu," jawab Alexander santai.

Aurora seketika membeku di tempatnya. "Hah? Buat aku?" tanya Aurora memastikan dengan mata membelalak.

Alexander menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur tubuh yang santai. "Tadi pagi kamu kan belum sarapan, Aurora," ucap Alexander mengingatkan.

Aurora menatap kantong makanan mewah di depannya, lalu beralih menatap sepasang mata abu-abu milik Alexander, kemudian kembali menatap kantong makanan itu dengan perasaan campur aduk. Di balik celemek kafenya, jantung Aurora mulai berdetak dengan ritme yang jauh lebih cepat.

"Aku... aku bisa membeli makanan siangku sendiri nanti, Alex," tolak Aurora merasa sungkan.

"Aku tahu kamu bisa membelinya sendiri," sahut Alexander tenang.

"Lalu kenapa kamu repot-repot membelikan ini untukku?" tanya Aurora lagi.

Alexander tersenyum kecil, menatap tepat ke dalam manik mata Aurora. "Karena aku memang mau melakukannya," jawab Alexander tulus tanpa beban.

Aurora kehilangan kata-kata dan tidak tahu harus menjawab apa lagi untuk membalasnya. Sudah lama sekali rasanya tidak ada seseorang yang menaruh perhatian begitu besar dan tulus untuk merawat dirinya seperti ini.

---

Namun, kehangatan di sudut meja itu berbanding terbalik dengan suasana di sudut lain kafe.

Dari tempatnya duduk, Sophia Laurent memperhatikan seluruh interaksi manis antara Alexander dan Aurora dengan saksama. Tatapan mata indahnya seketika berubah menjadi luar biasa dingin dan tajam, sementara kedua tangannya mengepal begitu erat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Selama dua tahun ia mengejar Alexander, pria itu bahkan tidak pernah sekali pun meluangkan waktu untuk membelikan makanan atau sekadar mengkhawatirkan apakah ia sudah makan atau belum. Namun sekarang, di depan mata kepalanya sendiri, pria itu rela menurunkan gengsinya demi memperhatikan hal-hal kecil tentang seorang Aurora Quinn.

Rasa cemburu dan benci yang amat sangat mulai membakar dada Sophia. Ia membenci kenyataan itu, dan ia sangat membenci sosok Aurora.

---

Sore harinya.

Aurora menyelesaikan sif kerjanya di kafe jauh lebih lambat dari biasanya karena harus membantu membereskan inventaris dapur.

Namun, begitu ia melangkah keluar dari pintu kafe, langit Manhattan tiba-tiba saja berubah menjadi gelap gulita tertutup awan mendung. Tak butuh waktu lama, kilatan petir menyambar disusul oleh curahan air hujan yang turun dengan sangat deras membasahi bumi.

"Aduh... sial banget," keluh Aurora sambil menghela napas pasrah.

Ia merutuki kecerobohannya sendiri karena lupa membawa payung hari ini. Sementara itu, jarak menuju halte bus terdekat masih cukup jauh dan tidak mungkin dicapai tanpa membuat seluruh tubuhnya basah kuyup.

Aurora sedang menimbang-nimbang keputusan untuk nekat menerobos hujan deras ketika sebuah mobil sedan hitam mewah mendadak berhenti tepat di depannya. Jendela mobil di bagian kemudi perlahan turun, dan sosok wajah yang sudah sangat dikenalnya kini muncul dari balik kemudi.

"Ayo naik," ajak Alexander sedikit setengah memerintah.

Aurora berkedip tidak percaya. "Alexander? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Aurora bingung di tengah suara bising air hujan.

Alexander mengangkat sebelah alisnya. "Kamu mau tetap berdiri di sana dan membiarkan dirimu kehujanan?" tanya Alexander balik.

"Nggak, sih," cicit Aurora.

"Kalau begitu cepat masuk ke dalam," titah Alexander.

Tanpa berpikir dua kali lagi, Aurora segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, membiarkan kehangatan pendingin ruangan mobil mengusir rasa dingin yang mulai menyerang tubuhnya. Namun, ia masih merasa sedikit bingung dengan situasi ini.

"Ngomong-ngomong, kok kamu bisa kebetulan lewat di depan kafe jam segini?" tanya Aurora penasaran.

Alexander memfokuskan pandangannya ke jalanan di depan yang tertutup kabut hujan. "Aku baru saja selesai menghadiri rapat penting di sekitar sini," jawab Alexander beralasan.

Aurora mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Namun, beberapa detik kemudian, otaknya yang cerdas mendadak menyadari sesuatu hal yang janggal. Gedung pusat bisnis tempat keluarga Kingsley biasa mengadakan rapat berada di distrik utara—arah yang sepenuhnya berlawanan dengan lokasi kafe kampus ini.

Itu artinya... Alexander tidak sedang kebetulan lewat. Pria itu sengaja berkendara menembus kemacetan dan hujan deras hanya untuk menjemputnya pulang. Dan kesadaran baru itu sukses membuat jantung Aurora kembali berdebar dengan sangat kencang.

---

Sepanjang perjalanan membelah badai kota, mereka berdua mengobrol dengan santai seperti biasa. Namun, entah kenapa atmosfer di dalam mobil terasa jauh berbeda dari biasanya. Suasananya terasa jauh lebih nyaman, hangat, dan intim—seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.

Ketika mobil mewah itu akhirnya berhenti dengan sempurna di depan lobi gedung apartemen milik Aurora, gadis itu tidak langsung bergerak untuk turun. Di sisi lain, Alexander juga tidak langsung mematikan mesin atau menyuruhnya turun.

Mereka berdua hanya saling terdiam dalam keheningan yang menenangkan selama beberapa saat, mendengarkan suara rintik hujan yang menghantam atap mobil. Sampai akhirnya, Aurora memutar tubuhnya dan berkata dengan suara yang sangat pelan, "Terima kasih banyak, ya."

Alexander menoleh dan tersenyum tipis. "Terima kasih untuk apa?" tanya Alexander lembut.

"Untuk makanan siangnya, untuk tumpangannya... dan untuk semua kebaikanmu hari ini," jawab Aurora tulus.

Alexander menatap dalam-dalam ke arah sepasang manik mata milik Aurora selama beberapa saat, sebuah tatapan intens yang kembali berhasil membuat Aurora didera rasa salah tingkah.

Kemudian, dengan nada suara yang rendah namun terdengar begitu bersungguh-sungguh, Alexander berkata, "Aku sangat suka melihatmu tersenyum, Aurora."

Deg.

Jantung Aurora seakan berhenti berdetak sesaat mendengar kalimat lugas itu. Tatapan mata mereka kembali bertemu dan saling mengunci satu sama lain di bawah remang cahaya lampu dasbor mobil.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurora akhirnya berani mengakui bahwa ada sesuatu yang telah berubah di antara mereka berdua—sebuah rasa yang jauh lebih dalam dari sekadar ikatan pertemanan biasa. Kenyataan itu sempat membuat Aurora merasa takut karena perbedaan kasta mereka, namun di saat yang sama, ia juga merasa sangat bahagia.

Karena tanpa pernah ia sadari sebelumnya, sosok Alexander Kingsley kini telah perlahan bertransformasi menjadi satu-satunya orang yang paling ia tunggu kedatangannya di setiap hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!