NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Langit Perth dan Sebuah Keputusan

​Semuanya bermula dari rasa sakit sederhana yang awalnya dianggap Alden sebagai masuk angin biasa atau gejala kelelahan akibat beban kerja yang menumpuk.

​Gejala itu berupa rasa tidak nyaman yang samar di perut sebelah kanan, tepat di bawah tulang rusuk.

Alden mengabaikannya, terus menenggak kopi hitam, dan mengejar target presentasi hingga larut malam.

Namun seiring berjalannya minggu, rasa sakit itu bermutasi menjadi sesuatu yang konstan dan tajam, seolah ada sebilah pisau tak kasatmata yang diputar di dalam rongga tubuhnya.

​Nyeri hebat itu mulai menjalar ke punggung belakang. Setiap tarikan napas terasa berat, seakan dadanya dihimpit sebongkah batu besar.

Keringat dingin kerap membasahi tubuhnya meski di ruangan berpendingin udara.

Ia kesulitan menemukan posisi tidur yang lega.

Setiap malam berubah menjadi siksaan. Alden sering terbangun di tengah malam, menggigit ujung bantal erat-erat agar rintihannya tidak terdengar oleh tetangga flatnya.

Obat pereda nyeri generik tidak memberi perubahan berarti. Rasa sakit itu datang dan pergi dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih kuat.

​Bukan hanya rasa sakit fisik yang membuat Alden didera ketakutan, melainkan transformasi penampilannya. Tubuhnya yang dulu tegap menyusut drastis hingga kehilangan sepuluh kilogram dalam waktu singkat. Tulang selangka dan dadanya menonjol, pipinya mencekung, rahang tegasnya layu, dan kulitnya berubah pucat kekuningan.

​Nafsu makannya menguap. Aroma masakan justru memicu mual dahsyat yang mengocok perut. Kondisi ini membuat Alden kian rapuh. Ia sering merasa lemas, kepalanya berputar hebat, dan ia kehabisan tenaga bahkan hanya untuk berjalan kaki ke halte bus atau menaiki tangga kantor.

​Sadar ini bukan sekadar maag atau kelelahan, Alden akhirnya menyerah pada egonya.

Di tengah kepungan jadwal kantor, ia melangkah berat mendatangi rumah sakit di pusat kota Perth untuk memeriksakan diri secara menyeluruh.

​Alden mengingat dengan jelas hari itu.

Langit Perth mendung kelabu, tertutup awan hitam tebal yang mencerminkan ketidaktenangan kepalanya.

Ia duduk sendirian di dalam ruang pemeriksaan yang dingin dan berbau antiseptik menyengat.

Di sela kecemasan menunggu hasil laboratorium darah dan CT scan, Alden memaksa otaknya berpikir positif. Mungkin ini hanya peradangan usus parah atau gangguan empedu ringan yang bisa disembuhkan dengan operasi kecil. Ia ingin percaya hidupnya masih panjang karena banyak mimpi yang belum ia wujudkan.

​Namun, ketika pintu terbuka dan dokter melangkah masuk dengan raut penuh keharuan sekaligus kesungguhan profesional, harapan Alden retak.

Udara di ruangan terasa menyesakkan dada. Dokter tersebut duduk di hadapannya, menatap lekat terlalu lama, memastikan pria muda di depannya siap mental.

​Suara dokter itu akhirnya memecah kesunyian, terdengar pelan namun tegas dalam bahasa Inggris yang mengubah jalan hidup Alden untuk selama-lamanya.

​"I'm sorry, Mr. Gavinda. The test results show that you have advanced liver cancer. The tumor has grown quite significantly and is now affecting your liver function. At this stage, we haven't found any evidence that the cancer has spread to distant organs, which is encouraging. However, the condition is still very serious and will require prompt treatment and close monitoring."

​(Saya turut prihatin, Tuan Gavinda. Hasil pemeriksaan menunjukkan Anda mengalami kanker hati stadium lanjut. Tumornya sudah berkembang cukup besar dan mulai memengaruhi fungsi hati secara signifikan. Untuk saat ini, kami belum menemukan tanda-tanda bahwa kanker telah menyebar ke organ lain, yang mana merupakan hal baik. Namun, kondisi Anda tetap sangat serius dan membutuhkan penanganan secepatnya serta pemantauan intensif).

​Kata-kata itu menghantam tepat di atas kepala Alden bagai sambaran petir. Dunia seakan berhenti berputar seketika.

Kesadarannya melayang. Suara dokter yang melanjutkan penjelasan rincian medis dan opsi kemoterapi paliatif hanya terdengar samar.

Otaknya kosong. Ia duduk membatu dengan pandangan tertahan lurus. Yang tersisa di kepalanya hanyalah satu kalimat pendek yang memantul keras ... Kanker hati. Stadium lanjut.

​Di saat kariernya berada di puncak performa dan ia baru saja mulai berdamai dengan masa lalu kelam, takdir menghantamnya tanpa ampun di titik paling rapuh.

​"How long have I got...?" tanya Alden dengan suara parau yang bergetar hebat. "How long do I have, Doc?"

​Dokter paruh baya itu menunduk, tidak sanggup menatap mata Alden yang mulai memerah.

​"Based on the medical findings and how aggressive this condition appears to be, we're estimating around twelve months. It could be shorter, or it could be somewhat longer... This type of cancer can progress quite rapidly, so we need to take it very seriously."

​(Berdasarkan hasil pemeriksaan dan sifat penyakit yang tampak cukup agresif, perkiraan kami sekitar dua belas bulan. Bisa lebih singkat, bisa juga lebih lama. Ini hanyalah perkiraan... Namun kanker jenis ini dapat berkembang cukup cepat, sehingga kita harus menanganinya dengan sangat serius).

​Dua belas bulan.

Hanya tersisa dua belas halaman di kalender bagi Alden untuk menghirup oksigen di dunia ini. Hidup yang baru saja ia bangun kembali dari reruntuhan ternyata diberi batas kedaluwarsa yang teramat singkat.

Rasanya ia ingin tertawa sarkastis sekaligus menjerit sekeras-kerasnya.

Apa salah dan dosa terbesarnya hingga dihukum sekejam ini?

Ia sudah berusaha keras menjadi orang yang lebih baik di perantauan, menurunkan ego, dan meredam dendam.

Kenapa ketika ia mulai berjalan di jalur yang lurus, dunia justru meruntuhkan tanah tempatnya berpijak?

Pertanyaan itu hanya mengambang tanpa jawaban, menyisakan sesak yang teramat perih.

​Keluar dari rumah sakit, Alden melangkah tanpa arah menyusuri trotoar kota Perth dengan pikiran terjebak pada vonis dokter.

Langkah kakinya terasa teramat berat. Dunia di sekelilingnya tetap bergerak acuh tak acuh, klakson bersahut-sahutan, orang-orang terburu-buru mengejar kereta, dan tawa sepasang kekasih terdengar di kejauhan kafe.

Tapi bagi Alden, segalanya sudah berubah. Ia merasa dirinya tak lebih dari seonggok mayat hidup. Jiwanya tertinggal di ruang pemeriksaan, terbelenggu bersama selembar surat vonis yang merenggut paksa masa depannya.

​Langit Perth yang mendung akhirnya pecah menurunkan hujan deras. Butiran air dingin mengguyur tubuh Alden dalam sekejap, membasahi pakaian kerja dan rambutnya hingga lepek.

Namun, Alden tidak peduli. Ia tidak berniat berteduh. Merawat kesehatan tubuh yang sudah divonis rusak tidak lagi memiliki nilai penting baginya.

​Di tengah guyuran hujan dan trotoar yang mulai sepi, seluruh dinding pertahanan emosional yang ia bangun selama sembilan tahun runtuh total.

Alden berhenti melangkah, menunduk menatap genangan air, dan meledakkan semua akumulasi rasa takut, marah, serta putus asa yang sedari tadi ia tekan. Air matanya luruh deras bercampur dengan air hujan.

​Alden menangis sejadi-jadinya. Ia tidak lagi berusaha terlihat kuat sebagai pria sukses. Di tengah jalanan kota asing itu, ia meluapkan rasa sesak yang mengurung dadanya. Ia menangisi masa depan cerah yang direnggut, mimpi-mimpi yang tidak akan pernah terwujud, dan takdirnya yang berjalan jauh lebih singkat.

Kesunyian di dalam dirinya terasa jauh lebih bising daripada gemuruh hujan. Ia merasa hancur berkeping-keping dan kehilangan kompas kehidupan.

​Dalam puncak keputusasaan itu, Alden menyadari bahwa ia tidak akan sanggup memikul kenyataan ini seorang diri di negeri orang.

Selama sembilan tahun, ia terbiasa menghadapi kerasnya hidup tanpa mengeluh dan berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

Namun, kanker hati stadium lanjut ini adalah musuh raksasa yang tidak bisa dilawan hanya dengan kemauan keras atau keangkuhan masa muda. Penyakit ini akan merenggut paksa segala hal berharga darinya.

​Ego besarnya runtuh. Ia mengizinkan dirinya mengakui kebenaran bahwa ia merasa lelah. Sangat lelah. Dan ia tidak akan sanggup menghadapi proses kematian ini sendirian di tanah rantau yang asing.

​Sebuah keputusan besar diambilnya saat itu juga di bawah langit Perth bahwa Ia harus pulang ke Indonesia secepatnya.

​Kepulangannya bukan untuk berlibur, melainkan untuk menghadapi sisa hidupnya di tanah kelahiran.

Ia ingin menghabiskan sisa napas di tengah kehadiran orang-orang yang tulus menyayanginya seburuk apa pun masa lalunya, di sisi keluarga yang selama sembilan tahun ini sengaja ia tinggalkan karena ego, amarah, dan luka lama yang tak pernah ia izinkan sembuh.

​Hari-hari berikutnya di Perth dihabiskan Alden dengan kecepatan penuh untuk membereskan urusan administratif.

Ia mendatangi kantor, mengajukan surat pengunduran diri dari posisi mapan yang ia bangun dengan cucuran keringat, menutup akun perbankan, menyelesaikan kontrak sewa apartemen, dan mengemas barang-barangnya ke dalam koper dengan hati yang getir.

Proses itu terasa seperti ucapan selamat tinggal formal pada kehidupan sukses yang pernah ia perjuangkan di benua ini.

​Setelah semua urusan beres, Alden memberanikan diri menghubungi ayah dan ibu tirinya lewat sambungan telepon internasional.

​Alden mengingat dengan jelas bagaimana suara Ranti langsung pecah oleh tangis histeris di ujung telepon saat mendengar kabar penyakitnya, tangisan duka mendalam dari seorang ibu yang hancur lebur. Ia juga mengingat bagaimana suara Pak Armanto, ayahnya yang dulu selalu tegas, bergetar hebat menahan gejolak emosi demi tetap terdengar tegar sebagai tempat bersandar anak lelakinya yang sedang sekarat.

​Kedua orang tuanya memohon agar Alden segera pulang ke Indonesia. Mereka berjanji akan melakukan apa pun, mengorbankan apa pun, dan mencarikan tim dokter spesialis onkologi serta fasilitas rumah sakit terbaik di Jakarta demi memberikan kesempatan Alden bertahan hidup sedikit lebih lama.

​Namun, di atas semua janji pengobatan mahal itu, hal yang paling esensial bagi Alden adalah ketulusan cinta mereka.

Cinta kasih keluarga yang ternyata tidak pernah luntur sedikit pun, meski waktu sembilan tahun dan jarak ribuan mil memisahkan mereka.

Mendengar itu, rongga dada Alden terasa sedikit lebih ringan karena jiwanya menyadari satu hal bahwa ia tidak harus menghadapi pertempuran maut ini sendirian dalam kesepian.

​Kilas balik itu akhirnya memudar, membawa kesadaran Alden kembali sepenuhnya ke masa kini.

​Ia kini sudah sampai di sini. Di dalam kamarnya sendiri yang familiar, di dalam rumah masa kecil yang penuh rekam jejak kenangan lama. Ia pulang dengan kondisi tubuh yang secara perlahan sedang dirusak dari dalam oleh kanker hati stadium lanjut yang tak memberi banyak ruang harapan.

Namun, di balik kerapuhan fisiknya yang kian menyusut, Alden pulang dengan sebuah tekad batin yang kini justru terasa jauh lebih kuat, kokoh, dan membaja dibandingkan dengan hari-hari sebelum ia divonis sakit.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!