NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Barter Rahim dan Harga Diri

Bunyi robekan kertas yang nyaring mendadak memotong tawa kemenangan Bu Hina sore itu. Dengan gerakan secepat kilat, Irmi menyambar lembaran binder milik Linda dari tangan wanita hedon lokal itu, lalu mencabik-cabiknya menjadi serpihan kecil sebelum dilemparkan tepat ke atas nampan dagangan Hina.

Wajah Hina melotot seketika, menatap serpihan kertas riset yang kini tidak lagi berbentuk. "Eh, Jeng Irmi! Kau gila ya? Kau pikir dengan merobek kertas ini, rahasia perutmu itu bisa hilang?"

Irmi melangkah satu senti lebih dekat, matanya menyipit penuh ancaman yang membuat kilau perhiasan di lehernya tampak berbahaya. "Kau jangan menyebar fitnah ya, Hina! Kertas coretan dosen stres itu tidak membuktikan apa-apa. Sekali lagi kau membuka mulut embermu itu di warung depan atau kepada ketua RT, surat pengosongan lahan untuk warung makan suamimu akan sampai di mejaku besok pagi. Sekarang, angkat kakimu dari kontrakanku sebelum aku panggil warga untuk mengusirmu karena mengganggu ketertiban!"

Hina yang melihat amarah Irmi sudah di ubun-ubun akhirnya mendengus kencang. Ia memeluk nampannya dengan gusar, memutar tubuhnya dengan sentakan kasar hingga gelang emasnya bergemerincing nyaring saat ia melangkah keluar menembus pagar besi depan. Namun, di dalam kepalanya, Irmi sudah menyusun rencana lain untuk memastikan Hina benar-benar terkunci secara hukum lewat klausul denda sewa yang baru.

Setelah gerbang luar tertutup, suasana di koridor bawah berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya. Erni masih berdiri di dekat meja, menatap Irmi dengan pandangan menuntut, tidak terpengaruh sedikit pun oleh aksi heroik Irmi yang baru saja mengusir penggosip kampung.

"Satu pengganggu sudah pergi," ucap Erni, suaranya terdengar sangat santai namun dingin. Ia berjalan mendekati sofa, lalu duduk menyilangkan kaki dengan gaya yang belum pernah ia tunjukkan selama lima tahun pernikahan mereka. "Sekarang, kembali ke urusan kita, Jeng Irmi yang terhormat. Aku mau jaminan konkret berupa kalung emas lima puluh gram dan anggaran belanja bulanan untuk daster dan pakaian bayi terbaik dari kota. Kau yang memegang uang dari dua gerai minimarket itu, jadi bukan hal sulit, kan?"

Irmi membalikkan badannya, menatap istri sah Hino itu dengan dada yang naik turun menahan geram. Ia berjalan mendekati sofa, lalu berdiri tepat di hadapan Erni dengan tangan bersedekap. "Kau pintar memanfaatkan situasi, Erni. Kau berubah menjadi benalu yang rakus dalam waktu satu malam. Aku bisa saja memberikan semua perhiasan dan kemewahan yang kau minta, tapi dunia ini tidak ada yang gratis. Terutama di dalam rumah yang kubiayai seluruhnya."

Erni mendongak, menantang tatapan Irmi tanpa berkedip. "Katakan apa maumu. Aku tidak takut."

Irmi condongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak hingga suaranya yang pelan terdengar seperti bisikan ular yang mematikan. "Kau punya rahim yang sedang mengandung anak Hino, dan aku pun begitu. Kau boleh mengambil emas, pakaian mahal, dan kamar depan yang paling besar di kontrakan ini. Tapi sebagai gantinya, kau tidak punya hak penuh atas tubuh suamimu lagi. Mulai minggu depan, Hino harus membagi jadwal tidurnya secara adil. Tiga malam di kamarmu, dan tiga malam di lantai atas bersamaku. Kita harus bicara berdua soal ini tanpa melibatkan Hino, karena dia tidak punya hak suara untuk menolak."

Pecah sudah ketenangan yang tersisa di dalam dada Erni. Genggaman tangannya pada kain dasternya mengeras hingga kukunya memutih. Menjadi benalu finansial adalah rencananya, namun menyerahkan suaminya secara terjadwal di atas kertas adalah pukulan telak yang menguji batas ego kewanitaannya.

Sore itu, di bawah temaram lampu koridor yang mulai menyala, kedua wanita hamil itu saling mengunci pandangan, melakukan barter atas nama anak, harga diri, dan isi perut yang kini menjadi mata uang di dalam kontrakan bawah.

***

Keesokan harinya, jarum jam baru menunjukkan pukul dua siang ketika Hino sedang menata tumpukan botol minuman di rak depan gerai minimarket waralaba milik Irmi. Kepalanya masih terasa pening akibat memikirkan tuntutan Erni yang mendadak ingin pindah kamar dan memegang uang jaminan.

Bunyi lonceng pintu masuk minimarket berdenting, dan aroma minyak wangi melati yang menyengat langsung membuat Hino menoleh. Bu Hina masuk dengan kacamata hitam yang bertengger di atas hidungnya, berjalan melenggang melewati mesin kasir dan sengaja berhenti tepat di samping tempat Hino berdiri.

"Aduh, Mas Kepala Toko... siang-siang begini kerjanya rajin sekali ya," sapa Hina dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu, membuat beberapa pramuniaga di dekat sana melirik curiga. Hina memajukan tubuhnya, pura-pura memeriksa produk di rak sambil menyenggol lengan Hino dengan bahunya. "Pantas saja bosmu betah berlama-lama di kontrakan atas kalau pelayannya sekeren dan segagah ini. Kuat juga ya, menahan beban dua perut sekaligus setiap malam?"

Hino langsung menarik langkahnya mundur dua langkah, wajahnya menegang menahan amarah yang mendidih di dada. Ucapan nakal dan sindiran genit dari wanita paruh baya ini benar-benar membuatnya gedek setengah mati. "Bu Hina, kalau Ibu datang ke sini bukan untuk belanja, silakan keluar. Saya sedang bekerja dan tidak punya waktu untuk lelucon murahan Ibu."

Hina tertawa renyah, menutup mulutnya dengan tangan yang penuh cincin permata. "Jangan galak-galak, Hino. Nanti kalau kau bosan jadi benalu di rumah bawah, main-main saja ke warung depanku. Suamiku sering dinas luar kota mengurus proyek jalan Pemda, jadi rumahku selalu sepi kalau kau butuh tempat curhat yang lebih hangat."

"Keluar dari toko saya sekarang, Bu Hina!" seru Hino dengan nada rendah namun bergetar penuh kemarahan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Hina hanya mencibir, lalu berjalan pergi meninggalkan toko dengan langkah berlenggang yang angkuh. Hino mencengkeram pinggiran rak besi dengan kuat, menyadari bahwa hidupnya kini sudah menjadi konsumsi gosip lingkungan yang menjijikkan.

Sementara itu, di lantai dua kontrakan, Linda duduk di meja kerjanya sambil menatap layar laptop yang menyala terang. Di tangannya, ia memegang sebuah flasdisk yang berisi salinan digital dari seluruh berkas riset sosialnya. Ia tahu tiga lembar kertas bindersnya telah dirobek dan dihancurkan oleh Irmi kemarin sore, namun senyum sinis tetap menghiasi wajahnya yang dingin.

Linda tidak perlu mengotori tangannya dengan ikut campur dalam pertengkaran fisik di lantai bawah. Sebagai seorang intelektual, ia tetap memegang kendali penuh atas rahasia kontrakan itu. Selama data digital itu ada di tangannya, aliansi atau pemerasan apa pun yang terjadi di bawah tidak akan pernah bisa lepas dari jerat kekuasaannya.

Ia mengetik beberapa baris kalimat baru di dokumen risetnya, lalu berbisik pelan ke arah jendela luar. "Robek saja kertasnya sesuka hatimu, Irmi. Tapi ingatan dan data digital tidak akan pernah bisa kau musnahkan dengan uang tokomu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!