Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 ALAMAT,1001 KEJADIAN KONYOL
Belum sempat aku dan Ojak duduk manis minum air putih sepulang antar berkas tadi, suara lantang Pak Harun langsung terdengar dari ruangannya:
"Bima! Ojak! Masuk ke sini sekarang!”
Kami berdua saling pandang, sama-sama berpikir: Apa lagi nih? Baru selesai satu urusan, langsung dapat tambahan lagi?
Dengan langkah agak pelan kayak anak SD yang dipanggil guru, kami masuk ke ruangan Bos. Di atas meja kerja Pak Harun sudah menumpuk lima amplop tebal, seolah menunggu giliran kami untuk dibawa jalan.
“Denger baik-baik ya, jangan sampai salah tangkap lagi,” kata Pak Harun sambil mendorong tumpukan itu ke depan.
“Ini ada lima berkas penting dari Kantor Jasa & Konsultasi Harun & Rekan, harus diantar semuanya sebelum jam tiga sore. Alamatnya sudah saya tulis rapi di kertas ini. Kalau ada yang salah alamat, telat, atau malah hilang di jalan,siap-siap aja seminggu ke depan tidur di gudang buat bersihin debu dan jaring laba-laba yang udah bertahun-tahun gak disentuh!”
“Siap, Pak! Kali ini kami janji gak akan bikin kacau!” jawabku semangat biar kelihatan meyakinkan.
“Janji mulus, jalannya suka salah,” celetuk Ojak pelan, tapi cukup bisa didengar Pak Harun.
“Ojak! Mau saya tambah tugasnya jadi sepuluh tempat?” bentak Pak Harun sambil menahan senyum.
“Gak, gak Pak! Cuma bercanda doang! Ayo Bim, kita jalan sebelum dicopot hak libur kita!” jawab Ojak sambil langsung melangkah keluar lebih dulu.
Jadi cuma kami berdua yang berangkat kali ini. Nina dan Kak Dedi tetap di kantor mengurus pekerjaan lain, jadi tanggung jawabnya penuh ada di kami.
“Nah, sekarang kita pegang kendali penuh nih. Gak ada yang ngomel-ngomel lagi di belakang,” kata Ojak sambil menyalakan mesin motor dengan gaya sok percaya diri.
“Kendali penuh boleh, tapi jangan sampai salah arah lagi ya. Kalau sampai kacau, kita berdua yang jadi korban,” ingatku sambil memegang erat tumpukan berkas di pangkuan.
Kami melaju santai. Baru beberapa menit jalan, langit yang tadinya cerah tiba-tiba mendadak gelap, lalu hujan turun deras sekali tanpa aba-aba. Kami buru-buru menepi di bawah atap warung pinggir jalan, aku menutupi semua berkas itu pakai jaket sekuat tenaga biar gak basah.
“Ini juga salah satu aturan dunia gila ya? Baru mau lancar, langsung disiram air,” keluhku sambil mengusap air hujan di dahi.
“Tenang aja, hujan ini cuma mampir sebentar. Lihat saja nanti, pas reda pasti ada kelucuan lain yang nunggu,” jawab Ojak santai sambil menghisap rokok sebentar.
Benar saja, sepuluh menit kemudian hujan berhenti, tapi jalanan jadi licin dan banyak kubangan air. Saat lewat tikungan yang agak curam, ban motor kami tergelincir sedikit dan menepi ke pinggir. Untung gak jatuh, tapi efeknya satu amplop terlepas dan melayang jatuh tepat di kubangan lumpur!
“Astagfirullah! Hampir aja semuanya berenang!” teriakku sambil langsung meraih amplop itu, untungnya cuma sedikit kotor bagian luarnya.
“Wah, dapat bonus cuci amplop nih hari ini,” kata Ojak ketawa lebar padahal tadi jantungnya juga deg-degan.
“Masih bisa ketawa? Kalau isinya rusak, kita yang kena omel habis-habisan,” balasku sambil mengelapnya seadanya.
Setelah susah payah melewati jalanan yang licin, kami mulai mengantar satu per satu alamatnya. Sampai di alamat ketiga: Jalan Kamboja Nomor 22. Yang buka pintu seorang kakek tua yang jelas-jelas pendengarannya sudah berkurang.
“Selamat siang, Kek! Kami antar berkas dari kantor Pak Harun!” teriakku agak keras biar kedengaran.
“Mau apa, Nak? Cari orang mana?” tanya kakek itu balik dengan suara lebih keras lagi.
“ANTAR BERKAS, KEK!” teriakku makin kencang sampai tenggorokan serak.
“OH… MAU PINJAM BERAS? SILAKAN DI BELAKANG, ADA KARUNG DI DAPUR!” jawabnya sambil menunjuk ke arah dapur.
Aku melongo bingung, sambil melirik Ojak yang sudah menahan tawa sampai matanya berkaca-kaca dan perutnya kram. Dia sampai menepuk-nepuk paha sambil bergumam: Berkas jadi beras, ini baru namanya salah dengar tingkat dewa.
Akhirnya aku tulis saja maksud kami di selembar kertas besar, baru deh kakek itu mengerti dan menerima berkasnya sambil ketawa-ketawa sendiri.
“Wah, hari ini sekalian latih suara dan ajari kakek baca tulisan juga ya,” kata Ojak sambil melanjutkan perjalanan.
Sampai di alamat keempat, Jalan Melati Nomor 88. Kami ketemu dua bapak-bapak yang lagi bertengkar hebat di depan pagar, soal batas tanah yang katanya saling serobot. Begitu melihat kami datang, mereka langsung berhenti dan malah menghampiri.
“Nah, ini orang dari kantornya! Tanya saja dia siapa yang bener batasnya!” seru salah satunya.
“Jangan dengar dia, dengarkan penjelasanku saja!” bantah yang lain.
Aku sampai bingung, cuma antar surat kok jadi disuruh jadi hakim dadakan? Belum sempat aku jawab, Ojak sudah angkat bicara dengan gaya santai tapi nyeleneh:
“Wah Bapak berdua, suaranya bagus bisa jadi penyanyi lho. Tapi kami ini cuma tukang antar berkas, bukan hakim, bukan juga tukang ukur tanah. Kalau surat ini sampai lama dipegang, nanti giliran kami yang kena marah Bos. Jadi terima dulu ya, urusan lain nanti saja dibahas pelan-pelan biar gak sakit tenggorokan.”
Mendengar omongan Ojak yang gak masuk akal tapi lucu itu, kedua bapak itu langsung terdiam, lalu malah ketawa sendiri sadar kelakuannya berlebihan. Mereka minta maaf dan menerima berkas itu dengan wajah malu.
Akhirnya alamat kelima pun selesai. Kami pulang ke kantor saat matahari mulai condong ke barat. Begitu masuk ruangan Pak Harun dan menceritakan semuanya mulai dari hujan, amplop nyemplung lumpur, salah dengar berkas jadi beras, sampai jadi penengah pertengkaran.Pak Harun malah ketawa terbahak-bahak sampai perutnya pegal.
“Wah, kalian ini emang bener-bener ya! Gak ada hari tanpa kejadian aneh. Tapi yang penting berkasnya semuanya sampai dan aman. Kalau bisa ketawa menghadapi semuanya, berarti kalian sudah pandai berteman sama dunia yang gila ini,” katanya sambil menyerahkan uang tambahan buat jajan sore sebagai hadiah.
Keluar ruangan, kami ketemu Pak Joko yang lagi bersiap pulang. Dengar ceritanya, dia cuma manggut-manggut sambil senyum:
“Lihat kan? Kalau hari cuma lancar mulus terus, rasanya kayak makan nasi tanpa garam,hambar. Yang bikin hidup terasa seru justru kekacauan kecil yang bisa ditertawakan bareng.”
Gak lama kemudian lewat Sari dan Rara. Begitu melihat kami, Rara langsung buka buku catatannya dengan semangat.
“Wah hari ini banyak banget isinya! Mulai dari hujan, amplop mandi lumpur, salah dengar, sampai jadi hakim dadakan! Kalau begini terus, bukunya nanti bisa laku dijual lho!” godanya sambil ketawa.
Aku dan Ojak cuma bisa tertawa keras. Kali ini pikiranku beda dari biasanya, gak cuma asal jalan saja:
Dunia ini memang suka kasih kejadian yang bikin pusing, konyol, dan kadang bikin deg-degan. Tapi kalau dijalani bareng teman yang satu frekuensi, punya selera humor yang lumayan, dan gak gampang panik kekacauan itu justru jadi cerita seru yang bakal selalu dikenang. Gila-gilanya dunia, kita yang atur rasanya.