NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Mereka Menemukan Kami

Suara mesin kendaraan menggema di luar gudang.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Dan setiap detiknya membuat suasana di dalam bangunan tua itu semakin tegang.

Almira berdiri membeku di dekat jendela.

Matanya menatap ke luar.

Empat SUV hitam memasuki area kompleks industri secara perlahan.

Tidak terburu-buru.

Tidak panik.

Justru itulah yang membuat semuanya terasa lebih mengancam.

Orang-orang yang datang tidak terlihat seperti orang yang sedang mencari.

Mereka terlihat seperti orang yang sudah tahu tujuan mereka.

"Mungkin mereka hanya lewat."

kata Reynard.

Dimas menatapnya datar.

"Itu lelucon yang buruk."

"Aku tahu."

"Tidak lucu."

"Aku juga tahu."

Meski begitu, candaan singkat tersebut sedikit mengurangi kepanikan yang mulai merayap di udara.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Dimas bergerak cepat menuju sisi lain gudang.

Ia membuka salah satu pintu kecil yang hampir tidak terlihat di balik tumpukan peti tua.

"Kita harus pergi."

katanya.

"Kita belum selesai bicara."

balas Almira.

"Kalau kita tetap di sini, kita tidak akan punya kesempatan menyelesaikan apa pun."

Kalimat itu cukup untuk membuat Almira bergerak.

Di luar, suara pintu mobil mulai terdengar.

Satu per satu.

Mereka turun.

Dan meskipun tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang, naluri Almira langsung mengatakan bahwa mereka bukan tamu yang ingin berbincang santai.

Lorong sempit di belakang gudang dipenuhi debu dan bau besi tua.

Mereka bergerak cepat mengikuti Dimas.

Pria itu tampak mengenal tempat tersebut dengan sangat baik.

Terlalu baik.

"Kamu sudah pernah ke sini sebelumnya?"

tanya Reynard sambil berjalan cepat.

"Beberapa kali."

"Kamu menjadikan tempat ini markas rahasia?"

"Kalau aku bilang iya, kamu akan mengejekku."

"Tentu."

"Karena itu aku tidak akan menjawab."

Untuk pertama kalinya sejak SUV itu muncul, senyum tipis muncul di wajah Almira.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk mengingatkannya bahwa mereka masih bersama.

Masih hidup.

Masih bergerak.

Mereka keluar melalui pintu belakang yang mengarah ke area pergudangan tua lainnya.

Di sana terdapat jalan kecil yang dipenuhi rumput liar dan bangunan kosong.

Dimas berhenti.

Lalu menoleh.

"Tim keamanan kalian di mana?"

"Beberapa ratus meter dari sini."

jawab Reynard.

Dimas mengumpat pelan.

"Itu terlalu jauh."

"Kami tidak ingin terlihat mencurigakan."

"Percayalah."

kata Dimas.

"Momen untuk terlihat tidak mencurigakan sudah lewat."

Tepat saat itu.

Suara keras menggema dari dalam gudang utama.

BRAK!

Seseorang baru saja mendobrak pintu.

Almira merasakan jantungnya melonjak.

"Mereka masuk."

bisiknya.

Dimas langsung mempercepat langkah.

"Kita harus bergerak sekarang."

Mereka berlari.

Sudah lama Almira tidak berlari sejauh itu.

Apalagi mengenakan sepatu yang lebih cocok untuk rapat bisnis daripada melarikan diri dari orang misterius.

"Nanti..."

katanya sambil terengah.

"...aku akan menuntut siapa pun yang membuatku melakukan ini."

"Pastikan kamu masih hidup dulu."

jawab Reynard.

"Itu detail kecil."

"Detail yang cukup penting."

Meskipun situasinya berbahaya, percakapan seperti itu justru membuat ketegangan sedikit lebih mudah ditanggung.

Mereka tiba di bangunan tua lain yang sudah setengah runtuh.

Dimas masuk terlebih dahulu.

Kemudian memberi isyarat agar mereka diam.

Ketiganya berjongkok di balik dinding beton yang retak.

Tidak ada yang berbicara.

Hanya suara napas.

Dan suara langkah kaki yang samar di kejauhan.

Seseorang memang sedang mencari.

Dan itu berarti ketakutan Dimas bukan paranoia.

"Mereka siapa?"

tanya Almira pelan.

Dimas menggeleng.

"Aku tidak pernah melihat wajah mereka."

"Lalu bagaimana kamu tahu mereka terkait Aurora?"

Karena mereka selalu muncul setelah aku menemukan sesuatu."

Jawaban itu sederhana.

Namun cukup menakutkan.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada yang bergerak.

Kemudian ponsel Reynard bergetar.

Ia langsung menolaknya tanpa melihat layar.

"Keluarga?"

tanya Dimas.

"Tim keamanan."

"Hubungi mereka."

Reynard mengangguk.

Namun sebelum sempat menelepon, suara lain terdengar.

Suara yang jauh lebih dekat.

Langkah kaki.

Ketiganya langsung membeku.

Langkah itu berasal dari luar bangunan.

Dekat.

Sangat dekat.

Seseorang berjalan perlahan di antara reruntuhan.

Satu orang.

Mungkin dua.

Sulit memastikan.

Almira menahan napas.

Dimas memejamkan mata.

Sementara Reynard perlahan menggenggam sepotong besi tua yang tergeletak di lantai.

Beberapa detik terasa seperti beberapa menit.

Lalu langkah kaki itu menjauh.

Tidak ada yang berbicara sampai suara tersebut benar-benar menghilang.

"Sial."

gumam Reynard.

"Kali ketiga hari ini."

kata Almira.

"Aku sedang membangun kosakata baru."

"Kurasa gagal."

Mereka hampir tertawa.

Hampir.

Namun ketegangan masih terlalu besar.

Setelah situasi sedikit tenang, Dimas membuka folder hitam yang sebelumnya ia bawa.

"Ada satu hal yang belum sempat aku tunjukkan."

katanya.

Almira menoleh.

"Apa?"

Dimas mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Ini alasan sebenarnya aku menghubungi kalian."

Dokumen tersebut terlihat seperti salinan laporan internal.

Penuh angka.

Grafik.

Dan nama perusahaan.

Awalnya tidak ada yang tampak istimewa.

Sampai Almira membaca salah satu halaman.

Lalu membeku.

"Reynard..."

"Aku lihat."

Karena di sana terdapat dua nama yang sangat mereka kenal.

Valencia Group.

Mahardika Holdings.

Dan keduanya berada dalam satu diagram yang sama.

Terhubung ke puluhan perusahaan lain.

"Apa ini?"

tanya Almira.

Dimas menarik napas panjang.

"Ini peta."

"Peta apa?"

"Peta target."

Dunia seolah berhenti sejenak.

"Target?"

ulang Reynard.

Dimas mengangguk.

"Perusahaan-perusahaan yang akan diambil alih."

Hening.

"Tidak mungkin."

kata Almira.

"Itu juga reaksiku."

Dimas menunjuk diagram tersebut.

"Selama ini kita berpikir Aurora adalah jaringan pertukaran informasi."

"Lalu?"

"Itu hanya permukaan."

Almira merasakan tenggorokannya mengering.

Karena nada suara Dimas berubah.

Lebih serius.

Lebih gelap.

"Mereka sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar."

Tiba-tiba semua potongan puzzle mulai terasa berbeda.

Data yang hilang.

Penyadapan.

Daftar nama.

Pemantauan.

Bukan hanya tentang informasi.

Ini tentang kendali.

Tentang siapa yang menguasai perusahaan-perusahaan terbesar.

Dan siapa yang akan mengambil keuntungan ketika semuanya berpindah tangan.

"Kenapa perusahaan ayah kami masuk daftar?"

tanya Reynard.

Dimas menatap mereka berdua.

Lama.

Kemudian menjawab.

"Karena seseorang gagal merekrut mereka."

Almira merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Gagal merekrut?"

"Mereka menolak."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Karena itu berarti satu hal yang sangat sederhana.

Ayah mereka tidak berada di dalam jaringan.

Mereka berdiri melawannya.

Dan karena itulah mereka menjadi masalah.

Tepat saat kesadaran itu muncul, suara dering ponsel terdengar.

Bukan dari Reynard.

Bukan dari Almira.

Melainkan dari ponsel Dimas.

Ketiganya langsung menatap layar.

Nomor tidak dikenal.

Tidak ada nama.

Hanya satu nomor.

Dimas membeku.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

"Apa?"

tanya Almira.

Dimas menelan ludah.

Kemudian menunjukkan layar ponselnya.

Di bawah nomor tersebut terdapat pesan baru yang masuk.

Pesan yang dikirim beberapa detik lalu.

BERHENTI BERLARI.

Mereka bertiga saling menatap.

Lalu pesan kedua masuk.

KAMI SUDAH TAHU DI MANA KALIAN BERSEMBUNYI.

Suara notifikasi terdengar sekali lagi.

Pesan ketiga.

Dan kali ini membuat darah mereka serasa membeku.

Karena pesan itu berisi sebuah foto.

Foto yang diambil dari kejauhan.

Foto bangunan tempat mereka bersembunyi saat ini.

Diambil beberapa detik yang lalu.

Artinya...

Seseorang berada sangat dekat.

Jauh lebih dekat daripada yang mereka kira.

Dan seseorang itu sedang memperhatikan setiap gerakan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!