BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Sarapan Penuh Sindiran
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden putih yang sengaja dibuka setengah, menyinari wajah Riko yang perlahan mulai membuka mata. Dia mengerang pelan, merasakan pegal yang menjalar di sepanjang tulang punggungnya. Sofa kulit milik Rani memang mewah dan empuk untuk ukuran sebuah sofa, namun tetap saja tidak dirancang untuk menopang tubuh pria dewasa setinggi 180 sentimeter selama semalam suntuk.
Riko buru-buru menegakkan tubuhnya, melirik jam dinding kayu di kamar tersebut. Pukul 06.15 pagi.
Mengingat aturan nomor dua yang ditetapkan Rani semalam, Riko langsung menyambar bantal dan selimut tebal yang dia gunakan, melangkah cepat menuju lemari khusus di sudut ruangan untuk menyembunyikannya. Dia tidak boleh meninggalkan jejak apa pun sebelum asisten rumah tangga Rani masuk untuk membersihkan kamar ini. Saat menoleh ke arah ranjang berukuran king size di tengah ruangan, kasur itu sudah kosong dan rapi, menyisakan keharuman lembut parfum cendana khas Rani yang samar di udara. Wanita itu rupanya sudah bangun lebih awal darinya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kemeja kasual yang rapi, Riko melangkah turun ke lantai satu. Samar-samar, aroma gurih mentega dan kopi hitam yang pekat menusuk indra penciumannya, menuntun langkah kakinya menuju ke arah ruang makan yang menyatu dengan dapur bersih berdesain ala Amerika.
Di sana, Rani sudah duduk dengan anggun di salah satu kursi bar marmer hitam. Dia sudah tampil sangat rapi dan formal; mengenakan kemeja sutra berwarna biru dongker dengan rambut yang dicepol modern, siap untuk memimpin rapat di kantornya. Di hadapannya, terdapat sepiring roti panggang dan secangkir kopi.
"Selamat pagi, Den Riko. Ini sarapan dan kopinya sudah siap," sapa seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah yang tulus sembari meletakkan secangkir kopi hitam dan sepiring nasi goreng di hadapan Riko. Dia adalah Bi Inah, asisten rumah tangga yang sempat diceritakan Rani semalam.
Riko tersenyum tipis, mencoba bersikap seramah mungkin untuk menyembunyikan kecanggungannya. "Terima kasih, Bi. Panggil Riko saja, tidak perlu pakai 'Den'."
"Ah, tidak boleh begitu, Den. Den Riko kan sekarang sudah jadi suaminya Non Rani," sahut Bi Inah sembari terkekeh pelan sebelum berjalan kembali menuju dapur belakang, meninggalkan sepasang suami istri kontrak itu dalam keheningan yang mendadak terasa pekat.
Riko menarik kursi di hadapan Rani, mendudukinya perlahan. Dia menyesap kopi hitamnya yang terasa pahit dan kuat, sangat pas dengan suasana hatinya pagi ini. Dia melirik Rani yang sejak tadi fokus mengetik sesuatu di iPad-nya tanpa berniat menyapanya terlebih dahulu.
"Jadi, Nyonya Rani," Riko membuka suara, memecah keheningan dengan nada suara yang sengaja dibuat santai namun sarat akan sindiran. "Pagi pertama sebagai suami istri, dan kamu bahkan tidak berniat mengucapkan selamat pagi pada suamimu sendiri?"
Rani meletakkan iPad-nya ke atas meja marmer dengan ketukan pelan, lalu menatap Riko dengan mata elangnya yang tajam. "Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi, Riko. Jadwalku hari ini sangat padat. Jam sembilan nanti aku harus memimpin rapat umum pemegang saham untuk membahas kelanjutan proyek Central District yang kemarin kumenangkan dari perusahaannmu."
Mendengar kata Central District, ulu hati Riko seperti ditonjok. Itu adalah proyek yang menghancurkannya, proyek yang membuatnya harus bertekuk lutut di bawah kaki Rani. Sungguh sebuah ironi yang menyakitkan saat diingatkan kembali di meja sarapan oleh wanita yang merebutnya.
Riko mengepalkan tangannya di bawah meja, namun dia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan dingin. "Nikmatilah kemenanganmu selagi bisa, Rani. Seperti yang kukatakan semalam, aku akan membangkitkan kembali Pratama Corp. Administrasi pembatalan sita bank sudah beres, dan dalam beberapa hari ini aku akan mulai menyusun strategi baru."
Rani menatap Riko sejenak, memperhatikan gurat kelelahan namun ada binar keras kepala yang tak kunjung padam di mata pria itu. Rani kemudian membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah kartu plastik berwarna hitam dengan logo platinum yang berkilau, lalu menggesernya di atas meja hingga berhenti tepat di samping piring sarapan Riko.
Riko mengernyitkan dahi, menatap kartu itu lalu bergantian menatap wajah Rani. "Apa ini?"
"Itu kartu kredit add-on atas namaku, tanpa limit," jawab Rani santai, kembali mengambil iPad-nya. "Gunakan itu untuk keperluan pribadimu, atau jika kamu perlu membeli pakaian dan barang-barang baru agar penampilanmu tetap terlihat sebagai suami dari CEO Rani Group. Aku tidak mau media memotret suamiku memakai pakaian yang sama berulang kali."
Darah Riko seketika berdesir panas, menjalar hingga ke wajahnya. Penawaran Rani kali ini benar-benar menghantam harga dirinya sebagai seorang pria tepat di titik paling sensitif. Memberikannya cek untuk menyelamatkan perusahaan dari utang bank adalah satu hal yang bisa dia terima sebagai bentuk transaksi bisnis profesional. Namun, diberikan kartu kredit pribadi untuk belanja sehari-hari? Itu membuatnya merasa tidak lebih dari seorang pria sewaan yang dipelihara oleh wanita kaya.
Riko mengambil kartu hitam tersebut dengan dua jarinya, lalu dengan gerakan tegas, dia menjatuhkannya kembali tepat di depan tangan Rani.
"Simpan kembali kartumu, Rani," suara Riko merendah, namun getar amarah dan ketegasan di dalamnya tidak bisa disembunyikan. "Aku menerima pernikahan kontrak ini untuk menyelamatkan aset orang tuaku dan nasib karyawanku melalui transaksi yang sah di atas kertas meterai. Tapi aku tidak menandatangani kontrak untuk menjadi pria simpanan yang hidup dari belas kasihan kartu kredit istrinya."
Rani tertegun, menghentikan aktivitas jarinya di atas layar iPad. Dia menatap Riko dengan dahi yang berkerut dalam. "Jangan bodoh dan egois karena gengsimu yang tidak berguna itu, Riko. Kamu pikir berapa sisa uang di rekening pribadimu sekarang setelah semua asetmu dibekukan sementara oleh bank? Kamu bahkan mungkin kesulitan untuk sekadar membeli bensin mobilmu hari ini!"
"Itu urusanku, bukan urusanmu!" balas Riko tajam, sepasang matanya berkilat menantang mata tajam Rani. "Aku masih punya otak dan sepasang tangan yang utuh. Aku bisa mencari uang dengan caraku sendiri untuk menghidupi diriku selama satu tahun ini. Aku tidak akan pernah menyentuh sepeser pun uang pribadimu untuk keperluan perutku sendiri. Ingat aturan nomor tiga yang kamu buat semalam: urusan keuangan kita tetap terpisah!"
Rani terdiam seribu bahasa. Untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Riko berhasil membungkamnya dengan argumen harga diri yang begitu kuat. Ada rasa kesal karena pria ini menolak bantuannya, namun jauh di dalam sudut hatinya yang paling dalam, ada percikan rasa kagum yang samar melihat bagaimana Riko tetap mempertahankan martabatnya sebagai seorang pria meski sedang berada di titik paling bawah dalam hidupnya. Pria ini... benar-benar berbeda dari Hendra atau pria-pria kaya lainnya yang selalu merangkak mencari mukanya demi harta.
Rani menarik napas dalam-dalam, mengambil kartu kredit hitam itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas kerjanya dengan gerakan anggun.
"Baiklah, kalau itu maumu. Jangan salahkan aku jika nanti kamu kelaparan di luar sana," ucap Rani ketus sembari berdiri dari kursinya, menyambar tas kerja dan iPad-nya. "Aku berangkat kerja sekarang. Oh ya, satu hal lagi. Nanti malam ibuku mengundang kita untuk makan malam keluarga di restoran mewah. Aku akan mengirimkan alamatnya lewat pesan singkat. Pastikan kamu datang jam tujuh malam tepat, dan jangan terlambat sesenti pun."
Tanpa menunggu jawaban dari Riko, Rani melangkah pergi dengan ketukan sepatu hak tingginya yang menggema di koridor rumah, meninggalkan Riko yang kini menatap nasi gorengnya yang perlahan mulai mendingin. Pagi pertama telah berlalu dengan benturan ego yang sengit, dan Riko tahu, ujian sesungguhnya baru akan dimulai nanti malam saat dia harus kembali berhadapan dengan keluarga besar Rani yang penuh dengan kepalsuan dan sindiran tajam.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄