NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak yang Tersisa

Gemuruh histeris seketika memecah kesakralan Katedral Jakarta. Ratusan investor asing dari bursa London dan petinggi korporasi Narendra berdiri dari kursi mereka. Aksa tidak memedulikan kilatan lampu kamera media atau tatapan syok dari sang ayah, Tuan Bagian Wardhana.

Lengan kekarnya merengkuh tubuh lemas Valerian dengan kehati-hatian yang teramat sangat mendalam. Jemari jangkungnya dengan taktis meraba urat nadi di pergelangan tangan Valerian. Lemah, namun masih berdenyut teratur. Pandangan mata Aksa beralih ke noda merah yang merembes di karpet katedral.

Lepaskan dia, Aksa!" suara Damian menggelegar parau lewat pelantang suara, memecah ketegangan fisik di antara mereka.

Tuksedo putih tulang Damian kini tampak ternoda oleh kepanikan yang luar biasa pekat. Ego maskulinnya tercabik-cabik. Di hari pernikahan agungnya dengan Clarissa Narendra, adiknya sendiri justru mendekap erat istri pertamanya di depan seluruh kolega bisnis mereka.

Aksa perlahan menegakkan tubuh jangkungnya, menggendong Valerian dengan gaya bridal style tanpa sedikit pun niat untuk menyerahkannya pada Damian.

Pernikahan ini harus tetap berlanjut, Damian," desis Aksa dengan suara baritonnya yang berat dan bergetar oleh kemurkaan yang tertata rapi. "Kau menginginkan takhta Wardhana dan saham Narendra, bukan? Ambil semuanya.

Aksa! Bawa Valerian ke ruang medis belakang sekarang juga!" Tuan Bagian akhirnya angkat bicara, suaranya yang parau namun berwibawa memotong konfrontasi kedua putranya.

Pria tua itu menatap tajam ke arah barisan investor London yang mulai berbisik miring. "Damian, selesaikan penandatanganan aliansi sahammu dengan Clarissa sekarang. Jangan biarkan sentimen pribadi menghancurkan likuiditas kita di lantai bursa hari ini!"

Clarissa Narendra yang berdiri di samping Damian hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik buket bunga mawarnya. Ia menyentuh lengan kekar Damian, memaksa pria itu untuk kembali menghadap meja marmer altar.

Damian, fokus," bisik Clarissa dingin dan tajam. "Tandatangani dokumennya sekarang, atau ayahku akan menarik seluruh dana bio-tech dari perusahaanmu dalam hitungan menit."

Damian melirik tajam ke arah Aksa yang mulai melangkah lebar membawa tubuh Valerian menjauh dari altar, Dengan rahang yang mengetat rapat hingga guratan urat lehernya menegang, Damian meraih pena emas di atas meja marmer. Ia menumpahkan seluruh kemarahannya dalam goresan tanda tangan di atas draf aliansi baru. Sementara hatinya tertinggal pada wanita yang baru saja digendong pergi oleh adiknya.

Di ruang medis darurat katedral yang redup, hawa dingin dari pendingin ruangan terasa begitu menusuk kulit. Valerian perlahan membuka kelopak matanya. Rasa mual di perutnya sudah mereda, digantikan oleh kehangatan yang melingkupi telapak tangannya.

Saat pandangannya memfokus, wajah tegas Aksa adalah hal pertama yang ia lihat. Pria itu sedang duduk di tepi brankar, menggenggam jemari lentik Valerian.

Dave..." bisik Valerian parau, suaranya nyaris habis. "Anakku... bagaimana?"

Dia kuat, vale. Sama sepertimu," ucap Aksa dengan suara baritonnya yang melembut seutuhnya, sebuah nada suara humanis yang hanya ia tunjukkan pada wanita ini.

Ia memajukan tubuh jangkungnya, mengecup kening Valerian dengan kelembutan yang teramat dalam dan lama, menyalurkan seluruh rasa kepemilikan mutlaknya. "Dokter sudah memberikan penguat kandungan. Pendarahan tadi hanya karena kau terlalu tertekan. Anak kita aman di dalam sini."

Mendengar hal itu, Valerian mengembuskan napas lega, air mata haru menetes di sudut matanya. Namun, bayangan kemesraan panas bersama Damian semalam mendadak melintas di benaknya.

Semalam... Damian datang ke paviliun, Dave," lirih Valerian, matanya bergerak gelisah, tidak berani menatap langsung netra gelap Aksa. "Dia... dia meminta haknya sebelum pernikahan hari ini. Aku tidak bisa menolaknya karena posisi kita terkunci oleh pengawal Ayah. Aku... aku minta maaf."

Genggaman tangan Aksa pada jemari Valerian sempat mengeras selama satu detik. Sepasang netra gelapnya berkilat memancarkan jubah aura pembantaian mengingat siluet yang ia saksikan sendiri dari balik tirai balkon semalam.

Namun, melihat kondisi fisik Valerian yang masih lemah, Aksa menekan habis seluruh kegilaan itu di dalam dadanya. Ia mengubah posisinya, kini ikut naik ke atas brankar, menarik tubuh seksi Valerian ke dalam dekapan hangat dada bidangnya, membiarkan napas mereka kembali beradu dengan intim di ruang medis yang sepi itu.

Aku tahu, Vale Aku melihat semuanya semalam," bisik Aksa parau di atas rambut Valerian. Sentuhannya kali ini terasa begitu menuntut namun sarat akan asmara terlarang yang manis. "Jangan meminta maaf. Kau melakukannya untuk bertahan hidup di dalam labirin kebohongan pria-pria Wardhana. Tapi ingat satu hal..."

Aksa perlahan menangkup dagu Valerian, mendongakkan wajah cantik itu hingga mata mereka saling mengunci seutuhnya. "Malam ini Damian telah resmi menjadi milik Clarissa. Aliansi mereka sudah sah secara hukum bursa.

Aksa tidak menunggu jawaban. Ia memajukan wajah tegasnya, menyambar bibir ranum Valerian dalam sebuah ciuman yang lambat, panas, dan penuh dengan emosi kepemilikan yang menggebu-gebu.

Valerian melenguh rendah, meremas kerah jas hitam Aksa seiring dengan jari-jari jangkung pria itu yang bergerak telaten menyusuri lekuk punggungnya di atas brankar medis.

Dua jam kemudian, resepsi pernikahan mewah di aula utama katedral mulai memasuki sesi ramah tamah bersama para kolega internasional. Damian dan Clarissa berdiri di atas pelaminan megah bagai sepasang raja dan ratu korporasi yang sempurna.

Namun, senyuman di wajah Damian tampak begitu kaku dan dingin. Matanya terus-menerus melirik ke arah pintu keluar ruang medis, mengabaikan ucapan selamat dari para menteri dan pengusaha yang bersalaman dengannya.

Tuan Bagian Wardhana melangkah mendekati pelaminan dengan segelas sampanye di tangannya,

Kerja bagus, Damian," kekeh Tuan Bagian dengan nada suara yang teratur namun sarat akan dominasi. "Saham Narendra sudah mulai mengalir masuk ke rekening operasional pusat kita siang ini. Kau sudah resmi menjadi menantu mereka. Sekarang, lupakan urusan paviliun. Fokusmu adalah pasar bursa minggu depan."

Damian tidak menjawab. Gelas kristal di tangannya dicengkeram begitu kuat hingga jemarinya memutih.

Tepat pada saat itu, pintu aula samping terbuka. Aksa melangkah keluar terlebih dahulu dengan ketenangan aristokratnya yang tak tersentuh. Di belakangnya, Valerian berjalan dengan langkah yang masih agak perlahan, didampingi oleh Dania yang tampak memegang lengan kakak iparnya dengan penuh rasa khawatir.

Melihat Valerian telah kembali ke aula dengan kondisi yang tampak lebih stabil, Damian seketika mengabaikan protokol resepsinya. Ia melangkah turun dari pelaminan megah tanpa memedulikan Clarissa yang memanggil namanya dengan penuh kekesalan di depan para tamu.

Damian memotong jalur berjalan Aksa dan Valerian di tengah aula, menciptakan lingkaran ketegangan baru yang langsung menyedot perhatian Nyonya Zen dan para pengawal pusat.

Valerian," panggil Damian dengan suara baritonnya yang berat, matanya menatap tajam ke arah wajah pucat istrinya, mengabaikan keberadaan Aksa di samping wanita itu. "Kau sudah membaik? Ikut aku ke lantai atas sekarang. Ada dokumen keluarga yang harus kau tanda tangani bersama Clarissa

Aksa langsung menggeser tubuh jangkungnya, berdiri tepat di depan Valerian, memblokir pandangan mata Damian dengan benteng tubuh kekarnya seutuhnya.

Dia tidak akan pergi ke mana-mana bersamamu, Damian, Tugasnya sebagai pembawa dokumen di altar tadi sudah selesai. Dan bukankah kau harus menemani istri barumu di atas pelaminan?"

Damian mendengus sinis, matanya berkilat memancarkan riak kemurkaan yang siap meledak di tengah pesta. Ia melangkah satu kali lagi, mengikis jarak hingga napas marahnya memburu di depan wajah Aksa.

"Aksa, jangan menantang kesabaranku di depan umum. Dia masih istri sahku secara hukum negara, dan anak di rahimnya itu ... ,Damian menghentikan ucapannya membuat para tamu semakin memperhatikannya.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!