NovelToon NovelToon
Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak / Anak Kembar / Iblis
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.

Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.

Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.

Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.

Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Dewa Jatuh

Makam Seribu Nama adalah tempat paling sunyi di Alam Bawah. Tidak ada burung neraka yang berani terbang di atasnya, tidak ada api yang menyala terlalu terang, dan tidak ada iblis waras yang datang tanpa alasan. Di sana terkubur makhluk-makhluk yang namanya dihapus dari tiga alam. Mereka bukan pahlawan, bukan penjahat, hanya orang-orang yang keberadaannya terlalu merepotkan untuk diingat.

Lin Xiurong berdiri di depan gerbang makam dengan wajah dingin. Kabut putih bergulung di antara batu nisan. Suara anak kecil yang tadi terdengar kini hilang. Jejak cahaya langit masih tersisa di tanah, tetapi semakin lama semakin pudar.

“Dia ingin kita masuk,” kata Yao Tian.

“Tentu saja,” jawab Lin Xiurong. “Jika seseorang memasang jebakan, tidak sopan kalau kita tidak menghargai usahanya.”

Qi An menoleh. “Yang Mulia, ini bukan waktunya bercanda.”

“Aku tidak bercanda. Aku hanya sedang sopan.”

Song Xiaolian memejamkan mata dan merasakan arah energi. “Sandera masih hidup. Tapi jumlahnya berkurang dalam penglihatan kabut. Seolah sebagian disembunyikan di ruang lain.”

Yao Tian menyentuh dinding gerbang. Ada goresan tipis berbentuk lingkaran patah. Ia mengenali pola itu dari arsip langit, meski belum pernah melihatnya langsung.

“Ini bukan mantra prajurit langit,” katanya.

Qi An mencibir. “Akhirnya kau mengakui langit tidak selalu bersih?”

“Aku tidak pernah bilang langit bersih.”

“Wajahmu bilang begitu.”

Lin Xiurong mengangkat tangan agar mereka diam. Ia menatap goresan itu, lalu dadanya terasa sakit. Tanda di tangan Yao Tian ikut menyala.

Di balik kepalanya, sebuah nama bergerak seperti duri tua.

Mo Yan.

Ia tidak tahu dari mana nama itu muncul, tetapi begitu nama itu menyentuh pikirannya, kabut makam berubah. Batu-batu nisan bergetar, seolah orang-orang tanpa nama di bawah tanah mengenali sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.

Di tengah makam terdapat bangunan kecil yang mirip kuil runtuh. Di dalamnya ada cermin hitam setinggi manusia dewasa. Permukaannya tidak memantulkan wajah, tetapi ingatan. Dulu Juan Ling memakai cermin itu untuk memaksa tawanan melihat dosa mereka sendiri sampai gila. Lin Xiurong hampir menghancurkannya setelah mengambil takhta, tetapi Song Xiaolian memohon agar benda itu disimpan. Menurutnya, alat kejam kadang bisa dipakai untuk menemukan kebenaran.

Malam itu, Song Xiaolian terbukti benar.

Cermin hitam menyala begitu Lin Xiurong mendekat. Permukaannya beriak. Mula-mula yang terlihat hanya kabut, lalu sebuah aula lama di langit muncul. Seorang pria berjubah gelap berdiri di hadapan banyak dewa. Wajahnya tampan, tetapi matanya terlalu tenang untuk orang yang sedang diadili.

“Mo Yan,” bisik Yao Tian.

Lin Xiurong menatapnya. “Kau ingat?”

“Tidak sepenuhnya. Tapi namanya ada dalam arsip langit. Dewa sumpah yang hilang.”

Di dalam cermin, Mo Yan tersenyum kepada para dewa yang menuduhnya mencampuri takdir manusia. Ia berkata bahwa manusia terlalu lemah untuk memegang janji, dewa terlalu munafik untuk menjaga sumpah, dan iblis terlalu jujur dalam keburukan mereka. Karena itu, ia ingin membuat aturan baru: setiap cinta besar harus diuji dengan kematian.

Song Xiaolian menutup mulut. “Itu gila.”

Qi An berkata datar, “Banyak orang gila pernah menjadi dewa.”

Cermin berubah lagi. Kini terlihat seorang putri manusia, Lin Xiurong muda, berdiri di taman istana. Mo Yan memandangnya dari jauh. Tatapan itu bukan cinta lembut. Itu kepemilikan.

Lin Xiurong merasakan hawa dingin di punggung. “Dia pernah mengenalku.”

Yao Tian menatap cermin dengan wajah tegang. Di sana muncul dirinya sebagai manusia, berjalan menuju Lin Xiurong dengan senyum bahagia. Di balik pohon, Mo Yan menyentuh benang merah mereka dan menodainya dengan warna hitam.

Jeritan kecil terdengar dari dalam cermin. Gambar Mo Yan menghilang, digantikan ruangan gelap tempat puluhan pengungsi Alam Bawah terkurung di balik lingkaran cahaya putih. Anak-anak menangis. Beberapa iblis tua mencoba memecahkan dinding energi, tetapi setiap sentuhan membuat kulit mereka terbakar.

Song Xiaolian maju. “Mereka di dalam cermin?”

Yao Tian menggeleng. “Bukan. Cermin hanya menunjukkan ruang yang terhubung. Mereka disembunyikan di antara makam dan langit. Semacam ruang sela.”

Qi An menatap Yao Tian. “Bisa kau buka?”

“Bisa, jika aku menggunakan tenaga langit.”

“Dan setelah kau buka, langit bisa melacak tempat ini?”

Yao Tian diam. Itu benar.

Lin Xiurong tersenyum tipis. “Selalu ada harga.”

Ia meletakkan telapak tangan di permukaan cermin. Api merah merayap ke kaca hitam. Cermin itu menolak. Mo Yan jelas menyiapkan perangkap agar Lin Xiurong menggunakan kekuatan Phoenix. Jika ia memaksa membuka ruang sela, lukanya akan terbuka lagi.

Yao Tian menahan tangannya. “Jangan.”

Qi An langsung menggeram, tetapi kali ini Lin Xiurong tidak menarik tangan dari Yao Tian. Ia hanya menatap pria itu.

“Punya usul lebih baik?”

“Gabungkan kekuatan kita.”

“Menjijikkan.”

“Tapi mungkin berhasil.”

Qi An berkata cepat, “Aku keberatan.”

Lin Xiurong menoleh. “Kau keberatan karena berbahaya atau karena tidak suka melihatku menyentuhnya?”

“Dua-duanya.”

Song Xiaolian menyela sebelum Qi An semakin marah. “Jika gabungan tenaga dewa dan Phoenix dipakai, jejaknya bisa dibuat kacau. Langit akan sulit membaca sumbernya. Tapi ikatan kutukan mereka akan semakin kuat.”

Yao Tian menatap tanda di tangannya. “Kuatkan saja.”

Lin Xiurong menyipitkan mata. “Kau terdengar terlalu mudah menyerahkan diri pada kutukan.”

“Aku sudah terlalu lama lari dari hal yang tidak kuingat. Mungkin sekarang waktunya menghadapi.”

Lin Xiurong tidak menjawab, tetapi ia tidak menolak. Ia dan Yao Tian menempelkan telapak tangan pada cermin. Api merah dan cahaya biru mengalir bersamaan. Cermin hitam menjerit seperti makhluk hidup. Kabut makam berputar liar. Batu nisan tanpa nama mulai retak, satu per satu memuntahkan suara masa lalu.

Mereka melihat lebih banyak gambar. Mo Yan berdiri di dekat altar manusia. Ia menyamar sebagai penasihat istana, membisikkan fitnah kepada Yao Tian. Ia menyerahkan surat palsu, saksi palsu, dan racun yang membuat amarah terlihat seperti kebenaran. Lalu, setelah Lin Xiurong mati, Mo Yan mengambil satu tetes darah dari dadanya dan satu helai rambut Yao Tian.

Dari dua benda itu, ia mengikat kutukan.

“Dalam setiap kehidupan,” suara Mo Yan terdengar dari cermin, “kalian akan saling menemukan, saling mencintai, lalu saling menghancurkan. Cinta yang tidak memilihku tidak berhak bahagia.”

Lin Xiurong tertawa pelan. Tawa itu sangat dingin. “Jadi semua penderitaanku selama ini hanya karena laki-laki ditolak?”

Qi An menjawab serius, “Banyak bencana besar memang lahir dari harga diri laki-laki yang terluka.”

Bahkan dalam keadaan genting, Song Xiaolian hampir tersenyum.

Cermin akhirnya retak. Ruang sela terbuka, memperlihatkan para sandera. Yao Tian melangkah masuk bersama Song Xiaolian untuk membawa mereka keluar. Qi An menjaga pintu dengan pedang terangkat. Lin Xiurong tetap menahan cermin agar tidak menutup.

Saat pengungsi terakhir keluar, bayangan Mo Yan muncul di permukaan retakan. Wajahnya tidak sepenuhnya jelas, tetapi senyumnya terlihat.

“Rong Er,” katanya lembut.

Yao Tian membeku. Nama itu membuat amarahnya naik tanpa ia pahami.

Lin Xiurong menatap bayangan itu. “Jangan panggil aku dengan nama yang bukan hakmu.”

Mo Yan tertawa. “Hak? Aku yang membuat kalian terus bertemu. Tanpa aku, cintamu hanya akan mati sekali. Berkat aku, ia menjadi legenda.”

Lin Xiurong mengangkat api Phoenix. “Kalau begitu terima kasih. Aku akan membalas jasamu dengan membuat legendamu berakhir.”

Cermin pecah. Bayangan Mo Yan hilang, tetapi suaranya tertinggal di udara.

“Datanglah ke Sumur Janji, jika ingin tahu siapa yang benar-benar mengkhianatimu.”

Makam Seribu Nama kembali sunyi. Namun setelah malam itu, mereka tidak lagi bertarung melawan langit saja. Mereka telah menemukan jejak dewa jatuh yang mencuri takdir mereka.

Setelah keluar dari Makam Seribu Nama, Yao Tian tidak langsung kembali ke istana. Ia berhenti di tepi Sungai Darah, tempat air merah mengalir tanpa suara. Lin Xiurong membiarkannya, tetapi tidak menjauh terlalu jauh karena ikatan kutukan akan menyakiti mereka berdua. Qi An mengawasi dari belakang batu, terang-terangan tidak percaya. Song Xiaolian sibuk menenangkan para pengungsi yang baru diselamatkan.

Yao Tian menatap permukaan sungai. Bayangannya di sana tidak stabil. Kadang ia melihat wajahnya sebagai dewa, kadang sebagai manusia muda dengan pakaian istana. Di belakang bayangan itu, ia melihat Lin Xiurong manusia berdiri dengan senyum malu-malu, membawa lentera kecil. Ia ingat suara hujan, rasa hangat teh, dan perasaan percaya yang dulu begitu mudah ia berikan sebelum Mo Yan merusaknya.

“Apa yang kau lihat?” tanya Lin Xiurong.

“Diriku yang bodoh.”

Lin Xiurong berdiri di sisinya. “Itu pemandangan yang luas.”

Yao Tian menoleh, lalu tanpa sadar tersenyum tipis. “Kau selalu sepedas ini?”

“Dulu tidak. Dulu aku lebih manis.”

“Aku ingat sedikit.”

Senyum kecil di wajah Lin Xiurong hilang. “Jangan gunakan ingatan sepotong untuk memanggil masa lalu seolah kau sudah membayarnya.”

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Aku tahu. Itu masalahnya. Banyak kehancuran terjadi bukan karena orang bermaksud jahat, tetapi karena mereka yakin maksud baik cukup untuk menutup kebodohan.”

Yao Tian menerima teguran itu. Di sungai, bayangan Mo Yan muncul sekilas, tersenyum dari belakang mereka. Yao Tian langsung mengangkat pedang, tetapi bayangan itu lenyap.

Lin Xiurong melihat gerakannya. “Dia muncul?”

“Bayangannya.”

“Bagus. Berarti dia ingin kita sadar bahwa dia dekat.”

“Apakah itu bagus?”

“Musuh yang sombong lebih mudah dipancing.”

Yao Tian memandangnya. “Kau ingin memancing Mo Yan?”

Lin Xiurong menatap sungai. “Tidak. Aku ingin membuatnya percaya bahwa ia sedang memancingku.”

Di permukaan Sungai Darah, bayangan bulan merah bergetar. Untuk pertama kalinya, Yao Tian tidak hanya melihat Lin Xiurong sebagai korban kutukan atau raja iblis yang terluka. Ia melihat seorang pemain perang yang berbahaya, seseorang yang belajar dari setiap kematian dan menjadikan lukanya peta.

1
anggita
ikut kasih like👍, iklan☝aja .
Carina Yuda: Makasih kak🙏
total 1 replies
Carina Yuda
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!