"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Nama Lama yang Kembali
Pagi di The Obsidian dimulai dengan sesuatu yang asing.
Bukan alarm.
Bukan panggilan rapat.
Bukan notifikasi darurat dari kantor.
Melainkan keheningan yang terasa nyaman.
Keheningan yang beberapa minggu lalu akan terasa canggung bagi Alea dan Adrian.
Kini justru menjadi sesuatu yang mereka nikmati.
Namun seperti banyak hal indah dalam hidup, kenyamanan sering kali menjadi awal dari masalah yang lebih rumit.
Karena semakin dekat dua orang, semakin besar pula kemungkinan mereka saling menyakiti.
Alea sedang menikmati kopi paginya ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Malik.
"Bu Alea, saya rasa Anda perlu melihat ini."
Terlampir sebuah tautan berita hiburan bisnis.
Alea mengernyit.
Biasanya ia tidak pernah peduli dengan media gosip.
Namun saat membuka tautan itu, tubuhnya langsung menegang.
Di layar muncul sebuah foto.
Foto Adrian.
Dan seorang wanita.
Mereka sedang berdiri di depan sebuah galeri seni.
Wanita itu tersenyum.
Adrian terlihat berbicara kepadanya.
Judul beritanya lebih menyebalkan lagi.
Mantan Kekasih Adrian Hutama Kembali Muncul. Akankah Pernikahan Konglomerat Ini Bertahan?
Alea membaca artikel itu sekali.
Lalu dua kali.
Lalu tiga kali.
Dan semakin ia membaca, semakin tidak nyaman perasaannya.
Clarissa Arden.
Nama itu muncul beberapa kali dalam artikel.
Pelukis muda berbakat.
Mantan kekasih Adrian.
Hubungan mereka pernah berlangsung cukup lama sebelum berakhir secara diam-diam beberapa bulan sebelum pernikahan kontrak terjadi.
Dan kini Clarissa kembali muncul.
Alea meletakkan ponselnya dengan keras.
Sedikit terlalu keras.
"Kau baik-baik saja?"
Suara Adrian membuatnya menoleh.
Pria itu baru keluar dari ruang kerja.
Masih memegang tablet.
Masih terlihat tenang.
Dan entah kenapa itu membuat Alea semakin kesal.
"Tidak ada apa-apa."
jawab Alea cepat.
"Hm."
Adrian mengangguk.
Namun ia jelas tahu ada sesuatu.
Karena Alea tidak pernah menjawab sependek itu jika sedang dalam suasana hati baik.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang?"
tanya Adrian.
Alea tersenyum tipis.
Senyum yang sangat berbahaya.
"Aku hanya baru tahu kalau suamiku cukup populer di media hiburan."
Adrian berkedip.
Lalu menghela napas.
Dia langsung tahu masalahnya.
"Berita Clarissa?"
"Aku tidak menyebut nama siapa pun."
"Itu berarti benar."
"Aku tidak peduli."
"Kau jelas peduli."
"Aku tidak peduli."
"Kau sedang marah."
"Aku tidak marah."
"Kau sedang menggenggam sendok itu seperti ingin mematahkannya."
Alea langsung meletakkan sendoknya.
Adrian nyaris tertawa.
Dan itu membuat Alea semakin kesal.
Karena pria itu benar.
Ia memang terganggu.
Sangat terganggu.
Yang lebih menyebalkan, ia tidak tahu kenapa.
Bukankah ini hanya pernikahan kontrak?
Bukankah mereka sudah sepakat sejak awal?
Bukankah kehidupan pribadi Adrian bukan urusannya?
Lalu kenapa dadanya terasa sesak ketika melihat foto itu?
Kenapa ia ingin tahu kapan foto itu diambil?
Kenapa ia ingin tahu apa yang mereka bicarakan?
Kenapa ia ingin tahu apakah Clarissa masih penting bagi Adrian?
Alea membenci kenyataan bahwa ia mengetahui jawabannya.
Karena jawabannya sederhana.
Ia cemburu.
Dan Alea Corisand tidak suka cemburu.
Siang harinya.
Perasaan itu tidak membaik.
Justru semakin buruk.
Karena sepanjang rapat, pikirannya terus kembali pada foto itu.
Pada senyum Clarissa.
Pada fakta bahwa wanita itu mengenal Adrian jauh sebelum dirinya.
Mengenal sisi Adrian yang mungkin belum pernah ia lihat.
Sementara itu...
Di sisi lain kota.
Adrian sedang menghadapi masalah yang tidak kalah rumit.
Clarissa duduk di hadapannya di sebuah kafe tenang dekat galeri seni.
Wanita itu tampak lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu.
Namun tetap cantik.
Tetap lembut.
Tetap menjadi Clarissa yang dulu ia kenal.
"Aku minta maaf."
ucap Clarissa pelan.
"Aku tidak tahu wartawan akan mengambil foto itu."
"Aku tidak menyalahkanmu."
jawab Adrian.
Dan itu benar.
Ia tidak marah.
Yang membuatnya tidak nyaman adalah hal lain.
Clarissa tersenyum tipis.
"Kau berubah."
"Aku masih orang yang sama."
"Tidak."
geleng Clarissa.
"Matamu berbeda."
Adrian terdiam.
Dulu Clarissa adalah orang yang paling memahami dirinya.
Wanita itu selalu bisa membaca ekspresinya.
Bahkan ketika Adrian sendiri tidak menyadarinya.
"Kau terlihat lebih hidup sekarang."
lanjut Clarissa.
"Lebih ringan."
Adrian tidak menjawab.
"Kau mencintainya?"
tanya Clarissa tiba-tiba.
Pertanyaan itu menghantam Adrian lebih keras daripada yang ia perkirakan.
Beberapa bulan lalu.
Ia bisa menjawab dengan mudah.
Tidak.
Tentu tidak.
Pernikahan itu hanya kontrak.
Kesepakatan bisnis.
Tidak lebih.
Namun sekarang?
Entah kenapa jawaban itu tidak lagi terasa sederhana.
Bayangan Alea muncul begitu saja di kepalanya.
Alea yang marah.
Alea yang keras kepala.
Alea yang tertawa di balkon malam itu.
Alea yang tertidur di bahunya semalam.
Dan untuk pertama kalinya...
Adrian tidak bisa menjawab.
Clarissa tersenyum pahit.
Dan senyum itu mengatakan segalanya.
"Aku mengerti sekarang."
bisiknya.
"Clarissa..."
"Aku tidak marah."
Wanita itu menunduk.
"Aku hanya terlambat menyadarinya."
Adrian merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
Bukan karena Clarissa.
Melainkan karena dirinya sendiri.
Karena hingga saat ini ia masih belum berani mengakui apa yang sebenarnya terjadi.
Malamnya.
Ketika Adrian kembali ke The Obsidian.
Alea sudah berada di ruang tengah.
Membaca dokumen.
Atau setidaknya berpura-pura membaca.
Mereka saling menatap.
Hanya sesaat.
Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Biasanya mereka akan saling menyapa.
Bertukar komentar.
Atau setidaknya berdebat soal sesuatu.
Malam ini tidak.
Karena Alea tahu Adrian bertemu Clarissa.
Dan Adrian tahu Alea mengetahui hal itu.
Konflik yang paling rumit bukanlah pertengkaran.
Melainkan ketika dua orang sama-sama memendam sesuatu.
"Bagaimana harimu?"
tanya Adrian akhirnya.
"Biasa saja."
jawab Alea.
Jawaban yang terlalu singkat.
Terlalu dingin.
"Kau?"
"Juga biasa."
Padahal keduanya berbohong.
Dan mereka sama-sama tahu.
Malam itu mereka duduk di ruangan yang sama.
Namun terasa lebih jauh dibanding beberapa hari terakhir.
Alea berpura-pura membaca.
Padahal tidak satu kata pun masuk ke kepalanya.
Adrian berpura-pura bekerja.
Padahal layar tabletnya tidak berubah selama lima belas menit.
Di antara mereka.
Ada pertanyaan yang tidak terucapkan.
Apakah Clarissa masih memiliki tempat di hati Adrian?
Dan di sisi Adrian.
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah mengganggu.
Kenapa pendapat Alea tentang semua ini menjadi begitu penting baginya?
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai...
Bukan Aurora.
Bukan arsip rahasia.
Bukan penyusup.
Yang mengganggu pikiran mereka.
Melainkan hati mereka sendiri.
Dan musuh itu jauh lebih sulit dihadapi.
Karena tidak ada dokumen yang bisa menjelaskan perasaan.
Tidak ada algoritma yang bisa menghitung cinta.
Dan tidak ada kontrak yang bisa melindungi seseorang dari patah hati.
Malam semakin larut.
The Obsidian tetap tenang.
Namun di balik ketenangan itu, dua hati sedang berperang dalam diam.
Perang yang tidak diketahui siapa pun.
Bahkan oleh mereka sendiri.
Dan tanpa mereka sadari...
Ini baru permulaan.