Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Ikut ke kediaman perdana menteri
Kediaman Perdana Menteri Pertahanan.
Setelah mendapat ijin dari ayah, akhirnya aku diperbolehkan pergi menemaninya dan berhasil masuk kedalam kediaman utama perdana menteri pertahanan.
Aku tidak henti-hentinya berdecak kagum menatapi isi dari kediaman tersebut dan selama itu pula ayah selalu menasehatiku dan mengingatkanku akan posisi keluarga kita agar tidak melewati batas sebagai seorang rakyat biasa.
"Kau harus memberi hormat kepada nyonya dan juga tuan besar saat bertemu dengan mereka, jangan berani angkat wajahmu bila tidak disuruh apalagi menatap kedua mata mereka saat berbicara," bisik Ayahku mengingatkan .
"Ya Ayah, aku mengerti. Ini sudah kesekian kalinya Ayah berkata seperti ini padaku," balasku.
"Silahkan tunggu disini, saya akan mengabari tuan kalau anda sudah tiba," ucap seorang pelayan di kediaman tersebut.
"Baik," angguk Ayahku setuju.
Tak butuh waktu lama, pelayan itu kembali dan menyuruh kami masuk ke dalam.
"Salam hormat kepada perdana menteri Huang dan juga Nyonya besar," salam Ayahku tunduk memberi hormat dan diikuti olehku dibelakangnya.
"Berdirilah tabib Jiang, kita adalah temen lama jadi jangan bersikap formal seperti ini."
"Baik Tuan Huang," balas Ayahku.
Setelah pertemuan itu, kami menuju kamar sang putri.
"Tabib Jiang, sudah dua hari ini putriku muntah dan tidak mau makan. Bahkan tubuhnya lemas dan wajahnya juga pucat," ucap cemas Nyonya Huang memberitahu kondisi putrinya.
"Baiklah Nyonya, biarkan hamba memeriksanya terlebih dahulu agar tahu penyakit apa yang sedang diderita oleh putri. Mohon agar Nyonya dan Tuan memberikan hamba ijin untuk memeriksa tuan putri," ucap Ayah sopan.
"Silahkan Tabib Jiang," balas Tuan dan Nyonya perdana menteri mengijinkan.
Lalu ayah mulai melakukan pemeriksaan, mulai dari memeriksa denyut nadi, keringat, hingga nafas dan juga lain sebagainya sebelum melakukan praktik pengobatan.
Sedangkan aku hanya bisa duduk jauh dibelakang ayahku, melihatnya melakukan tugas selayaknya tabib kebanyakan.
"Ye, berikan padaku jarum akupunturnya."
"B-baik," balasku agak gugup. Karena ini pertama kalinya aku ikut ayahku mengobati anggota keluarga bangsawan dan itu pun dikediaman mewahnya.
Lalu aku kembali duduk dan kali ini aku memberanikan diri untuk duduk didekat ayah agar bisa lebih mudah membantunya.
Aku terus memperhatikan gaya pengobatan akupuntur ayahku tahap demi tahap, membakar ujung jarumnya agar steril dan menusukannya pada titik-titik tertentu, lalu melihat ujung jarum dan memberikannya kembali kepadaku.
Hingga pada akhirnya ayahku menusukkan satu jarum pada titik perut, sang putri tiba-tiba saja muntah darah.
Kami tersentak bersamaan, terkejut melihat putri mengeluarkan darah kental berwarna pekat agak hijau kehitaman. Dan aku tahu itu adalah racun yang sudah berhasil ayahku keluarkan dari tubuh putri perdana menteri.
"Tabib Jiang, apa yang terjadi kepada putriku?" tanya Nyonya Huang sedikit histeris.
"Sabar Nyonya Huang, putri sudah melewati masa kritisnya. Darah yang tadi kita lihat semua itu adalah racun," ucap Ayah menjelaskan.
"Racun? Tapi bagaimana bisa putriku keracunan?" ucap Tuan Huang heran. Walau tidak menutup kemungkinan segala sesuatu bisa terjadi, akan tetapi bagaimana? Pikirnya.
"Ya, ini adalah salah satu jenis racun makanan. Tidak berbahaya, akan tetapi bisa berakibat fatal jika tidak ditangani tepat waktu," ucap Ayah membersihkan sisa darah yang menempel pada jari-jarinya.
"Racun makanan, putriku telah diracuni. Tapi siapa yang begitu berani meracuni putriku dikediamanku sendiri!" gusar Tuan Huang melempar benda disekitarnya.
"Harap menurunkan tekanan darah anda Tuan Huang, racun jenis ini memang bekerja lambat dalam menunjukkan gejalanya. Seolah-olah penderitanya terkena penyakit biasa," jelas Ayah.
"Jadi menurutmu racun ini sudah berada didalam tubuh putriku selama beberapa waktu?" tanya Tuan Huang ingin tahu.
"Begitulah sekiranya Tuan," jawab Ayah.
Tuan Huang mengepal erat kedua tangannya dan memukul meja hingga bergetar, lalu perlahan ia kembali memikirkan kejadian beberapa hari kebelakang.
Karena seingat pria itu putrinya pernah datang ke istana untuk menghadiri undangan putri raja.
"Istana ... Ya di istana! Putriku pernah menghadiri jamuan kerajaan, tapi siapa yang begitu berani meracuni putriku! Ini sama saja menghina wajah perdana menteri!" geram Tuan Huang.
Seketika aku kembali tersadar saat mendengar kata istana, kejadian semalam membuatku mengaitkannya dengan sesuatu.
Sebegitu berbahayakah didalam istana itu?
Nyonya Huang menangis tersedu, ia merangkapkan kedua tangannya dihadapan ayahku. "Dengan segala kerendahan hati. Aku mohon sembuhkan lah putriku Tabib Jiang, aku akan memberikan apapun yang kami punya untukmu asal kau bisa menyembuhkan putriku," isaknya.
"Nyonya Huang, tolong jangan berbicara seperti ini. Sebagai seorang tabib, sudah menjadi kewajiban hamba untuk mengobati yang sakit sebagaimana janji hamba terdahulu. Jadi untuk itu anda tidak perlu khawatir, hamba akan berusaha semaksimal mungkin mengobati tuan putri," balas Ayah meyakinkan.
"Terima kasih tabib Jiang, terima kasih banyak."
"Ya, Nyonya Huang. Sekarang biarkan putri anda beristirahat, sementara itu hamba akan membuatkan obat untuk tuan putri."
"Baiklah tabib Jiang," balas Nyonya Huang.
"Ye, ikut Ayah!" ajak Ayah padaku.
"Ya Ayah," jawabku menurut.
...----------------...
Setibanya di dapur, aku membantu Ayah memilih berbagai macam tanaman herbal, lalu menggodoknya menjadi satu hingga menjadi obat siap minum.
Dan dalam disetiap pekerjaan, sesekali aku menyempatkan diri melihat wajah serius ayahku dan teringat kembali akan kata-katanya kemarin malam.
"Ayah --" ucapku tidak tuntas.
"Jangan berbicara saat bekerja, apalagi saat meramu obat. Selain agar kita bisa berkonsentrasi penuh, percikan air liur bisa saja terjatuh dalam obat dan menyebabkan obat terkontaminasi dengan zat asing. Apa kau mengerti!" sergah Ayahku.
"B-baik," jawabku terbata.
Ketegasannya membuatku bungkam, banyak sekali hal yang ingin ku tanyakan kepadanya. Tapi apa boleh buat, sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.
Setelah selesai meramu obat untuk putri perdana menteri, Ayah bergegas membawa ramuan itu kepadanya. Sedangkan aku berjalan-jalan kecil di taman, sesekali menendang kerikil yang menghalangi jalanku.
Selain menghilangkan bosan, siapa tahu aku bisa mendapatkan informasi mengenai istana dan juga jenderal utama.
Hingga suatu ketika langkahku terhenti dan pandanganku tertuju pada suatu paviliun, tidak terlalu besar tapi aku rasa aku perlu kesana.
Sementara itu, Tuan Huang memanggil Tabib Jiang agar masuk ke dalam ruang bacanya. Disana kedua pria itu, mendiskusikan sesuatu.
"Apa kau tahu jenis racun apa yang masuk ke dalam tubuh putriku?"
"Hamba rasa ini adalah racun asing dari barat," jawab tabib Jiang.
"Racun asing dari barat?"
"Benar, tidak salah lagi ini adalah racun asing dari barat. Hamba yakin dan tidak mungkin salah," ucap tabib Jiang yakin.
Karena ia tahu betul racun apa yang sedang ia hadapi saat ini, yaitu racun yang sama yang berada pada tubuh putrinya sejak ia menemukannya dulu.
"Itu berarti racun ini berasal dari dalam istana?" tanya Tuan Huang kembali.
"Sepertinya begitu," balas Tabib Jiang. "Hanya saja racun ini tidak sebahaya racun yang aku temukan pada tubuh Qiuye," sambungnya dalam hati.
Tuan Huang menghela nafasnya panjang, lalu menatap tabib Jiang lekat.
"Lima belas tahun telah berlalu, banyak sekali kejadian dalam istana semenjak kau berhenti menjadi tabib istana. Salah satunya adalah penyakit raja yang kadang-kadang muncul tanpa sebab," ucap Tuan Huang. "Aku curiga ada dalang dibalik semua kejadian ini, tapi siapa dalangnya itu?"
...Bersambung....