NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBASUH LUKA MEMAHAT JIWA

​Sinar matahari pagi menembus tirai kaca apartemen Raditya, menjatuhkan gumpalan cahaya keemasan di atas lantai porselen. Kirana duduk bersila di atas matras tipis di sudut ruang tengah, mencoba melakukan gerakan peregangan ringan yang diajarkan dokter Hendrik hari sebelumnya.

​Setiap kali ia memutar bahu atau mengangkat lengannya, kulit punggungnya yang berbalut perban terasa ditarik kencang. Rasa perihnya berdenyut konstan, mirip siraman air garam di atas luka terbuka. Kirana memejamkan mata erat-erat, giginya merapat rapat, membiarkan peluh dingin bercucuran di pelipisnya. Namun, ia tidak menurunkan tangannya. Ia menghitung dalam hati, memaksa otot-ototnya mematuhi kehendaknya.

​Raditya yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi bubur ayam hangat dan beberapa butir obat berdiri mematung di dekat meja kerja. Ia mengamati dalam diam. Ada ketangguhan tersembunyi dari cara Kirana memperlakukan tubuhnya sendiri—bukan dengan belas kasihan, melainkan dengan disiplin yang keras.

​"Jangan dipaksakan," ujar Raditya akhirnya, melangkah mendekat dan meletakkan nampan di atas meja kopi. "Hendrik bilang kalau perbanmu sampai berdarah lagi, proses pengeringan kulitmu akan melambat."

​Kirana perlahan menurunkan lengannya, lalu mengembuskan napas panjang yang bergetar. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

​"Jika aku memanjakan rasa sakit ini, aku tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari pintu itu, Raditya," sahut Kirana pelan namun tegas. Wajahnya yang tirus berangsur-angsur mulai memiliki rona kemerahan yang sehat, tidak lagi sepucat mayat seperti seminggu yang lalu.

​Ia beringsut pindah ke sofa dan meraih mangkuk bubur. Nafsu makannya telah kembali sepenuhnya. Kirana tahu, setiap kalori yang masuk ke tubuhnya adalah batu bata baru untuk membangun kembali benteng pertahanannya yang sempat runtuh.

​Raditya duduk di kursi tunggal di seberangnya, memperhatikan bagaimana Kirana menyendok makanannya dengan tenang. "Bagaimana demammu? Semalam aku dengar kamu sempat mengigau lagi."

​Kirana menghentikan sendoknya sejenak. Ingatan tentang mimpi buruk semalam—di mana ia tenggelam dalam lautan lumpur hitam sementara tangan-tangan tak terlihat menarik kakinya ke dasar—membuat dadanya sedikit sesak. Namun ia segera menguasai diri.

​"Hanya sisa-sisa trauma," jawab Kirana acuh tak acuh, lalu melanjutkan makannya. "Tapi badanku sudah tidak panas lagi. Obat dari Hendrik sangat manjur."

​"Hendrik memang dokter terbaik, tapi dia juga sempat menyarankan sesuatu padaku kemarin," kata Raditya, suaranya melembut, kehilangan sedikit nada formalitasnya yang biasa. "Dia bilang, penyembuhan luka fisikmu itu bagian yang mudah. Yang sulit adalah menyembuhkan apa yang ada di dalam kepalamu. Kamu terlalu banyak memendam, Kirana."

​Kirana meletakkan mangkuknya yang kini sudah kosong ke atas nampan. Ia menatap Raditya lurus-lurus dengan sepasang mata indahnya yang kini tak lagi bengkak.

​"Di duniaku yang dulu, Raditya... memperlihatkan kelemahan atau menangisi nasib adalah tiket gratis menuju kehancuran," ucap Kirana dingin. "Aku tidak butuh konseling spiritual. Aku hanya butuh raga ini berfungsi normal kembali. Kulitku yang koyak bisa dijahit, tulangku yang memar bisa pulih, dan itu sudah lebih dari cukup untukku."

​Mendengar jawaban tegar itu, Raditya memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia menggeser dua butir kapsul antibiotik dan segelas air putih ke hadapan Kirana.

​Setelah meminum obatnya, Kirana berjalan menuju dinding kaca besar yang menghadap langsung ke jantung kota Valerion. Dari lantai atas ini, hiruk-pikuk kota tampak begitu kerdil. Angin pagi bertiup kencang di luar, menggoyang ranting-ranting pohon di taman gantung apartemen.

​Kirana menyentuh permukaan kaca yang dingin dengan telapak tangannya. Memar-memar biru di jemarinya kini telah berubah warna menjadi kuning kecokelatan, tanda bahwa proses penyembuhan sedang berjalan di bawah kulitnya. Jiwanya mungkin telah dipenuhi goresan dan retakan yang tak akan pernah bisa hilang, namun hari ini, untuk pertama kalinya sejak pelariannya yang jahanam, Kirana merasa raganya telah utuh kembali. Dan dengan keutuhan itu, raga rapuh Kirana kini telah sepenuhnya mengeras, bersiap menghadapi badai apa pun yang menunggu di luar sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!