Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 32
Suasana rumah sakit di pinggiran kota itu tampak lengang saat senja menyapa. Di salah satu kamar bangsal kelas dua, Bu Sri terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di tangan kirinya. Sebenarnya itu hanya jarum yang ditempel plester tanpa benar-benar menusuk pembuluh vena.
Sebuah trik yang mereka bayar mahal dari seorang oknum perawat gadungan kenalan Fajar. Mereka mulai menjalankan aksinya untuk menarik perhatian Fathur.
"Ingat Bu, wajahnya harus pucat. Jangan banyak bicara, cukup rintih saja nama Fathur," bisik Fajar mengkode Dona untuk memberikan make up pucat ke wajah Bu Sri.
Hana dan Intan berdiri di sudut ruangan, wajah mereka ditekuk masam karena terpaksa mengeluarkan uang masing-masing satu juta rupiah untuk biaya sandiwara mahal ini. Namun, demi melihat Fathur kembali menjadi ATM bagi ibu mertuanya membuat mereka akhinya tak punya pilihan. Dari pada harus mengeluarkan uang setiap bulannya untuk kebutuhan Bu Sri dan Elisa.
BRAAAAK
Pintu ruangan terbuka lebar. Fathur melangkah masuk dengan wajah panik, nafasnya membu-ru. Di belakangnya, Rumi berjalan tenang tanpa panik yang berlebihan seperti Fathur.
Baru tiba di rumah dinas, Fathur di hubungi melalui nomor intan olah Fikri. Mengabarkan kalau ibunya masuk ruang sakit. Nomor kakak dan adiknya sudah Fathur blokir sehingga mereka kesulitan menghubungi Fathur.
"Ibu! Ibu kenapa? Kenapa ibu bisa di rawat di sini?" Fathur langsung menghambur ke sisi ranjang.
Dia menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin. Padahal sebelumnya Bu Sri sengaja memegang es batu saat mendengar Fathur sudah berada di parkiran rumah sakit. Ada Pak Bono dan Bu Siti yang berada di sekitar parkiran. Sehingga mereka bisa tahu kedatangan Fathur.
Bu Sri hanya mengerang pelan, matanya terpejam rapat. Aktingnya sangat bagus Bu Sri ini. Dia memang sudah cocok menjadi artis di serial ikan terbang.
"Fa... Fathur... maafkan Ibu, nak," suara Bu Sri di buat sangat lemas.
"Jangan banyak bicara dulu Bu," Fathur tak tega apalagi melihat napas Bu Sri di buat megap-megap.
"Mas Fajar, apa kata dokter?" Fathur menoleh ke arah kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
Fathur benar-benar tertipu dengan akting Bu Sri. Apalagi akting mereka di lakukan di rumah sakit. Sehingga tak ada keraguan dan kecurigaan di hati dan pikiran Fathur. Fajar menghela napas panjang, memasang wajah paling sedih yang dia punya.
"Kata dokter, Ibu terkena serangan jantung ringan karena tensinya meninggi. Pemicunya adalah banyak pikiran dan tekanan batin yang di rasakan. Ibu kepikiran terus soal ucapan Rumi di depan rumah dinas tempo hari. Ibu merasa dibuang oleh anak laki-laki kesayangannya sendiri. Kamu lihat sendiri akibatnya Fathur! Baru punya sedikit uang saja kamu sudah begini! Membuat ibu tersik-sa lahir batinnya!" Fajar bicara panjang lebar.
"Bukan cuma itu, Mas. Ibu sampai jatuh pingsan berkali-kali dan kepalanya terbentur. Pinggangnya juga sama sampai kesulitan berjalan. semua itu karena ibu bingung mau bayar cicilan motor Elisa pakai apa. Belum lagi uang makan sehari-hari. Ibu merasa Mas Fathur sudah berubah sejak..." ia melirik Rumi dengan tatapan sinis.
Rumi terlihat hanya diam saja. Dia sudah tahu akhirnya akan kemana. Dia yang akan di salahkan seperti biasanya, sekarang tinggal melihat bagaimana keputusan Fathur.
Fathur menunduk, bahunya bergetar. Rasa bersalah mulai menggerogoti logikanya. Ia menoleh ke arah Rumi yang masih berdiri diam di dekat pintu. Dia bingung antara ibu dan istrinya. Apa mungkin keputusannya terlalu keras kepada ibunya.
"Kenapa harus menyalahkan Mas Fathur? Anak ibu bukan hanya Mas Fathur kan? Ada dua anak lelaki lainnya yang memiliki pekerjaan yang bagus dengan gaji besar. Bahkan ada dua menantu yang sangat hebat dan selalu ibu banggakan karena memiliki uang banyak. Lagi pula memangnya gaji Mas Fathur sebagai wakil manager itu sudah turun? Jelas belum lah. Gaji baru turun bulan depan. Kenapa rasanya semua orang heboh mempermasalahkan hal itu? Aku saja yang selama ini kesusahan makan bergizi setiap hari karena harus menutupi semua kebutuhan ibu mertua dan adik iparku nggak pernah berisik!" Rumi tak tahan lagi.
Dia tak peduli kalau Fathur marah padanya. Atau mungkin malah akan kembali ke stelan awal. Dia sudah tak takut jadi janda. Dari pada hidup bersama dengan orang yang tak bisa dia percaya sama sekali ucapannya.
"Rumi! Berani sekali kamu bicara seperti itu di saat seperti ini, Hah!" emosi Hana.
"Kenapa? Aku membicarakan kenyataan! Selama ini kalian hanya omong besar! Ngaku orang kaya memiliki segalanya, tapi patungan untuk biaya bulanan saja tidak mau,"
"Lihatlah Fathur! istri kamu memang sekarang sudah berubah! Kau harus mendidik dia dengan baik! Dia benar-benar sudah tak sopan dan kurang ajar!" Fikri yang menahan kesal dengan ucapan Arumi sedari tadi.
Rumi tidak membalas dengan amarah. Ia melangkah mendekat, menatap peralatan medis yang tampak janggal di mata tajamnya. Fathur hanya terdiam sedari tadi tak bisa memilih. Dia juga sudah berjanji kepada Rumi. Namun di depannya sang ibu sedang dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Tapi bukankah aneh, Ibu didiagnosa jantung tapi tidak dipasang monitor detak jantung? Dan bau di ruangan ini... ini bukan bau obat rumah sakit, ini bau minyak angin yang menyengat untuk menutupi sesuatu."
"Cukup, Rumi!" bentak Hana.
"Mertuamu sudah sekarat begini, kamu masih sempat-sempatnya memfit-nah? Dasar wanita tidak punya hati! Kamu mau Ibu ma-ti baru kamu puas menguasai harta Fathur sendirian?"
Bu Sri tiba-tiba terbatuk hebat, badannya kejang-kejang kecil.
"Bu..." panggil Fathur mendekat begitupun dengan yang lain pura-pura panik.
"Fathur... kalau Ibu harus pergi sekarang... Ibu cuma mau kamu janji satu hal... lepaskan pembawa si-al ini dari hidupmu... Ibu tidak tenang kalau kamu masih bersamanya. Elisa, siapa yang akan menjaga Elisa kalau ibu perg... Uhuuuk ..." suara Bu Sri di buat parau.
Fathur berdiri tegak, matanya menatap Rumi dengan pandangan yang sulit diartikan. Di satu sisi, ada ibunya yang tampak meregang nyawa, di sisi lain ada istri dan calon anaknya.
"Mas..." Rumi mencoba meraih tangan istrinya, namun Fathur menghindar.
"Aku akan antar kamu pulang, tapi aku akan kembali lagi ke sini untuk mengurus Ibu. Dan soal ucapan Ibu tadi... Kita bicarakan lagi nanti di rumah setelah keadaan tenang." Fathur menggantung kalimatnya, membuat Bu Sri dan menantu lainnya menahan napas penuh harap.
Seringai tipis hampir saja lolos dari bibir Bu Sri jika ia tidak segera menahannya. Rencana mereka berhasil setengah jalan. Keraguan telah tertanam di hati Fathur, dan bagi mereka, itu adalah awal dari kembalinya aliran uang yang mereka dambakan.
Melihat Fathur yang mulai termakan provokasi, nyali Bu Sri semakin menjadi. Dia mulai meracau, suaranya sengaja dibuat parau dan terputus-putus, persis seperti orang yang sedang menjemput ajal.
"Fathur... Ibu merasa dingin sekali... Mungkin ini saatnya Ibu menyusul Bapakmu," rintih Bu Sri.
"Ibu ikhlas, asal kamu kembali jadi anak Ibu yang dulu. Jangan jadi anak durhaka karena memilih wanita yang tak memiliki perasaan itu! Uhuuuk... Uhuuuk... " napasnya di buat tersengal.
"Kamu antarkan dia saja Fathur! Keberadaan dia di sini malah akan memperburuk keadaan Ibu! Aku tak akan memaafkan kamu kalau sampai terjadi sesuatu kepada Ibu!" kesal Fajar melihat Fathur masih bimbang.
Rumi tidak bergeming. Alih-alih keluar dengan tangisan, ia justru melangkah maju hingga tepat berada di samping brankar Bu Sri. Matanya menatap lekat pada selang infus yang menggantung.
"Mas Fathur, kalau Ibu memang sakit parah karena jantung parah, kenapa tidak ada kabel EKG yang menempel di dadanya? Dan lihat selang infus ini..." Rumi dengan cepat menarik ujung selang yang ternyata hanya diselipkan di bawah bantal, bukan menusuk kulit.
"Astaga! Rumi, apa-apaan kamu?! Kamu mau membunuh Ibu?!" teriak Intan histeris, mencoba merebut selang itu.
"RUMIIII ..." bentak Fathur.
lihat selanjutnya ....
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒