Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Bekerja
Malam itu, deretan tenda pengungsian berdiri kokoh di bagian timur Desa Lino. Cahaya obor berkelap-kelip tertiup angin, menciptakan bayangan panjang yang menari di tanah yang retak dan kotor.
Para prajurit bekerja tanpa henti. Mereka mengangkat tubuh-tubuh rakyat yang tak sadarkan diri, memindahkan mereka ke dalam tenda dengan hati-hati.
Di tangan mereka, sarung tangan elastis berwarna pucat tampak asing. Beberapa prajurit sempat saling pandang, heran dengan benda itu, namun tak satu pun berani mempertanyakan.
“Kenapa harus pakai ini?” bisik salah satu prajurit pelan.
“Perintah tabib itu,” jawab yang lain singkat. “Kalau bisa menyelamatkan nyawa, pakai saja.”
Di salah satu tenda utama, suasana jauh lebih sunyi. Natalia berlutut di samping seorang pria tua yang napasnya tinggal satu-satu.
Wajahnya tertutup masker N95, menyisakan sepasang mata yang tajam dan fokus. Tangannya yang terlatih memegang sebuah botol kecil transparan.
Dengan gerakan cepat, ia menyuntikkan jarum ke vena pria itu. Darah perlahan mengalir masuk ke dalam botol.
Warna darah itu membuatnya mengerutkan kening. Merah gelap, hampir kehitaman, jauh dari warna normal.
“Nona!” suara Wulan terdengar gemetar dari belakang.
Ia berdiri tiga langkah dari Natalia, membawa nampan kayu berisi air dan kain bersih. Tatapannya penuh kecemasan.
“Apakah ada harapan?” tanyanya dengan suara kecil.
Natalia menarik jarum itu dengan hati-hati. Ia berdiri perlahan, matanya tak lepas dari botol kecil di tangannya.
“Aku harus memastikannya dulu, Wulan,” jawabnya tenang. “Kita belum bisa menyimpulkan apa pun.”
Wulan menggigit bibirnya. “Baik, Nona.”
Natalia menutup botol itu rapat-rapat. Ia kemudian berbalik menuju pintu tenda. “Bantu aku kembali ke tenda khusus.”
Mereka berjalan melewati deretan tenda yang dipenuhi rintihan. Suara batuk, erangan, dan tangisan bercampur menjadi satu, menekan hati siapa pun yang mendengarnya.
Wulan beberapa kali menahan napas, matanya berkaca-kaca. “Nona … mereka … semakin banyak.”
“Aku tahu,” jawab Natalia singkat. “Itulah kenapa kita tidak boleh salah langkah.”
Langkah mereka akhirnya terhenti di depan sebuah tenda besar yang terisolasi. Tenda itu dijaga ketat dan terpisah dari yang lain.
Namun sebelum mereka masuk, dua sosok berdiri menghadang.
Pangeran Kedua, Yuhuang Tian, tampak berdiri tegak dengan jubah biru dongkernya yang kini kusam oleh debu. Di sampingnya, Wu Reno berdiri dengan tangan di gagang pedangnya.
“Nona Natalia,” panggil sang pangeran.
Suaranya berat, namun ada ketegangan yang terselip di dalamnya. Matanya menatap langsung ke arah botol di tangan Natalia.
“Sudah sepuluh orang lagi tumbang sore ini,” lanjutnya. “Apakah ramuan herba yang Anda racik tadi pagi tidak bekerja?”
Natalia berhenti sejenak. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap lurus ke depan.
“Penyakit ini bukan sekadar ketidakseimbangan energi atau pengaruh cuaca, Pangeran,” ucapnya akhirnya. “Ini adalah musuh yang tak terlihat.”
Wu Reno mengerutkan kening. “Maksudmu?”
Natalia menoleh sedikit. “Aku butuh waktu untuk memastikannya.”
“Waktu adalah hal yang tidak kita miliki!” potong Wu Reno dengan nada tegas. “Rakyat mulai panik. Mereka menyebut ini kutukan.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Jika tidak ada perubahan, mereka akan membakar desa ini untuk menghentikan penyebaran.”
Wulan menegang mendengar itu. “Membakar … seluruh desa?”
Natalia tetap tenang, tatapannya tetap dingin. “Maka biarkan aku bekerja tanpa gangguan,” katanya.
Ia menatap langsung ke arah Wu Reno, lalu beralih pada sang pangeran. “Jika kalian ingin menyelamatkan mereka, percayakan ini padaku.”
Situasi berubah hening.
Yuhuang Tian tidak langsung menjawab. Matanya meneliti wajah Natalia, seolah mencoba membaca isi pikirannya.
“Apa yang kau butuhkan?” tanyanya akhirnya.
Natalia menjawab tanpa ragu. “Ruang steril, tanpa gangguan, dan waktu.”
Wu Reno tampak ingin menyela, namun sang pangeran mengangkat tangan, menghentikannya.
“Baik,” ucap Yuhuang Tian singkat.
Natalia mengangguk tipis. Ia lalu menoleh pada Wulan. “Wulan, jaga pintu tenda.”
Wulan langsung berdiri tegap. “Baik, Nona.”
“Siapa pun yang datang, bahkan Pangeran sekalipun, tidak boleh masuk tanpa izinku,” lanjut Natalia.
Wu Reno langsung bereaksi. “Apa maksudmu—”
“Jika ada yang memaksa masuk,” potong Natalia datar, “nyawa seluruh desa ini menjadi taruhannya.”
Ucapan itu membuat suasana membeku.
Wulan menelan ludah, namun tetap mengangguk mantap. “Saya mengerti.”
Yuhuang Tian tidak tersinggung. Ia justru menatap Natalia lebih dalam. “Lakukan apa yang harus kau lakukan,” katanya pelan.
Natalia tidak menjawab lagi. Ia langsung masuk ke dalam tenda.
Begitu tirai tertutup, dunia luar seakan terputus. Suasana di dalam tenda gelap, hanya diterangi satu lampu minyak kecil.
Namun Natalia tidak menuju meja kayu biasa. Langkahnya lurus menuju sebuah lemari tua di sudut ruangan.
Wulan yang berdiri di luar hanya bisa mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa cemas. Ia tahu apa yang akan dilakukan tuannya.
Di dalam, Natalia berdiri di depan lemari itu. Ukiran-ukiran kuno di permukaannya tampak kecil dalam cahaya redup.
Ia mengangkat tangannya perlahan. Telapak tangannya menempel pada salah satu ukiran yang hampir tak terlihat.
“Semoga belum terlambat,” gumamnya.
Udara di sekitarnya mendesis pelan. Cahaya putih tipis mulai muncul, melingkupi tubuhnya.
Detik berikutnya, cahaya itu semakin terang. Tubuh Natalia perlahan menghilang, seolah ditelan oleh ruang itu sendiri. Dan dalam sekejap, ia lenyap dari dunia kuno tersebut.
Natalia mengembuskan napas lega begitu kakinya menyentuh lantai porselen yang dingin dan steril. Suara dengung mesin laboratorium yang halus menyambutnya, menenangkan sekaligus mengingatkannya pada dunia asal ibunya.
“Oksigen murni,” gumamnya pelan. Ia menghirup dalam-dalam, mengusir sisa bau busuk dan kematian dari Desa Lino.
Ia segera melepaskan jubah kunonya. Di baliknya, pakaian laboratorium modern membalut tubuhnya dengan rapi, seolah ia kembali menjadi dirinya yang sesungguhnya.
Tanpa membuang waktu, Natalia berjalan menuju meja utama. Ia meletakkan sampel darah ke dalam alat Automatic Blood Analyzer.
Tangannya bergerak cepat di atas layar sentuh hologram yang melayang. “Tampilkan struktur patogen.”
Cahaya biru menyala. Dalam sekejap, tampilan mikroskopis memenuhi ruang di depannya.
Bakteri berbentuk batang tampak bergerak liar. Mereka menyerang sel darah merah, menghancurkannya satu per satu.
Natalia menyipitkan mata. “Agresif sekali.”
Ia memperbesar tampilan. Dari tubuh bakteri itu, zat berwarna kehijauan dilepaskan dan menyebar ke seluruh sistem.
“Toksin,” gumamnya. “Inilah yang merusak organ.” Ia bersandar sejenak, menarik napas pelan. “Jadi ini penyebab warna kulit kehijauan itu.”
Matanya semakin tajam. “Bukan sekadar pes biasa.” Ia mengetik beberapa perintah lagi. Data demi data muncul, saling terhubung.
“Ini adalah mutasi Yersinia pestis dengan infeksi Leptospirosis akut,” lanjutnya.
Natalia terdiam beberapa detik. Wajahnya sedikit mengeras. “Ibu benar,” bisiknya. “Sejarah bisa berubah jika patogen ini muncul lebih awal.”
Ia mengepalkan tangannya. “Dan sekarang, aku yang harus menghentikannya.”
Tanpa ragu, Natalia bergegas menuju rak penyimpanan. Deretan reagen kimia tersusun rapi, berkilau di bawah cahaya putih laboratorium.
Ia mengambil beberapa botol sekaligus. “Antibiotik spektrum luas dan antitoksin hati.”
Tangannya bergerak lincah, mencampur cairan dalam tabung reaksi. Setiap tetes dihitung dengan tenang.
Di bawah mikroskop, ia memantau reaksi yang terjadi. Warna larutan berubah perlahan, dari bening menjadi kehijauan, lalu kembali jernih.
Di zaman ini, orang-orang mengira ia adalah dewi yang memiliki kekuatan penyembuh ajaib, padahal ia hanya menggunakan sains yang mendahului zamannya selama seribu tahun.
Ia mulai mencampur bahan-bahan di bawah mikroskop, memantau reaksi kimia dalam tabung reaksi. “Sedikit lagi, aku butuh penstabil agar obat ini bisa bekerja pada tubuh manusia yang kekurangan nutrisi seperti penduduk desa itu.”
aq juga mau dunk pangeran tiran di cintai secara ugal ugalam🤭🫶😘