Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
Malam di desa Morana terasa sunyi. Hanya suara serangga dan embusan angin yang terdengar pelan di antara pepohonan.
Mela berdiri di teras rumahnya. Tatapannya lurus ke langit malam. Bulan terlihat terang namun, isi kepalanya justru gelap dan penuh sesak.
Hari ini, masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur, kembali datang mengetuk hidupnya.
Rahman, Dyah dan putrinya, Lina.
Nama-nama itu dulu adalah dunianya. Dan kini, menjadi sumber luka yang nyaris menghancurkannya.
Mela menghela napas panjang.
Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa perlahan menyembuhkan dirinya sendiri. Belajar tertawa lagi, menata hidup dan, belajar menerima kenyataan.
Namun hari ini, semua luka lama itu seperti kembali dibuka paksa. Tentang pengkhianatan, rasa sakit dan tentang malam-malam saat ia menangis sendirian.
Dan yang paling membuatnya sesak adalah, bagaimana mereka datang dengan mudahnya meminta maaf, meminta untuk di beri kesempatan lagi, seolah semua luka yang mereka torehkan bisa hilang begitu saja.
Mela menutup mata sejenak. Meski hatinya kembali sakit, setidaknya ia merasa lega karena hatinya tidak lagi goyah.
Bahkan, saat melihat Lina, anak yang dulu paling ia cintai, kini hanya mampu membuat dadanya terasa kosong.
Bukan karena benci tapi, hatinya seolah mati rasa.
Mela membuka mata perlahan. Tatapannya kembali kosong.
Ia tahu, semua ini belum selesai. Meski ia berhasil mengusir mereka tapi, mereka tidak akan menyerah. Rahman pasti akan datang lagi. Dan kali ini, ia harus benar-benar kuat menghadapi semuanya.
Mela menghela napas. Tatapannya turun, saat suara motor terdengar mendekat. Dan tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibirnya saat Dino memarkirkan motor di depan rumah. Lalu, berjalan menghampirinya.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Dino basa-basi
Mela tersenyum tipis. "Karena aku tahu, kamu akan ke sini."
Dino langsung tertegun. Wajahnya sedikit salah tingkah.
"Yah... ketahuan, ya?"
Mela tertawa kecil.
Dino akhirnya duduk di kursi kayu di teras. Sedangkan Mela masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa dua gelas minuman hangat dan camilan sederhana.
"Aku datang buat memastikan Rahman nggak ganggu kamu lagi," ucap Dino.
Mela memiringkan kepalanya, menatap Dino dengan lembut.
"Hanya itu?"
Dino terdiam lalu, tertawa kecil merasa gugup.
"Sebenarnya... nggak juga, sih." Ia menunduk sesaat sebelum kembali menatap Mela. "Aku takut."
Mela sedikit mengernyit. "Takut apa?"
Dino mengepalkan tangannya erat. "Aku takut, kamu luluh dan kembali sama dia."
Mela langsung terdiam. Perlahan, ia menggenggam tangan Dino.
"Itu nggak akan terjadi."
Dino tersenyum tipis. Ia tahu, Mela tidak akan semudah itu goyah. Namun, tetap saja rasa khawatir itu belum hilang.
"Aku tahu tapi, aku tetap takut, Mel."
Mela menatapnya dalam. "Kamu nggak percaya sama aku?"
"Bukan begitu." Dino menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Lalu, ia menatap Mela lurus. "Ayo kita menikah!"
Mela langsung tertegun.
"Kamu sudah menerima lamaranku. Aku juga sanggup nunggu sampai kamu siap." Dino menunduk pelan, suaranya mulai melemah. "Tapi sekarang... Aku takut kehilangan kamu untuk kedua kalinya."
Mela membeku. Kalimat itu, terlalu tulus. Dan, justru karena itu, dadanya terasa sesak. Bukan karena ragu atau karena ia tidak mencintai Dino. Tapi, karena pria itu terlalu baik untuknya.
Sejak bersama Dino, ia kembali merasakan kebahagiaan yang dulu hilang. Merasa dihargai, diperhatikan, dicintai dengan tulus. Apalagi, setelah tahu kalau Dino menyukainya sejak dulu, hatinya semakin goyah.
Namun tetap saja, statusnya sebagai janda, masa lalunya, lukanya, membuatnya merasa tidak pantas untuk Dino. Meski, ia tidak rela kehilangan pria itu.
"Mel!" Dino menggenggam tangan Mela lebih erat. "Kenapa diam? Kamu mau, kan?"
Mela menunduk. "Dino, aku... "
"Kenapa?" tanya Dino mulai panik. Tatapannya berubah cemas. "Apa kamu masih mencintai Rahman?"
"Tentu saja tidak!" jawab Mela cepat, tanpa ragu.
"Lalu, apa?" Dino mendesak lagi. "Apa karena aku nggak kaya?"
Mela langsung menutup mulut Dino dengan tangannya lalu, menggeleng cepat.
"Aku nggak peduli kamu kaya atau tidak."
Dino perlahan tersenyum. Ia menggenggam tangan Mela dan menciumnya lembut.
"Aku tahu, kamu bukan wanita seperti itu. Tapi, kalau kamu suka pria kaya, aku bisa... "
"TIDAK!" Mela langsung memotong cepat. "Aku nggak suka pria kaya. Aku lebih suka kamu yang sekarang," lanjut Mela.
Dino terdiam sesaat. Senyum di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan tatapan gugup yang sulit disembunyikan.
"Kamu nggak suka kalau aku kaya?"
Mela menggeleng pelan. "Bukan nggak suka. Tapi, kehidupan waktu aku menikah dengan pria kaya, membuat aku takut," lirih Mela.
"Pria yang punya banyak uang, cenderung mencari kesenangan di luar."
"Ta-tapi, tidak semua pria kaya seperti itu, Mel."
"Itu memang benar." Mela menatap Dino. "Aku hanya takut saja, saat kamu kaya, pasti banyak wanita yang mencoba mendekati mu, atau mungkin... Justru kamu yang ingin coba-coba."
Dino tertawa hambar. "Aku bukan pria seperti itu, Mel."
"Makanya, aku suka kamu yang sekarang. Lagipula, usahamu dan usaha ku tidak akan membuat hidup kita kekurangan, kan?"
"I-iya, itu benar," lirih Dino. Pria itu langsung salah tingkah. Jemarinya yang semula tenang kini mengetuk-ngetuk meja tanpa sadar. Tenggorokannya terasa kering, sementara dadanya mulai sesak oleh rasa cemas.
Mela mengeryit heran. "Kamu kenapa?" tanyanya.
"Ti-tidak, itu... Ma-malam ini lumayan dingin, ya," ucap Dino.
Mela mengangguk. "Iya," lirihnya. "Oh... Di minum dulu, teh nya. Mumpung masih hangat."
Dino mengangguk. Ia menyeruput teh nya, sebelum meletakkan kembali di meja. Lalu, ia tersenyum tipis meski terasa dipaksakan. Namun, di balik senyum itu, pikirannya mulai kacau, membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika Mela tahu yang sebenarnya.
dan cpt nkh mrk
biar dia pergi jauh din🤣🤣
jadi Mela berubah pikiran?🤣🤣🤣
hayoooo...m
kau cp
cari aja si Camilla, loe bangga banget kan punya mama baru macam si Camilla??
Bangkeeee banget si Lina nih, gak tau diri bangett, Gw harap loe punya laki kayak bapakmu nanti, biar tau rasanya jadi Mela gimana 🙎