NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:218.6k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Bruk!

"Mas..."

Yuda tersenyum menghimpit tubuh Ning ke tembok. "Maaf, Mas terlalu kasar ya?"

Pipi Ning memerah, "Mas... Ini di dapur..." bisiknya lirih. "Kita harusnya... Pindah ke kamar..." tangan Ning merangkul lebih dalam leher suaminya.

Yuda tertawa kecil, "Enggak sempat. Mas udah enggak tahan..."

Yuda semakin menekan tubuhnya, tangan menahan kaki Ning di atas pinggang. Bibirnya sudah mencium Ning dengan rakusnya.

"Aaahhh~" Ning memekik kecil, "ini enggak pantas di dapur..."

Senyum Yuda semakin melebar, walau bibir Ning seperti menolak, tapi kedutan di bawah sana seperti meminta lebih.

"Setelah ini kita coba di ruang tamu..."

Suara jeritan Ning terdengar indah, membuat Yuda semakin dalam menyatukan tubuhnya...

****

Pagi itu Ning terbangun dengan kaget.

“Ya Allah—” ia duduk setengah melonjak, menoleh ke jam dinding. Angkanya membuat jantungnya jatuh ke perut. “Aku kesiangan!”

Ia mengusap wajah, merutuki diri sendiri. Lalu, seperti baru sadar sepenuhnya, Ning terdiam. Seprai terasa hangat. Bantal di sisi kanan masih menyisakan lekuk kepala Yuda—tapi orangnya sudah tak ada.

“Mas?” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ning menghela napas panjang, menutup mata sejenak. Ingatan semalam datang seperti gelombang—bukan rinciannya, hanya rasa lelah manis yang membuat tubuhnya ingin bersembunyi lebih lama di kasur. Ia menggeleng kecil, bibirnya mengerut kesal.

“Mas Yuda…” gumamnya lirih, setengah menyalahkan. “Bikin aku ketiduran begini.”

Ia bangkit perlahan, meraih kruk, melangkah keluar kamar. Begitu sampai ruang tengah, langkahnya terhenti.

Rumah itu rapi. Terlalu rapi untuk ukuran pagi yang biasanya kacau. Piring-piring sudah bersih dan tersusun. Lantai disapu. Meja makan tertata, dengan piring berisi nasi hangat, telur dadar, tumis sayur, dan segelas teh manis mengepul pelan.

Di tengah meja, selembar kertas kecil terlipat rapi.

Ning mendekat, jantungnya berdebar aneh. Ia membuka memo itu.

Ning,

Mas berangkat dulu. Semua udah beres Ratuku. Sarapan jangan diskip, ya.

Kalau kangen, bilang. Mas akan langsung meluncur.

—Mas Yuda

Ning menutup mulutnya dengan tangan. Pipi dan telinganya memanas bersamaan.

“Ya Allah…” bisiknya, malu sendiri. Ia menatap sekeliling, seolah Yuda masih mengintip dari balik pintu. “Dia selalu begini... Kenapa sih Mas baik banget… Sementara Ning belum bisa balas apa-apa...”

Ia duduk, menyentuh piring, lalu tersenyum kecil sambil menggeleng. Ada rasa bersalah yang lembut, karena terlambat bangun, karena tak sempat mencium tangan suaminya, bercampur hangat yang membuat dadanya lapang.

“Terima kasih,” ucapnya pada ruang yang sunyi. "Ning nggak tau gimana cara balas kebaikan Mas."

****

Di kantor, Ridho berjalan menyusuri lorong dengan berkas di tangan. Langkahnya mantap, wajahnya datar, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi kepalanya tidak.

Ning.

Nama itu muncul begitu saja, ringan tapi menghantam. Ridho berhenti sebentar, menelan ludah. “Kenapa lagi…” gumamnya.

Ia melangkah lagi... dan...

Bruk.

“Maaf...” suara perempuan terdengar kaget.

Ridho refleks membungkuk, memunguti berkas dan map yang jatuh berserakan. Saat jari-jarinya menyentuh kertas, kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya bergetar.

Ning tertawa kecil di bawah lampu taman.

Ning menatapnya dengan mata teduh.

Ning... "Mas Ridho..." menyebut namanya pelan.

“Ning…” Ridho terhuyung.

Ia memegang pelipis, napasnya memburu. Potongan-potongan itu menyatu, bukan sebagai bayangan asing, tapi kenangan yang kembali.

Bukan Dewi.

Wanita yang ia cintai… Ning.

“Mas?” rekan kerjanya menahan lengannya. “Mas Ridho pucat. Mas kenapa?”

“Kepala… ku... pusing,” jawabnya parau.

Tak lama, Ridho sudah terbaring di klinik kantor. Perawat memeriksa tekanan darah. Dunia terasa jauh, tapi pikirannya justru tajam... terlalu tajam.

Ning...

Bayangan di rumah sakit waktu itu melintas.

"Siapa?"

"Suami Ning..."

Ridho menutup matanya... Air mata keluar mengalir dari sudutnya. Lalu bayangan itu bertumpuk dengan Dewi.

Kebohongan yang dia buat.

Pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan, saling tumpang tindih dengan bayangan Ning. Dadanya bergetar oleh marah yang dingin. Ridho memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Tenang. Ia memilih diam.

Dewi datang dengan wajah cemas yang dipoles rapi. “Mas!” Ia mendekat. “Kenapa? Kata orang Mas pingsan?”

Ridho diam. Tak membuka mata sama sekali. "Suster, kenapa ini? Kenapa suami saya belum sadar? Apa sedari tadi begini?"

"Tadi sudah sadar, Mbak. Cuma pasien butuh istirahat dulu."

Dewi menghela napas, tapi cemasnya belum reda. "Ya ampun, Mas. Kamu kenapa lagi?" bisiknya.

Dewi meraih tangan suaminya. Ridho menariknya perlahan, nyaris tak terlihat, tapi jelas terasa.

“Mas?” Dewi mengernyit. “Kamu udah sadar?”

Ridho hanya mengangguk pelan. Untuk mengeluarkan suara saja dia enggan, apalagi melihat wajah Dewi. Mungkin jika dia membuka mata, dia akan langsung meledak.

"Suster, suami saya sepertinya udah sadar."

"Biarkan pasien istirahat dulu, ya, Mbak." Suster itu memeriksa sebentar.

Dewi mengangguk. Tapi, pikiran dan hatinya tak tenang. Banyak rasa khawatir dan cemasnya memenuhi dada.

Sore hari datang.

"Mas, biar Dewi aja yang nyetir kalau Mas masih pusing," tawar Dewi yang berjalan menyesuaikan langkah Ridho.

Ridho tak menjawab. Dalam hatinya, jijik itu tumbuh, bukan pada tubuh Dewi, tapi pada dusta yang menyelubungi semuanya.

"Mas..."

Ridho masuk ke mobil, menutup cepat dan menguncinya. Sampai Dewi tak bisa masuk.

"Mas! Aku belum masuk!" seru Dewi sambil mengetuk pintu. "Mas!"

Tidak! Ridho kini bahkan merasa jijik dengan semuanya. Suara Dewi, tubuh Dewi, bau Dewi... Semua... dia bahkan merasa jijik sudah bercinta dengan Dewi semalam...

"Mas!" teriak Dewi yang kini ditinggalkan begitu saja di halaman kantor. "Ya Allah, kenapa Mas Ridho malah ninggalin aku sih?"

Malam turun pelan. Di kamar, Dewi menutup pintu, memutar badan, menatap Ridho yang duduk di tepi ranjang. Dia buang jauh rasa marahnya tadi sore karena ditinggalkan Ridho. Dia harus tau kenapa sikap Ridho jadi berubah dingin...

“Mas,” katanya hati-hati. "Mas apa yang terjadi? Mas marah sama Dewi? Apa salah Dewi, Mas?"

Ridho menatapnya. Lama. Tatapan itu membuat Dewi menggigit bibir.

“Mas ingat sesuatu?” tanyanya lagi setelah menelan ludahnya dengan sangat susah.

“Kenapa nanya?” tanya Ridho tenang, terlalu tenang.

“Enggak apa-apa,” Dewi tersenyum tipis. “Aku cuma takut Mas kepikiran yang aneh-aneh.”

Ridho tertawa pendek, pahit. “Yang aneh-aneh?”

Dewi mendekat, mencoba menyentuh bahunya. Ridho berdiri, menjauh satu langkah.

“Mas...”

“Aku ingat,” potong Ridho.

Dewi membeku.

“Aku ingat semuanya,” lanjut Ridho, suaranya rendah. “Tentang Ning. Tentang bagaimana kamu memelintir cerita. Tentang bagaimana aku menikah... bukan karena cinta.”

Wajah Dewi memucat.

"Kenapa pucat? Tau kamu sudah melakukan kejahatan?"

"Bu-bukan begitu, Mas..."

Ridho menatapnya tajam. “Kau sudah menipuku... Memanfaatkan hilang ingatanku... Membodohi ku... Dan...” suaranya bergetar, lalu mereda. “Dan Ning… sudah menikah dengan pria lain.”

Kalimat itu menghantam dirinya sendiri. Ia menutup mata, menarik napas, menahan amarah.

“Mas,” Dewi meraih lengan Ridho. “Dengar dulu...”

Ridho melepaskan. “Jangan sentuh aku.”

Dewi terhuyung satu langkah. “Mas...”

"Aku jijik sama kamu, Dewi!"

Ia meraih jaket.

“Mas!?” suara Dewi pecah. "Mas mau ke mana?"

Ridho melangkah ke pintu, berhenti sejenak tanpa menoleh. “Ke tempat Ning.”

Pintu tertutup.

Dewi terduduk di ranjang. Tangannya gemetar. Napasnya tersengal, lalu pecah menjadi tangis.

“Ning… Ning... Ning lagi...” bisiknya, marah dan takut bercampur. “Gara-gara kamu, Ning.”

1
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ceritanya kok smakin gak asik gini, knp hrs ning yg terapis kan banyak d9kter dkk nya, kok kesanya ning yg hrs dikorbankan, cerita apa ini, kok rmh tangga yuda dan ning yg hrs dirahasiakan in knp, aneh in cerita, mulek udh mulai gak asik, mau hapus ae
muthia
ibunya egois😭
nunik rahyuni
knp smasih saja di jadikan umpan...kasiankau ning...
klo tentang yuda apkh bukan ank kandung ya kok katanya pewaris sesungguhnya sdh sadar🤔🤔🤔🤔
dan apa yg di lakukan ortunya seolah2 g terlalu memikirkan perasaan kening dan yuda...🤔🤔🤔jd seolah olah yuda balas budi betul g ya
Arin
Nah kan semangat Ranu buat sembuh makin besar itu bagus.....
Tapi semangat dia itu karena jatuh cinta ke Ning yang mendorong untuk segera bangkit lagi. Mending kasih tau sekarang, daripada semakin dalam dia jatuh cinta ke Ning....
Sri Rahayu
wah gawat kl Ranu jatuh cinta sama Ning...nanti bisa berantem sama Yuda 🤩🤩🤩...tp cinta nya Ning kan buat Yuda😍😍😍...lanjut Thorr😘😘😘
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kasian yuda
nunik rahyuni
rasa rasanya kok sebel aq sm yuda sekelg..
ning ayo pulang kermh q saja jgn mqu sam yuda lg kli yuda g bisa tegas dan jujur
Agunk Setyawan
anggun ini orang tua egois
mama
sumpah,..aq berharap setengah kebohongan terungkapkan ning pergi jauh biar anggun dan Yuda kelimpungan nyari.. klu perlu yg jauuuh sekalian ning..biar Yuda kepook,greget sm author ny juga dari kmrin gantung ajj ni cerita gk ndang sat set,.kmrin aj soal pk tio sat set sekarang makin kesini mkin greget
Sri Rahayu
kamu hrs ngomong ma mama mu Yuda...Ning istri mu tdk bisa terus menerus mengurus Ranu....mama nya jg gitu....uda saatnya kshtau Ranu kl Ning istrinya Yuda 🙃🙃🙃...lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mama Anggun juga Yuda lbh baik bilang terus terang sama Ranu bahwa Ning adalah salah strinya Yuda ,daripada ditutupi malah nanti Nanti malah jadi ribet .
sutiasih kasih
mm anggun... gmn sih... kn ning sdh mnikah... dan suami ning jg ankmu...
jujurlah mulai skrg mm anghun n yuda... jgn lah kalian jdikn ning umpan...
ranu jga jdi manusia kok g tau diri... klo mau smbuh kn g harus sll ning yg mndampingi terapi...🙄🙄
Nana Geulise
mama anggun salah kalau tetap menyembunyikan semuanya terhadap ning..jgn muntang2 ranu br bangun dr koma yuda dan ning yg menderita.yuda juga harus jujur kalau g mau kehilangan ning..
Arin
Mama Anggun-Yuda cobalah jujur. Apa perlu Ning yang kasih tau Ranu tentang status Ning dan Yuda. Ranu dulu cuma kasih pesan cari orang yang telah di tabrak karena merasa bersalah. Kalau sekarang Yuda menikahi Ning apa salahnya???
bibuk Hannan & Afnan: iya ih gregettttt gemesh banget sama mama Anggun dan Yudha knp gak jujur aja sedari awal Ranu sadar dr koma wkt ngenalin Ning dgn status yg sebenarnya klo Ning istrinya Yudha,
ini kak othornya pinter banget dah ahhhh bikin para reader penasaran gregettttt,
total 1 replies
Asiu Asiu
bikin ning nya pergi ninggalin yuda .
setelah ning tahu ning hamil anak yuda.
ning kecewa sama yuda karna tidak bisa tegas sama ranu juga mama nya...
sunaryati jarum
Jadi males baca
sunaryati jarum
Sekali lagi jika rumah tangga Ning dan Yuda hancur emak kecewa , padahal Ning sudah memberi signal tidak suka pada Ranu
nunik rahyuni
kok g lekas hamidun aja sih si ning..muak aq sm si ranu+ortu ny...si yuda jg..klo memang sayang dan cemburu knp jg mendorong istrinya dekat2 ranu...mudahan ning pinter dan peka klo cuma di manfaatkan j sm mertua buat kesembuhan ranu..minggat j ning...seolah olah kmu g punya harga diri...g usah lg diurusi si ranu..harusnya ranu seklg minta maaf karena membuat ning pincang..lha ini yg jd korban malah suruh merawat pelaku ...error kan 🤔🤔🤔dan pergi jauh j mereka g menghargai perasaanmu...
nunik rahyuni
ning dan ranu statusnya ipar..buka. muhrim harusnya tau batasan ..knp g mencari terapis yg lain..dr awal sdh bisa di tebak klo ning yv jd terapis bgaimana kelanjutanya..ning itu istri yuda...seolah olah mereka justru mendorong ning agar berhub sm ranu..knp...?dan yuda knp setuju..kan jd nya kebodohan masal..seklg bodoh..mau mempermainkan ning cm buat ranu sembuh..banyk cara lain kok...satu kebohongan yg melahirkan banyak kebohongn lainya...kebenaran terkadang menyakitkan tp itu yg terbaik untuk memutus rantai kebohongan.😡😡
Arin
Udahlah Yuda.... lupakan soal Ranu. Jelaskan lah nanti padanya. Yang penting jagalah keutuhan rumah tangga mu..... Apa Ranu juga masih mau bersama Ning, jika tau Ning sudah menikah? Apa Ranu mau menyakiti hati adiknya sendiri, hanya demi bisa bersanding dengan Ning?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!