Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Hening, tak ada yang berbicara setelah Zea menceritakan semuanya, sehening lorong rumah sakit dimana mereka berada saat ini. Dengan mata basah dan merah, dan dengan perasaan yang hanya mereka sendiri yang tahu.
Zea membuang nafas kasar sambil menyeka air mata. Tak ada yang ia tutup-tutupi, semua yang selama ini menjadi rahasianya, ia keluarkan. Mau Naka percaya atau tidak, itu urusan dia. Disatu sisi rasanya plong, beban di pundak terangkat, namun disisi lain, ada rasa takut, takut Naka akan berusaha mengambil Arka. Ia menatap Naka yang hanya diam dengan ekspresi yang sukar dibaca. Bagaimana pun, Tuan Very adalah Papanya, yang jelas selama ini adalah orang baik di matanya.
"Aku harap kamu bisa memahami kenapa aku lebih memilih uang daripada mempertahankan cinta. Jika di matamu aku masih terlihat salah, itu terserah kamu. Aku cuma minta, tolong jangan ganggu aku dan anakku lagi." Zea sampai mengatupkan kedua telapak tangannya di dada, menatap penuh harap. "Aku cuma janda biasa yang memiliki uang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku bukan lawan yang seimbang bagi laki-laki kaya raya sepertimu. Jadi tolong, jangan usik hidupku lagi, biarkan aku dan Arka pergi, kita lanjutkan hidup masing-masing. Semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu nanti, dan segera mendapatkan keturunan."
Naka mengalihkan tatapan ke arah lain, tak kuasa menatap wajah Zea. Beberapa kali, ia menyeka matanya yang basah. Mau tak percaya dengan cerita Zea, nyatanya wanita itu memang hidup kekurangan sekarang, bukan hidup mewah dengan uang 1 milyar.
Zea menghela nafas panjang, membalikkan badan lalu melangkah pergi. Di depan pintu kamar rawat inap Arka, ia hapus air mata hingga benar-benar kering, lalu memasang senyum. Terdengar samar-samar suara celotehan Arka dan Vira. Ia menarik gagang pintu, lalu masuk sambil mengucap salam.
"Ibu, aku dibelikan baju baru sama Om Rizal dan Tante Vira." Arka yang duduk di atas ranjang tersenyum lebar, menarik sedikit bagian dada kaosnya, memamerkan baju baru yang ia kenakan. Celana chinos warna cream dan kaos biru.
"MasyaAllah, anak Ibu ganteng sekali," Zea menghampiri Arka, mengusap kepala lalu mengecup pipi dan keningnya.
"Ibu, kita pulang naik apa?"
Zea melihat kamar sudah benar-benar rapi, tak ada lagi makanan atau mainan di atas nakas, semuanya sepertinya sudah dimasukkan ke dalam sebuah koper yang ada di dekat nakas, entah koper siapa itu, ia pun tak tahu.
"Kita naik Bus," sahutnya sambil tersenyum menatap Arka.
"Enggak!" ujar Naka yang baru masuk. Laki-laki yang matanya terlihat merah tersebut, berjalan ke arah Zea.
"Apa maksud kamu?" Zea menatap Naka penuh tanya, ia fikir semuanya talah selesai di koridor tadi.
"Gak usah pulang, tinggal di apartemen aku."
"Enggak!" sahut Zea cepat sambil menggeleng. "Kami akan pulang, Arka harus sekolah."
"Arka belum seratus persen sehat, jangan paksa dia menempuh perjalanan jauh, apalagi dengan kendaraan umum," Naka menatap Arka yang terlihat bingung.
"Arka sudah sembuh, kami akan pulang."
"Jangan egois, fikirkan kondisi Arka," tatapan Naka beralih pada Zea.
Vira yang bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, menyenggol lengan Rizal, namun tunangannya itu malah melototinya.
Zea menghela nafas panjang. "Pak Naka yang terhormat, terimakasih atas tawaran tempat tinggalnya. Tapi maaf, saya tidak bisa menerima kebaikan anda. Kalau pun masih harus stay di Jakarta sehari, kami akan tinggal di hotel, bukan di tempat kamu. Tolong jangan ikut campur urusan kami lagi."
"Gak bisa gitu, Arka juga a_"
"NAKA!" bentak Zea, berusaha menghentikan ucapan laki-laki itu. Ia melirik ke arah Arka sebelum akhirnya menarik lengan Naka keluar ruangan.
"Sebenarnya mereka ada hubungan apa sih?" gumam Vira, menatap pintu yang kembali tertutup, menyisakan ia, Rizal dan Arka di dalam.
"Gak usah kepo," sahut Rizal.
"Tante, Ibu kenapa ya, kok seperti tidak suka dengan Om Bos, padahal Om Bos kan baik?" Arka masih menatap ke arah pintu. Selama di rawat, ia bisa merasakan itu, ibunya selalu ketus pada Om Bos, padahal biasanya pada orang lain ramah. Ibunya juga selalu menolak apapun bantuan atau pemberian laki-laki itu.
"Gak tahu," Vira mengedikkan bahu. Sebenarnya dalam hati sudah bisa sedikit menebak, jika diantara Naka dan Zea pasti ada masalah asmara.
Di balik pintu, Zea menatap Naka tajam. "Gak usah ngomong aneh-aneh," peringatnya.
"Aneh apanya? Arka anakku, dia berhak tahu."
Zea tersenyum kecut sambil geleng-geleng. "Arka cuma anak di luar nikah, gak ada hubungan apa-apa sama kamu. Aku udah capek Naka, jadi please, jangan bikin aku tambah capek. Aku cuma pingin hidup bahagia dan tenang bersama anakku. Yang Arka tahu, ayahnya sudah meninggal, jadi jangan bikin dia bingung. Kamu bilang sudah mau menikah, ya udah kita lanjutkan hidup masing-masing, cari kebahagiaan sendiri-sendiri. Tenang aja, aku gak akan minta kamu tanggungjawab apapun kok, aku ikhlas membesarkan Arka sendiri. Toh dalam agama juga, Arka bernasabkan aku, jadi dia tanggunganku dan keluargaku. Udah ya Naka, sudahi semuanya, tolong jangan usik hidupku lagi. "
"Gak bisa, Arka itu anakku, jadi aku harus memastikan jika dia hidup dengan baik, dengan berkecukupan."
Zea membuang nafas kasar sambil tersenyum. "Emang yang kamu lihat gimana, Arka gak baik gitu? Dia gak aku kasih makan, gak aku sekolahin, gak aku sayangi? Dia sudah mendapatkan semunya dari aku, dia gak butuh kamu."
"Kata siapa? Dia butuh sosok ayah."
Zea sekali lagi tersenyum. "Gak usah khawatir kalau soal itu, Arka akan segera punya ayah kok. Kamu tahu laki-laki yang di bengkel hari itu, yang ngobrol sama aku, dia calon ayahnya Arka."
Naka kaget mendengar itu, dadanya tiba-tiba bergemuruh, ada rasa tak terima.
"Namanya Andi, dia calon suami aku, kami sudah lamaran," lanjut Zea.
"Fikir ulang kalau mau menikah, kamu fikir ayah tiri bisa sayang pada anaknya? Yang ada nanti Arka malah disiksa," ia tersenyum kecut.
"Andi itu orang yang baik, dia sayang sama Arka."
"Ya iyalah, kalau baru PDKT, ya yang baik dong yang ditampakin, coba kalau udah nikah, gak yakin aku. Kamu gak pernah belajar ya dari kasus-kasus yang viral, dimana anak disiksa sama ayah atau ibu tirinya."
"Ya iyalah, yang viral yang kamu tahu cuma itu itu saja, siapanya kalau ada ayah atau ibu tiri yang baik, gak pernah viral. Padahal banyak loh, ayah tiri yang baik, bahkan lebih baik daripada ayah kandunng."
"Gak mungkin, di mana-mana orang tua kandung yang paling baik."
"Kata siapa?" Zea yang kesal, menatap Naka sambil melotot dan berkacak pinggang. "Kalau semua orang tua kandung baik, gak ada cerita anak baru lahir dibuang. Gak ada cerita pula, anak kecil dipaksa nyari duit sama orang tua kandung. Gak usah sok tahu deh kamu. Buktinya bapak kamu juga jahat sama kamu, bohongin kamu demi memisahkan kita, demi dapat menantu kaya."
Naka mendengus kesal.
"Udah ya, kita gak ada hubungan apapun, jadi please, jangan ikut campur urusan hidupku dan Arka lagi."
"Gak bisa, Arka itu anakku." Naka membuka pintu, lalu masuk. "Arka, kita pulang yuk."
"Astaga, orang gila ini!"
Naka, buat cara jitu ya buat naklukkan hati papamu, manfaatkan Arka 🤭
keputusan yg bener zee...
jangan mau terus di rendahkn oleh bpknya naka itu.
pastikn naka mau berusaha memperjuangkn kalian....
Ayo Naka berusaha semangat💪💪💪
Zea ingin menikah denganmu asal ada restu dari ayahmu Naka