Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Matahari sudah mulai turun ke ufuk barat, menciptakan semburat oranye yang
kontras dengan langit Jakarta yang mulai kelabu karena polusi. Di depan pintu
kamar 502, Kiyo berdiri dengan napas yang sedikit tersengal. Ia sudah
menanggalkan seragam OSIS-nya yang kaku dan menggantinya dengan kaos oversized
hitam serta celana kargo senada. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit
berantakan, basah oleh keringat tipis.
Di kedua tangannya, terjinjing lima kantong plastik besar dengan berbagai logo
restoran ternama. Setelah perdebatan panjang di rapat OSIS yang rasanya ingin ia
ledakkan saja, Kiyo langsung tancap gas menuju rumah sakit, tak peduli pada
bunyi notifikasi ponselnya yang terus bergetar karena pesan dari Gwen atau
pengurus lainnya.
Kiyo menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya sebelum memutar
knop pintu. Ceklek.
Bianca sedang duduk bersandar, menatap kosong ke arah layar televisi yang
menyala tanpa suara. Begitu melihat Kiyo masuk, ia sedikit tersentak.
"Yo? Lo... balik lagi?" tanya Bianca, suaranya masih terdengar agak serak.
Kiyo tidak langsung menjawab. Ia sibuk menaruh semua kantong plastik itu ke atas
meja sofa yang ada di sudut ruangan, lalu menyeret satu kursi kayu ke samping
ranjang Bianca.
"Gila, Jakarta sore ini beneran nggak ngotak macetnya. Gue berasa kayak mau ikut
simulasi kiamat di jalan tadi," keluh Kiyo sambil mengusap keringat di dahinya.
Bianca mengerjapkan mata, menatap tumpukan kantong plastik itu dengan bingung.
"Itu... apaan banyak banget, Yo?"
"Makanan lah. Masa bom," sahut Kiyo asal, namun nadanya tidak sinis. Ia mulai
membongkar isi plastik itu satu per satu. "Gue nggak tahu lo sukanya apaan. Gue
mau nanya Sunny, tapi tuh anak pasti bakal ngeledek gue tujuh turunan. Jadi ya
udah, gue beli aja semua yang menurut gue enak."
Bianca melongo saat Kiyo mengeluarkan kotak demi kotak. "Ada sushi, ada steak,
ada dimsum, terus ini ada nasi babi guling, eh, bentar, lo makan babi nggak sih?
Terus ini ada dessert box juga. Oh, sama salad buah, kali aja lo mau diet
padahal udah kerempeng gini."
"Kiyo, ini kebanyakan! Gue sendirian, bukan mau bikin pesta mukbang di bangsal
VVIP," sela Bianca dengan tawa kecil yang dipaksakan.
"Bodo amat. Lo liat tuh makanan rumah sakit di atas nakas," Kiyo menunjuk nampan
berisi bubur putih, sayur bening yang pucat, dan sepotong pepaya. "Itu makanan
atau pakan kelinci? Warnanya aja nggak ada estetik-estetiknya. Rasanya pasti
kayak kertas basah. Lo butuh asupan yang bener biar muka lo nggak kayak zombi
gini, Bi."
Kiyo menghentikan gerakannya. Ia tertegun sejenak saat matanya tanpa sengaja
menatap wajah Bianca dari jarak dekat. Di bawah lampu neon kamar yang terang,
Bianca terlihat sangat rapuh. Kulitnya pucat hampir transparan, dan matanya yang
dulu selalu bersinar kini terlihat redup.
Dan rambut itu... Kiyo merasakan dadanya sesak. Potongan rambut Bianca yang
sekarang benar-benar jauh dari kata rapi. Terlihat seperti hasil amukan emosi
yang meledak-ledak.
'Gila, gue beneran nggak tahan liat dia kayak gini,' batin Kiyo. 'Gwen beneran
bajingan kalau sampe bikin mental dia seancur ini.'
Bianca yang sadar sedang diperhatikan, refleks menyentuh ujung rambut pendeknya
dengan canggung. "Jelek ya? Berantakan banget. Gue emang agak gila kemarin pas
motong ini."
"Nggak... nggak jelek," bantah Kiyo cepat, suaranya mendadak melembut. "Cuma...
beda aja. Lo tetep cantik, Bi. Tapi ya... gue cuma sedih aja kenapa lo harus
ngerasain ini sendirian."
Bianca tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Kiyo merasa ingin melindungi
gadis itu dari dunia. "Makasih ya, Yo. Makasih banget udah dateng lagi, apalagi
bawa makanan sebanyak ini. Tapi jujur, lo nggak perlu repot-repot begini. Gue
jadi ngerasa nggak enak, lo kan sibuk di OSIS."
"Sibuk mah bisa diatur, Bi. Lagian rapat OSIS isinya cuma orang-orang caper yang
hobi debat kusir. Mending gue di sini," sahut Kiyo sambil membuka kotak sushi.
"Nih, mau yang mana dulu? Salmon mentai atau tuna rolls? Gue suapin kalau tangan
lo masih lemes."
"Nggak usah, gue bisa sendiri, Yo," tolak Bianca halus.
"Udah deh, diem aja. Gue lagi mau jadi warga negara yang baik dengan ngebantu
orang sakit," paksa Kiyo. Ia menyumpit sepotong sushi dan menyodorkannya ke
depan mulut Bianca.
Bianca terpaksa membuka mulutnya. Rasa gurih dan segar dari sushi itu meledak di
lidahnya, jauh lebih baik daripada bubur rumah sakit yang hambar. Sambil
mengunyah, Bianca menatap Kiyo yang kini sibuk mengoceh tentang betapa
menyebalkannya guru sejarah mereka tadi siang.
'Kiyo... kenapa lo harus sebaik ini?' Bianca bertanya dalam hati. 'Kenapa lo
nggak jadi brengsek aja kayak Gwen? Biar lebih gampang buat gue benci lo. Kalau
lo kayak gini, rencana gue... rencana gue bisa berantakan.'
Suasana menjadi sedikit lebih santai. Kiyo terus bercerita, mulai dari drama di
kantin sampai gosip tentang Gwen yang hampir baku hantam sama kapten basket
sekolah lawan. Bianca hanya mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil, meskipun
hatinya tetap waspada.
"Bi..." panggil Kiyo tiba-tiba, memutus tawa Bianca.
"Ya?"
Kiyo meletakkan sumpitnya. Sorot matanya berubah serius, dalam, dan penuh rasa
bersalah. "Soal video yang Kiyo terima kemarin... soal lo sama Gwen di
apartemen... gue... gue beneran minta maaf. Gue nggak tahu kalau kakak gue
sebajingan itu sama lo. Gue ngerasa gagal jadi temen lo, Bi."
Bianca terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Itu dia. Pancingan yang ia dan
Rebecca tebar mulai membuahkan hasil. Kiyo benar-benar termakan rasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Yo. Itu bukan salah lo. Gue yang... gue yang terlalu bodoh
karena percaya sama dia," ucap Bianca dengan nada yang dibuat segetas mungkin,
seolah ia sedang menahan tangis.
"Enggak, Bi. Nggak ada yang boleh nyalahin lo. Gwen itu emang manipulatif. Dia
selalu dapet apa yang dia mau, dan dia nggak peduli siapa yang dia injak," Kiyo
mengepalkan tangannya di atas paha. "Gue benci fakta kalau gue punya darah yang
sama sama dia."
Bianca menatap Kiyo, pura-pura terenyuh. "Yo, jangan gitu. Dia tetep kakak lo."
"Kakak yang ngerusak cewek yang gue..." Kiyo menggantung kalimatnya. Ia
memalingkan wajah, telinganya memerah.
'Cewek yang apa, Yo? Cewek yang lo suka?' batin Bianca sinis. 'Kasihan banget
lo, jatuh cinta sama orang yang justru mau ngancurin keluarga lo.'
Tiba-tiba, tanpa ada aba-aba, Kiyo berdiri dan mendekat ke arah ranjang. Sebelum
Bianca sempat bereaksi, Kiyo sudah melingkarkan lengannya di bahu Bianca. Ia
menarik kepala Bianca untuk bersandar di dadanya.
Kiyo memeluknya. Sangat erat, namun penuh kelembutan.
Bianca mematung. Napasnya tertahan. Tubuhnya menegang secara otomatis,
instingnya meneriakkan agar ia segera mendorong cowok ini menjauh. Ia benci
keluarga Anderson. Ia benci setiap inci dari mereka.
"Bentar aja, Bi. Biar lo tahu kalau lo nggak sendirian," bisik Kiyo tepat di
telinganya. "Gue ada di sini. Gue bakal jagain lo. Gue janji, nggak bakal ada
yang bisa nyakitin lo lagi, termasuk Gwen atau bokap gue sekalipun."
Aroma parfum Kiyo—campuran antara citrus dan sandalwood—merasuk ke indra
penciuman Bianca. Hangat tubuh Kiyo merayap ke kulitnya. Dan di situlah,
pertahanan mental Bianca sedikit retak.
Ingatannya melompat mundur ke masa sepuluh tahun lalu. Saat ia masih menjadi
Bianca yang ceria, yang belum mengenal dendam. Ia ingat bagaimana ayahnya dulu
sering memeluknya persis seperti ini setiap kali ia terjatuh atau menangis
karena mainannya rusak. Pelukan yang memberikan rasa aman, seolah dunia luar
tidak akan pernah bisa melukainya selama ia ada di dalam dekapan itu.
'Ayah...' batin Bianca lirih.
Tanpa ia sadari, air matanya jatuh kembali. Ia merindukan ayahnya. Ia merindukan
kehidupan lamanya yang hancur karena keserakahan Maxwell Anderson. Rasa rindu
yang menyesakkan itu bergabung dengan rasa lelahnya selama berpura-pura,
menciptakan sebuah ledakan emosi yang tak tertahankan.
Bianca memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam kenyamanan
pelukan Kiyo. Untuk beberapa detik yang singkat, ia membiarkan dirinya lupa
bahwa Kiyo adalah anak dari musuh besarnya. Ia membiarkan dirinya menjadi
"Bianca" yang butuh perlindungan, bukan "Bianca" sang pembalas dendam.
Kiyo yang merasakan bahu Bianca bergetar, semakin mengeratkan pelukannya. Ia
mengusap punggung Bianca pelan, memberikan ketenangan yang tulus. "Nangis aja,
Bi. Keluarin semuanya. Jangan dipendem sendiri."
'Gila, nyaman banget. Kenapa pelukannya harus sehangat ini?' Bianca terus
berperang dengan pikirannya sendiri. 'Gue kangen Ayah... gue kangen rasa aman
ini.'
Namun, di tengah isak tangisnya yang mulai mereda, sebuah kilatan ingatan
muncul. Ia ingat wajah ayahnya di balik jeruji besi saat kunjungan terakhir.
Wajah yang menua, penuh penderitaan, dan sorot mata yang sudah kehilangan
harapan. Ia ingat bagaimana Rebecca harus bekerja keras dan melakukan hal-hal
kotor hanya demi bertahan hidup dan membiayainya.
Detak jantung Kiyo yang terdengar stabil di telinganya tiba-tiba terdengar
seperti detak jam bom waktu bagi Bianca.
'Enggak. Ini salah.'
'Lo nggak boleh lemah, Bianca! Cowok yang meluk lo sekarang ini punya darah
Anderson yang ngalir di badannya. Dia anak dari orang yang udah ngebuang Ayah ke
penjara! Dia adek dari orang yang udah ngelecehin harga diri lo!'
Bianca perlahan membuka matanya. Sorot matanya yang tadinya sayu dan penuh
kesedihan, kini perlahan-lahan kembali menjadi dingin dan tajam. Ia menarik
napas panjang, menghirup aroma Kiyo untuk terakhir kalinya sebelum ia
benar-benar mengeraskan hatinya kembali.
'Maaf ya, Yo. Pelukan lo emang enak. Tapi ini semua cuma bakal jadi senjata buat
gue buat ngancurin lo lebih parah nanti.'
Bianca perlahan melepaskan diri dari dekapan Kiyo. Ia menyeka air matanya dengan
punggung tangan, lalu menatap Kiyo dengan tatapan yang kembali "akting" menjadi
gadis rapuh yang berterima kasih.
"Makasih ya, Yo. Gue... gue ngerasa jauh lebih baik," ucap Bianca dengan suara
bergetar yang dibuat-buat.
Kiyo tersenyum tulus, tampak sangat lega melihat Bianca sudah sedikit tenang.
"Syukurlah kalau gitu. Pokoknya lo jangan sungkan buat hubungin gue kalau ada
apa-apa, ya? Gue bakal langsung cabut ke sini, mau itu lagi ujian kek, lagi
rapat kek, bodo amat."
"Iya, Yo. Makasih banyak," Bianca menundukkan kepalanya, menyembunyikan seringai
tipis yang hampir muncul.
'Bodoh. Lo beneran bodoh, Kiyo Anderson,' batin Bianca. 'Lo baru aja ngebuka
gerbang paling lebar buat gue masuk dan ngacak-ngacak hidup lo.'
Kiyo kembali duduk dan mulai membereskan sisa makanan. "Oh iya, tadi gue sempet
denger kabar di grup angkatan, katanya si Gwen beneran disidang sama Bokap gue
gara-gara absen tanding demi nyariin lo. Kayaknya dia bakal dihukum berat."
Bianca menaikkan alisnya. "Oh ya? Terus perasaan lo gimana?"
Kiyo mendengus. "Gue? Jujur? Gue seneng. Biar dia tahu rasa. Dia udah terlalu
lama bertingkah kayak raja di rumah dan di sekolah. Udah saatnya dia jatuh dari
singgasananya."
Bianca tersenyum dalam hati. Perpecahan antara dua bersaudara ini benar-benar
berjalan sesuai rencana. Rebecca benar, Kiyo adalah kunci paling efektif untuk
meruntuhkan benteng pertahanan Gwen.
"Udah, jangan bahas dia lagi. Bikin nafsu makan ilang aja," lanjut Kiyo sambil
menyodorkan sepotong martabak manis ke arah Bianca. "Nih, penutup. Martabak
cokelat keju. Ini yang paling enak di Jakarta Selatan, gue sampe ngantre tiga
puluh menit tadi."
Bianca menerimanya dan menggigit martabak itu. Rasanya manis, sangat manis
hingga terasa hampir memuakkan di lidahnya. Tapi ia tetap menelannya dengan
senyum yang manis.
'Manisnya martabak ini nggak ada apa-apanya dibanding manisnya pembalasan dendam
gue nanti, Yo,' pikir Bianca sambil terus menatap Kiyo yang kini sibuk merapikan
sampah-sampah makanan dengan telaten.
"Bi, lo kok liatin gue gitu banget? Gue ganteng ya kalau lagi rajin gini?" goda
Kiyo sambil nyengir.
"Pede banget lo," sahut Bianca sambil memutar bola matanya, kembali ke persona
gadis sekolah yang biasa.
"Hahaha, ya udah. Gue balik dulu ya? Udah mau jam kunjung abis. Nanti malem lo
istirahat yang bener. Jangan begadang cuma buat mikirin gue," ucap Kiyo sambil
berdiri dan menyampirkan tasnya di bahu.
"Hih, najis banget gue mikirin lo," Bianca pura-pura bergidik.
Kiyo tertawa, lalu ia mengacak rambut pendek Bianca sebentar. "Gue balik ya, Bi.
See you tomorrow."
"Iya, hati-hati, Yo."
Setelah pintu tertutup rapat dan langkah kaki Kiyo menghilang di lorong
hospital, suasana kamar kembali hening. Bianca meletakkan sisa martabaknya ke
atas meja dengan kasar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang ada di
atas nakas.
Wajahnya yang pucat, rambutnya yang pendek dan hancur. Ia menyentuh dadanya,
tepat di tempat Kiyo memeluknya tadi. Masih ada sisa-sisa kehangatan di sana.
Tapi Bianca segera menepisnya.
Ia mengambil ponselnya, lalu mengetikkan pesan singkat untuk Rebecca.
To: Bec Kiyo baru aja balik. Dia bener-bener udah di tangan gue. Dia benci Gwen
lebih dari sebelumnya. Peluru kita udah siap, Bec. Tinggal nunggu waktu buat
ditarik pelatuknya.
Bianca menyandarkan kepalanya ke bantal. Matanya menatap langit-langit kamar
dengan tatapan yang sangat dingin. Air mata yang tadi jatuh benar-benar menjadi
air mata terakhirnya untuk perasaan lemah. Mulai detik ini, setiap emosi yang ia
keluarkan hanyalah bagian dari sandiwara.
'Nikmati aja dulu kasih sayang lo ke gue, Kiyo. Karena pas semuanya hancur
nanti, gue bakal mastiin lo adalah orang yang paling nyesel karena udah pernah
meluk gue hari ini.'