Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Zuhair menutup pintu rumah dengan rapat, bunyi kunci yang berputar terasa begitu nyaring di telinganya yang masih panas. Di dalam, Celina sudah melempar flat shoes-nya asal ke sudut ruangan dan berjalan menuju dapur mini dengan gaya yang sangat santai, seolah ucapan provokatifnya tadi hanyalah angin lalu.
Zuhair menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih tidak keruan sejak di masjid tadi.
"Celina, bisa tidak sikapnya dijaga? Kita baru saja pulang dari rumah Allah," ucap Zuhair dengan nada yang diusahakan setegas mungkin, meski matanya tetap fokus pada lantai agar tidak kembali "salah fokus" pada penampilan istrinya.
Celina menuangkan air dingin ke gelas, lalu menoleh sambil menyandar di kursi dapur. Gamis yang tadi dipakaikan Zuhair tampak sedikit kedodoran di tubuhnya yang ramping, namun entah kenapa justru membuatnya terlihat lebih...cantik dimatanya.
"Rumah Allah kan di sana, ini rumah kita. Beda server, Gus," sahut Celina enteng. Ia meneguk airnya sampai habis, lalu berjalan mendekati Zuhair. "Lagian gue capek akting jadi 'Ning' idaman tadi. Suara gue mahal, tau! Harusnya tadi lo kasih saweran, bukannya malah bengong kayak liat hantu."
"Saya tidak bengong, Celina. Saya... saya hanya bersyukur kamu tidak mempermalukan keluarga tadi," jawab Zuhair pelan.
Celina tertawa sinis, langkahnya makin maju hingga Zuhair terdesak ke pintu yang baru saja ia kunci. "Bersyukur doang? Nggak ada hadiah? Gini-gini gue udah nyelametin muka lo dari si Sarah-Sarah itu."
Tangan Celina tiba-tiba terangkat, bukan untuk menyentuh Zuhair, melainkan untuk merapikan kerah baju koko Zuhair yang sedikit miring. Gerakan yang sangat dekat itu membuat Zuhair reflek menahan napas. Ia bisa merasakan hangat tubuh Celina dan deru napasnya yang tenang.
"Gus..." bisik Celina, nada tengilnya berubah menjadi sedikit lebih dalam, sengaja menggoda. "Lo beneran nggak pernah naksir cewek? Atau lo emang robot yang diprogram cuma buat baca kitab sama istigfar?"
Zuhair memejamkan mata rapat-rapat. "Celina, jangan mulai..."
"Kalau gue mulai, emangnya lo mau apa? Ngadu ke Abi? Atau mau ceramahin gue semaleman?" Celina sedikit berjinjit, mendekatkan wajahnya ke telinga Zuhair. "Malam ini Ayah sama Bunda jauh di Ndalem Agung. Lo nggak perlu jaga image di depan siapa pun sekarang."
Zuhair merasakan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Pertahanan mentalnya yang biasanya sekokoh benteng kini terasa seperti pasir yang terkena ombak. Namun, tepat sebelum Celina bertindak lebih jauh, Zuhair dengan lembut namun pasti memegang kedua pundak Celina dan menggesernya ke samping.
Zuhair membuka matanya, menatap Celina dengan tatapan yang sulit diartikan—ada campuran antara rasa sabar yang luar biasa dan sesuatu yang lain yang ia tekan dalam-dalam.
"Hadiah kamu malam ini adalah saya tidak akan menceramahi kamu soal tingkah laku kamu di kamar tadi," ucap Zuhair dengan suara yang kembali rendah dan tenang. "Sekarang, ganti baju yang sopan, lalu tidur. Besok pagi kita harus bangun sebelum Subuh untuk jamaah."
Celina mencibir, namun ada sedikit rasa takjub di hatinya melihat bagaimana cowok ini masih bisa "waras" di bawah tekanannya. "Ck, kaku banget sih lo! Kayak kanebo kering."
Celina berbalik menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, namun ia sempat berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Eh, Gus. Satu lagi. Suara gue tadi itu khusus dan mahal, sebenernya. Biar lo tahu, kalau istri lo ini bukan cuma pinter dugem, tapi juga bisa bikin lo masuk surga—lewat jalur telinga."
Blam!
Pintu kamar mandi tertutup keras. Zuhair langsung menyandarkan kepalanya ke pintu kayu, tangannya memegang dada kiri yang berdegup kencang sekali.
"Ya Allah... kuatkan hamba," bisiknya lirih.
Paginya, sinar matahari baru saja mengintip dari celik jendela Ndalem Agung. Udara di pesantren masih sangat dingin, namun dapur di rumah kecil Zuhair dan Celina sudah mulai beruap.
Zuhair, yang sudah rapi dengan sarung dan baju koko putihnya pasca-Subuh, sedang sibuk di depan kompor. Tangannya yang biasa memegang kitab kini dengan cekatan mengiris bawang merah. Sementara itu, Celina—yang terpaksa bangun karena ancaman Zuhair akan menyiramnya dengan air wudhu—berdiri di sampingnya dengan mata yang masih setengah terpejam.
Celina memakai daster batik longgar yang ditutup dengan jaket oversize miliknya. Rambutnya dicepol asal-asalan, memberikan kesan "berantakan tapi cantik" yang alami.
"Aduh, Gus... ini beneran harus gue yang ulek cabainya?" keluh Celina sambil menatap cobek di depannya dengan ngeri. "Tangan gue ini aset, kalau panas gimana?"
"Makanya pakai perasaan, Celina. Jangan cuma tenaga," sahut Zuhair tenang tanpa menoleh. "Lagian tadi malam kamu bilang mau jadi 'Ning idaman', kan? Ning idaman itu minimal tahu mana lengkuas mana jahe."
"Dih, dendam ya lo soal tadi malem?" Celina mendengus, lalu mulai mengulek dengan gerakan malas-malasan yang malah membuat cabainya meloncat keluar. "Eh! Kurang ajar banget nih cabai!"
Di luar, di balik rumpun tanaman hias yang rimbun tepat di bawah jendela dapur, sepasang mata mengintip dengan penuh kedengkian. Sarah.
Sarah sudah berdiri di sana sejak tadi, berniat mencari celah untuk membuktikan bahwa Celina adalah istri yang tidak becus. Ia membawa sepiring gorengan yang rencananya akan ia jadikan alasan untuk bertamu, namun pemandangan di dalam justru membuatnya makin panas hati.
Zuhair yang melihat Celina kesulitan, akhirnya meletakkan pisaunya. Ia berjalan mendekat ke arah Celina, berdiri tepat di belakang istrinya itu.
"Bukan begitu caranya, sini..." bisik Zuhair.
Zuhair melingkarkan tangannya untuk memegang tangan Celina yang masih memegang ulekan. Dari sudut pandang Sarah di luar jendela, posisi mereka terlihat sangat mesra—seolah-olah Zuhair sedang memeluk Celina dari belakang di tengah remang pagi.
"Tekan bagian tengahnya, putar pelan," instruksi Zuhair lembut. Jarak mereka sangat dekat hingga napas Zuhair terasa di pipi Celina.
Celina yang biasanya banyak omong, mendadak membeku. Jantungnya yang tadi malam ia gunakan untuk menjahili Zuhair, kini malah berkhianat. "G-Gus... lo modus ya?"
Zuhair tersadar. Ia langsung menarik tangannya dengan cepat dan berdehem canggung. "Saya cuma mengajari. Sudah, teruskan. Saya mau cek nasi."
Sarah di luar jendela mengepalkan tangannya sampai kuku-kukunya memutih. Nggak mungkin... Gus Zuhair nggak mungkin.
Bunda Siska yang baru saja mendekat mengerutkan kening melihat ekspresi Sarah yang aneh. "Sarah? Kamu kenapa? Kok kayak habis liat setan?"
Sarah menelan ludah, lalu dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan—berharap para santriwati yang mulai lalu-lalang menuju sumur bisa mendengar—ia mulai melancarkan "serangan" fitnahnya.
"Loh... Bunda Siska..." Sarah menunjuk ke arah rumah kecil itu dengan jari gemetar yang dibuat-buat. "Itu... Gus Zuhair sama Ning Celina di dalam... Mereka benar-benar tinggal satu atap?"
Bunda Siska mengangguk santai. "Ya iyalah, Sarah. Zuhair kan saya suruh mendidik Celina masak tinggalnya misah di kelurahan sebelah?"
"Tapi Bunda..." Sarah memasang wajah prihatin yang sangat palsu. "Bukankah mereka itu... maksud saya, di pesantren ini adab nomor satu. Kalau mereka sudah berdua-duaan begitu tanpa pengawasan, apa ini bukannya... zina ya? Kan semua orang tahu mereka cuma sebatas murid dan Gus yang mengajar. Apa Gus Zuhair nggak takut imannya goyah gara-gara itu?"
Mendengar kata "zina" keluar dari mulut Sarah, suasana pagi yang tadinya damai mendadak terasa menegang. Beberapa santriwati yang lewat mulai berbisik-bisik, melirik ke arah rumah Zuhair.
Celina yang di dalam dapur mendengar setiap kata yang keluar dari mulut "si sok suci" itu. Alisnya terangkat satu. Ia meletakkan ulekannya, lalu dengan gerakan anggun—namun mematikan—ia berjalan menuju pintu dapur dan membukanya lebar-lebar.
"Zina?" Celina menyandar di ambang pintu, melipat tangannya di dada. Matanya menatap Sarah dari atas ke bawah dengan tatapan menghina. "Wah, congor lo tinggi banget ya, Mbak Sarah. Sekolah di mana dulu? Jurusan Fitnah Internasional atau Teknik Bullying?"
Sarah tersentak, namun ia mencoba tetap tenang di depan Bunda Siska. "Saya cuma menjaga nama baik pesantren, Celina. Gus Zuhair itu panutan kita semua, jangan sampai dia terjerumus karena godaan perempuan seperti kamu."
Celina tertawa renyah, tawanya terdengar sangat merdu sekaligus menyakitkan di telinga Sarah. Ia berbalik sebentar ke arah dalam rumah.
"Zuhair! Keluar bentar! Ini ada yang nanya soal 'zina' katanya!" teriak Celina tanpa beban.
Zuhair keluar dengan wajah tenang. Ia berdiri di samping Celina, bahu mereka bersentuhan.
"Ada apa, Sarah? Sepertinya ada yang salah paham dengan kami?" tanya Zuhair dengan nada rendah yang berwibawa.
Sarah gelagapan. "Itu... Gus... maksud saya, adabnya kan—"
"Adab tertinggi adalah menjaga lisan dari fitnah, Sarah," potong Zuhair telak. Ia melirik Celina sejenak, lalu kembali menatap Sarah. "Celina ini di titipkan ke saya atas maklumat Kyai Roni—ayahnya sendiri. Dan saya rasa, mengintip rumah orang lain di waktu fajar juga bukan bagian dari adab santri, bukan?"
Bunda Siska langsung menimpali dengan senyum puas. "Nah, denger kan? Lagian Sarah, kalau Celina bener-bener 'godain' Zuhair namanya baru zina. Kamu mending urusin gorengan kamu itu sebelum dingin kayak hati kamu."
"Dengerin tuh, Mbak. Mending lo cari pahala deh, jangan cari dosa lewat ngintipin jendela orang. Hus, hus!" Celina mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir ayam.