Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pos Ronda
Pintu kayu jati itu akhirnya berderit terbuka setelah ketukan kelima Alan. Namun, bukan wajah sendu Xarena yang menyambutnya, melainkan sosok wanita paruh baya dengan pakaian sederhana dan tatapan mata yang menghunus tajam.
Satria dan juga Mommy Bela berdiri kokoh di ambang pintu, bersedekap dada sambil memandang Alan dari atas ke bawah dengan raut wajah penuh kemarahan.
"Ngapain kamu balik lagi ke sini, Alan?" tanya Mommy Bela, suaranya ketus dan dingin, langsung memotong harapan Alan.
Satria membiarkan mommy Bela yang berbicara.
Alan berusaha tetap sopan, dia mengangguk pelan. "Siang, Mommy. Saya mau ketemu Xarena sebentar. Ada hal penting yang harus—"
"Nggak ada yang penting lagi!" potong Mommy Bela cepat sambil mengibaskan tangannya di udara. "Xarena nggak mau ketemu kamu. Dia sendiri yang minta sama Mommy buat ngusir kamu kalau kamu berani nampakin batang hidungmu lagi di sini. Jadi, tolong ya, mending kamu sekarang pergi dan menghilang aja sekalian dari pandangan Xarena."
Dada Alan terasa seperti dihantam godam mendengar kalimat itu berasal langsung dari keinginan Xarena. Tapi dia menggeleng kuat-kuat, menolak untuk tumbang sebelum berperang.
"Nggak bisa gitu, My. Ini semua salah paham. Xarena cuma emosi karena kejebak drama murahan tadi pagi," ujar Alan berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar.
Mommy Bela mendengus remeh, lalu melangkah satu jengkel keluar pintu, sengaja menarik pintu di belakangnya agar agak merapat. "Drama kamu bilang? Alan, denger ya. Preman-preman tatoan tadi pagi itu datang nagih utang judi miliaran rupiah atas nama kamu! Kamu mau bilang itu drama? Kamu mau bikin hidup putri saya hancur gara-gara tabiat buruk kamu, iya?"
"Itu fitnah, Mommy! Sumpah, demi Allah, saya nggak pernah sentuh yang namanya judi," tegas Alan, matanya memancarkan keseriusan. Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. "Saya ke sini bawa bukti. Saya baru aja nyamperin preman-preman itu di pinggiran Purworejo. Di dalam HP ini ada rekaman suara mereka yang ngaku kalau mereka itu orang suruhan Riko dan Monique dari Jakarta!"
Mendengar nama 'Monique' disebut, ekspresi wajah Mommy Bela yang tadinya berapi-api mendadak berubah. Guratan kemarahan di dahinya mengendur, digantikan oleh sorot mata yang dipenuhi rasa cemas dan lelah yang amat sangat.
Mommy Bela tidak merebut ponsel Alan, dia justru menghela napas panjang, pundaknya merosot seolah beban berat baru saja ditaruh di atasnya.
"Monique... jadi perempuan ular itu lagi yang berulah?" gumam Mommy Bela lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
"Iya, My! Monique sama Riko sengaja bayar orang buat bikin skenario ini supaya Xarena ilfeel sama saya dan mau balik ke Jakarta. Tolong kasih saya waktu lima menit aja buat muter rekaman ini di depan Xarena, biar dia tahu yang sebenarnya," mohon Alan, selangkah lebih maju.
Namun, Mommy Bela justru mundur satu langkah dan menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang kini tampak sedih sekaligus tegas.
"Nggak usah, Alan. Mau ada rekaman ini atau nggak, itu nggak akan mengubah keadaan," kata Mommy Bela, suaranya melembut, namun justru nada lembut itulah yang membuat Alan mendadak merinding ketakutan.
"Maksud Mommy apa? Kalau Xarena tahu saya nggak salah, dia pasti—"
"Alan, dengerin Mommy!" potong Mommy Bela, kali ini dengan nada memohon yang serius. "Kamu tahu sendiri kan siapa Monique? Kamu tahu seberapa nekat dan berkuasanya keluarga mereka di Jakarta? Hari ini mereka kirim preman buat ngefandalll nama kamu. Besok? Bisa jadi mereka kirim orang buat celakain Xarena, atau bahkan nyawa kamu sendiri!"
Alan tertegun, lidahnya mendadak kelu.
"Xarena itu keponakan Mommy yang paling Mommy sayang. Saya nggak mau lihat dia hidup dalam ketakutan dan bahaya cuma karena Monique nggak senang lihat kalian berdua bahagia," lanjut Mommy Bela dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Jadi, Mommy minta tolong sama kamu... tolong tinggalkan Xarena. Demi kebaikan dia, demi keselamatan dia ke depannya. Biarkan dia hidup tenang tanpa harus sembunyi-sembunyi dari gangguan Monique lagi."
"Tapi saya bisa jagain Xarena, My! Saya nggak takut sama Monique!" balas Alan, suaranya meninggi karena frustrasi.
"Kamu mau jagain pakai apa, Alan?!" sentak Mommy Bela kembali ketus. "Kamu mau lawan uang dan kekuasaan mereka pakai modal nekat? Enggak bisa! Dunia nyata nggak sebercanda itu. Jalan satu-satunya biar Monique berhenti neror adalah kamu harus hilang dari hidup Xarena. Kalau kamu emang beneran cinta sama dia, kamu harusnya mikirin keselamatan dia, bukan cuma ego kamu yang pengen kelihatan pahlawan!"
Kata-kata Mommy Bela telak menghantam ulu hati Alan. Pria itu mundur selangkah, menatap layar ponselnya yang masih menyala. Bukti digital yang dia pertaruhkan dengan nyawa di warung remang-remang tadi, mendadak terasa tidak ada artinya di hadapan tembok besar bernama 'keselamatan Xarena'.
"Tapi... seenggaknya biarkan Xarena denger rekaman ini dulu, My. Saya nggak mau pergi dengan cap sebagai bajingan penjudi di kepala dia. Saya cuma mau nama saya bersih di mata perempuan yang saya cintai," lirih Alan, suaranya parau, matanya mulai memerah menahan tangis.
Mommy Bela membuang muka, tidak tega melihat binar keputusasaan di mata Alan. "Xarena sudah mengunci kamarnya dari dalam sejak tadi siang, Alan. Dia enggan, bahkan mutlak menolak buat menemui kamu ataupun denger nama kamu lagi. Dia sudah telanjur kecewa dan ketakutan."
"Mommy bohong kan? Xarena pasti mau denger kalau Mommy yang bujuk," cecar Alan, air matanya akhirnya menetes satu bulir.
"Mommy nggak bohong! Dia sendiri yang bilang ke Mommy, dia capek hidup penuh drama semenjak Monique ikut campur. Dia mau tenang," tegas Mommy Bela, meski ada nada bersalah di suaranya. Wanita paruh baya itu merogoh tas kecilnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lalu menyodorkannya ke arah Alan. "Ini buat ongkos kamu balik ke Jakarta atau ke mana pun. Tolong, pergi ya, Alan. Jangan balik lagi ke Bruno."
Alan menatap lembaran uang itu dengan senyum getir yang sangat menyakitkan. Dia menepis tangan Mommy Bela dengan halus.
"Saya punya ongkos sendiri, My. Terima kasih," ujar Alan, suaranya terdengar kosong.
Alan berbalik perlahan, menatap ke arah jendela kamar lantai dua yang gordennya tertutup rapat. Di balik gorden itu, dia tahu kekasih hatinya mungkin sedang menangis, atau mungkin sedang merutuki takdir mereka yang begitu rumit.
Dengan berat hati, Alan melangkah meninggalkan halaman rumah itu. Setiap jengkal langkahnya terasa seperti menarik rantai besi yang mengikat dadanya. Harapan yang tadi sempat melambung tinggi di atas motor bebek Kris, kini hancur lebur, menyisakan puing-puing rasa sakit yang teramat dalam.
Di pos ronda, Kris yang melihat Alan berjalan lunglai langsung buru-buru menghidupkan motornya dan menghampiri dengan wajah cemas. "Mas... Mas Alan? Kok mukanya malah tambah lecek begini? Rekamannya ndak mempan toh?"
Alan tidak menjawab. Dia langsung naik ke boncengan motor Kris, menyandarkan dahinya di pundak pemuda Bruno itu sambil berbisik pelan, "Jalan, Kris... bawa gua pergi dari sini. Ke mana aja."
Kris yang paham situasi langsung mengangguk diam, tidak berani banyak tanya, lalu memacu motor bebeknya membelah kabut sore Bruno yang mulai turun, meninggalkan segala kenangan dan cinta Alan yang tersisa di sana.