Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 1 : Stasiun Tegal, 20 menit yang mendebarkan
* Kereta Matarmaja. *
Dekat Stasiun Tegal. 14.03 WIB*
Suara roda kereta berderit kayak orang ngeluh capek. Bercampur suara roda kereta yang mulai melambat.
AC gerbong ekonomi sejuk banget. Indry agak menggigil. Tapi yang bikin dingin banget dan menggigil,deg - degan bukan AC-nya.
Tapi Jantung.
kereta melambat, namun jantung Indry semakin berdentum kencang..
"Penumpang kereta api Matarmaja tujuan Jakarta, akan berhenti di Stasiun Tegal selama dua puluh menit. Dua puluh menit."
Dua puluh menit.
“Cuma dua puluh menit, Dry,” gumamnya pelan.
Indry menarik napas dalam-dalam di balik jendela. Tangannya basah. Bukan karena gerah, tapi karena sejak tadi pagi jantungnya nggak berhenti berdebar.
Dentuman pompa darah ini udah sejak berjam jam lalu, sampe bolak balik toilet saking mules nya ampe ke perut rasa nya.
Hari ini. Setelah lima belas tahun.
Kereta Malang-Jakarta. Singgah sebentar di Tegal. Dan dia yang memilih turun, walaupun cuma buat ketemu satu orang.
"Lu yakin mau turun, Dry? Cuma dua puluh menit lho. Kalau ketinggalan kereta, lo harus nunggu enam jam buat kereta berikutnya," suara Meta di telepon berisik di telinga.
"Aku yakin, Met. Aku udah janji."
"Janji sama cowok yang lu hilangin kontaknya lima belas tahun? Indry, lu Katolik. Lu religius. Tapi kelakuan lu kayak ABG stalking mantan."
Indry ketawa kecil, walau bibirnya gemetar. "Dia bukan mantan, Met. Dia... dia Zaki."
Di ujung telepon Meta mendesah panjang. "Tuhan tolong sahabat gue. Roh Kudus bantuin dia biar nggak nangis di depan stasiun."
Kereta berhenti. Pintu terbuka.
Indry berdiri. Tas kecil di bahu, jaket tipis, dan hati yang rasanya kayak mau loncat keluar. Lima belas tahun dia ngilang. Nggak bales chat, nggak angkat telepon, nggak muncul di media sosial. Karena hidupnya nggak bisa nunggu perasaan.
Ortu meninggal saat dia SMA. Enam bersaudara. Dia yang tertua.
Kuliah? Nggak.
Kerja? Harus.
Lima adik butuh makan, butuh seragam, butuh uang kuliah.
Cinta? Itu kemewahan.
Dia pikir Zaki udah lupa.
Ternyata nggak.
Telfon Zaki kemarin malam masih kebayang:
_"Dry, besok kereta mu lewat Tegal kan? Dua puluh menit. Aku tunggu di peron. Datang ya.
Aku tunggu kamu"_
Logat yang masih sama, medok banget khas tegalnya.
Ya, Zaki kalo udah ngomong gak mungkin boong, Indry tau dia senekat itu pasti udah nungguin dari waktu yang lama.
Dan bener dia datang.
Di peron, aku lihat dia.
Zaki.
Lebih tinggi. Lebih tenang. Rambutnya udah nggak klimis kayak dulu. Tapi matanya... matanya masih sama. Cara dia lihat Indry, kayak mau mastiin ini beneran nyata atau cuma mimpi.
Indry berhenti tiga langkah di depannya.
"kamu kurusan, Zaki," katanya duluan, biar nggak nangis.
Zaki ketawa. "Lu masih suka bohong. Lu gemukan."
Hening. Dua puluh menit rasanya terlalu sebentar. Lima belas tahun rasanya terlalu lama.
"Kenapa baru sekarang?" Zaki nanya. Suaranya pelan.
Indry menunduk. "Karena aku takut. Takut nggak bisa kasih lo apa-apa selain beban."
Zaki maju satu langkah. "Gue nggak butuh apa-apa, Dry. Gue cuma butuh pastiin lo baik-baik aja."
Indry ngangkat muka. Dan di situ dia lihat kantong plastik. Banyak. Dua tangan Zaki penuh.
"Apa itu?"
"Hadiah. Buat lo. Buat adik-adik lo. Gue nggak tahu ukuran, jadi gue beli semua ukuran."
Indry ketawa. Sekali. Keras. "Zaki, ini stasiun. Bukan mall."
"saya tahu. Tapi lima belas tahun, Dry. saya nggak tahu kapan lagi bisa kasih kamu apa-apa."
Indry ngerasa dadanya sesak. Orang ini... masih sama. Selalu kebanyakan memberi.
Di kejauhan, suara petugas kereta: "Penumpang tujuan Jakarta, silakan segera naik. Kereta akan berangkat sepuluh menit lagi."
Sepuluh menit.
Indry ngelirik dadanya. Rosario. Rosario lama dia. Yang dia bawa sejak lama. Rosario kenangan satu kali kegiatan retret Seminar Hidup Baru dalam Roh. selalu dia bawa ke mana pun, seperti teman seperjalanan sambil doa penguatan. Salam Maria.
Dia keluarkan. Dia pegang. Tangannya gemetar.
"Zaki," katanya pelan. "Aku... aku nggak bisa terima hadiah ini gitu aja, banyak banget lagi, aku gak siapin apapun buat kamu, tapi aku punya ini,,,,, ."
Zaki diem. Matanya nggak berkedip.
Indry nyodorin rosario itu. "Ambil. aku tau di kamu gak ada gunanya, tapi aku cuma punya ini, ,,,."
Zaki nggak langsung ambil. Dia lihat rosario itu lama. Kayak lihat sesuatu yang dia tahu nggak akan pernah jadi miliknya.
Akhirnya dia terima. Dengan dua tangan. Pelan.
"Aku simpan," katanya. "Bukan buat dipake. Tapi buat inget, bahwa pernah ada kamu yang ngasih ini ."
"nanti ketemu lagi aku balikin ya, bukan karna aku gak mau hadiah dari kamu, tapi aku tau ini barang yang penting buat kamu"
Suara petugas lagi: "Lima menit!"
Indry mundur satu langkah. Napasnya nggak beraturan.
"Zaki... makasih udah nunggu. Makasih udah datang."
Zaki senyum. Tipis. "Makasih juga udah Turun. Dry. waktu segini beberapa menit ini... cukup."
Cukup? Nggak.
Nggak cukup sama sekali.
Tapi kereta nggak akan nunggu.
Indry balik badan. Lari kecil ke arah gerbong. Tasnya kejedot orang. Dia nggak peduli. Yang dia peduli cuma satu: jangan sampai ketinggalan. Jangan sampai nambah luka.
Bawaan yang makin banyak buat Indry agak kepayahan karna cukup berat rupanya... entah apa isi bag ini,
Dia naik. Pintu tertutup. Kereta jalan.
Dan dari jendela, dia lihat Zaki masih berdiri. Masih pegang rosario. Masih lambai tangan.
Indry duduk. Tangan menutup mulut.
Dia nggak nangis. Belum.
Tapi di dalam hati, ada satu kalimat yang dia nggak berani ucap:
_Aku kangen, Zaki. Aku kangen banget. Tapi Tuhan tahu, aku nggak bisa._
Kereta melaju. Tegal semakin jauh.
Dan dua puluh menit itu, rasanya kayak lima belas tahun.
*Aku kangen. Tapi Tuhan tau*
______