Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Termenung
Setelah beberapa saat termenung di dalam mobil, kini Bella berniat untuk segera pergi dari area rumah sakit. kini ia mulai memasukan surat hasil pemeriksaan dan usg miliknya ke dalam tas, berniat untuk pergi ke kontrakan milik kedua sahabatnya yaitu Dian dan Sisil untuk sedikit menenangkan diri di sana.
"Sebaiknya aku pergi ke kontrakan Dian dan Sisil saja untuk menenangkan diri sejenak." Guman Bella pelan.
*****
Sementara di depan ruang inap VVIP rumah sakit terlihat Andrew dan Fatir sedang berdiri di depan kamar tersebut.
Perlahan Fatir mulai memencet bel dan tidak lama pintu ruang inap itu terbuka lebar. wanita yang telah membuka pintu kamar ruang inap tersebut terlihat begitu terkejut setelah melihat kedatangan Andrew dan Fatir saat ini.
Wanita itu tidak lain adalah Ema, jadi selama ini Ema adalah simpanan pak candra salah satu klien penting di perusahan Andrew.
"Andrew?" kaget Ema dengan kedua mata melotot.
"Selamat siang nona Ema, kami ingin menjenguk pak Candra yang sedang sakit sekalian membicarakan soal bisnis." Ucap Fatir pura-pura tidak terlalu akrab dengan Ema.
Ema terlihat diam tidak menjawab ucapan Fatir, karena saat ini tatapan mata wanita itu terus menatap ke arah Andrew yang seakan acuh kepadanya.
"Siapa yang bertamu sayang?"
Terdengar suara seorang pria memanggil sayang kepada wanita bernama Ema itu dari dalam ruang inap, bisa di pastikan pria itu adalah pak Candra.
Seakan sadar dengan keterkejutannya setelah melihat Andrew, Ema langsung menormalkan kembali ekpresi wajahnya dan menoleh ke arah belakang dengan tersenyum manis.
"Ada rekan bisnis mu mas yang datang." jawab Ema dengan suara semanis mungkin.
"Kalo begitu suruh mereka masuk sayang."
"Baik mas."
Andrew dan Fathir sedari tadi terlihat seperti sedang menahan tawa mereka karena sepertinya Ema begitu kaget dengan kedatangan mereka berdua.
"Ayo silahkan masuk." Ucap Ema agak gugup.
Andrew dan Fatir terlihat mengangukan kepalanya pelan dan mulai masuk ke dalam ruangan inap tersebut. sebelum masuk Fatir memberikan parsel buah yang ia bawa kepada Ema.
"Oh iya ini ada sedikit buah tangan dari kami." Ucap Fatir.
"Terimakasih." Jawab Ema.
Kini Andrew dan Fatir telah duduk di sofa bersama pak Candra yang sudah ada di hadapan mereka berdua, sementara Ema terlihat sedang berjalan ke arah meja di samping tempat tidur untuk menyimpan parsel yang di bawa Fatir.
Kedatangan Andrew dan Fatir menemui pak Candra bukan hanya untuk menjenguk pria itu saja melainkan ada urusan bisnis pula.
"Aku akan bekerjasama dengan perusahaan kalian, asalkan yang jadi modelnya adalah kekasih ku sendiri. bukan kah Ema sempat menjadi model di perusahaan kalian?." Tanya pak Candra menatap ke arah Andrew dan Fatir secara bergantian.
"Ah benar sekali pak Candra, nona Ema memang pernah menjadi model di perusahaan kami selama 5 tahun. tapi kontrak itu telah habis 5 tahun lalu pula." Beritahu Fatir.
"Cukup lama juga ternyata, tapi kenapa kalian terlihat tidak terlalu akrab ya padahal kekasih ku itu telah bekerja sama dengan perusahan kalian selama 5 tahun." Heran pak Candra.
"Maaf pak Candra kami hanya bertemu untuk membahas pekerjaan saja di luar itu kami tidak saling menyapa." Jawab Fatir cepat.
"Oh begitu pantas saja." Ucap pak Candra.
"Jika pak Candra menginginkan kekasih pak Candra sendiri yang menjadi model di perusahaan kami, saya sih tidak keberatan sama sekali asal kerja sama kita berjalan lancar." jawab Andrew tidak menolak.
"Baiklah kalo gitu saya akan langsung tendatangi kontrak saja." Ucap pak Candra sepakat.
Kini pak Candra mulai memegang balpoin, tanpa basa-basi lagi pria tua yang umurnya sudah lebih dari 50 tahun itu terlihat langsung mendatangi kontrak perjanjian kerja sama.
Sementara Ema yang sedang duduk di samping ranjang rumah sakit, terlihat tersenyum senang karena ia akan menjadi model kembali di perusahaan Andrew. artinya ia bisa mengoda pria itu kembali.
"Senang bekerjasama dengan anda pak Candra."
"Senang bekerja sama dengan anda juga pak Andrew."
setelah menentangi kontak kerja sama mereka saling berjabat tangan.
*****
Tok! Tok! Tok!
Saat ini Bella sudah berdiri tepat di depan pintu kontrakan milik kedua sahabatnya.
Klek!
Pintu kontrakan itu telah terbuka lebar kini Bella bisa melihat jika yang telah membuka pintu untuknya adalah Sisil.
"Loh Bell tumben ke sini gak ngabarin dulu?" kaget Sisil setelah melihat kedatangan Bella.
"Hehehe.... mau kasih surpise aja, aku ganggu kalian ya?" Tanya Bella merasa tidak enak.
"Ehh gak kok, cuma heran saja tiba-tiba langsung kesini tanpa kasih tahu dulu. Iya sudah kalo gitu ayo masuk, kebetulan banget si Dian lagi bikin rujak buah tuh."
"Wah.... kayanya enak makan rujak buah buatan si Dian nih." Ucap Bella terlihat girang.
Entah kenapa setelah mendengar nama rujak buah Bella langsung menelan air liurnya sendiri, padahal ia tidak terlalu suka makanan tersebut.
Kini Bella, Dian dan Sisil tengah duduk di depan televisi dengan di suguhi rujak buah. mereka mulai memakan rujak buah tersebut dan mulai merasa kepedasan, hanya Bella saja yang terlihat sangat menikmati rujak buah tersebut tanpa merasa kepedasan sama sekali.
"Bell kamu gak kepedasan memangnya?, sedari tadi makan rujak buah trus tanpa minum." Tanya Dian merasa heran.
"Iya bener, tumben banget kamu doyan rujak buah biasanya kalo makan cuma sedikit." Heran Sisil pula.
"Ini gak terlalu pedes kok enak banget, gak tahu kenapa tiba-tiba jadi doyan rujak buah." Jawab Bella jujur sembari terus memakan rujak buah.
Kini Dian dan Sisil hanya saling menatap heran karena merasa ada yang aneh dengan Bella.
Setelah makan rujak, kini mereka bertiga sedang menonton sebuah film. Film itu mengisahkan seorang wanita tidak sengaja melakukan cinta satu malam dan hamil dengan pria lebih tua dan beristri pula. Dian dan Sisil terlihat begitu fokus menonton film tersebut, sementara Bella terlihat diam sembari termenung karena cerita dalam film tersebut agak mirip dengan apa yang sedang ia hadapi saat ini. bedanya pria lebih tua yang telah menghamilinya itu tidak memiliki istri.
"Guys tanggapan kalian apa jika ada seorang wanita muda yang hamil dengan pria lebih tua di dunia nyata?" Tanya Bella tiba-tiba kepada kedua sahabatnya itu.
Dian dan Sisil langsung mengerutkan keningnya heran, karena tumben sekali Bella membahas soal film yang sedang mereka tonton. biasa wanita itu akan tertidur pulas tanpa tahu isi cerita film yang sedang mereka tonton.
"Hmmmm....kalo menurut aku sih, kalo mereka berdua sama-sama single sih gak masalah asal jangan punya bini saja kaya di film ini." Tunjuk Dian ke arah televisi.
"Iya benar itu kata Dian, meski pun kehamilan wanita itu karena sebuah kesalahan tapi mereka bisa berusaha saling mencintai tanpa harus menyakiti wanita lain." Timpal Sisil.
Sejenak Bella terlihat diam dan berusaha merenungi ucapan dari kedua sahabatnya itu.
"Apakah aku dan paman Andrew nantinya bisa seperti yang di ucapkan oleh Dian dan Sisil?" Batin Bella.
Kini Dian dan Sisil kembali di buat heran karena Bella terlihat termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kok aku ngerasa Bella seperti lagi ada beban pikiran." Batin Dian dan Sisil bersamaan.
"Bella." Panggil Dian dan Sisil bersamaan.
Sontak saja panggilan dari kedua sahabatnya itu membuat Bella langsung tersadar dari lamunan nya dan menatap ke arah mereka.
"Iya apa?"
"Kamu kenapa kelihatannya kaya lagi ada masalah gitu?" Tanya Dian.
"Iya benar tuh, kalo ada masalah ceritain saja sih. dari tadi di lihat-lihat kamu banyak diam dan termenung." Timpal Sisil.
Bella terdiam sejenak, ia terlihat sedang berpikir apakah ia harus jujur atau tidak kepada kedua sahabatnya saat ini. namun batin dan mental wanita itu belum siap untuk menceritakan masalah yang ada kepada kedua sahabatnya itu.
"Aku gak apa-apa kok, cuma lagi ada sedikit masalah saja di rumah." Bohong Bella.
Dian dan Sisil terlihat menghela nafas mereka pelan, karena sepertinya Bella tidak mau menceritakan tentang masalah yang sedang ia hadapi saat ini.
"Ok gak masalah kalo saat ini kamu belum mau cerita ke kita berdua, tapi kapan pun kamu mau cerita kita berdua bakalan selalu siap buat dengerin curhatan mu." Ucap Dian menatap tulus ke arah Bella.
"Iya benar itu yang di katakan Dian, kita bakalan selalu siap buat dengerin curhatan mu kapan saja." Ucap Sisil.
"Makasih banyak, kalian memang sahabat terbaik ku." Ucap Bella agak terharu dan mulai memeluk kedua sahabatnya itu. Serta mati-matian menahan air matanya agar tidak menetes.
******